Sec Form 4 dan iVolatility

Pelatihan outlook pasar modal yang diselenggaran sebuah badan usaha milik negara  siang ini menguak dua situs ‘rahasia’ yang   direkomendasikan oleh pembicara untuk menilai tren pasar modal. Situs pertama adalah http://www.secform4.com.  Situs ini memberikan informasi mengenai  posisi jual-beli investor pasar modal ternama Amerika Serikat.  Tinggal pilih, misalnya  Warren Buffet. Akan terlihat saham-saham yang dibeli atau dijual Buffet dalam periode tertentu.

Seperti apa polanya?  Benar, bapak-ibu, dalam masa downtrend,  Buffet justru banyak melakukan pembelian.  Sebaliknya dengan George Soros. Istiqomah di jalur trader, dalam masa downtrend  Soros menjual  koleksinya.  Jadi, kalau Anda mengidolakan Buffet, ikuti teknik investasinya.  Begitu pula kalau mengidolakan Soros, jangan ragu melepas simpanan Anda. Kesannya gampang, ya? Nyatanya tidak, karena ada mental blocking yang bisa menghapus semua logika.

Situs kedua adalah http://www.ivolatility.com. Situs ini, katanya,  menampilkan tingkat volatilitas bursa efek di seluruh dunia. Saya belum mengeksplorasi situs ini lebih dalam. Tapi, ada cara mudahnya, karena volatilitas pasar rupanya ada indeksnya juga. Caranya, cari di finance.yahoo.com, ketik di kolom symbol  ^vix. Setelah itu akan tampak indeks volatility di indeks tertentu. Tampilan standarnya adalah volatilitas S&P 500. Yang perlu diperhatikan bukan berapa nilainya, namun merah atau hijaunya. Kalau merah berarti volatilitas rendah, kalau hijau volatilitas tinggi. Begitu. Selamat berinvestasi 🙂

Advertisements

Dengan Bekal Ini, Anda pun Bisa Berinvestasi Saham

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Masuk ke pasar modal tanpa ilmu seperti masuk hutan tanpa tahu arah. Saya jamin 99,99 persen Anda akan tersesat , kehabisan bekal , dan ‘mati’ ditelan belantara pasar modal. Sebaliknya, dengan ilmu yang cukup,  Anda akan memasuki dunia saham seperti menumpang kapal besar.   Lihat kapal besar, kalau berlayar dia tenang, ombak besar dia cuek, penumpang di atasnya bisa tidur nyenyak, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan. Gak pake nyasar.

Begitu pula sebaiknya perilaku seorang investor. Tenang, penuh perhitungan,  tidak panik menghadapi gejolak pasar, dan cepat mengambil keputusan.  Tentu saja, ketenangan tidak bisa datang tiba-tiba, butuh jam terbang yang memadai. Untungnya, bagi investor  pemula,   sudah banyak tips yang ditulis oleh para investor andal. Saya peras dan pilhkan beberapa tips yang aplikatif untuk Anda, para pendatang baru:

1. LIHAT SEKELILING
Perhatikan saham emiten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum makan atau mandi, misalnya, lihat pada kemasan, siapa produsennya? Biasanya akan kita temui nama-nama beken seperti Unilever (UNVR), Indofood  Sukses Makmur (INDF), atau Indofood CBP (ICBP).

Selesai mandi pakai baju, merek apa yang Anda punya? DKNY, Zara, Marks & Spencer, atau Pull and Bear? Maka pastikan Anda mengingat distributornya: Mitra Adiperkasa (MAPI). Atau Anda pernah berbelanja  pakaian di tempat yang lebih ‘guyub’, Anda tentu ingat jaringan toko Ramayana Lestari (RALS).

Selesai berpakaian, Anda sarapan, kalau tidak Indomie-nya ICBP, pilihan lain biasanya  roti Sari Roti yang dibikin oleh Nippon Indosari (ROTI).  Mau pergi ke kantor atau ke tempat usaha, kalau naik mobil, mayoritas tunggangan yang beredar  adalah Toyota atau Daihatsu yang  di Indonesia berinduk ke Astra International (ASII) atau Suzuki yang berinduk ke Indomobil  Sukses (IMAS).

Masuk jalan tol, pilihannya cuma dua, kalau tidak asetnya  Jasa Marga (JSMR), ya Citra Marga (CMNP).  Ah, pokoknya, banyak deh perusahaan yang bagus di sekitar kita.

2.PERTUMBUHAN LABA  KONSISTEN
Setelah melihat-lihat sekeliling, saringan paling utama adalah mencermati pertumbuhan laba emiten buruan Anda . Cari emiten  yang memiliki pertumbuhan laba  tahunan yang konsisten selama 3-5 tahun terakhir.  Berapa persen pertumbuhan yang ideal? Ada yang bilang 20-30 persen. Menurut saya, yang penting tumbuh. Apalagi kalau dia masih bisa tumbuh di tengah krisis, itu pasti perusahaan top.

Selain laba tahunan, lihat juga laba kuartalan. Contohnya, kalau Anda membeli di kuartal III, lihat laba kuartal I dan II. Jika turun terus dalam 2 kuartal, meski laba tahun lalu naik, waspada. Cek faktor internal atau eksternal  yang mempengaruhi industri emiten tersebut.

3.PRICE TO EARNING RATIO
Misalnya, laba per saham Semen Indonesia (SMGR) tahun 2012  sebesar Rp 817, sedangkan harga SMGR pada perdagangan Jumat lalu Rp 18.200 per lembar, maka PER SMGR = 18.200/817 = 22,2X. Bisa dibaca sebagai: investor bersedia membeli selembar saham SMGR pada harga 22,2 kali labanya.

Apa manfaat PER buat investor? PER berguna untuk menentukan apakah suatu saham masuk kategori mahal atau murah. Berapa PER yang disebut mahal atau murah? Tidak ada ukuran bakunya. Yang bisa dilakukan adalah membandingkan PER di antara satu kelompok industri tertentu.  Ambil contoh,  SMGR dengan PER 22,2X  lebih mahal daripada Holcim Indonesia (SMCB) dengan PER 20,9X dan Indocement (INTP) yang memiliki PER 18,16X.

Kalau begitu apakah saham dengan PER tinggi berarti harus dijauhi? Jawabannya belum tentu. Karena PER tinggi bisa menjadi tanda bahwa banyak investor yang memburu saham tersebut, sehingga harganya terus melambung. Sehingga, Anda perlu mendalami lagi kenapa sebuah saham dihargai lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang saham lain. Kata orang, saham ‘mahal’ tapi memiliki prospek cerah, lebih baik ketimbang saham ‘murah’ tapi memiliki prospek suram.

4.MAU JADI INVESTOR ATAU TRADER?
Pada dasarnya, semua orang yang menanamkan uangnya pasar modal disebut investor. Hanya saja, ada orang yang tergolong investor jangka panjang (sering disebut sebagai ‘investor’ saja), ada pula yang memiliki jalan sebagai investor jangka pendek atau trader .

Nah, Sebelum menceburkan diri ke pasar modal, tentukan dulu tempat berpijak Anda. Apakah mau menjadi investor atau trader. Seorang investor menginvestasikan uangnya dalam jangka panjang pada emiten-emiten yang memiliki  sejarah pertumbuhan laba  bagus dan prospek cerah.

Biasanya, pertimbangan membeli atau menjual saham bagi seorang investor adalah laporan keuangan. Jika laporan keuangan membaik, maka itu saatnya membeli atau terus memegang saham. Sebaliknya, saat laporan keuangan memburuk, itu adalah sinyal untuk melepas saham.

Sedangkan trader, mendasarkan kegiatan jual-belinya dengan analisis teknikal dalam jangka pendek. Ketika indikator-indikator yang dipakai sudah memunculkan sinyal jual, maka trader akan melepas sahamnya, meskipun kinerja perusahaan sebenarnya masih bagus. Ia baru akan membeli lagi ketika sinyal beli sudah muncul.

Sebagian trader berani mengambil risiko dengan memperdagangkan saham-saham berkinerja buruk—satu hal yang dihindari investor,  dengan mengacu pada indikator teknikal.  Tapi, tidak salah juga kalau  Anda memilih menjadi keduanya. Artinya, sebagian dana Anda  tempatkan dalam jangka panjang, sebagian lagi untuk jangka pendek alias diperdagangkan.

5.PELAJARI TEKNIK ANALISIS FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL
Apakah memilih  menjadi investor  atau trader, analisis fundamental dan teknikal harus Anda kuasai. Analisis fundamental mencakup pemahaman terhadap laporan keuangan perusahaan dan rasio-rasionya, kondisi ekonomi mikro dan makro, serta ekonomi global.

Sedangkan analisis teknikal mencakup pemahaman terhadap indikator-indikator teknis seperti MACD, Stochastic, Aroon, atau Average Directional. Indikator ini jumlahnya puluhan. Jangan khawatir, karena biasanya sekuritas sudah menyediakan software dari semua indikator  tersebut. Anda tinggal memahami cara membacanya saja.

Pusing? Tidak perlu. Sebab, Anda tidak harus serta-merta menguasai semua analisis itu sebelum masuk ke pasar modal. Pelajari  semuanya sambil jalan. Kalau menunggu Anda menjadi seorang ahli dulu baru berinvestasi, mau sampai kapan…

Menakar Geliat Saham GMTD

logo GMTD

Beberapa hari ini ada satu saham yang sepertinya sedang cari-cari perhatian, sehingga  terpaksa menjadi pusat perhatian. Sampai ada yang nekat mempromosikannya di forum para investor. Gak tanggung-tanggung, target price Rp 13.000, dari harga asal Rp 660. Wow, banget! Kalau melihat pergerakan harganya dalam hitungan hari ini saja sih,  memang bisa tercapai target tak masuk akal itu, tapi, sebelum ikutan kejebur, kita lihat dulu dong jeroannya, jangan asal comot hehe… Aturan ini berlaku untuk semua  emiten, gak cuma kelompok Lippo ini saja lho.

Kita perhatikan, lepas dari ‘kerangkeng’ suspensi BEI, harga saham PT Gowa Makassar  Tourism Development (GMTD) memang kayak orang kesurupan. Kembali diperdagangkan pada  24 April 2013 setelah disuspensi sejak 18 Februari 2011, harga saham perusahaan  pengembang ini melonjak dari awalnya Rp 660 menjadi Rp 7.050 per lembar atau naik 968  %, cuy… GMTD seolah ‘tak kapok’, karena suspensi yang dilakukan BEI 2 tahun silam  itu pun dipicu oleh kenaikan tak wajar saham kelompok Lippo itu sebesar 220 % dalam  tempo sepekan.

Tapi, sayangnya, peningkatan harga saham GMTD tidak diikuti dengan fundamental pasar  yang baik. Pada perdagangan Jumat pekan lalu misalnya, lonjakan harga GMTD dari Rp  5.900 ke Rp 7.050 harga disertai dengan volume penjualan 500 lembar alias 1 lot.  Hari-hari perdagangan sebelumnya tidak jauh beda, paling tinggi volume transaksi GMTD  hanya 5.000 lembar atau 10 lot. Bahkan, pernah 0 lembar.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Tidak masuk akal kalau ada saham yang sudah memberi gain begitu tinggi dalam waktu  singkat, tidak ada yang profit taking. Pertanda apa ini? Kemungkinan jawabannya cuma  satu, pemegang sahamnya itu-itu saja. Menurut analis, jumlah pemegang saham publiknya cuma 20 pihak. Lah, gimana orang mau jual-beli, barangnya gak  ada di pasar? Mestinya, kalau sudah begini–sudah disuspensi 2 tahun pun tak jera, BEI harus memaksa emiten melakukan stock split atau aksi korporasi lainnya.  Okelah, itu urusan BEI. Kita ikut saja. Saya sih lebih tertarik untuk menguliti siapa  GMTD ini. Siapa tahu ada juga yang kepincut 🙂

**

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Profil :
Didirikan pada tanggal 14 Mei 1991. Bergerak di bidang investasi dan pengembangan kota mandiri Tanjung Bunga,  di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pembangunan fisiknya telah dimulai sejak tahun 1997.
Pendapatan Perseroan diperoleh terutama dari penjualan rumah dan kavling hunian, penjualan lahan siap bangun untuk komersial, dan pendapatan dari fasilitas komersial dan rekreasi yang dibangun.  Bank land 1.000 hektare.

Pemegang saham:
PT Makassar Permata Sulawesi : 32,5 %
Kabupaten Gowa : 6,5 %
Kota Makassar : 6,5 %
Propinsi Sulawesi Selatan : 13 %
Yayasan Partisipasi Pembangunan Sulsel : 6,5 %
Masyarakat di bawah 5 % : 35 %

Jumlah saham disetor :     101.538.000 lembar
Kinerja Q1/2013:
Laba  Rp 25,58 miliar, naik 35 % dari Q1/2012  sebesar Rp 19,01 miliar.
Laba per saham Rp 251.
Pendapatan Rp 70,24 miliar, naik 15,1 % dari Q1/2012 sebesar Rp 61,01 miliar.
Aset bertambah Rp 31,16 miliar menjadi Rp 931,8 miliar dari posisi 31 Desember 2012.