Kedai Seni Djakarte, Kota Tua Jakarta

Dua pekan lalu, orang tua saya berkunjung ke Depok. Beliau mengajak kami menyusuri Jakarta menggunakan bus City Tour. Rupanya, beberapa hari sebelumnya dia  secara tak sengaja sudah menjajal bus City Tour dari halte Plaza Indonesia, dan dia terkesan. Menurut beliau, perjalanan berlangsung selama 45 menit menyusuri Kota Tua hingga Monas. Tapi, bus gratis milik pemerintah DKI Jakarta ini tidak berhenti di banyak tempat. Selain di Plaza Indonesia dan Monas, bus hanya berhenti di halte Juanda, persis di depan halte busway Juanda.

Penasaran dengan pengalaman tersebut, di hari Sabtu kami ingin juga mencicipi bus City Tour. Mumpung masih gratis. Karena, katanya, bus ini hanya digratiskan selama tiga bulan sejak diluncurkan Februari 2014. Sedangkan mulai Mei, penumpang City Tour harus membeli  tiket melalui loket yang tersedia di hotel atau  mal.

Parkir di Stasiun Tanjung Barat,  kami meneruskan perjalanan dengan kereta. Sejak diterapkannya sistem e-ticketing, baru kali ini saya menumpang KRL. Pangling melihat kondisi stasiun sekarang. Tidak ada lagi pedagang di sepanjang peron seperti dulu, tidak ada pengamen yang tetap memaksa bernyanyi di tengah kepadatan penumpang, tidak tampak pula penyapu lantai  swasta yang dulu suka beroperasi di dalam gerbong.

Tiba di Stasiun Juanda sekitar pukul 15.00, hujan turun. Kami  berteduh di peron bawah stasiun sambil menyaksikan petugas menyapu air yang terus mengucur dari jalur rel melayang. Menjelang pukul 16.00 kami beranjak ke halte bus Istiqlal. Di sana sudah banyak orang-orang yang menunggu dengan tujuan serupa. Saya duga seperti itu, karena di halte tersebut tidak ada angkutan umum yang lewat.

100_4488Tapi, lucunya, meski di depan halte jelas-jelas  ada plang bertuliskan City Tour, setengah jam menunggu tak ada bus yang lewat. Kesal menunggu, satu-persatu warga calon peserta tur mundur teratur. Kami, karena kepalang basah dalam arti sebenarnya, terus menunggu. Sampai akhirnya pukul 17.15  tetap tak ada bus yang lewat. Akhirnya, dari pada manyun, saya  mencegat taksi dan berlalu menuju kawasan Kota Tua.

Dan, kesialan di hari itu masih rupanya masih berlanjut.  Ingatan mengenai Kota Tua yang apik langsung pupus ketika kami tiba di sana. Lain sekali dengan kunjungan saya ke tempat ini beberapa tahun lalu,  hari itu Kota Tua tak ada bedanya dengan terminal bus, sesak pedagang kaki lima. Saking ramainya, buat berjalan kaki saja susah. Trotoar yang sudah dibikin keren dari batu andesit (saya pernah membuat liputannya waktu awal revitalisasi Kota Tua) dijajah parkiran motor. Pejalan kaki yang menurut konsepnya dulu akan dimanjakan, lagi-lagi tersingkirkan.

Kejengkelan saya sontak sampai ke ubun-ubun. Kapan sih kita bisa rehat barang sejenak dari rutinitas kota besar, kalau di mana-mana ketemunya pedagang kaki lima lagi, motor lagi, dan trotoar yang berubah fungsi? Kalau begini apa yang mau dilihat. Bahkan di sekeliling kotak kaca tempat ditemukannya rel trem terakhir peninggalan zaman penjajahan sudah dikapling pedagang.

100_4495Untunglah, setelah putus asa dengan pemandangan kumuh di Kota Tua, kami menemukan tempat makan yang menyenangkan di sana. Namanya sih nggak nyambung: Kedai Seni Djakarte. Jelas-jelas tempat ini adalah warung makan, kenapa disebut kedai seni? Di tempat itu kami memesan bakmi godog, nasi goreng smoke beef, pisang bakar cokelat, es teh manis, dan bajigur. Semuanya top. Bakmi godognya enak, nasgornya pas, dan bajigurnya yahud. Segar banget.

Tapi, di atas semua itu, saya paling senang dengan arsitektur kedai ini. Berdasarkan plakat yang tertempel di dinding luar, gedung ini dulunya kantor perusahaan asuransi Java Sea & Fire Insurance Co Ltd.  Perusahaan ini pernah memasang iklan di koran Sidney Morning Herald tanggal 14 April 1876. Tertulis di situ, “Policies issued on all classes of marine risks at lowest current rates.”

Pengelola kedai mempertahankan arsitektur  tempat ini. Jadi, interior dan eksteriornya masih asli. Coba lihat jendelanya. besinya teralisnya saja terbuat dari besi tuang yang sangat tebal. Beda dengan teralis sekarang yang dipakukan  dengan baut 3 sentimeter, teralis zaman dulu dipaku pakai pasak segede jempol kaki. Belum lagi kusennya yang segede batang pohon. Saya sampai menduga, kayu ini tidak dipotong-potong dulu dari pohonnya, melainkan satu pohon utuh yang dijadikan kusen.

Tembok dindingnya juga, seperti lazimnya bangunan kuno, sangat tebal. Kira-kira dua kali lipat dari tembok rumah biasa. Padahal dia bukan termasuk bangunan pencakar langit, karena cuma terdiri dari dua lantai. Masuk ke dalam kedai, tempat yang paling berkesan adalah kamar mandi. Kamar mandi itu sempit, mungkin sekitar 1,5×1,5 meter, tapi tinggi langit-langitnya saya taksir mencapai 5 meter.  Berada di dalam kamar mandi itu serasa berada di dalam sumur.  Selesai makan, kami hanya membayar Rp 94.500, sudah termasuk service charge.  Begitulah, kedai Djakarte dengan hidangan dan arsitekturnya menjadi pengobat kecewa di Kota Tua.

Teralis dan kusen yang ‘berotot’.

Plakat Java Sea & Fire

 

 

 

 

 

 

Bajigur sedap.

Bakmi godog.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nasi goreng.

 

Advertisements

Household Financial Engineering

Saya menyebutnya rekayasa finansial rumah tangga (household financial engineering).  Apakah istilah ini baku dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Tentu saja tidak. Itu istilah yang baru saja saya pikirkan.  Idenya adalah, bukan hanya perusahaan saja yang bisa melakukan rekayasa finansial (financial engineering) supaya bisa tumbuh, rumah tangga dan pribadi juga bisa melakukannya untuk mempercepat (istilah kerennya leverage atau daya ungkit) peningkatan taraf hidup 🙂

Rekayasa finansial saya dimulai dari dua bulan lalu. Ketika cicilan mobil,  *akhirnya,  lunas. Dua bulan bersenang-senang dengan gaji utuh, bulan ini saya kembali membuat cicilan baru berwujud kredit tanpa agunan (KTA) di sebuah bank BUMN.  Kenapa KTA,  karena kebetulan perusahaan tempat saya bekerja masuk ke dalam daftar perusahaan pilihan bank tersebut, *yang  entah apa dasarnya, sehingga berhak mendapat bunga ‘murah’.

Saya kasih petik karena  nyatanya tidak murah juga, apalagi dibandingkan dengan kredit dengan agunan.  Cuma keunggulan KTA, prosesnya cepat dan syaratnya tidak bikin jengkel. Terlebih, ada satu syarat yang belum dapat saya penuhi, yang mengharuskan saya berhubungan dengan birokrat kota, *argh, alergi birokrasi.

Mengambil KTA tidak salah juga, kok, asalkan kita memperhatikan beberapa hal. Pertama, tentu saja besaran suku bunga. Bandingkan antara satu bank dengan bank lain. Cari bunga terkecil. Umumnya bank menawarkan bunga dengan istilah-istilah teknis seperti: bunga  efektif 18 persen per tahun atau setara dengan 0,9 % per bulan. Kalau bingung menghitungnya, cukup bandingkan besar cicilan per bulan.  Dijamin gak bakalan salah.

Kedua, cari bank yang menawarkan cicilan tetap. Ini penting di tengah tren kenaikan suku bunga bank. Sayangnya,  bank juga sadar dengan tren itu sehingga jarang yang mau memberikan program cicilan tetap..hehe… Biasanya bunga bergerak sesuai dengan perubahan suku bunga bulanan. Bisa naik, bisa turun. Beruntung lah orang-orang yang mendapatkan cicilan tetap.

Ketiga, pastikan jumlah cicilan bulan yang harus kita bayar benar-benar sesuai dengan profil penghasilan *pakai istilahnya PPATK.  Jangan membohongi diri sendiri seandainya kita mempunyai utang lain yang di luar sistem perbankan.  Selain itu, sisakan sedikit ruang di gaji Anda untuk buat berjaga-jaga, jika  mendadak krisis ekonomi datang dan besar cicilan kita melompat gak karuan.  (Baca: Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?) *Tapi, kalau melompatnya gila-gilaan  kita harus turun ke jalan :))

Keempat, jangan habiskan uang kredit yang kita dapatkan. Tabung/investasikan sebagian, supaya bunga/hasil investasinya bisa dijadikan sebagai kompensasi bunga kredit. Kalau saya, gak cuma disimpan sebagian dan yang utama dipakai untuk renovasi rumah, sebagian lagi dipakai untuk berwisata…hahaha….itu juga investasi, investasi batin.  Boleh kok, memakai uang kredit untuk melancong. Yang gak boleh dipakai itu untuk spekulasi, lebih-lebih lagi spekulasi di pasar keuangan yang lagi gak waras ini. Takutnya modal ambles, cicilan tetap harus dibayar. Rugi dua kali. (Lihat juga: Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?)

Prinsipnya, sama seperti sebuah perusahaan, rekayasa finansial diterapkan supaya kita tidak  harus menggunakan uang kita sendiri,  *kalau di perusahaan istilahnya kas internal, untuk membayar keperluan kita. Jadi, ketimbang memakai tabungan kita yang susah-payah dikumpulkan, pakai lah itu uang menganggur yang ada di sistem perbankan :)).