Getting Ready for The Jakarta Marathon 2015

Rejeki anak soleh, pas mau ikut Jakarta Marathon, ada yang mensponsori. Jadi aja ikut half  marathon untuk pertama kalinya :)) Sampai ketemu di Monas.

Kalau pegel, tinggal usapkan Salonpas.

Kalau pegel, tinggal usapkan Salonpas.

 

Kaosnya lekbong, kelek bolong,

Kaosnya lekbong, kelek bolong,

 

Hasilnya:
catatan waktu jakmar 15

Advertisements

Ikut ‘Celeng’ Lagi

Lari itu ibarat makan keripik Ma Icih level 10. Pedes, tapi ogah berhenti. Begitu juga ikut challenge — komunitas runner membacanya jadi ‘celeng’ –lari. Kapok setelah menjalani celeng yang diadakan sebuah perusahaan asuransi karena saya anggap tak lagi sehat, saya kembali mengikuti celeng. Kali ini celeng buatan Dunia Lari. Tantangannya cukup serius, lari sepanjang 2.015 kilometer selama tahun 2015. Kalau dibagi per hari, kira-kira  5,5 kilometer per hari. Tidak terlalu berat sih. Cuma persoalannya, saya baru ikut celeng ini bulan April…beuh banget gak sih.

Tadinya sudah males ikut, tapi karena  di-invite oleh seorang teman, mau gak mau ikut deh. Saya kan susah menolak permintaan orang lain. Apalagi pemberian orang lain. #guemahgituorangnya. Tapi ya itu, balik lagi, sudah kehilangan waktu hampir empat bulan. Malah, ketika saya masuk, sudah ada peserta yang selesai 2.015 km…ruar biasa.

Akhirnya, setelah salat Tahajud  (boong banget), saya meneguhkan tekad untuk menjalani celeng ini. Tekad yang kuat itu saya tabalkan dengan kalimat di dalam hati: “keuber sukur, gak juga biarin lah”…(ini tekad bukan sih?). Prinsipnya adalah, kali ini saya tidak akan ‘mengorbankan’ diri hanya untuk memenuhi tuntutan sebuah celeng. Kalau kata orang, ikut challenge, jangan lupa safe running.  Happy running, runners!  ***

42 K before 40 years

logo-jakthon2015-small-newLama gak long run, sejak Allianz Virtual Run September tahun lalu. Begitu deh kalau gak ada perlombaan, larinya hanya sekadar menjaga kondisi, atau latihan sprint jarak pendek untuk menjaga VO2 max.   Kemarin, iseng-iseng buka situs web Dunia Lari, baru inget kalau akan ada Jakarta Marathon 2015 pada 25 Oktober nanti.

Ah, ini dia, nih, tantangan baru. Seumur-umur  belum pernah tembus full marathon. Paling jauh 24 K, itu pun sudah sambil ngesot. Nah, mumpung masih lama, kayaknya masih ada waktu untuk persiapan. 8 bulan lagi, rasanya cukuplah untuk mencapai 42 K. Optimistis lah…

Latihannya sudah dimulai Sabtu lalu, dengan jarak 15 K. Rencananya akan ditingkatkan bertahap 5 K setiap bulan. Jadi, bulan ini ditargetkan bisa tembus 20 K, bulan April 25 K, Mei 30 K, dan Juni 35 K. Bulan Juni-Juli istirahat Ramadan dan Lebaran. Selepas Lebaran di pertengahan Juli, tetap 30K untuk pemulihan lagi.

Setelah itu, Agustus naik  lagi menjadi 35 K, dan September 40 K. Puncaknya, ditutup dengan 42 K pas hari pelaksanaan. Jadi, maraton pertama terwujud di Jakarta Marathon 2015 :)). Di sela-sela waktu gak lari, diisi dengan latihan beban secukupnya, supaya gak gampang cedera. Asupan kalori dan protein juga ditingkatkan supaya gak kurang gizi 🙂 * eh, kali aja ada yang mau jadi sponsor?  Judulnya:  “42 K before 40 years”  sponsored by…. hahaha….

Lari: Rekreasi, Olahraga, atau Kompetisi?

Dari tahun ke tahun, makin banyak aja perusahaan/komunitas  yang jadi sponsor  challenge lari. Ada yang menawarkan lomba banyak-banyakan kilometer (most kilometer) dalam waktu tertentu.  Ada yang menawarkan challenge siapa yang lebih dulu berhasil mencapai kilometer tertentu dalam setahun, misalkan 2.015 kilometer sepanjang 2015. Ada juga yang menawarkan challenge perolehan kalori teranyak (most calorie) dalam rentang waktu tertentu.

Gue juga tahun lalu pernah ikut challenge kategori most kilometer. Siapa yang meraih kilometer terbanyak dalam 2,5 bulan akan menjadi pemenangnya.  Gue masuk peringkat 10 besar  kelompok pelari master. Kelompok lainnya  adalah pelari rutin dan pelari baru. Walau namanya pelari master, sebenarnya sih biasa aja. Gue gak master juga, gak hebat-hebat amat larinya. Cuma modal ngotot :)) Ya, buat senang-senang saja, kalau tidak mau dibilang ketularan tren ikut challenge.

Tapi, setelah capeknya hilang dan gue pikir-pikir lagi, challenge seperti ini sebenarnya sudah melenceng dari tujuan utama berolahraga yakni sehat.  Coba pikir, selama 2,5 bulan lebih; peserta harus lari sebanyak-banyaknya. Pagi, sore, siang, malam…tak peduli apakah malam sebelumnya dia habis begadang misalnya, paginya harus disempatkan lari. Meleng sedikit, pasti akan langsung tergeser dari posisi 10/20  besar.

Padahal kan, teori dasar olahraga adalah kesimbangan antara latihan/aktivitas fisik, istirahat/pemulihan, dan nutrisi. Kenyataannya, gue saja yang cuma peringkat kedelapan rata-rata berlari 11,12 kilometer per hari. Bahwa ternyata para peserta mampu melewati challenge ini dengan selamat walafiat,  ya alhamdulillah.  Berarti fisik pesertanya kuat-kuat.

Persoalannya, bagaimana kalau peserta lomba orang yang tidak terlatih atau punya penyakit? Challenge seperti ini justru bisa mendatangkan efek negatif. Namun, bukan berarti gue menolak kegiatan kayak begini.  Namanya pelari, pasti ada yang pengen tantangan lebih atau mencari unsur rekreasional supaya gak bosen. Namun, yang perlu diingatkan itu adalah supaya penyelenggaranya memberikan informasi yang cukup kepada peserta.

Contohnya, sebelum perlombaan peserta diberi pemahaman, bahwa ini adalah kompetisi yang condong ke arah rekreasional. Jadi yang ditonjolkan bukanlah perlombaannya melainkan rekreasinya. Berikutnya,  peserta diberi pelatihan atau informasi mengenai dasar-dasar olahraga, teknik berlari yang benar, cara menjaga kondisi badan di tengah kompetisi yang ketat, tips untuk mengetahui ciri-ciri kelelahan pada tubuh, dan sebagainya. Peserta juga harus diimbau supaya bisa menakar kemampuan tubuhnya, sehingga tahu kapan harus berhenti.

Tidak cukup sampai di situ, selama challenge berlangsung, peserta juga harus terus-menerus dipantau dan dipandu, terutama kalau kegiatannya berlangsung panjang. Peserta yang umumnya masyarakat awam jangan dilepas begitu saja.  Tanpa ada upaya mendidik para sobat runners, gue khawatir kegiatan lari semacam ini hanya akan jadi strategi pemasaran para sponsornya.  Semoga tidak.  ***

Pulang Kampung (3): Run Into History

Walau liburan, lari tak boleh ditinggalkan. Dalam liburan Idul Adha lalu, salah satu rute lari terbaik saya adalah melintasi kampung kami di Dusun Aeksah, Simangumban di Tapanuli Utara menuju Kota Sipirok, di Tapanuli Selatan sejauh 21,1 kilometer.   Pas banget dengan jarak half marathon. Start pukul 16.00, tiba di Sipirok pukul 18.30 bersama azan Magrib. Melintasi jalanan sunyi, perkampungan penduduk yang letaknya berjauhan, tanjakan  Aek Latong yang gak kira-kira panjangnya (Aek Latong yang angker itu kini sudah cantik dan jadi tempat wisata), juga bersaing dengan bus dan mobil pribadi. Untungnya suhu udara yang makin sore makin dingin menguatkan saya. Menjelang Sipirok, saya disambut anak-anak kecil yang keheranan melihat ada orang ‘gila’ lari di jalanan.  Sendirian pula. Tapi, saya tegar, berkat mental selebritas  yang sudah terlatih.  Dulu sekali, sewaktu opung laki-laki masih hidup dan opung perempuan masih sehat, kami kerap bepergian Aeksah – Sipirok (naik mobil pastinya, bukan lari) untuk menjual hasil bumi atau sekadar menyaksikan poken (pekan).

Penampakan jalur lari Aeksah-Sipirok.

Penampakan jalur lari Aeksah-Sipirok.

Google map Aeksah-Sipirok.

Google map Aeksah-Sipirok.

Di Medan, rute lari juga tak kalah seru. Dari Stadion Teladan, melintasi Jalan Sisingamangaraja, Masjid Raya, Istana Maimun, Kesawan, Rumah Tjong A Fie, Gedung PT Lonsum Tbk, kantor cabang Bank Indonesia, dan berputar di Lapangan Merdeka melewati Kantor Pos Besar, dan Stasiun Kereta Api Medan Kota.   Rutenya pendek, hanya sekitar 4 kilometer, tapi seluruhnya adalah kawasan kota tua Medan, dengan arsitektur bangunan yang masih terpelihara baik. Kalau merasa jaraknya kurang jauh, silakan berkeliing lintasan lari di dalam Lapangan Merdeka. Dan kalau capek, bisa rehat sambil makan-minum di pusat jajanan yang lengkap di Merdeka Walk. Beli oleh-oleh baju khas Medan juga ada (saya juga baru tahu). Nah, benar kan, berlari itu menyenangkan.

Di depan gedung Bank Indonesia Medan.

Di depan gedung Bank Indonesia Medan.

 

Niatnya pose lari, tapi kok jadi seperti orang mau jatuh.

Niatnya pose lari, tapi kok jadi seperti orang mau jatuh.

 

Museum Lokomotif di Stasiun KA Medan Kota.

Museum Lokomotif di Stasiun KA Medan Kota.

batu

Data lokomotif.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

Kantor Pos Medan. Anno 1911.

 

 

Allianz Virtual Run 2014: Lampaui Batasmu!

AVR 2014

Allianz Virtual Run 2014 berakhir sudah. Sejak  3 Agustus-19 Oktober atau 78 hari perlombaan, berhasil menempuh jarak bersih (setelah ditambahkan workout yang tak tercatat dan dikurangi workout ganda) 879,24 kilometer. Kalau dirata-ratakan berarti setiap hari berlari 11,12 km. Tak peduli walau pulang kantor jam 3 pagi, Subuh harus bangun dan berlari lagi.  Kemampuan yang tidak terbayangkan sebelumnya.

“Harga” yang dibayar pastilah ada. Berat badan turun 3 kg, sepatu yang tadinya masih bagus sekarang sudah layak dibuang, kuku kaki copot tiga biji gara-gara sepatu bapuk, dan jadi tamu tetap Gelora Bung Karno.  Sebaliknya, “hadiahnya” juga setimpal. Kemampuan fisik meningkat, kepuasan batin, dan kepercayaan diri untuk mencapai sesuatu yang kelihatannya mustahil.  Saatnya untuk naik ke jenjang berikutnya, go, go…push the limit!

photo avr medali