ITO SUMARDI, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar: Myanmar Ingin Balas Jasa ke Indonesia

DSC_7359 BARU delapan bulan bertugas di Myanmar, pengetahuan Ito Sumardi terhadap Negeri Seribu Pagoda berkembang cepat, terlebih soal ekonomi. Dalam perbincangan dengan saya dan teman dari Jakarta Post, di kantor Kedutaan Besar Indonesia yang bersahaja di pusat Kota Yangon pada akhir Agustus lalu, ia memaparkan dengan detail ihwal potensi ekonomi dan investasi di negara yang baru belajar berdemokrasi ini.

Posisi sebagai Ketua ASEAN 2014 menempatkan negara ini di dalam sorotan. Semua level pertemuan ASEAN berlangsung di Nay Pyi Taw, ibu kota baru Myanmar. Kesempatan ini dimanfaatkan pemerintah Myanmar untuk memperkenalkan potensi ekonomi negaranya.

Melihat potensi dan tekad pemerintahnya untuk berkembang, Myanmar suatu bisa menjadi negara dengan perekonomian besar di ASEAN. Berikut kutipan perbincangan saya dengan mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri pengganti Susno Duadji ini:

**

Bagaimana potensi ekonomi dan investasi di Myanmar?

Indonesia sudah membantu sepenuhnya Myanmar dari sisi politik. Satu-satunya negara ASEAN yang bertahan agar Myanmar tetap di ASEAN kan kita. Kita ditekan. Indonesia sangat diharapkan pemerintah Myanmar untuk membalas jasa. Myanmar sudah mulai membuka diri. Sayangnya, kita kurang memanfaatkan potensi Myanmar. Mereka punya sumber kekayaan alam, biaya buruh sangat murah, hanya US$ 40-60 per bulan. Penduduknya 61 juta jiwa.

Myanmar ini berkembang menuju demokrasi. Sehingga yang dikhawatirkan investor adalah kepastian hukum, tidak bisa instan. Di sini harus siap, harus siapkan infrastruktur, sehinggga harus bangun dulu. Ini yang dilakukan Cina dan Singapura. Nay Pyi Taw yang membangun Cina. Kompensasinya, mereka mendapat saluran pipa gas di bawah laut. Di sini juga rata-rata produknya Cina.

Mereka pengen memberikan kesempatan kepada Indonesia, apa yang mau diinvestasikan di sini. Kadin datang, tapi tidak ada follow up-nya sehingga mereka kecewa. Mereka kan butuh uang, karena embargo ekonomi sudah dibuka, embargo senjata saja yang belum.

Strategi berbisnis di Myanmar?
Di sini jangan main kualitas dulu, karena daya beli masyarakatnya belum mendukung. Kalau mau usaha, usahalah yang sesuai dengan daya beli masyarakat di sini, yang sifatnya massal.

Kalau peluang yang paling besar di bidang mineral. Tapi berani tidak kita membuat infrastrukturnya? Ibaratnya rugi dulu dua tahun. Sistem di sini, tanah sebagian besar punya negara. Jadi tidak akan kita temukan lagi menambang tahu-tahu dipagari masyarakat.

Kita menyewa tanah 70,80, atau 90 tahun, masa dalam masa itu tidak BEP (balik modal). Itu yang harus dipelajari oleh calon investor. Bahkan Pak James Riyadi (bos Lippo) juga tidak tahu peluang dan kendala di sini. Kendala juga bisa jadi peluang kalau kita tahu.

Apa kendala berbisnis di Myanmar?DSC_7311
Banyak orang tidak sadar peran Kedubes itu signifikan. Ada yang mencoba B to B. Tapi, manakala ingkar janji, diputus sepihak, kita tidak bisa apa-apa. Tapi kalau B to B diangkat ke G to G kan kita bisa membawa ke arbitrase. Di sini banyak yang menawarkan bisnis, tahu-tahu dia kasih ke orang lain.

Telkom misalnya, gagal karena pendekatan yang keliru. Dia kalah dengan perusahaan telekomunikasi Norwegia yang di negara asalnya, biasa saja, nothing banget, kecil. Telkom yang sedemikian besar bisa kalah. Sekarang sudah ada renegosiasi. Pakai orang lokal, tidak melibatkan perwakilannya.

Di sini KKN masih kuat, dia akan cari orang lokal yang berpengaruh. Makanya manfaatkan perwakilan kita. Kami akan kasih informasi, kalau mau menang harus begini. Dulu ada kejadian kurang mengenakkan dengan Sampoerna, sudah investasi banyak, ada sesuatu hal yang mungkin kurang pas, akhirnya disita semua. Rugi banyak.

Kedutaan harus dilibatkan. Kita akan selidiki kredibilitas mitra lokal, kendala administrasi. Pendekatannya kepada seseorang di sini yang tidak pas. Akhirnya yang masuk ke sini Jepang. Mereka akan bangun jalur kereta dari Yangon ke Nay Pyi Taw.

Perusahaan kita yang paling berhasil di Myanmar adalah Japfa Comfeed. Mereka sudah membangun pabrik makanan terbesar di Myanmar, lebih besar dari di Thailand. Sebanyak 40 persen ayam di Myanmar dipasok dari Japfa.

Kendala lain?
Infrastruktur listrik jangan berharap deh. Pokoknya setiap bikin proyek di sini harus punya diesel sendiri. Termasuk di sini sehari mati berapa kali. Kendala bisa jadi peluang, kita jualan pembangkit listrik. Kita mau teken kontrak pembangunan pembangkit listrik batu bara 300 MW, dengan batu bara dari indonesia.

Siapa lagi yang masuk ke sini?
Lippo mau masuk ke sini, mau bangun rumah sakit modern. Di ini untuk kesehatan masih Malaysia, Bangkok, atau Singapura minded. Dalam waktu dekat juga akan ada kerja sama dengan pengusaha yang menguasai supermarket, akan membangun hypermarket.

Investor Indonesia juga akan masuk di bidang pembangkit listrik, bekerja sama dengan Asia World, perusahaan terbesar di sini. Dia yang pegang semua bandara di Yangon, Nay Pyi Taw, pelabuhan, Hotel Horizon. Kita akan bekerja sama dalam waktu dekat untuk gas dan minyak. Di sini baru ada PT Guna Nusa dari Indonesia.

Tadi saya mengantar perusahaan dari Indonesia yang pada bulan September mendatang sudah mulai membangun gedung kantor dan apartemen, 18 lantai. Yang akan membangun adalah Wijaya Karya, 100 persen.

Semen Indonesia mau masuk juga, saya sudah ketemu mitra lokal yang kuat. Akan saya bawa ke jakarta untuk membicarakan kerja sama. Di sini murah. Tidak ada kompetitior kecuali thailand. Pemerintah di sini yang penting investasi bisa masuk untuk menyerap tenaga kerja. Upah tenaga kerjanya juga murah. Pekerja level expert saja gajinya US$ 100, tapi biaya hidupnya juga kecil.

Mereka di sini kepengen Indomie. Saingannya ada dari Korea, Thailand, tapi mereka maunya Indomie. Saya minta ke Pak Anthony Salim 300 karton, saya kirim ke stakeholder, nanti kita cari peluang untuk masuk di sini. Diplomasi Indomie. Di sini ada belum pengusaha air mineral. Peluang itu, karena dalam waktu tertentu selama 4 bulan cuacanya ekstrem, bisa 42 -45 derajat.

Ada persoalan perburuhan?
Di sini serikat pekerja tidak boleh ada. Pemerintah Myanmar tidak begitu saja menerima proses reformasi. Mereka melihat dampak negatifnya, sehingga dia pagari dengan undang-undang. DPR di sini separuhnya dari fraksi tentara. Sampai kapan pun tidak mungkin konstitusi diubah.

<<Myanmar saat ini dipimpin oleh Presiden U Thein Sien yang merupakan presiden pemerintahan sipil pertama Republik Uni Myanmar. Ia menjabat sejak 30 Maret 2011. Dan sejak itu pula, Myanmar mulai melakukan berbagai kebijakan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Khusus di bidang ekonomi, reformasi dilakukan dengan pendekatan kebijakan fiskal dan moneter, dan reformasi pelayanan perbankan.

Tak hanya itu, berdasarkan data dari Kedutaan Besar Indonesia di Yangoon, Myanmar melakukan pula pengembangan industri, pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas kelembagaan, pengurangan tarif bea masuk, dan menetapkan standarisasi dan kelonggaran aturan dagang.

Semua perkembangan positif itu mendapat pengakuan dari komunitas internasional, yang antara lain ditunjukkan dengan dikuranginya sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia bagi negara berpenduduk 61 juta jiwa ini.

Nilai perdagangan Indonesia-Myanmar juga terus meningkat. Sepanjang April 2013-Maret 2014 Myanmar mengimpor barang dari Indonesia senilai US$ 438,82 juta (tahun 2012 US$ 195,23 juta). Sedangkan ekspor Myanmar ke Indonesia sebesar US$ 60,04 juta (tahun 2012 US$ 31,54 juta).

Komoditas ekspor Indonesia ke Myanmar antara lain minyak sawit, peralatan industri, besi-baja, farmasi, barang elektronik, plastik, karet, kertas, dan suku cadang kendaraan bermotor. Sedangkan impor dari Myanmar meliputi sumber daya mineral, kacang-kacangan, jati, matpe hitam, dan tepung maizena>>


Kondisi keamanan?

Di sini aman. Orangnya sangat ramah. Dan di sini muslimnya hampir 100 persen, lihat di jalan semua orang pakai sarung. Ke kantor pakai sarung juga, pakai sandal. Sepatu gak laku di sini. Pejabat dan rakyat sama, bedanya hanya bahannya. Sarung di sini yang paling laku sarung Indonesia, kalau dagang, bawa Cap Gajah Duduk, 100 saja, dua hari habis. Sarung di sini yang kelasnya Rp 40 ribu-an, dipakai seminggu sudah robek. Kalau yang Rp 100 ribu-an bagus.

Kerja sama militer?
Saya juga mau jualan panser Anoa, senjata, kapal, baju seragam tentara buatan Sritex. PT DI, Pindad, PAL, dan Sritex akan rapat dengan Kemenhan. Pemerintah Myanmar akan belajar pengamanan Pemilu 2015, mereka mau beli peralatan dari Pindad.

Kendalanya di sini masih diembargo oleh AS dan Eropa. Sementara CN 295 kita yang mau dibeli Myanmar, 2 mesinnya dari Boeing dan peralatannya dari Spanyol. Anoa mesinnya dari Renault. Saya beri solusi, kenapa tidak skema sewa-pakai. Sewa, barangnya punya indonesia. Mereka merasa oke. Di dalam klausul embargo juga tidak ada klausul menyewa.

Dari sisi kebudayaan dan pariwisata, peluang apa yang bisa digarap?
Gubernur Sumsel Alex Noerdin menyumbang 500 kain selendang yang kita kasih sebagai suvenir pada waktu resepsi diplomatik. Senang sekali mereka. Saya harapkan gubernur-gubernur, kepala daerah, ayo dong jual negara kita. Maksudnya, promosikan negara kita. Misalkan Raja Ampat, budaya Papua dipromosikan, sembari mengundang.

Saya sedang berusaha dengan Menteri Kultur Myanmar, kita ingin bikin sister city.
Di sini ada Kota Bagan yang memiliki 4.000 pagoda, kota yang sangat eksotis. Tidak cukup tiga hari berkunjung ke sana, rasanya gak bosen-bosen, paling tidak lima hari. Warisannya dijaga dengan sangat baik. Mereka bisa menjadikannya sebagai tempat wisata.

Saya sangat ingin mengawinkan Bagan dengan Yogyakara menjadi sister city, sehingga ada penerbangan langsung dari sini ke Yogya. Saya sudah bicara dengan pemerintah untuk memfasilitasi. Masalah ekonomi otomatis akan berkembang. Agamanya sama (dengan Borobudur), Budha.

Borobudur dianggap oleh orang sini sebagai Mekkah-nya agama Budha. Di sini ada Pagoda Shwedagon, indah sekali kalau malam. Seperti (Masjid Nabawi) Madinah. Bedanya pagoda denagn kuil, pagoda itu solid, dalamnya tidak ada isi. Kuil itu dalamnya berongga. Uppatasanti (di Nay Pyi Taw) itu kuil, Shwedagon itu pagoda. Emasnya 72 ton, berliannya dan batu berharga 1.500 karat.

Ibu kota baru, Nay Pyi Taw, megah tapi tak ada kegiatan…
Kalau tidak ada acara di Nay Pyi Taw itu sepi. Mereka siap rugi. Mereka berpikiran nanti kalau ekonomi maju, sudah pindah ke sini semua, baru bisa untung. Mereka ingin membangun citra sebagai negara demokrasi. Mereka di sini mau belajar semua hal, kecuali satu, korupsi. Separah-parahnya negara kita, banyak yang lebih parah.
Di kita, saya sangat mengapresiasi KPK, karena tanpa KPK negara kita tidak akan mungkin menjadi “tertib”.

Saya sebagai mantan Kabareskrim bicara sama Bambang Widjajanto, Pak, Bapak tahu gak di daftar gaji anggota Bareskrim berapa yang minus, karena harus nyicil motor, ngontrak rumah, gajinya Rp 2,7 atau Rp 3 juta. Dari sana mulailah, kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Jadi menurut saya ada 3 kategori koruptor. Yang pertama untuk bertahan hidup, kedua korupsi untuk masa depan dan untuk pensiun, dan ketiga koruptor yang memang rakus.

Anda dari polisi jadi dubes. Apa tantangannya?
Sejak saya selesai dari polisi, saya bercita-cita jadi pebisnis, tapi tiba-tiba jadi duta besar. Saya sudah mengembangkan usaha dengan istri saya. Ada satu kebanggaan yang luar biasa di satu sisi, di sisi lain tidak bisa konsentrasi dengan bisnis saya. Alhamdulillah dengan pengalaman bisnis yang sedikit bisa mengembangkan bisnis.

Mudah-mudahan ke depan Indonesia lebih baik, sesuai motonya Jokowi, Indonesia Hebat. Kepala pewakilan harus membuat Indonesia lebih hebat. Tentunya, semua tidak ada artinya tanpa bantuan teman-teman media. Saya kan pengalaman 2 tahun jadi Kabareskrim, orang terkenal katanya. Kalau tidak karena media, tidak mungkin saya terkenal. Misalnya saya menutup diri terhadap media.

Kalau saya, daripada media bikin ceritanya sendiri, lebih baik saya jelaskan. Mereka menunggu di depan kehujanan, saya bikinkan Balai Wartawan, ada wifi. Peluang investasi kita di sini tidak akan sampai juga tanpa bantuan media. Ngomong capeklah dengan birokrasi, suratnya sampai di sana, tapi tidak ada gongnya sama sekali.

Di sini semua dubes ASEAN, negara-negara Islam, dan AS saya kasih batik semua. Sekarang saya tetapkan resmi di sini tiap hari pakai batik semua. Tidak usah pakai jas. Karena identitas nasional kita batik. Kecuali ada rapat atau courtesy baru pakai jas. Selain tidak panas, orang sudah tahu bahwa batik itu Indonesia.

Menghadiri undangan smart casual, saya tidak pernah pakai jas, pakai batik. Tapi saya punya batik bagus-bagus banyak. Waktu jadi Kapolda Riau, saya dapat batik riau, saya jahit. Batik Palembang juga ada. Saya bawa ke sini satu lemari. Jadi, kalau ketemu negara sahabat berubah terus batiknya. “Its very nice,” kata mereka. Saya belikan Alleira semua negara. Jadi baik semua. Batik Alleira memang bagus, mereka senang, saya yang senep bayarnya. Pokoknya saya ingin orang menghargai Indonesia, tidak melecehkan Indonesia.

***

Advertisements

Melihat Myanmar dari Dekat

Sejelek-jeleknya citra sebuah negara, pasti ada hal menarik yang bisa dinikmati dan hal unik yang bisa dipelajari.  Keyakinan itu yang saya bawa sewaktu mendatangi Nay Pyi Taw, ibu kota baru Myanmar untuk meliput ASEAN Economic Ministers’ Meeting ke-46.  Sebagai negara yang baru membuka diri, tidak banyak yang dapat diharapkan dari negara yang dulu bernama Burma ini. Tapi, siapa tahu?

Ada dua rute perjalanan menuju  Nay Pyi Taw. Rute pertama melalui Jakarta-Bangkok-Nay Pyi Taw.  Pada rute ini, semua perjalanan ditempuh dengan pesawat. Tapi, kelemahannya, karena jadwal penerbangan dari Bangkok ke Nay Pyi Taw sangat terbatas, penumpang transit harus menginap satu malam di Bangkok. Rute kedua adalah Jakarta-Singapura-Yangon-Nay Pyi Taw. Lewat rute ini, perjalanan sampai ke Yangon ditempuh dengan pesawat terbang. Sedangkan dari Yangon ke Nay Pyi Taw ditempuh melalui jalur darat.

Rute kedua ini memang lebih singkat, tapi  melelahkan. Diawali dengan penerbangan menumpang Singapore Airlines ke Singapura selama 1,5 jam; lalu transit selama 2 jam di Bandara Changi,  kemudian dilanjutkan  dengan Silk Air selama 2 jam ke Bandara Internasional  Yangon. Walau dikata “internasional”, siang itu saya hanya melihat enam pesawat  di landasan.  Sepi sekali. Dari Yangon, perjalananan disambung dengan mobil selama 5,5 jam menuju Nay Pyi Taw.  Untungnya, panitia lokal menyiapkan Toyota Alphard untuk kami, lumayan bisa beristirahat dengan nyaman di sepanjang perjalanan.

Bandara Yangon.

Bandara Yangon.

Kira-kira 4  jam berkendara melewati jalanan yang lebar, bergelombang, gelap,  dan sepi akhirnya kami berhenti di sebuah rest area yang sangat ramai oleh pengunjung.  Wajar saja ramai, karena ini adalah rest area satu-satunya dalam jarak ratusan kilometer. Walau agak kumuh, banyak ragam restoran yang bisa dipilih di sini.  Orang Myanmar ternyata penggemar babi.  Banyak menu makanan yang “diperkaya” dengan babi.

Tapi, pengunjung muslim  tidak perlu terlalu cemas. Umumnya, hidangan di restoran sudah dipisahkan  antara yang halal dan tidak.  Bagi yang masih ragu-ragu, tersedia juga restoran khusus hidangan halal. Harga makanan di sana relatif murah. Porsinya besar, namun soal rasa, kita wajib berkompromi. Selepas makan dan beristirahat sejenak, kami meneruskan perjalanan ke Nay Pyi Taw dan tiba  jelang tengah malam. Meski Nay Pyi Taw bermakna “istana kerajaan”,  kota yang terletak di dalam Provinsi  Mandalay ini sebenarnya adalah sebuah kota baru.

Rest area.

Rest area.

 

Restoran di rest area.

Restoran di rest area.

Resmi didirikan tahun 2005, Nay Pyi Taw terlihat megah dengan bangunan-bangunan hotel, ruang pertemuan, dan ruas jalan yang lega.  Semuanya gedung baru dan mayoritas hanya bertingkat satu.  Sayangnya,  fasilitas-fasilitas yang dibangun atas bantuan pemerintah Cina itu tidak serta-merta menjadikan kota ini hidup. Sebaliknya, Nay Pyi Taw lebih mirip kota mati–terlebih di malam hari, karena tidak banyak aktivitas masyarakat.

Di Hotel Grand Amara  yang kami huni dari awal hingga menjelang pertemuan ASEAN berakhir,  sepertinya hanya diisi oleh segelintir tamu.  Baru pada dua hari terakhir,  masuk beberapa tamu dari delegasi negara lain. Kondisi hotel lain di sana juga sama. Seperti Royal President dan Royal Ace yang megah, tingkat huniannya tidak bakal cukup untuk menutupi biaya operasional hotel.  Apalagi, tarif kamarnya murah sekali. Satu kamar dengan dua tempat tidur di Grand Amara yang  berbintang lima itu hanya dihargai US$ 80 (Rp 951 ribu) per malam. Satunya-satu lokasi yang ramai adalah MICC (Myanmar International Convention Center), dan dia bukan hotel.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel Grand Amara.

Hotel Grand Amara.

Salah satu ikon di Nay Pyi Taw.

Salah satu ikon di Nay Pyi Taw.

Berada di pusat Nay Pyi Taw serasa berada di kawasan Nusa Dua, Bali–minus manusianya. Problem lain di Nay Pyi Taw adalah fasilitas umum yang belum terbangun. Pusat perbelanjaan yang kami tahu hanyalah  mal bernama “Junction” yang terletak tak jauh dari hotel. Isinya cukup lengkap, untuk berbelanja oleh-oleh juga bisa. Tempat makan di Nay Pyi Taw juga terbatas, dari hari pertama hingga terakhir, kami hanya tahu restoran “Tai Kitchen” dan sebuah restoran lain yang saya tak ingat namanya, tapi tetap saja menyajikan masakan Thailand.

Setiap ditanya restoran yang menyajikan masakan khas Myanmar, Mr Meng Du–nama sopir kami,   selalu mengelak.  Tampangnya seolah-olah tidak yakin dan tidak merekomendasikan sebuah tempat pun. Untungnya, masakan Thailand di Nay Pyi Taw tidak ada yang tidak enak. Semuanya lezat. Alhasil, karena tidak pernah dikenalkan dengan hidangan Myanmar, saya hanya tahu “teh tarik Myanmar” yang mirip dengan teh tarik di sini, hanya saja rasanya lebih pahit.

Suhu udara di Nay Pyi Taw terbilang tinggi. Di atas 30 derajat. Ditambah lagi keadaannya masih gersang, karena pepohonan yang ditanam masih kecil-kecil. Tapi, masalahnya bagi saya bukan itu, melainkan tingkat kelembaban yang tinggi. Bandingkan dengan Depok yang tingkat kelembaban udaranya 58 persen, kelembaban di Nay Pyi Taw mencapai 70 persen. Akibatnya, kalau sedang lari, keringat ogah menguap dan membuat baju cepat basah. Lari 5 km di Nay Pyi Taw seperti lari 20 km di Depok. Basah kuyup.

Masyarakat Nay Pyi Taw, secara sekilas,  terlihat memiliki etos  melayani yang baik.  Mulai dari pelayanan di imigrasi yang tidak bertele-tele—awalnya saya ditagih bikin visa, tapi dengan sedikit berkilah  “Indonesian delegate”, akhirnya petugasnya pasrah, ya…sudah, “tamu negara” mungkin pikirnya. Saya pun diloloskan masuk.  Sopirnya juga bagus-bagus. Kalau ditelepon untuk menjemput di titik tertentu, dalam waktu singkat mereka sudah hadir di depan kita. Begitu kita mau naik-turun mobil, sopir dengan sigap membuka-tutup pintu.

Pelayan restoran juga begitu. Di Yangon, kami  (lagi-lagi) makan di restoran “Thai Kitchen” (yang ini pakai “h”) menjelang last order, sekitar pukul 9 malam. Tidak hanya telat memesan, kami juga harus memperpanjang waktu makan karena menunggu satu orang teman lagi. Akhirnya, jam buka restoran itu diperpanjang dua jam khusus buat kami. Hebatnya, selama kami makan, berkali-kali pelayan restoran mengatakan supaya kami makan dengan tenang, jangan pikirkan jam buka yang terlampaui. “Dont worry, dont worry. Please continue.”  Kalau saja tidak terganggu oleh kehadiran sesosok  tikus yang bolak-balik mengintip dari kolong meja sebelah, saya pasti memberikan lima bintang untuk restoran ini.

Soal tempat wisata, satu-satunya lokasi plesir yang dekat dengan Nay Pyi Taw adalah Pagoda Uppatasanti. Pagoda ini adalah tiruan dari Pagoda (Kuil) Shwedagon di Yangon. Kalau Uppatasanti baru dibangun tahun 2005, Shwedagon adalah pagoda yang berusia 2.500 tahun, atau sezaman dengan  Sidharta Gautama. Meski bangunan modern, sewaktu kami berkunjung malam ke sana, banyak orang yang berkunjung dan berdoa.

Sepekan di Nay Pyi Taw, rasa bosan hampir membuat saya mati.  Sebelum benar-benar tewas, kami memutuskan bertolak ke Yangon sehari lebih awal. Melalui jalur darat, kami tiba di Yangon pada sore hari, lalu  menyempatkan diri berkunjung ke Kedubes RI dan ngobrol barang dua jam dengan Dubes Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, yang mantan Kabareskrim itu. Selepas itu,  kami melanjutkan perjalanan ke  Pagoda Shwedagon yang terletak di dalam Kota Yangon. Konon katanya, di pagoda yang berlapis emas murni ini ada banyak relik agama Buddha. Salah satunya adalah beberapa helai rambut Sidharta Gautama.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Shwedagon malam itu ramai, dan katanya memang selalu ramai sepanjang waktu oleh umat Buddha setempat dan turis asing. Ramainya turis yang berkunjung ini membuat profesi pemandu wisata subur. Kami tak ketinggalan memakai pemandu wisata selama di Shwedagon. Bahasa Inggrisnya lancar dan bicaranya banyak. Menarik sebenarnya, tapi buat turis tetap saja yang terpenting adalah berfoto-foto. Kalau sudah begitu, sering terjadi, selagi dia menjelaskan ini-itu, kami ngeloyor ke lokasi-lokasi strategis untuk berfoto. Biarin lah, toh  informasi tentang Shwedagon ada di brosur atau bisa dicari sendiri di Internet.

Bicara soal Internet, walau ternyata jaringan telekomunikasi di Myanmar tidak seterbelakang yang saya pikirkan, tetap saja berselancar di sana bikin frustasi. Pertama,  harta kartu telepon seluler  sangat mahal. Kartu telepon kami beli begitu tiba di Bandara Yangon, dengan harga sekitar Rp 280 ribu per kartu. Program Internet-nya menggunakan  sistem time based 150 jam selama sebulan. Cukuplah untuk penggunaan selama di Myanmar. Provider-nya adalah Myanma (tanpa “r”) Post and Telecommunication.

Kedua, harga kartu yang mahal bukan jaminan jaringan Internet (HSDPA) tersedia. Di Yangon sekalipun, mengakses Internet butuh kesabaran tingkat tinggi. Kadang dapat, sering tidaknya. Jaringan Internet malah lebih kuat dan stabil di Nay Pyi Taw. Berselancar dari dalam kamar hotel juga kencang dan stabil. Tapi, di tempat lain, di sepanjang jalan di luar kedua kota itu, jangan harap ada jaringan Internet. Paling hebat, jaringan seluler hanya bisa dipakai untuk menelepon.

Gerai Kementerian Pariwisata Myanmar di Bandara Yangon, sekaligus tempat penjualan kartu telepon MPT.

Gerai Kementerian Pariwisata Myanmar di Bandara Yangon, sekaligus tempat penjualan kartu telepon MPT.

Begitu pun, hadirnya akses Internet dan telekomunikasi tanpa sensor ini saja sudah kemajuan luar biasa buat Myanmar. Menjadi negara tertutup selama puluhan tahun, Myanmar mulai membuka diri sejak beberapa tahun terakhir. Terutama sejak terpilihnya Presiden U Thein Sein  sebagai presiden pemerintahan sipil pertama Republik Uni Myanmar. Ia menjabat sejak 30 Maret 2011. Sejak itu pula Myanmar mulai melakukan berbagai kebijakan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Khusus di bidang ekonomi, reformasi dilakukan lewat pendekatan kebijakan fiskal dan moneter serta reformasi pelayanan perbankan.

Tak hanya itu, Myanmar juga melakukan pengembangan industri, pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas kelembagaan, pengurangan tarif bea masuk, serta standardisasi dan kelonggaran aturan dagang. Semua perkembangan positif itu mendapat pengakuan dari komunitas internasional yang, antara lain, ditunjukkan dengan dikuranginya sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia bagi negara berpenduduk 61 juta jiwa ini.

Nilai perdagangan Indonesia-Myanmar juga terus meningkat. Sepanjang April 2013-Maret 2014, Myanmar mengimpor barang dari Indonesia senilai US$ 438,82 juta (tahun 2012 sebesar US$ 195,23 juta). Sedangkan ekspor Myanmar ke Indonesia sebesar US$ 60,04 juta (tahun 2012 sebesar US$ 31,54 juta). Komoditas ekspor Indonesia ke Myanmar, antara lain, minyak sawit, peralatan industri, besi-baja, produk farmasi, barang elektronik, plastik, karet, kertas, dan suku cadang kendaraan bermotor. Sedangkan impor dari Myanmar meliputi sumber daya mineral, kacang-kacangan, jati, matpe hitam, dan tepung maizena.

Lelah berkeliling pagoda dan Kota Yangon, kami mencari hotel, dan ketemu Hotel Summit Parkview. Hotel ini levelnya bintang empat, tapi mungkin karena sudah lama, kualitasnya sudah tidak prima. Perabotnya kadaluarsa, karpetnya berbau, kamar mandinya kusam, AC-nya sentral, dan masih memakai kipas angin besar di atas tempat tidur. Sungguh, tidak saya rekomendasikan buat pengunjung  Yangon. Tapi, karena sudah malam dan cuma untuk dipakai satu malam, ya sudah ditahankan.

Paginya, kami meluncur ke Bandara Yangon.  Kami berangkat lebih pagi karena khawatir terjebak macet di pusat kota Yangon. Kondisi jalanan Yangon sehari-hari sedikit tersendat.  Namun, buat ukuran Jakarta sebenarnya masih tergolong “lancar”.  Menariknya, di tengah kemacetan ini, pengemudi Yangon–dan Myanmar secara umum, terasa lebih sabar dan toleran. Mereka  tenang saja menyaksikan mobil di depan atau sampingnya berpindah jalur mendadak, atau bahkan berjalan tidak pada jalurnya.

Keunikan lain dari lalu-lintas Myanmar adalah aturan setir mobil yang tidak baku. Mobil di sana sebagian menggunakan setir kanan, sebagian lagi setir kiri.  Nah, aturan di jalannya menggunakan aturan setir kiri, artinya jalur kanan adalah jalur lambat. Tapi, loket pembayaran tol dan parkir adanya di sebelah kanan, seperti laiknya aturan mobil setir kanan. Jadi, kalau sopir mau bayar tol atau parkir, harus melalui perantara penumpang di depan.  Kerepotan lain adalah soal salip-menyalip kendaraan. Bayangkan susahnya sopir mobil setir kanan saat ingin mendahului mobil di depannya dari sebelah kiri. Kendaraan yang datang dari arah berlawanan akan sulit terpantau.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Pasar di Yangon.

Pasar di Yangon.

Ruko di Yangon.

Ruko di Yangon.

Untunglah, dari semua rintangan itu, kami berhasil sampai dengan selamat di bandara. Sesampainya di sana, kami segera menukar uang kyat (dibaca “cat”) ke dolar AS, dan menyisakan sebagian untuk membeli oleh-oleh.  Tidak ada toko khusus yang dirancang untuk menjual suvenir di bandara. Kios suvenir di sana kebanyakan masih berupa kios “emperan”. Oleh-oleh yang dijual umumnya berupa perhiasan dari bahan batu hias, magnet kulkas, kerajinan tangan, teh tarik, atau kaos. Banyak teman yang tertarik membeli, karena memang harganya murah.  Tertarik ke Myanmar? ***

<<Foto-foto menyusul>>