Senandung Sunyi Alam Sipirok (Kota kecil dengan segudang potensi wisata)

Naskah: Andry Triyanto
Tulisan ini dikutip dari Majalah Travelounge edisi Oktober 2014. Travelounge adalah majalah wisata kelompok Tempo Media.

Matahari selalu muncul dan tenggelam terlambat di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saat pagi, cahaya mentari selalu kalah dari kabut yang lebih dulu merangkak turun dari bukit memayungi kota penghasil kopi ini. Pada 30 Juli-3 Agustus lalu pun telah digelar Festival Kopi Sipirok. Dengan hawa yang cenderung dingin dan alamnya yang asri, kota ini memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang luar biasa. Namun sayang, pesonanya belum mampu menggoda turis. Inilah nyanyian indah alam Sipirok.

Hari pertama: Jakata-Sipirok
Perjalanan saya dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Kualanamu yang memakan waktu sekitar 2 jam masih harus dilanjutkan dengan penerbangan ke Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah, sekitar 35 menit. Perjalanan pun harus dilanjutkan melalui jalur darat sekitar 3 jam menuju Sipirok.

Sebenarnya ada alternatif. Setelah tiba di Bandara Internasional Kualanamu, bisa mengambil penerbangan ke Bandara Aek Godang di Padangsidimpuan. Perjalanan melalui darat ke Sipirok dapat ditempuh hanya sekitar 1 jam. Relatif lebih singkat. Sesampainya di Hotel Tor Sibohi Nauli—satu-satunya hotel di sini—sore sudah menyambut. Bila ingin hotel yang lebih baik, pilihannya bisa ditemukan di Padang Sidempuan.

Hari Kedua: Masjid, Gereja, dan Kuburan Tua
Pada hari ini, saya diajak mengunjungi gereja tertua di Desa Parau Sorat. Tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap, hanya sekitar 7 kilometer. Menurut cerita Ardi Yunus Siregar—rekan yang mengantar saya—Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) ini merupakan gereja pertama yang dibangun Dr Ingwer Ludwig Nommensen pada zaman Belanda.

Konon, Belanda mengenal Sipirok sebagai daerah pertama di Provinsi Sumatera Utara. Beberapa ratus meter berdiri menjulang monumen GKPA yang dibangun guna mengenang perjalanan Nommensen. Saya juga diantar menuju Masjid Sri Alam Dunia di Desa Bagas Nagodang. Masjid dengan enam menara kubah itu memiliki lima pintu masuk. Jumlah pintu itu kabarnya menandakan warga yang ada di sekitar saat pembangunan. Sri Alam Dunia juga masih mempertahankan tradisi membunyikan gong setiap menjelang waktu salat tiba.

Dibangun pada 1926, Masjid Sri Alam Dunia menjadi simbol dari perlawanan atas penjajahan Belanda. Namun pertentangan antara pengelola Masjid Sri Alam Dunia dan Belanda tidak melibatkan masalah agama. Pertentangan antar-agama tidak pernah terjadi di kawasan ini.

Keberadaan gereja dan masjid tertua ini mengingatkan saya pada penuturan tokoh Sipirok, Ayub Suleman Pulungan. “Kerukunan beragama di Sipirok berjalan baik sekali. Meski berbeda agama, warga Sipirok guyub satu sama lain,” katanya.

Selain masjid dan gereja tua, ada pula makam tua di Desa Bunga Bondar. Nisan-nisannya unik dengan batu-batu berukir. Sayangnya, makam kuno ini tak terawat. Tak ada petunjuk yang jelas mengenai keberadaannya. Menurut cerita warga, inilah makam Ja Ulubalang Siregar—cucu Raja Dongaran Siregar, salah seorang hulubalang raja yang melakukan perlawanan keras terhadap Belanda.

Hari Ketiga: Danau Marsabut dan Aek Milas
Selesai sarapan, saya bersiap menuju Danau Marsabut di Desa Bunga Bondar. Marsabut berasal dari kata markabut yang berarti berkabut. Danau di tengah hutan ini selalu ditutupi kabut. Ada legenda menarik di sini. Dikisahkan, dewa murka akibat raja yang mengadakan pesta lalai mengundang seorang janda tua yang hidup sebatang kara. Di tengah kesendiriannya, sang janda mendengarkan alunan musik tor-tor. Dia lantas menari bersama kucing peliharaannya. Dewa marah karena tor-tor amat sakral. Dewa murka dan mengirimkan bencana berupa hujan terus-menerus, sehingga desa tenggelam dan menjadi danau.

Danau itu, sempat diresmikan sebagai obyek wisata oleh mantan Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar. Namun sepeninggal beliau, kondisinya tidak lagi terawat. Akses menuju danau, yang dulunya beraspal, sekarang tertutupi tanaman liar. Saya yang ditemani seorang warga Bunga Bondar, Yahya Siregar, terpaksa trekking selama 2,5 jam menuju Marsabut. Bagi Anda yang ingin mencapai lokasi ini, saya sarankan sebaiknya menggunakan jasa pemandu.

Sesampai di danau, keletihan terasa lenyap. Air danau begitu tenang. Angin berembus sejuk. Bukit di sekelilingnya masih asri. Beberapa gazebo yang sempat dibangun, kini rusak dan ditutupi semak belukar. Asyiknya berlama-lama di sini, tapi saya ingin mampir ke pemandian air panas. Masyarakat setempat menyebutnya aek milas. Ada tiga aek milas: Sosopan, Parandolok, dan Parau Sorat. Aek Milas Sosopan tidak jauh dari pusat kota. Berada di tengah persawahan, atau tepat di belakang masjid. Saat saya berkunjung, banyak wisatawan lokal yang berendam di sana.

Wisata Sipirok sejatinya sangat potensial untuk dikembangkan. Hanya obyek wisata alam dan sejarahnya butuh pengelolaan serta penataan. Marfel Sidabutar, pemandu wisata yang saya temui di hotel, mengaku para agen perjalanan wisata tk pernah membawa turis ke Sipirok. “Selama ini Sipirok hanya dijadikan kota transit wisatawan asing sebelum menuju Bukit Tinggi, Sumatera Barat,” ujar dia. Sungguh sayang! ***

Advertisements

Pulang Kampung (3): Run Into History

Walau liburan, lari tak boleh ditinggalkan. Dalam liburan Idul Adha lalu, salah satu rute lari terbaik saya adalah melintasi kampung kami di Dusun Aeksah, Simangumban di Tapanuli Utara menuju Kota Sipirok, di Tapanuli Selatan sejauh 21,1 kilometer.   Pas banget dengan jarak half marathon. Start pukul 16.00, tiba di Sipirok pukul 18.30 bersama azan Magrib. Melintasi jalanan sunyi, perkampungan penduduk yang letaknya berjauhan, tanjakan  Aek Latong yang gak kira-kira panjangnya (Aek Latong yang angker itu kini sudah cantik dan jadi tempat wisata), juga bersaing dengan bus dan mobil pribadi. Untungnya suhu udara yang makin sore makin dingin menguatkan saya. Menjelang Sipirok, saya disambut anak-anak kecil yang keheranan melihat ada orang ‘gila’ lari di jalanan.  Sendirian pula. Tapi, saya tegar, berkat mental selebritas  yang sudah terlatih.  Dulu sekali, sewaktu opung laki-laki masih hidup dan opung perempuan masih sehat, kami kerap bepergian Aeksah – Sipirok (naik mobil pastinya, bukan lari) untuk menjual hasil bumi atau sekadar menyaksikan poken (pekan).

Penampakan jalur lari Aeksah-Sipirok.

Penampakan jalur lari Aeksah-Sipirok.

Google map Aeksah-Sipirok.

Google map Aeksah-Sipirok.

Di Medan, rute lari juga tak kalah seru. Dari Stadion Teladan, melintasi Jalan Sisingamangaraja, Masjid Raya, Istana Maimun, Kesawan, Rumah Tjong A Fie, Gedung PT Lonsum Tbk, kantor cabang Bank Indonesia, dan berputar di Lapangan Merdeka melewati Kantor Pos Besar, dan Stasiun Kereta Api Medan Kota.   Rutenya pendek, hanya sekitar 4 kilometer, tapi seluruhnya adalah kawasan kota tua Medan, dengan arsitektur bangunan yang masih terpelihara baik. Kalau merasa jaraknya kurang jauh, silakan berkeliing lintasan lari di dalam Lapangan Merdeka. Dan kalau capek, bisa rehat sambil makan-minum di pusat jajanan yang lengkap di Merdeka Walk. Beli oleh-oleh baju khas Medan juga ada (saya juga baru tahu). Nah, benar kan, berlari itu menyenangkan.

Di depan gedung Bank Indonesia Medan.

Di depan gedung Bank Indonesia Medan.

 

Niatnya pose lari, tapi kok jadi seperti orang mau jatuh.

Niatnya pose lari, tapi kok jadi seperti orang mau jatuh.

 

Museum Lokomotif di Stasiun KA Medan Kota.

Museum Lokomotif di Stasiun KA Medan Kota.

batu

Data lokomotif.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

 

 

Festival Kopi Sipirok 2014

festival kopi sipirok
Tidak selamanya nama dicatut itu bikin hati gak enak. Buktinya baru-baru ini nama saya tiba-tiba muncul di susunan kepengurusan panitia Festival Kopi Sipirok 2014 sebagai anggota Seksi Hubungan Media.  Tapi, saya gak marah tuh, senang malah…hehe…  Tugas pertama saya adalah mempublikasikan rencana penyelenggaraan festival kepada khalayak ramai. Pertama-tama, saya publikasikan di blog dulu deh.

Tanggal pelaksanaan
30 Juli- 3 Agustus 2014

Lokasi
Alun-alun (alaman bolak), Sipirok*, Tapanuli Selatan

Rangkaian kegiatan
-Pertunjukan musik Sipirok Voice dan grup musik lokal
-Opera Batak /Sitilhang
-Tortor, Sitogol, Ungut-ungut, dan Dikkir
-Kopi Luwak Day
-Traditional Brewing
-Modern Brewing dan Latte Art
-Pemilihan Putra/ Putri Kopi Sipirok
-Lokakarya budi daya kopi unggulan
-Malam minum kopi bersama perantau (penciptaan rekor minum kopi luwak).  Penciptaan rekor MURI dalam hal menyeduh dan minum kopi luwak liar Sipirok ini rencananya akan diramaikan oleh 3.500 orang peserta pada 2 Agustus 2014.

Peserta 
Kopi Pinabar, Karya Serasi, Angkola Kopi Sipirok, Sipirock Coffee (Penggagas), Kopi Raja, penggiat kuliner dan oleh-oleh khas Sipirok.

*Sipirok adalah kota kecil di jajaran Bukit Barisan yang terhampar di Lembah Sibualbuali, di ketinggian 800-1900 mdpl. Di awal pengembangannya pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Tapanuli. Kota Sipirok saat ini sebagai ibu kota kecamatan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Jumlah penduduk Kecamatan Sipirok sesuai dengan sensus penduduk tahun 2012 adalah 30.775 jiwa.

Salah satu sumber penghasilan masyarakat Sipirok adalah KOPI, yang telah dikembangkan sejak tahun 1.700-an. Umumnya adalah jenis kopi Robusta, Liberika dan sedikit Arabika. Belakangan ini banyak dibudidayakan kopi Arabika yang bibitnya diperoleh/dibawa dari Aceh Tenggara (kopi Ateng), yang lebih populer dengan sebutan kopi Sibayar Utang.

Kopi Arabika Sipirok berciri khas fruity, full body, rendah asam, dan gurih. Di masa lalu, bahkan digadang-gadang sebagai “the world’s finest unwashed arabica”. Dalam buku ‘All About Coffee’ William H. Ukers (New York, 1922) mendeskripsikan kopi Sipirok (Angkola) sebagai berikut:

“Formerly a Government coffee; large fat bean, making a dull roast; second only to Mandhelings; it has a heavy body and rich, musty flavor.” 
Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kopi Sipirok merupakan kopi premium dan seharusnya memiliki harga tinggi di pasar internasional.

Dari segi demografi, kebanyakan masyarakat Sipirok hidup dari pertanian/perkebunan. Namun ironisnya sawah/ kebun yang dimiliki tidak layak secara skala ekonomi baik dari luas maupun jenis tanamannya. Oleh karena itu, masih perlu difasilitasi dan didukung agar para petani dapat mengembangkan potensi geografisnya yaitu dengan menanam tanaman kopi unggulan, dengan
minimal yang layak secara skala ekonomi. Oleh karena itu, promosi dan pemasaran kopi Sipirok perlu terus menerus digalakkan. Salah satu caranya melalui  acara tahunan : Festival Kopi Sipirok. ***

 

 

Belajar dari Perseteruan Mandailing-Batak

Membaca buku Kolonialisme dan etnisitas  Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut, karya Daniel Perret dan diterjemahkan oleh Saraswati Wardhany, terbitan tahun 2010, menjadikan saya tahu bahwa kelompok  Mandailing dan  Batak  pernah berseteru hebat di awal tahun 1900-an. Bahkan, kabarnya, perseteruan itu tidak sebatas di ruang seminar atau media massa, tapi juga sudah sampai ke bentrok fisik.

Orang Mandailing yang tinggal di selatan Tapanuli, yang kebanyakan sudah merantau  dan berpendidikan tinggi pada masanya, tidak mau disebut sebagai bangsa  Batak. Pangkal soalnya adalah pandangan orang Barat yang membedakan antara  Batak  dan Melayu. Mereka menolak identitas scbagai orang  Batak  lantaran pada masa itu  sebutan  Batak  dinilai berkonotasi memalukan, tidak berpendidikan, dan terbelakang.

Pertama-tama, mereka  menganggap diri  sebagai orang Melayu, kemudian, seiiring dengan berkembangnya komunitas pendatang, mereka memperkenalkan diri sebagai  Mandailing.   Identitas baru ini ditabalkan pada sertifikat-sertifikat, akta-akta dan lamaran pckcrjaan. Mereka memang menganggap bahwa orang dari dataran tinggi di sebelah utara Tapanuli terbelakang.

Orang yang menyatakan diri beridentitas Mandailing bukan hanya orang yang berasal dari daerah Mandailing tetapi juga dari daerah Sipirok, Angkola, dan Padang Lawas. Upaya melepaskan diri dari stigma Batak ini mulai mengeras pada tahun 1910-an. orang Mandailing menyatakan bahwa, menurut sejarah dan silsilah, tidak ada hubungan antara orang Mandailing dan orang Batak. Mereka meminta untuk diperlakukan scbagai “bangsa” tcrsendiri, yaitu “bangsa Mandailing”.

Konflik terbuka mulai terjadi di tahun  1919, di sebuah perusahaan Medan bernama Sjarikat Tapanuli. Perusahaan ini,  sebagian pemegang sahamnya mengaku  Batak, dan sebagian lain Mandailing.  Pada suatu  pcmungutan suara dalam sebuah rapat umum, pemegang-pemegang saham  Batak  hanya memberikan suara untuk orang  Batak, sementara pemegang-pemegang saham Mandailing memberikan suara untuk orang  Batak  dan juga Mandailing. Akibatnya, orang Mandailing tidak puas dan  membentuk  perkumpulan sendiri: Sjarikat Mandailing pada Desember 1921.

Salah satu keputusan pertama Sjarikat Mandailing adalah mclarang orang bukan Mandailing untuk menjadi anggotanya. Oleh karenanya, penduduk daerah Sipirok, Angkola dan Padang Lawas harus memilih identitas Mandailing atau Batak. Setelah berlangsung banyak diskusi antara angkatan muda dan tua di Medan, bulan Februari 1922, mereka mengumumkan bahwa mereka adalah orang Batak.

Pertikaian  berlanjut di media massa.  Salah satunya melalui harian Pewarta Deli. Di sini para kolumnis pendukung masing-masing kubu beradu argumentasi mengenai identitasnya masing-masing. Mereka berdebat panjang mengenai nenek moyang Mandailing dan Batak, siapa yang lebih dulu tinggal di Sumatera, atau membahas kelebihan kelompoknya masing-masing.

Pertengkaran meningkat ke level fisik. Peristiwa yang terkenal adalah  kasus Pekuburan Sungai Mati  di Medan tahun 1922.  Ceritanya, pada  Agustus 1922 pecah kasus pekuburan Sungai Mati di Medan.   Pedagang-pedagang Mandailing di kampung Kesawan telah membeli sebuah lahan dari seorang bangsawan Melayu yang kemudian menjadi tanah wakaf dan digunakan sebagai pekuburan sejak 1889.

April 1922, para pengurus pekuburan memutuskan bahwa setiap pemakaman harus mendapatkan izin sebelumnya, dengan alasan bahwa pekuburan itu disediakan khusus untuk menguburkan orang dari “bangsa Mandailing”, atau berasal dari Mandailing, atau pun yang mengaku sebagai Mandailing. Dengan berpedoman pada gagasan itu, pengelola pekuburan memutuskan untuk melarang orang Batak menguburkan jenazah orang yang tidak diakui sebagai orang Mandailing.

Pada awal bulan Agustus,  orang Batak dari Sipirok sedang mengadakan acara penguburan di Sungai Mati. Upacara itu ditolak oleh orang Mandailing.  Tapi, karena orang Batak berkeras dengan alasan sudah sejak dulu menguburkan keluarganya di sana,  sejumlah anggota bangsa Mandailing sudah bersiap-siap untuk menghadapi bentrokan. Pada sore harinya, sudah ada sekitar seribu orang yang berkumpul di pemakaman untuk mencegah penguburan Batak.  Akhirnya, jasad orang  Batak  itu  dikuburkan di luar pemakaman, di dekat Sungai Kerah.

Atas kejadian tersebut, sebagian raja-raja Mandailing meminta kepada pemimpin-pemimpin “bangsa” untuk datang ke daerah memperkenalkan pandangan mereka.   Sebagai balasan, bulan Agustus 1922 itu juga, 28 pemimpin menandatangani sebuah pernyataan yang dinamakan Batak Maninggoring yang menyatakan bahwa “bangsa” penduduk Mandailing adalah bangsa Batak.

Digarisbawahi bahwa sesungguhnya Batak bukanlah nama sebuah negeri atau pun agama, tetapi nama sebuah bangsa di Indonesia yang bermukim di residentie Tapanuli. Sementara Mandailing bukanlah nama sebuah bangsa, melainkan nama sebuah luak di residentie tersebut. Setelah 20 tahun lebih, debat Mandailing versus Batak  akhirnya berujung damai. ***

 

Sipirok dalam Secangkir Kopi

wpid-2014-01-09-19.31.03.jpg

Saya baru tahu kalau kopi Sipirok itu cukup punya nama di kalangan pecinta kopi. Saya juga baru tahu ada kopi Mandailing yang  terkenal sejak zaman penjajahan VOC. Mungkin karena saya kurang bergaul,  mungkin juga karena saya bukan penggemar kopi. Kenapa saya tidak suka kopi? Karena rasanya pahit.  Saya malah  heran, kenapa ada orang yang suka yang pahit-pahit, padahal banyak yang manis-manis. Kalau pun terpaksa menyeruput kopi, saya memilih kopi latte.

Tapi, baru-baru ini, rasa ingin tahu  pada sebuah kafe bernama Coffee Sipirock di Galeri Niaga, Tanjung Barat, Jakarta Selatan memaksa saya untuk kembali menyesap aroma kopi. Kafe ini baru berdiri Agustus 2013 lalu.  Warga Depok pasti  tidak asing dengan kafe ini. Karena,  kalau datang dari arah Pasar Minggu atau TB Simatupang pasti melewati tempat di sebelah Gedung Telkomsel itu.

Kafe ini tidak besar. Luasnya kira-kira dua  unit ruko digabung menjadi satu. Karena masuk di dalam  kompleks ruko, pengguna kendaraan pribadi tidak usah khawatir dengan tempat parkir. Tersedia cukup tempat parkir di kawasan itu. Mencarinya juga tidak susah. Papan nama  besar yang dipejeng di atas kafe  membuat tempat ini  terlihat mencolok dari jauh.

100_4414
Coffee Sipirock terdiri dari tiga lantai. Lantai satu berisi ruang makan, dapur, kasir, dan area live music. Lantai dua tempat makan yang lebih modern, dan lantai tiga musala. Tempat yang paling nyaman adalah di lantai satu. Di sini, meja dan kursinya terbuat dari kayu solid yang berasal dari bangkai kapal nelayan di Muara Baru, Jakarta. Sebelum dipakai, bangkai kapal  ditenggelamkan ke dalam laut selama beberapa tahun. Hasilnya, muncul  efek tertentu pada kayu, seperti lubang-lubang akibat digerogoti hewan laut. Konon pula katanya,  kayu yang telah direndam air laut  akan lebih awet.

Menu  utama di kafe ini adalah kopi,  *ya, iyalah.  Saya pesan kopi drip coffee dan coffee latte. Dua-duanya pakai susu. Teknik penyajian coffee latte saya sudah paham. Banyak di mana-mana.  Namun, drip coffee merupakan barang  baru bagi saya.  Drip coffee  dibuat dengan menempatkan bubuk kopi di atas saringan. Ditekan sedikit supaya padat. Di bawah wadah saringan  ditempatkan cangkir.  Lalu, perlahan-lahan air panas dituangkan ke dalam saringan, dan tunggu sampai air kopi menetes ke dalam cangkir.

Drip Coffee.

Drip Cofee.

Hasilnya adalah secangkir kopi  kental, dengan aroma yang kuat, dan rasanya yang pahit sekali. Rupanya,  saya belum mengaduk susu yang  ada di dasar  cangkir. Setelah diaduk barulah rasanya berubah menjadi “normal”.  Kata orang, teknik drip coffee adalah teknik yang dipakai penduduk Vietnam dalam meminum kopi sehari-hari. Untuk pecinta kopi susu,  susu  dapat ditambahkan di dasar gelas sesuai selera. Katanya lagi, drip coffee  memiliki kadar kafein yang tinggi.

Sembari menyesap dua gelas kopi,  saya berbincang-bincang dengan si empunya kafe, namanya Ayub Pulungan. Pakai “S” di tengahnya. Dari cerita karyawan sebuah perusahaan properti itu saya memahami sedikit mengenai kopi Sipirok. Dia menjelaskan kepada saya yang bodoh ini, kopi Sipirok  didominasi oleh varietas Robusta, Liberika, sedikit Arabika,  dan juga kopi luwak liar.  Kopi  ini dinamai kopi Sipirok karena berasal dari perkebunan rakyat di kaki gunung Gunung Sibualbuali dan sekitar kota Sipirok.  “Aromanya khas fruity atau nutty, full body, dan rendah asam,”  kata dia. Artinya apa? Mungkin kira-kira rasanya lebih manis.

Sejarah kopi Sipirok bisa ditarik panjang ke zaman penindasan VOC alias kumpeni yang menjajah tahun 1602-1798. Melalui kebijakan tanam paksa, perusahaan keparat ini mewajibkan  penduduk Sipirok  menanam kopi varietas Arabika di lereng-lereng Gunung Sibualbuali. Tapi,  mungkin karena bibitnya jelek, varietas Arabika gagal total di sana. Banyak yang terserang hama dan tewas. VOC kemudian menggantinya dengan Robusta, dan sukses. Sejak saat itu, kopi Sipirok menjadi sangat terkenal, bahkan diekspor  melalui pelabuhan Natal dan Teluk Bayur, Sumatera Barat dengan merek Kopi Mandheling.

Di masa kini, sebagian warga Sipirok melanjutkan tradisi menanam kopi.  Sentra-sentra kopi rakyat di Sipirok terletak di Sialaman, Saba Tombak, Siijuk, Pangaribuan, Sidua Dua, Liang, Aek Nabara, Saba Tolang, Parau Sorat, Bunga Bondar X, Silaiya, Mondang, dan Arse. Semua tempat dengan nama-nama “asing” itu terletak di sekitar Sipirok. Tidak semuanya asing sih. Sewaktu masih “kader” Pramuka,  saya pernah berjalan kaki selama tiga hari dari Bunga Bondar ke Desa Benteng Huraba, di dekat Padang Sidempuan.  Perjalanan ini diberi nama Pengembaraan Desember Tradisional (Pedestra) untuk menapaktilasi perjuangan rakyat Sumatera Utara melawan agresi militer Belanda kedua 1948- 1949.

Balik ke kopi, Ayub memastikan  seluruh kopi di Coffee Sipirock didatangkan langsung dari sentra kopi di Sipirok. Mengenai jumlah produksi petani di sana, ia   tidak tahu pasti. Ayub hanya memberi gambaran,   seorang pengepul di Sipirok biasa membawa 50 kilogram bijih kopi setiap hari poken  (pekan) ke pasar. Memang persoalannya, karena dikeringkan dengan cara tradisional–dijemur di tepi jalan,  kadar air pada bijih kopi  perkebunan rakyat masih cukup tinggi, sehingga diperlukan pengeringan  lebih lanjut.

Perihal kopi dan pengeringannya saya sedikit-banyak sudah tahu. Jangan iri ya, sewaktu kecil kerjaan saya adalah memetik kopi di kampung saya yang berjarak 22 kilometer dari Sipirok. Bijih kopi yang sudah dikumpulkan kemudian dihamparkan di atas tikar pandan, dan dijemur di pinggir jalan raya selama tiga hari. Saban hari poken, bijih kopi yang sudah kering lantas dibawa ke pasar Sipirok untuk dijual. (Baca juga: Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah). Tapi, yang saya penasaran adalah mengenai kopi luwak liar  yang katanya juga disajikan di Coffee Sipirock. Apa benar hasil pencernaan luwak liar bisa dikumpulkan? Namanya juga liar, bagaimana cara mendeteksi ini kotoran luwak liar atau bukan?  Jangan-jangan luwak yang ditangkarkan?

Ditanya hal itu, Ayub menjamin kopi luwak di kafe miliknya itu berasal dari luwak liar.  Menurut dia, seekor luwak–meski dikata liar, adalah binatang  resik. Luwak selalu membuang kotoran di tempat-tempat yang bersih, seperti di atas batu atau di atas sebatang kayu. Sehingga, kopi yang sudah dicerna luwak bisa dikenali dengan mudah.

Bukan cuma ingin mengembangkan bisnis, Ayub mengungkapkan, niatnya mendirikan kafe adalah untuk menopang sentra-sentra kopi rakyat di Sipirok.  Ia juga bertekad menjadikan Coffee Sipirock sebagai tempat bagi pecinta kopi sejati yang ingin  mencari “the real coffee“, bukan sekadar mencari tempat nongkrong.  Selama kami  berbincang-bincang, alunan lagu Batak yang dinyanyikan dengan bersemangat oleh sepasang remaja di dalam   kafe terdengar sampai luar. Setelah habis dua cangkir kopi, saya pun pamit *tetap bayar dulu ke kasir, bersama keinginan yang semakin dalam untuk suatu waktu menelusuri seluk-beluk kota kecil bernama Sipirok. Lamunan tentang itu sampai-sampai membuat mata ini tidak bisa terpejam hingga adzan Subuh bergema *Duh…dua gelas kopi di malam hari. ***

Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah

Jika ditanya, kenangan apa yang paling membekas saat melaksanakan ibadah puasa dan Lebaran? Saya yakin, sebagian besar kita akan terbawa pada memori masa kecil. Alasannya banyak. Bisa karena masa-masa itu semuanya serba indah dan mudah, atau  karena banyak orang-orang yang dulu berpuasa bersama kita, kini sudah tidak ada lagi.

Saya sendiri paling senang kembali ke masa-masa akhir 1970-an sampai  1990-an.  Ketika itu, saya masih tinggal di Medan dan kerap menghabiskan hari-hari terakhir berpuasa dan Lebaran  di kampung bersama keluarga besar.   Biasanya, dua  hari menjelang Lebaran kami sudah tiba di kampung.

Kampung kami yang benar-benar kampung itu, terletak di sebuah dusun bernama  Aeksah, Kecamatan Pahae Jae, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.  Jaraknya dari Medan sekitar 325 kilometer atau  8 jam perjalanan darat. Rutenya melewati Perbaungan, Sei Rampah, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Parapat, Balige, Siborong-borong, dan Tarutung.

Tadinya, kedua ompung kami tinggal di Banjar Tikus, Kota Sipirok, yang sekarang jadi Ibu Kota Kabupaten Tapanuli Selatan. Kota kecil itu berjarak sekitar 22 kilometer dari Aeksah. Setelah pensiun sebagai pegawai sebuah sekolah di sana,  ompung pindah ke Aeksah. Saya sempat juga mencicipi puasa dan Lebaran di rumah Sipirok.

Rumah kami di Sipirok berlantai dua dan sebagian berbahan kayu. Dindingnya berdempetan dengan  rumah tetangga di kiri dan kanan.  Berhubung waktu itu masih terlalu kecil, tidak banyak yang saya ingat. Cuma, satu kebiasaan  yang paling membekas adalah saya biasanya tidur di lantai dua, sedangkan kamar mandi ada di lantai satu.  Sering di malam hari, kalau kebelet  pipis dan malas ke bawah, saya cukup  membuka jendela di kamar lantai dua, dan….

Khawatir ada yang melihat? Ya, tidak. Karena pada masa itu penerangan masih seadanya–saya tidak ingat apakah listrik sudah ada atau belum. Yang jelas, untuk menyalakan televisi tabung hitam-putih harus menggunakan catu daya dari aki mobil, yang tiap tiga hari harus dibawa ke pasar untuk dicas.

Begitulah, sekitar saya SD, ompung pindah ke Aeksah, persis di tepi Jalan Raya  Lintas Sumatera yang menyambungkan Aceh sampai ke Lampung. Bicara soal listrik, beberapa tahun lamanya kami sempat merasakan kondisi tanpa listrik di Aeksah.  Andalan satu-satunya, ya, aki mobil untuk menyalakan radio. Untuk penerangan kami  mengandalkan lampu petromaks.

Televisi? Tidak ada satupun gelombang stasiun televisi yang sudi mampir ke Aeksah pada waktu itu. Radio pun biasanya radio luar negeri yang memancar lewat gelombang SW.  Sekarang? Jangan ditanya. Semua operator seluler sudah ada memamerkan sinyalnya di sana.

Menjelang berbuka, hari mulai gelap, berjejerlah kami para cucunya yang datang  dari Medan, Dumai, dan Sibolga di teras rumah, di hadapan lampu-lampu petromaks yang siap dipompa. Minyak tanah sudah diisi, spiritus sudah dituang, kaos lampu masih oke, siap…mulailah tangan-tangan mungil memompa petromaks sampai suaranya menderu-deru. Kaos lampu berubah menjadi putih terang, pertanda hembusan minyak sudah maksimal.

Beberapa dari lampu-lampu itu kemudian digantungkan di rumah, dua lagi dibawa ke masjid yang berjarak sekitar 400 meter dari rumah. Kecuali khutbahnya yang memakai bahasa Batak yang tak saya pahami, salat tarawih di sana normal. Jumlahnya 11 rakaat.  Cuma, karena jaraknya yang cukup jauh dan jalanan gelap,  biasanya kami melewatkan tarawih di masjid.

Sayangnya, entah karena apa, saya juga malas mencari tahu, belasan tahun lalu, pengurus masjid pecah kongsi. Terbelah. Dusun yang penduduknya cuma beberapa ratus orang itu pun terpaksa memiliki dua masjid. Pengurus lainnya mendirikan masjid baru di dekat rumah kami.

Enaknya puasa di kampung adalah udaranya yang dingin membuat puasa jadi tidak terasa. Sambil menunggu berbuka kami bermain di kebun dan sawah.  Dusun Aeksah dibangun di lereng bukit, termasuk rumah kami. Di depan rumah, dipisahkan oleh jalan, terdapat bukit yang ditumbuhi pohon karet, durian, dan kopi. Sedangkan di lembah di belakang rumah ditumbuhi pohon durian dan kopi.

Permainan yang paling menyenangkan adalah berburu binatang di kebun dan sawah di belakang rumah. Berbekal senapan angin yang disiapkan untuk memburu tupai perusak tanaman, kami serasa jadi pemburu profesional. Mencoba menembak burung, tupai, atau burung ayam-ayam yang sering hinggap di tali air sawah.  Untunglah, ketika itu tidak ada satu pun hewan yang berhasil ditembak jatuh oleh para pemburu amatir ini.

ARSIK
Di sebelah sawah di belakang rumah, terdapat kolam ikan mas. Ukurannya kira-kira 10×15 meter. Beberapa bulan menjelang Lebaran ompung selalu menebar bibit ikan mas di sana. Jadi, tiba waktunya Lebaran, ikan-ikan  sudah besar dan siap disantap. Nah, salah satu kegiatan yang paling ditunggu-tunggu  adalah menangkap ikan mas di kolam.

Menangkap ikan mas di kolam gampang-gampang susah.  Pertama, tambak harus dikeringkan dulu. Airnya dibuang lewat saluran pembuangan ke tali air.  Setelah surut menjadi kira-kira setinggi 30 sentimeter, barulah kami masuk ke dalam kolam yang penuh lumpur itu.

Lantaran tangguk cuma ada dua, sebagian besar kami memilih menangkap ikan memakai tangan kosong. Lebih merepotkan karena ikannya licin dan sudah besar-besar. Meski begitu, dengan tangan kosong  acara menangkap ikan menjadi lebih menyenangkan.

Bayangkan susahnya menangkap ikan di atas lumpur. Jalan saja setengah mati, apalagi harus mengejar si ikan yang lari ke sana-ke mari. Setelah satu jam, barulah semua ikan bisa ditangkap. Jumlahnya mencapai puluhan ekor.  Selanjutnya, ikan yang telah dicuci di sungai dibawa ke rumah untuk diolah menjadi arsik.

Arsik  ini adalah salah satu hidangan khas Tapanuli yang sangat populer.  Cara membuatnya,  ikan mas yang sudah disiangi, ditiris, dicuci bersih, dan dibiarkan utuh. Kemudian, badan bagian luar ikan  dilumuri dengan bumbu yang sudah disiapkan.

Bumbu-bumbu itu adalah cabai merah,  bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, andaliman (merica Batak), kunyit, dan garam.  Setelah itu, masukkan  kacang panjang dan 3-5 batang serai ke dalam perut ikan. Alas  dasar wajan dengan sisa serai sampai tertutup rapat. Letakkan ikan di atas serai, lalu tuangkan air. Tutup wajan dan masak di atas api kecil sampai kering. Dan, voila…this is it, sajian ikan mas dengan topping berwarna kuning meriah yang menggugah selera.

MANGALOMANG
Bersamaan dengan mengolah arsik,  sehari menjelang Lebaran ompung dan geng inang boru juga mulai  mangalomang atau memasak lemang. Bahan-bahan lemang sederhana, yaitu campuran antara beras ketan, santan, dan garam.  Bahan-bahan yang sudah disiapkan  dituang ke dalam satu ruas  bambu. Di dalam bambu  dilapisi terlebih dulu dengan daun pisang supaya lemang tidak lengket.

Bambu kemudian ditegakkan berjejer di atas kayu dan dibakar pakai arang atau kayu bakar.  Membakar lemang ini cukup lama waktunya. Bisa setengah harian. Lemang juga harus dibolak-balik supaya matangnya merata. Setelah  matang, batang bambu dibelah dan dikeluarkan lemangnya.

Lemang biasanya digunakan sebagai sajian untuk hidangan makan pagi sebelum salat Ied. Lemang paling mantap disajikan bersama durian. Pas, karena lemang bisa menetralisasi rasa manis durian. Kelebihan lainnya, dengan memakan lemang bersama durian, jumlah durian yang kita santap menjadi lebih sedikit.

MADABU TARUTUNG
Durian di kampung tidak perlu beli. Tinggal menunggu ‘durian runtuh’ dalam arti sebenarnya. Sudah saya ceritakan tadi, belasan pohon durian tinggi besar  tersedia di kebun di depan rumah dan di lembah di belakang rumah. Menunggu durian runtuh ini juga kegiatan wajib menunggu berbuka.

Apalagi di era kegelapan ketika PLN belum melirik Aeksah, menunggu durian jatuh  adalah kegiatan mengasyikkan. Tak peduli siang atau tengah malam, jika terdengar suara gedebuk–pertanda ada buah durian yang mendarat di tanah, orang yang pertama mendengarnya harus meneriakkan, “Madabu tarutung, madabu tarutung,” (jatuh durian, jatuh durian). Secepat Ben Johnson (sprinter zaman dulu) kami pun berlarian ke arah suara itu. Berbekal senter seadanya, pencarian terkadang butuh waktu lama. Tapi begitu  ketemu, rasanya senang luar biasa.

Saat musim durian, kadang jumlah durian yang terkumpul melebihi kemampuan makan belasan anak-cucu yang hadir. Dari pada busuk, durian itu  kami jajakan di tepi jalan. Tempatnya seadanya. Papan-papan kayu dipaku menjadi meja  darurat. Durian diletakkan saja  di pinggir tepi jalan. Tidak berapa lama pasti ada saja pemudik yang mampir. Kalau tidak salah ingat harganya ketika itu Rp 5 ribu-Rp 10 ribu per buah. Lumayan, kalau bisa terjual 10 buah, berarti Rp 100 ribu di tangan.

MAKKOBAR
Hari terakhir berpuasa pun tiba. Malam harinya, seperti biasa, warga kampung ikut  meramaikan malam dengan takbiran. Tidak hanya dari Aeksah, takbiran dimeriahkan  pula oleh warga-warga dari kampung lain di Pahae. Jangan dibayangkan jarak antar kampung menempel rapat seperti di kota besar. Jarak antar kampung di Pahae paling sedikit 3 kilometer.

Selepas berbuka, mulailah muncul keramaian. Warga kampung menyewa beberapa truk  yang penuh diisi  anak-anak kecil. Di atas kap truk diletakkan speaker besar yang dicomot dari masjid. Sambil berkeliling, gema takbir berkumandang dari atas truk. Kami pun tak mau ketinggalan. Ikut mengiringi dengan mobil dari belakang.

Besoknya, sesuai tradisi masyarakat Batak, sebelum menuju ke lapangan untuk salat Ied, kami sekeluarga berkumpul di ruang tengah rumah. Kursi-kursi digeser, tikar dan karpet dibentangkan. Sebelum menyantap hidangan, ada acara wajib yang dinamakan makkobar.

Dalam sesi ini, seluruh anggota keluarga harus menyampaikan sepatah-dua patah kata yang intinya ucapan mohon maaf lahir dan batin kepada seluruh keluarga. Makkobar selalu dimulai dari cucu yang paling bontot, kemudian ke anak yang paling bontot, terus bergiliran sampai akhirnya sampai ke ompung godang (kakek laki-laki).

Teorinya hanya sepatah-dua patah kata, tapi prakteknya, makin tua umur pembicara, makin panjang pula petuah yang disampaikan. Banyak orang yang bilang, tradisi  makkobar ini yang membuat orang Batak jago berbicara di depan umum dan adu argumentasi. Terbukti, jagad hukum sekarang dikuasai orang Batak.

Tapi, terus terang, makkobar ini yang selalu bikin saya senewen tiap tahun. Gimana gak, malamnya harus membuat konsep apa yang mesti disampaikan besok. Harus ada kalimat yang baru, dong. Doanya juga mesti tambah variatif, masa’ sama dengan tahun lalu. Ya, begitulah saban tahun.

Habis makkobar dan sarapan, sekitar pukul 7.00 kami pun beramai-ramai berangkat ke tanah lapang yang berjarak 500 meter dari rumah. Tanah lapang itu sebenarnya halaman rumah warga yang sangat luas, jadi bisa dipakai untuk salat seisi kampung.

Salat di Tapanuli Utara sama dengan salat umat Islam di seluruh dunia. Dimulai dengan takbir, kemudian khutbah Ied, dan ditutup dengan salat dua rakaat. Yang membedakan paling khutbahnya yang menggunakan bahasa Batak yang hanya 10 persen yang bisa saya cerna.

Selesai salat, kami kembali ke rumah. Sampai tengah hari biasanya, kami tidak bisa kemana-mana. Sebagai orang yang cukup dituakan di kampung itu, ompung ramai menerima tamu. Anak-anaknya pun harus siaga di rumah. Selain untuk bersilaturahim, tugas paling penting menyiapkan amplop untuk dibagikan kepada anak-anak kecil yang datang.

ABIT
Begitu tamu  mulai berkurang–sebenarnya tidak pernah sepi sampai malam, anak dan cucu biasanya pergi ke Sipirok untuk jalan-jalan. Sepanjang perjalanan 20 kilometer lebih menuju Sipirok yang masuk ke Kabupaten Tapanuli Selatan itu, akan terlihat parade baju baru anak-anak maupun orang tuanya. Biasanya warna-warna yang dipilih adalah cerah yang ngejreng.

Uniknya di sana, meski sudah memakai baju baru, tetap saja sehelai sarung atau abit terlempang di pundak atau di pinggang mereka. Jadinya kontras dengan baju serba baru dari kepala ke kaki yang mereka kenakan. Lah, keren-keren kok pakai sarung. Namun, itulah tradisi masyarakat Tapanuli. Mungkin karena sehari-hari terbiasa mengenakan sarung untuk menghalau dingin, saat Lebaran pun sarung harus ikut.

Masyarakat Batak, sebagaimana banyak suku lain di Nusantara, memang sangat lekat dengan kain-kain yang dibuat dengan teknik menenun (proses membuat kain dengan cara menyilangkan dua set benang secara vertikal-horisontal). Kain tradisional masyarakat Batak dikenal dengan nama ulos.

Ulos dibuat bukan dengan teknik tenun biasa, melainkan dengan teknik tenun ikat. Disebut tenun ikat karena pada saat benang hendak diwarnai, benang dikumpulkan, diikat satu per satu, baru dicelupkan ke cairan pewarna. Metode ini yang menghasilkan corak-corak tertentu dari kain.

Ulos banyak jenisnya, tergantung tujuan penggunaannya. Misalkan, ulos untuk dipakai sehari-hari (ulos Sirampat) berbeda ulos dengan ulos untuk upacara adat (ulos Ragidup atau ulos Ragihotang) , beda pula dengan ulos  untuk berkabung (ulos Sibolang). Ah, soal ulos dibahas nanti ya, sekarang perjalanan kita lanjutkan ke Sipirok dulu…

AEK LATONG
Jarak perjalanan ke Sipirok tidak terlalu jauh, hanya sekitar 20 kilometer. Lalu-lintas juga sepi dan lancar. Tapi, jangan dikira perjalanan bisa ditempuh dengan cepat. Salah satu hambatan ada di sebuah daerah yang bernama Aek Latong. Di sini ada jalan ‘maut’ sepanjang 3-4 kilometer yang dari tahun ke tahun selalu anjlok sedalam puluhan meter.

Sudah banyak korban jiwa yang menjadi tumbal di kawasan ini. Pilihan kecelakaan ada dua.  Pertama, mobil bisa terlempar ke jurang karena terlambat mengurangi kecepatan sewaktu memasuki jalan yang tiba-tiba menurun tajam. Kedua, mobil terseret ke bawah karena tidak kuat menaiki tanjakan curam.

Selain jebakan jalan turun, tantangan di jalan mendaki juga berat. Terutama di musim hujan.  Bus-bus besar dan sedang biasanya menurunkan semua penumpangnya sebelum mendaki di jalan ini. Beberapa bus yang nekad tak menurunkan penumpang atau mengurangi muatan harus menerima nasib melorot ke bawah atau terguling. Konon kabarnya, ada satu bus yang terguling dan masuk ke dalam rawa berair yang di sisi jalan. Semua penumpangnya tewas tenggelam.

Untungnya, saya dengar kabar,  jalur Aek Latong kini sudah digeser oleh Kementerian PU sekitar satu kilometer dari jalan aslinya. Jalan baru sepanjang 2,9 kilometer yang dibangun dengan biaya Rp 60 miliar sudah beroperasi tahun ini. PU  mengakui,  penanganan jalur Aek Latong sangat berat.

Pasalnya, kondisi alam Aek Latong  tepat berada pada patahan bumi Sesar Semangko, sehingga selalu terjadi  patahan yang sangat besar di badan jalan. Kondisi inilah yang menyebabkan rusaknya badan jalan. Masalah lainnya, jalur tersebut  berada pada daerah lereng  gunung yang curam. Ditambah curah hujan yang tinggi, lengkap sudah kerawanan di jalur Aek Latong.

Dari berbagai literatur diketahui bahwa sesar atau patahan Semangko adalah istilah yang merujuk pada bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke selatan, dimulai dari Aceh hingga ke Teluk Semangka di Lampung.

Patahan inilah membentuk Bukit Barisan,  rangkaian dataran tinggi di sisi barat Sumatera. Patahan Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah Anai di dekat Bukittinggi.

Sesar Semangko ini, kata pakar kegempaan Danny Hilman, sebenarnya masih bagian dari sesar Sumatera yang terjadi akibat tunjaman yang miring dari lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia.

Danny membagi patahan Sumatera sepanjang 1.900 kilometer menjadi 19 segmen besar. Mulai dari segmen Sunda di ujung selatan, Semangko, Kumering, Manna, Ketaun, Dikit, Siulak, dan Suliti. Kemudian Sumani, Sianok, Sumpur, Barumun, Angkola, Toru, Renun, Tripa, Aceh, dan Seulimeum. Tiap segmen  panjangnya beragam, mulai dari 35 sampai 220 kilometer.

Gempa darat yang disebabkan patahan itu sangat dangkal, hanya pada kedalaman 10 kilometer, sehingga memicu efek getaran sangat besar dan dapat menggoncang lapisan bumi dengan kuat walaupun magnitude-nya kecil. Wilayah yang dilalui patahan Semangko ini sangat rentan terhadap longsor.

Tuh, beralasan kan, mengapa Aek Latong sulit sekali ditangani.


SIPIROK

Tiba di Sipirok banyak kegiatan yang bisa dilakukan. Pertama-tama, kita harus melewati hiruk-pikuk pasar yang ada di tengah kota.   Saya ingat, waktu kecil, ompung masih sering berdagang di pasar ini. Sebelum terbakar habis dan dibangun kembali menjadi lebih modern, dagang di pasar ini masih lesehan. Ompung menggelar tikar dan berdagang hasil bumi dari Aeksah.

Ada telur ayam, sayur-mayur dan buah-buahan. Kerja saya yang niatnya ingin membantu biasanya cuma ngerecokin atau mecahin telur. Satu lagi, bakat terpendam dari kecil sampai sekarang adalah nyasar. Beberapa kali saya nyasar di pasar yang cukup besar itu. Apalagi dulu kondisi belum serapih sekarang.

Tujuan utama di Sipirok ada dua yakni pemandian aek milas (air panas) Sosopan dan Tor Simago-mago (tor artinya gunung, mago artinya hilang). Aek milas sosopan terletak di pertengahan jalan menuju simago-mago. Dari Sipirok ke Sosopan jaraknya sekitar 5 kilometer. Ditambah sekitar 3 kilometer lagi menuju Simago-mago.

Aek Milas Sosopan ini adalah pemandian umum air panas yang gratis.  Gak kalah dengan onsen di Jepang, lah. Letaknya persis di tepi jalan.  Bedanya dengan onsen, di sini gak boleh mandi tanpa busana. Bedanya lagi, di Sosopan tidak ada orang yang bisa berendam, saking panasnya air di sana. Pengunjung hanya duduk di tepi kolam lalu mandi dengan air yang sudah didinginkan di dalam gayung.

Tahun lalu saya ke sana, rasanya kok ada penurunan. Sangat jorok. Sampah sampo dan sabun di sana-sini. Dulu lebih bersih. Entahlah. Selain di Sosopan, pemandian air panasnya lainnya ada di Padang Bujur. Tempatnya agak jauh ke dalam. Mungkin karena itu tempatnya menjadi kurang popular meski  kabarnya lebih bersih. Saya pernah ke sana, tapi tidak pernah mandi, hanya nongkrong di warung.

Adanya sumber mata air panas di satu wilayah biasanya menunjukkan ada aktivitas gunung api di sana. Di Sipirok juga begitu. Kota ini bertetangga dengan Gunung Sibualbuali (1.819 meter di atas permukaan laut), yang termasuk gunung api aktif kategori B. Artinya, meski aktif, gunung ini tidak pernah menunjukkan aktivitasnya sejak tahun 1.600-an.  Kata para ahli geologi, gunung ini terbentuk akibat amblasan (graben) sesar Sumatera yang berarah baratlaut-tenggara, sedikitnya terbentuk tiga kawah besar pada bagian puncak dan lerengnya.

Sedangkan Gunung Si Mago-mago yang jadi obyek wisata populer warga setempat hanyalah bukit kecil yang sama sekali tidak aktif. Bagi yang memakai kendaraan, bisa membawa kendaraannya naik ke atas puncak, karena sudah disediakan jalan beraspal yang landai. Mau jalan pun tidak sulit. Paling sekitar 15 menit sudah tiba di puncak. Dekat, kan.

Konon, dinamakan Si Mago-mago karena orang yang datang ke  Si Mago-mago akan kelihatan hilang-timbul jika sudah di atas puncaknya. Benar-tidaknya saya tidak yakin. Karena selama ke sana tidak pernah ada yang hilang, tuh. Pemandangan dari atas gunung cukup menyenangkan mata. Angin dingin yang menyapu badan juga nyaman untuk menjadikan gunung ini sebagai tempat kongkow yang murah-meriah.

Oiya,  datang Sipirok   kurang paripurna kalau tidak mampir ke rumah makan sop Sipirok di dekat pasar. Sop iga sapi di sini terkenal enak, sepadan dengan harganya. Pemiliknya juga sudah membuka cabang di Medan. Satu lagi penganan favorit saya adalah keripik sambal Taruma. Ini adalah keripik singkong yang di dalamnya dikasih sambal ulek merah. Keripiknya sih biasa,  sambalnya itu yang bikin ketagihan.

**