Melawat ke Jantung Legenda Batak

Dalam setiap legenda, kata seorang penulis, betapapun musykilnya, terdapat butir-butir kebenaran. Dan legenda Si Raja Batak berawal dari Gunung Pusuk Buhit dan bermula di Sianjur Mula-mula. Disemangati oleh cerita itu, saya pun meluncur ke kaki Gunung Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir pada Lebaran lalu. Tempat inilah, yang menurut legenda, merupakan tempat mendaratnya Si Raja Batak dari langit.  Menikah dengan perempuan bumi di tempatnya turun, Si Raja Batak  kemudian menjadi leluhur orang Batak sedunia.

Desa yang pertama kali dibangun Si Raja Batak setelah turun ke bumi adalah Sianjur Mula-mula.  Desa ini terletak persis di kaki Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut). Gunung ini merupakan satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus pada 17.000 tahun lalu, ketika terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba. Jejak-jejak peninggalan leluhur Batak konon banyak terpendam di sana.

Berangkat dari Medan, ada dua pilihan rute yang bisa ditempuh untuk menuju Sianjur Mula-mula. Rute pertama adalah melalui jalur Kota Parapat.  Awalnya, kita mengendarai mobil ke Parapat sejauh 3-4 jam perjalanan.  Sesampainya di Parapat, kita menumpang kapal feri menuju Desa Tomok,  di Pulau Samosir  sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari Tomok, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 -2 jam lagi ke Sianjur Mula-mula melalui Kota Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir. Sehingga total waktunya bisa menempuh 7 jam perjalanan.

Saya tidak memilih rute pertama ini karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang, belum lagi kalau ditambah waktu tunggu feri yang bisa mencapai dua jam.  Lagipula Tomok sudah saya kenal sejak masih kecil. Tapi, bagi wisatawan yang belum pernah ke Tomok, saya sarankan melalui rute pertama ini. Selain karena menjual banyak cinderamata, Tomok dan sekitarnya juga menyimpan banyak situs bersejarah seperti makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu berukuran raksasa dan matu kursi Parsidangan Siallagan. Belum lagi dalam perjalanan menuju Pangururan, akan banyak bersisian dengan objek wisata menarik seperti Museum Simanindo dan Hutabolon, pantai Batu Hoda, pantai Parbaba, dan pantai Indah Situngkir.

Adapun saya, menjatuhkan pilihan pada rute kedua, yaitu melewati Kota Brastagi, Kabanjahe, Taman Wisata Iman, Tele, hingga ke Sianjur Mula-mula. Rute ini relatif lebih sepi pemukiman penduduk dan lalu lintas kendaraan. Kami bertolak pagi dari Medan. Namun karena terhadang insiden mesin overheating, lepas Magrib kami baru tiba di Kota Pangururan untuk bermalam. Kalau dari arah Medan, kita terlebih dulu melewati Sianjur Mula-mula, baru mendapati Pangururan. Untuk catatan, meskipun berada dalam satu kabupaten, Kota Pangururan terletak di Pulau Samosir, sementara Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera.

Tersebab tidak ada anggota rombongan yang pernah ke Sianjur Mula-mula atau Pangururan, kami mengandalkan Google Map sebagai pemandu jalan. Piranti pintar itu terbukti akurat. Tapi, catatan dari saya, saat melalui Jalan Sidikalang-Medan, Google Map mengarahkan pengguna untuk melalui jalan pintas yang tidak bisa saya temukan. Kemungkinan terbesar, jalan yang disarankan oleh perusahaan Sergey Brin ini adalah jalan setapak yang tidak bisa dilintasi mobil, sehingga tidak terlihat. Akhirnya, kami meneruskan perjalanan ke arah Taman Wisata Iman, baru kemudian berbelok ke kiri memasuki Jalan Dolok Sanggul-Sidikalang menuju Jalan Tele-Pangururan.

Sempatkan singgah sebentar di daerah Tele. Di sana disediakan menara pandang setinggi tiga lantai. Dari atasnya kita bisa menyaksikan pemandangan cantik kaldera kawah Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purba. Angin berembus kencang dan suhu udara dingin di sana. Sebaiknya bawa jaket supaya kegiatan memandang menjadi lebih leluasa.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Sampai di titik tujuan yang ditunjukkan Google Map,  hari mulai gelap. Karena tidak menemukan petunjuk arah ke Sianjur Mula-mula ataupun Pusuk Buhit, kami pun menepikan mobil untuk bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan melintas. 

“Permisi Bu, mau tanya, jalan ke Sianjur Mula-mula lewat mana ya?” “OO..DI SINI LAH INI KECAMATAN SIANJUR MULA-MULA. ININYA TEMPATNYA, WILAYAHNYA.” 
(Seisi mobil kaget dengan volume suara Si Inang)
“Kalau mau ke Pusuk Buhit di mana jalan masuknya?”
 “PUSUK BUHIT?  ITU GUNUNGNYA (menujuk). BANYAK ORANG MENDAKI KE SANA. ADA AIR UNTUK AWET MUDA DI PUNCAKNYA.”
 Lega lantaran mengetahui berada di tempat yang benar,  dan juga demi kesehatan gendang telinga, kami pun mohon pamit kepada Si Inang. MAULIATE INANG !.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Karena hari sudah menjelang malam, kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Kota Pangururan yang berjarak sekitar 20 kilometer ke depan. Atas rekomendasi seorang teman, kami bermalam di Hotel P di tepi Pantai Situngkir. Hotel ini adalah hotel baru, berkelas melati dengan tarif Rp 350 ribu per malam, tanpa AC, tanpa  restoran, dengan bau saluran air yang menguar hingga ke kamar kami di lantai dua. Hotel yang tidak direkomendasikan untuk disinggahi, namun lantaran sudah terlanjur masuk, tak mungkin pulak kami pergi lagi,  terpaksalah kami menginap di sana.

***

Pagi harinya, setelah membeli kaos yang harganya terjangkau dari penjaja suvenir di dekat hotel dan merenung di tepi Pantai Situngkir yang berpasir putih, kami berangkat menuju Sianjur Mula-mula.  Saya ingatkan lagi, Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera, sedangkan Pangururan adanya di Pulau Samosir. Antara kedua  pulau ini dipisahkan oleh kanal berair dangkal selebar kira-kira 20-30 meter, dan dihubungkan dengan jembatan.

Jarak Pangururan – Sianjur Mula-mula sekitar 20 kilometer. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan yang sebelumnya disembunyikan oleh malam. Deretan rumah tradisional Batak berderet rapi di tepi jalan. Rumah panggung beratap tanduk kerbau  seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa pagar, tanpa pembatas antar rumah. Anak-anak bercengkrama  di tangga rumah yang jumlahnya ganjil atau bermain di halaman yang temaram oleh pepohonan.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

 

Rumah penduduk.

Rumah penduduk.

Jalan menuju Pusuk Buhit sudah cukup lebar dan mulus. Tapi, karena ketika kami mampir ke sana kebetulan berbarengan dengan pesta penduduk setempat yang menutup seluruh badan jalan, jadilah perjalanan kami dialihkan ke jalan desa yang kondisinya semi-offroad. Untunglah kami menumpang mobil MPV. Karena sedan dan sejenisnya pasti akan kesulitan melewati jalan desa ini.

Di tengah perjalanan menuju Pusuk Buhit, terdapat posko untuk pendaftaran pendakian. Pagi itu sudah sekitar pukul 9.30, tapi posko masih tutup. Setelah bertanya kepada orang-orang yang nongkrong di warung kopi, barulah penjaga posko hadir. Kami berbincang-bincang dengan pak penjaga. Beliau menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai objek wisata di sekitar Pusuk Buhit. Soal pendakian, dia tidak menyarankan dilakukan saat ini,  karena sudah terlalu siang. Sementara pendakian harus dilakukan dengan berjalan kaki dan butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak gunung. 

Tapi, dia menjelaskan, meski tak sempat mendaki, masih banyak artefak bersejarah di kawasan Sianjur Mula-mula yang bisa dijangkau dengan mobil. Kami sepakat. Toh tujuan hari itu memang bukan pendakian, melainkan hanya sekadar menapakkan kaki di kaki Pusuk Buhit. Daripada bingung tak tentu arah, supaya lebih efisien, kami boyong saja pak penjaga posko sebagai pemandu jalan.

 

Posko pendakian.

Posko pendakian.

Kantor Desa Sianjur Mula-mula.

Kantor Kepala Desa Sianjur Mula-mula.

Naik sedikit ke punggu Pusuk Buhit, terdapat artefak Batu Hobon yang berwujud tumpukan batu berbentuk meja. Batu Hobon ini konon dipakai oleh Si Raja Batak dan keturunannya untuk bermusyawarah. Legenda menyebutkan, di dalam rongga Batu Hobon ini Si Raja Batak menyimpan harta kekayaannya. Cerita lain mengisahkan, batu ini ditumpuk oleh orang-orang terdahulu untuk menutupi lubang magma. Pusuk Buhit memang tergolong gunung api aktif, namun dikategorikan sebagai gunung api kelas C yang tidak mungkin meletus. Konon, tentara Jepang di masa pendudukannya pernah hendak membongkar batu tersebut dengan menembakinya, karena diduga di dalamnya banyak disimpan emas perhiasan.   Tapi ajaib, batu tebal itu bergeming, tak lecet sedikitpun. Dan tak berapa lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin kencang nan dingin, begitu dinginnya sampai-sampai si orang Jepang yang menembak batu tadi tewas kedinginan. Di belakang situs Batu Hobon didirikan patung raksasa cucu Raja Batak bernama Ompui Tuan Sariburaja, anak dari Guru Tetea Bulan.

 

 

 

Situs Batu Hobon.

Situs Batu Hobon.

 

Patung Ompu Saribu Raja.

Patung Ompui Tuan Saribu Raja.

Selesai dari Batu Hobon, naik sedikit lagi ke Desa Sianjur Mula-mula (namanya memang sama dengan nama kecamatannya) kita bisa menyaksikan replika  rumah bolon atau rumah adat Batak yang ditempati Raja Batak dan keluarganya. Mungkin ada yang bertanya, selain rumah, apakah Raja Batak punya istana?  Jawabannya, tidak. Dalam kultur Batak, sebutan raja tidak mengacu kepada seorang penguasa wilayah, melainkan sebagai panggilan kepada orang yang dituakan atau dihormati di kampungnya. Kebiasaan itu masih berlaku sampai sekarang.  Makanya ada guyonan, di Batak rajanya banyak, tapi tidak ada istana. Teringat ketika saya pesta pernikahan dulu, butuh waktu dua jam untuk mendengarkan sambutan dan petuah dari sekian banyak raja kampung.

 

Replika rumah bolon.

 

Replika rumah bolon.

Replika rumah bolon.

Di depan rumah bolon dibangun tiruan gua tempat Raja Batak bertapa. Konon, kata orang-orang, ketika tentara Jepang menyerbu, gua Raja Batak yang asli menjadi tempat perlindungan penduduk satu kampung. Kejadian ini mengejutkan sebab secara kasat mata, gua tersebut hanya mampu menampung tiga orang. “Bagi orang yang memiliki mata batin, bisa kelihatan gua ini luas sekali di dalamnya,” kata pak penjaga. Sayangnya, keberadaan gua bersejarah itu kini tidak diketahui lagi letak persisnya. Kembali dari lokasi replika rumah bolon sempatkan  berhenti sejenak di sebuah pertigaan. Lihat ke bawah untuk menyaksikan hamparan hijau Desa Sagala. Desa ini adalah salah satu desa yang pertama kali dibangun oleh leluhur Batak. Nama Sagala diambil dari nama anak Guru Tatea Bulan. Selain Desa Sagala, desa tua lainnya adalah Desa Limbong, yang terletak di sisi lain Pusuk Buhit.

Desa Sagala.

Desa Sagala.

Tempat wisata lain yang sudah disiapkan pemerintah adalah Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan, anak Si Raja Batak. Rumah ini  seperti museum terbuka dengan patung-patung yang kasar buatannya. Jajaran patung-patung itu menggambarkan semua anak dan cucu Si Raja Batak. Satu patung dengan cerita yang paling menggelitik adalah patung seorang perempuan berkemben putih, berambut panjang, yang dalam posisi seperti hendak terbang. Beliau adalah Si Biding Laut, satu dari enam putri Guru Tatea Bulan. Selain enam putri, Tatea Bulan juga memiliki lima orang putra. Legendanya, Si Biding Laut ini adalah putri yang paling cantik di antara putri Tatea Bulan lainnya (dari sini saja sudah bisa ditebak jalan ceritanya).

Putri-putri Tatea lainnya yang iri dengan kecantikan Biding Laut mengajak berjalan-jalan lalu meninggalkan di sebuah pulau. Pertolongan datang, Biding Laut ditemukan oleh pedagang, dibawa ke Tanah Jawa dan menikah dengan raja di sana. Tapi, kesialan Biding belum usai, dia dituduh berselingkuh, dan dibuang ke tengah laut. Tapi tak tahu bagaimana ceritanya (pikiran mulai gak fokus) dia selamat dan dibawa berlayar menuju Sumatera.  Di tengah perjalanan, kapalnya dihantam ombak dan tenggelam. Namun, entah karena kesaktian atau ketulusan hatinya  (makin gak fokus), Biding tidak mati, melainkan menjelma menjadi makhluk halus penjaga Pantai Selatan. Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya…Biding Laut telah menjadi Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Tidak percaya? Baca cerita lengkapnya di Internet, banyak. 

Tak seberapa jauh dari Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan masih ada objek wisata kultural lainnya, yakni Perkampungan Si Raja Batak di Sigulatti. Kampung ini dipercaya sebagai kampung pertama yang didirikan oleh Raja Batak. Namun, karena hari sudah siang, dan kami harus segera berangkat, kampung ini terpaksa dilewatkan.  Masih di Kecamatan Sianjur Mula-mula, juga terdapat air mancur tujuh sumber di Desa Aek Sipitu Dai. Air yang berasal dari tujuh kanal itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Patung Si Biding Laut.

Patung Si Biding Laut.

 

Rumah Parsaktian Tatea Bulan.

Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan.

Siang kian meninggi, menghindari malam di jalan, kami bergegas meninggalkan lokasi yang menawan ini. Meninggalkan tempat berawalnya bangsa Batak, dengan berbagai legendanya, yang dibuat dengan melebih-lebihkan cerita sebenarnya,  bukan dengan maksud buruk, melainkan untuk mengabadikan kisah-kisah di masa lampau kepada anak-cucu.  Soal mana di antara legenda itu yang benar, tak perlulah disaring dan terlalu dipikirkan, cukup dinikmati sebagai karya budaya para leluhur. 

Sebelum tulisan wisata ini menjadi semakin filosofis dan bikin ngantuk, saya sudahi sajalah. Wassalam.

PS: Dalam perjalanan pergi atau pulang, coba singgah sejenak untuk makan siang di Rumah Makan Yaya Barona, di Kecamatan Tiga Panah, Karo. Ikan nilanya enak.

****

Pulang Kampung (1): Muara, Jejak Leluhur di Tepi Danau Toba

Ketika pulang kampung pada Idul Adha lalu,  maksud hati sebenarnya ingin mengunjungi Kecamatan Sianjur Mula-mula di Kabupaten Samosir. Kampung ini terkenal di dalam legenda sebagai tempat diturunkannya si Raja Batak dari langit yang kemudian melahirkan generasi pertama bangsa Batak. Tapi, karena waktu yang ada singkat, sedangkan ke Sianjur Mula-mula jaraknya masih jauh, dari arah Siborong-borong kami melipir ke Kecamatan Muara, di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kota kecil ini dipilih bukan tanpa alasan. Konon, dari Sianjur Mula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit,  nenek moyang bangsa Batak mulai berimigrasi ke kota-kota terdekat, termasuk ke Muara. Sehingga di Muara kini banyak bermukim marga-marga “tua”. Kota ini juga, katanya, terkenal akan tugu-tugu marga Batak yang dibangun keturunannya. Di antaranya tugu Simatupang, tugu Siregar,  dan tugu Raja Pamoto Siregar. Sehingga, Muara dikenal juga sebagai Kota Tugu.

Simatupang sudah banyak dikenal orang. Begitu juga Siregar. Tapi, siapa pula Raja Pamoto Siregar? Bagi saya, tugu Raja Pamoto justru destinasi utama di Muara. Lokasinya tidak jauh. Tiba di Muara, ambil jalan ke kiri, beberapa kilometer sudah sampai. Tapi, untuk sampai ke Muara yang perlu  perjuangan. Muara bisa dicapai dalam waktu sekitar 8-9 jam perjalanan darat dari Medan. Setelah Parapat, terus ke arah Balige. Sebelum mencapai Siborong-borong, berbelok ke arah kanan, menuju Bandara Silangit. Dari Silangit,  jarak ke Muara sekitar 30 kilometer lagi.

 

IMG_7236

Pemandangan Danau Toba.

IMG_7208

Kecamatan Muara.

Jalan menuju Muara sudah diaspal seluruhnya, meski tidak terlalu mulus dan badan jalannya  hanya untuk dua mobil. Di tengah perjalanan, sempatkan mampir ke satu tempat yang saya lupa namanya. Dari tempat yang tinggi ini, kita bisa melihat pemandangan mengagumkan Danau Toba yang luas dan desa-desa yang melingkarinya.  Dari situ, perjalanan terus menurun menuju Muara yang terletak di tepi Danau Toba.

Tempat rehat yang menawan.

Tempat rehat yang menawan.

Di Muara, kami terlebih dulu menyambangi rumah tempat penyimpanan dua solu bolon milik keturunan Raja Simatupang. Solu bolon berarti perahu besar.  Bentuknya kira-kira mirip dengan perahu naga. Dulu, di zaman nenek moyang, solu bolon merupakan alat transportasi dari satu desa ke desa lain di sekeliling Danau Toba. Selain solu bolon,  ada enam solu lain yang berukuran lebih kecil.

Solu bolon ini menjadi terkenal bukan karena usianya yang sudah tua–karena perahu ini belum berumur dua tahun. Perahu ini dikenal karena kisah pembuatannya yang heroik dan disisipi cerita mistis. Solu bolon dibuat mulai 7 Januari 2013 dari batang pohon  Meranti utuh yang dipahat di bagian tengahnya. Ukurannya raksasa, dengan panjang 21 meter lebar 110 sentimeter, dan tinggi 70 sentimeter.

Sepasang solu bolon di dalam rumah penyimpanan.

Sepasang solu bolon di dalam rumah penyimpanan.

solu-bolon

Solu bolon kuno berkepala singa di Danau Toba. Foto oleh Feiberk pada tahun 1870. © Leiden, Museum Volkenkunde, inv. A13-25. Dikutip dari http://www.gobatak.com.

Saya kutip dari informasi di Internet, pohon Meranti untuk pembuatan solu bolon didapat di Dusun Tordolok Nauli, Desa Sarulla Dolok, Kecamatan Pahae Jae,  Tapanuli Utara.   Proses pembuatannya berlangsung selama hampir satu tahun. Bersama dua solu bolon, dibikin pula enam solu kecil  yang masing masing memiliki panjang 5 meter, lebar 80 sentimeter serta tinggi 40 sentimeter. Seluruh perahu  dibuat dengan menggunakan tujuh batang pohon Meranti yang tumbuh di dalam hutan.

Semua solu  tersebut dipahat langsung di  dalam hutan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari jalan desa. Setelah selesai solu dilangsir dengan tangan oleh 333 orang keturunan Simatupang menuju jalan desa di Dusun Tordolok Nauli, sebelum dibawa ke Muara yang berjarak 85 kilometer. Disebutkan pula, pembuatan solu bolon ini merupakan hasil musyawarah keturunan Raja Simatupang yang ingin melestarikan situs-situs budaya Raja Simatupang sekaligus sebagai pengingat  nenek moyangnya yang berpindah dari Muara ke Sarulla.

“Juru kunci” rumah solu bolon yang menerima kami menambahkan informasi supranatural. Kata dia, keberadaan kayu Meranti di tengah hutan itu diketahui melalui mimpi  seorang keturunan Raja Simatupang yang tinggal di Jakarta. Namanya Jauhari.  Berdasarkan informasi dari mimpi itu, Jauhari membimbing tim pencari menemukan pohon Meranti yang letaknya jauh di dalam hutan. Kejadian ini dianggap mengherankan lantaran Jauhari tak pernah masuk ke dalam hutan itu sebelumnya.

Ongkos pembuatan solu ini tentu tidak murah. Selain harus mengerahkan puluhan tukang pahat ke tengah hutan, keturunan Raja Simatupang juga harus membangun jalan sementara untuk membawa solu hingga mencapai jalan desa. Belum lagi biaya untuk menyambut solu dan membuat acara adat di Muara. Saat ini, solu bolon disimpan di dalam sebuah rumah kayu di tepi Danau Toba. Tapi, nantinya, solu akan ditempatkan di dua dermaga khusus dari beton yang sedang dibangun, tak jauh dari lokasinya sekarang.

Meski letaknya di pelosok, jangan bayangkan Muara sebagai kota terpencil. Dalam perjalanan pendek dari lokasi solu bolon ke monumen Raja Pamoto, kami melihat sudah ada dua unit hotel baru yang cukup bagus, kira-kira kaliber bintang dua. Maklum, Muara sekarang sudah jadi tempat tujuan wisata lokal. Kenapa monumen Raja Pamoto penting? Karena, dari sanalah nama lengkap saya berasal: Efri Nirwan Pamoto Ritonga.

Ceritanya dulu, di tahun 1960-an, ketika tugu ini diresmikan, almarhum opung saya yang mengaku sebagai tentara “belek-belek” itu ikut menghadiri acara peresmian tugu Raja Pamoto. Sejak itu, ia bertekad menyisipkan nama Pamoto di nama cucunya. Sebagai cucu pertama, saya lah yang menjadi  “korbannya.”

Tugu Raja Pamoto Siregar.

Tugu Raja Pamoto Siregar.

Siapa Raja Pamoto ini  dan di mana istananya? Raja Pamoto Siregar alias Silali adalah anak Siregar.  Tapi,  setelah hijrah ke Tapanuli Selatan, keturunannya yang bernama Parisang-isang Sohorbangun “mendirikan” marga sendiri yakni Ritonga. Lantas, di mana istananya? Gak ada. Di Batak itu raja banyak, tapi istananya tak ada. Karena raja itu adalah panggilan untuk tokoh masyarakat. Jadi, jangankan istana, abdi dalemnya saja gak ada. Tugu ini sekarang diurus oleh keluarga Siregar yang tinggal di sekitar tugu. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan inang yang tinggal di belakang, sambil bermain gitar, kami pun pamit.

IMG_7282

Rumah Inang.

IMG_7297

***

 

Bagaimana Identitas “Batak” Terbentuk?

Di waktu saya kecil,  olok-olok SARA yang paling populer adalah “orang Batak makan orang.”  Separuh geli, separuh jengkel mendengarnya. Mau marah gimana,  konon faktanya memang seperti itu. Akhirnya kami malah ramai-ramai menertawakan olok-olok itu. Tidak ada sakit hati, tidak ada dendam, karena dulu belum banyak orang yang memandang kelewat serius isu SARA.

Kisah yang dituturkan secara turun-temurun  juga mendukung cerita itu. Saya pernah ke sebuah pekuburan batu di Pulau Samosir. Pemandu wisata kami mengatakan, batu-batu kuburan di sana berwarna merah kecoklatan karena diwarnai oleh darah. Saya sih tidak percaya. Masa warna merah darah bisa bertahan ratusan tahun?  Perkiraan saya sarkofagus itu diwarnai dengan tumbuh-tumbuhan.

Dia juga  mengakui, penduduk Samosir zaman dulu kerap memakan tubuh tawanan perang yang sudah tewas. Tapi, kata dia, tujuannya bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk menghindari pihak yang membunuh dihantui korbannya. Dengan kata lain, memakan tubuh manusia dilakukan bukan karena masyarakat dahulu kanibal, tapi semata-mata karena kepercayaan dan tradisi.

Suka tidak suka, sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya identitas “bangsa Batak” dimulai dari cerita yang tidak nyaman, termasuk ya…cerita makan-memakan orang itu.  Buku berjudul Kolonialisme dan etnisitas  Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut karya Daniel Perret dan diterjemahkan oleh Saraswati Wardhany, terbitan tahun 2010, yang baru saya baca  memberikan informasi yang sama.

Dituliskan di buku itu, catatan pertama yang mempunyai kaitan dengan masyarakat Batak dibuat oleh geograf Yunani, Ptolemaeus, pada abad ke-2 Masehi. Ia melukiskan, bagian utara Sumatera sebagai sekumpulan pulau yang di antaranya dihuni oleh orang pemakan manusia. Setelah itu, muncul tulisan-tulisan lain dari sumber-sumber pengelana Arab yang memberikan informasi tambahan mengenai cara hidup kanibal di Sumatera.

Pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16, gambaran tentang populasi Sumatera semakin jelas dengan persinggahan Marco Polo di bagian utara Sumatera pada tahun 1291. Ia adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam dan juga pertentangan antara kaum minoritas penganut paganisme dan sebagian kanibal  yang tinggal di pegunungan.

Nicolo de’ Conti  pada tahun 1430  menjadi orang pertama yang menyebut nama tempat “Batech” yang dikaitkan dengan sebuah populasi yang bersifat kanibal dan gemar berperang. Nama tempat ini ditemukan kembali pada awal abad ke-16 melalui Pires yang menyebut “seorang raja dari Bata” dalam laporannya Suma Oriental.

Nama suku “Bata” muncul berkat F. Mendes Pinto. Ia mungkin adalah orang Eropa pertama yang pergi ke pedalaman utara Sumatera dan meninggalkan jejak tertulis. Dalam Peregrination, penjelajah Portugis ini  mencatat kunjungan duta “raja orang Bata” ke kapten Melaka yang baru.

Tahun 1563, Joao de Barros menggunakan kembali nama suku “Batas” dan menyebutkan bahwa masyarakat kanibal yang  gemar berperang ini menghuni bagian pulau yang berhadapan dengan Melaka. Beaulieu yang mengunjungi Aceh tahun 1620-1621  mencatat bahwa penduduk pulau adalah orang Melayu, tetapi di pedalaman terdapat orang-orang dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Melayu dan di antaranya ada yang kanibal

Sumber tertulis mengenai kunjungan ke Sumatera bagian utara dari abad ke-17 berasal dari seorang
Tionghoa yang mengambarkan penduduk daerah Panda dan Bata, sepuluh atau sebelas hari perjalanan jauhnya dari Barus yang menghuni gunung dan hutan  dan sama sekali tidak berhubungan dengan orang-orang Melayu dari dataran rendah.  Ia menceritakan secara mendetail cara mereka memakan daging manusia.

Di tahun 1772,  Charles Miller  masuk ke pedalaman Tapanuli. Ia  terkesan oleh keanekaragaman bahasa penduduk di pedalaman yang meski pun demikian memiliki abjad yang sama.  Charles juga  mencatat tentang sebuah
masyarakat kanibal bemama “Battas” yang berbeda dari semua penduduk lain di Sumatera dari segi bahasa, kebiasaan, dan adat.

Dua sintesis tentang Sumatera muncul berturut-turut pada akhir abad ke- 18. Sintesis Radermacher tahun 1781   masih tetap menawarkan pembedaan yang sudah dikenal, yaitu antara orang-orang gunung yang kemungkinan adalah penduduk lama pulau itu  dan masyarakat pesisir yang kebanyakan terdiri dari orang asing

William Marsden menjadi orang pertama yang mempertanyakan kompleksitas masyarakat-masyarakat Pulau Sumatera dalam karyanya  yang terbit di London tahun 1783 .  Radermacher dan Marsden adalah orang-orang pertama yang menawarkan deskripsi mengenai geografi politik “kerajaan orang Battas”.

Pada akhir abad ke-18 itu, nama suku “Batta” (“Batak” menurut Radermacher) sudah diketahui umum sebagai  sebutan untuk mengidentifikasi penduduk di pedalaman utara Sumatera. Tapi, mungkin oleh Marsden sebutan itu terlalu umum. Ia kemudian membuat perbedaan antara penduduk “Carrow” dan “Batta”.

Tahun 1823 John Anderson  bertualang cukup jauh ke pedalaman pesisir timur laut Sumatera. Lebih maju dari Marsden, ia  adalah orang pertama yang mulai menyebut nama-nama “suku”,  yaitu “Mandiling atau Kataran, Pappak, Tubba, Karau-Karau, Kappak, dan Alas”.

Pada tahun berikutnya, Raffles menugasi dua orang misionaris baptis Inggris, Burton dan Ward, untuk mulai mengkristenkan orang “Batak”, dari Sibolga menuju pedalaman “Tanah-Tanah Toba”. Kedua misionaris itu menjadi orang pertama yang memberikan perkiraan batas-batas sebuah daerah yang disebut “Tanah Batak“.

Pengakuan penjajah Belanda terhadap keberadaan bangsa “Batak” ditegaskan dengan dibentuknya jabatan kontrolir urusan “Batak” pada tahun 1888.  Bersama dengan berjalannya waktu, pelan-pelan identitas suku Batak terbentuk seperti sekarang.  Perlu dicatat pula, proses penyatuan identitas tersebut tidak mudah karena masyarakat yang disebut sebagai Batak itu sendiri sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya sebagai bangsa “Batak”.

Kata Batak di masa itu umumnya digunakan oleh orang masyarakat Melayu yang tinggal di pesisir untuk menunjuk kepada sekelompok orang yang tinggal di pedalaman.  Penyatuan identitas Batak semakin rumit dengan munculnya pertentangan antara kelompok Mandailing yang tinggal di selatan dengan  kelompok masyarakat yang berada di utara seperti Toba.  Tapi, syukurlah, setelah melalui perdebatan selama bertahun-tahun, pelan-pelan semua komunitas tadi  melebur menjadi satu seperti sekarang.

Ups, terlewatkan…lantas bagaimana dengan kelompok kanibal yang ada? Buku yang sama menyebutkan, penelitian seorang bernama Anderson mencatat bahwa terdapat suku-suku tertentu yang tidak mengenal kanibalisme.  Kasus kanibalisme terakhir yang dicatat antara 1900 dan 1904 terdapat di suku Simalungun dan terutama di suku Pakpak  yang pada akhir abad ke-19 masih dianggap sebagai contoh paling menonjol di antara pemakan daging
manusia. Sebaliknya, kanibalisme di dalam suku Karo banyak diragukan. Setelah itu, sepertinya ekstistensi kanibalisme telah punah dari bumi Sumatera.  ***

 

Marga Ritonga, From Pusuk Buhit to The World

Gunung Pusuk Buhit (samosirkab.go.id)

Gunung Pusuk Buhit (samosirkab.go.id)

Leluhur suku Batak dijuluki Si Raja Batak yang bermukim di kampung bernama Sianjur Mula-mula. Tempat ini terletak di kaki gunung Pusuk Buhit, di tepi Danau Toba.  Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut) adalah satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus ketika 17.000 tahun lalu terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba.

Desa Sianjur Mula-mula (kabsamosir.go.id)

Desa Sianjur Mula-mula (samosirkab.go.id)

Saat ini, Sianjur Mula-mula menjadi sebuah desa  di bawah Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Kota Pangururan, Ibu Kota Samosir.  SI RAJA BATAK yang diperkirakan hidup tahun 1.200-an  memiliki tiga orang anak, yaitu GURU TATEA BULAN, Raja Isombaon, dan Toga Laut.

Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning,  Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra yaitu Si Raja Biak-Biak, TUAN SARIBURAJA, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja dan  4 orang putri yaitu Si Boru Pareme, Si Boru Anting Sabungan, Si Boru Biding Laut, dan Si Boru Nan Tinjo. Terjadi pernikahan inses, Boru Pareme menikah dengan  Sariburaja dan melahirkan LONTUNG dan Borbor.

Lontung yang merupakan putra pertama dari Tuan Sariburaja mempunyai 7 orang putra. Mereka adalah Tuan Situmorang, Sinaga Raja, Pandiangan,  Toga Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan SIREGAR. Serta dua orang putri: Si Boru Anakpandan  serta Si Boru Panggabean. Siregar merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara ini.

Dari hasil pernikahannya,  Siregar mempunyai empat orang anak bernama Silo, Dongoran, SILALI, dan Siagian. Selanjutnya, Silali memiliki anak bernama SILALI TORUAN atau RITONGA yang menjadi nenek moyang seluruh keluarga Ritonga.

Menurut hikayat,  Lontung bermukim di Desa Banuaraja–sebuah  daerah perbukitan di sebelah atas Desa Sabulan, di pinggir Danau Toba, berseberangan dengan Pangururan di Pulau Samosir. Pada suatu masa, terjadi banjir besar yang melanda  Banuaraja dan Sabulan.

Anak-anak keturunan Lontung  mengungsi. Sinaga dan Pandiangan ke Urat-Samosir, Nainggolan ke Nainggolan-Samosir, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, dan Siregar ke Aeknalas-Sigaol. Sedangkan, Situmorang hanya sampai di Sabulan.

Suatu ketika Aritonang memanggil adiknya, Siregar dari Aeknalas-Sigaol ke Desa Aritonang di Muara, yang akhirnya  menetap dan beranak-pinak di situ. Selanjutnya dari Desa Aritonang keluarga Siregar menyebar ke sekitar Muara.

Kemarau panjang  melanda Muara yang menyebabkan gagal panen sehingga beberapa keturunan Siregar merantau ke arah Siborongborong-Humbang dan  membangun kampung di sana yang diberi nama Lobu Siregar.
Untuk mencari penghidupan yang lebih baik,  sebagian dari mereka  menjelajah ke arah Pangaribuan dan sebagian lagi menuju Desa Sibatangkayu. Setelah bermukim beberapa lama,  mereka pergi lagi ke Bunga Bondar di Sipirok hingga ke Angkola-Tapanuli Selatan.

Mendengar saudara-saudaranya berhasil di perantauan, keturunan  Siregar yang masih tinggal di Muara, akhirnya  pindah ke Tarutung-Silindung dan mendirikan kampung  Simarlala Pansurnapitu. Dari desa itu, mereka berpindah lagi menuju Pantis-Pahae dan berkembang di sana.

Keturunan  Siregar yang berasal dari Pantis  menjelajah dan mendirikan kampung di Onanhasang, di sekitar Pahae. Dari Onanhasang, keturunannya merantau lagi dan mendirikan kampung di Simangumban dan Bulupayung.

Dengan demikian dapat disimpulkan, silsilah  marga Ritonga sebagai berikut:
Si Raja Batak –> Guru Tatea Bulan (1) –> Sariburaja (2) –> Lontung (3) –> Siregar (4) –> SIlali (5) –> Ritonga (6).  Artinya, Ritonga adalah generasi keenam keluarga Si Raja Batak.

Sedangkan perjalanan perantauan keluarga Ritonga dimulai dari Banuaraja-Sabulan –> Muara –> Humbang Hasundutan (Dolok Sanggul) –> Pangururan –>  Bunga BondarSipirok –> Pahae –> Simangumban –> dan Bulupayung.

(Sumber: margasiregar.wordpress.com, sebuah buku, samosir.go.id, dan sumber lain)