Eksotisme Beef Rossini

Pria ramah itu berdiri di samping meja kami. Florian Lamenot, French Chef Resident Restoran Orient-8, Hotel Mulia, Jakarta mempresentasikan menu beef lava stone yang sedang kami santap. Tercermin dari namanya, hidangan tersebut terdiri dari potongan tipis daging sapi impor asal Amerika Serikat yang dipanaskan di atas batu lava hasil letusan gunung berapi.

Sebelum dipakai untuk memanaskan daging, kata dia, batu lava dipanaskan terlebih dulu pada suhu 200 derajat celcius. Setelah itu, empat iris daging yang sudah dibumbui dimasak di atasnya hingga tingkat kematangan yang diinginkan pelanggan. Setelah matang atau setengah matang, steak siap disajikan bersama lada hitam, garam, dan saos teriyaki.

Menurut Florian, batu lava dipilih  karena mampu memberikan pemanasan yang merata dan juga  menguarkan aroma yang khas pada daging. Lemak yang tertinggal dalam irisan daging akan meleleh seketika saat menempel di batu panas yang dipanaskan dengan minyak zaitun. Lemak ini  menghadirkan sensasi rasa ‘basah’ pada daging yang saya rasakan sendiri.

Terlepas dari rasanya yang memang yahud, sayangnya bukan beef lava stone yang menarik perhatian saya. Saya justru tergoda untuk bertanya, “Apa hidangan favorit di restoran ini?” Berpikir sejenak, warga Prancis itu menjawab, “Beef rossini.”

Dia menjelaskan, beef rossini terbuat dari daging sapi (prime black angus tenderloin), hati bebek atau angsa (foie gras),  jamur black truffle,  ditambah saus. Terdengar tak lazim, berlagak juri kontes memasak atau bahkan inspektur Michellin, saya menantang Florian, “Apakah menu tersebut bisa saya dapatkan sekarang?” Kali ini, tidak berpikir lagi dia tersenyum, mengangguk, dan bergegas ke dapur.

Sementara menunggu, kami menikmati hidangan lain yang disajikan restoran bergaya pan- Asian dan Prancis tersebut. Di atas meja dan  kursinya yang serba putih dan dibuat seakan-akan tua, sudah tersedia beef fondu. Berbeda dengan daging beef lava stone yang dipotong tipis-tipis, daging beef fondu dipotong tebal-tebal berbentuk kubus.

Daging tersebut kemudian kami celupkan ke dalam minyak jagung yang  suhunya harus dijaga pada angka 180 derajat celcius. Untuk memastikan suhunya sesuai standar, restoran menyediakan termometer laser yang bisa ditembakkan ke dalam minyak jagung. Begitu suhunya sesuai, kami mulai mencelupkan daging ke dalam minyak yang menggelegak.

Aturan untuk mencelupkan daging beef fondu  ada lagi. Jika ingin matang sempurna,  celup daging selama tiga menit. Tapi, kalau ingin setengah matang, cukup dua menit. Saya kemudian tahu kenapa dagingnya harus dipotong tebal-tebal. Rupanya, daging yang terlalu tipis akan kering begitu dimasukkan ke dalam minyak jagung.

Setelah daging matang, hidangan bisa disantap dengan empat jenis saus yakni saos bearnaise (mentega, kuning telur, dan white wine vinegar), barbeque, tar-tar, dan mayonaise. Kalau beef lava stone rasanya sempurna, yang ini bisa dibilang luar biasa. Selain karena dagingnya kualitas pilihan, ketebalannya yang di atas beef lava stone membuat daging ini lebih ‘melawan’ di dalam mulut.

Sedang asyik menikmati beef fondu,  bintang utama siang itu: beef rossini pun muncul. Saya perkirakan, waktunya tak sampai 10 menit sejak saya memesan hidangan tadi. Dari bentuknya saja sudah menggoda petualang kuliner. Terdiri dari daging sapi black angus yang ditaburi jamur black truffle, dan di tengahnya terdapat foie gras  yang berwarna kekuningan.

Direktur Komunikasi Hotel Mulia, Romy Herlambang yang menemani kami makan bercerita, black truffle diimpor dari Eropa dan hanya tumbuh di pohon oak atau hazelnut. Itu pun hanya selama selang musim gugur dan musim dingin. “Katanya, jamur ini hanya bisa diendus oleh anjing jenis tertentu,” ujar Romy, Jumat dua pekan lalu.  Konon lagi, harganya mencapai Rp 30 juta per kilogram

Sebagai pemanis, di sisi beef rossini ditaruh mashed potato berbentuk kotak. Disebutkan Florian, dalam format tradisional beef rossini ditata lebih sederhana. Hanya berupa tumpukan daging, hati bebek, dan black truffle. Sekilas mirip tumpukan burger. Tapi, di tangan Florian, beef rossini berubah menjadi modern dengan semua bahan baku tadi menyatu.

Daging sapinya dirancang sedemikian rupa sehingga foie gras terjebak di bagian tengah. Adapun jamur black truffle yang berwarna hitam pekat ditabur di atasnya. Saya segera mengambil pisau dan garpu. Saat memotong dagingnya, saya sudah menduga steak ini dimasak setengah matang. Begitu menyentuh lidah, dugaan itu terkonfirmasi. Rasa daging, jamur, dan hati bebeknya sangat alami.

Tak terbiasa dengan masakan setengah matang ternyata tercermin dari wajah saya, walaupun sama sekali tanpa disengaja. Melihat ekspresi saya, Florian cepat tanggap. Dengan sopan dia meminta kembali hidangan tersebut, untuk dimatangkan di dapur. Serba salah dan merasa berdosa, saya pasrah saja menyaksikan makanan tersebut dibawa kembali ke dapur.

Tidak sampai lima menit, hidangan yang sama kembali ke hadapan saya. Kali ini sudah matang sempurna.  Tapi, ternyata harus diakui, cita rasa beef rossini lebih keluar jika disantap dalam keadaan setengah matang. Sebab, dengan begitu, kita bisa benar-benar membedakan setiap elemen yang tersentuh lidah. Dan cuma ada satu kata untuk beef rossini: eksotis.

EFRI RITONGA (KORAN TEMPO)

NB: foto-fotonya keburu kehapus. Nasib…

Kedai Seni Djakarte, Kota Tua Jakarta

Dua pekan lalu, orang tua saya berkunjung ke Depok. Beliau mengajak kami menyusuri Jakarta menggunakan bus City Tour. Rupanya, beberapa hari sebelumnya dia  secara tak sengaja sudah menjajal bus City Tour dari halte Plaza Indonesia, dan dia terkesan. Menurut beliau, perjalanan berlangsung selama 45 menit menyusuri Kota Tua hingga Monas. Tapi, bus gratis milik pemerintah DKI Jakarta ini tidak berhenti di banyak tempat. Selain di Plaza Indonesia dan Monas, bus hanya berhenti di halte Juanda, persis di depan halte busway Juanda.

Penasaran dengan pengalaman tersebut, di hari Sabtu kami ingin juga mencicipi bus City Tour. Mumpung masih gratis. Karena, katanya, bus ini hanya digratiskan selama tiga bulan sejak diluncurkan Februari 2014. Sedangkan mulai Mei, penumpang City Tour harus membeli  tiket melalui loket yang tersedia di hotel atau  mal.

Parkir di Stasiun Tanjung Barat,  kami meneruskan perjalanan dengan kereta. Sejak diterapkannya sistem e-ticketing, baru kali ini saya menumpang KRL. Pangling melihat kondisi stasiun sekarang. Tidak ada lagi pedagang di sepanjang peron seperti dulu, tidak ada pengamen yang tetap memaksa bernyanyi di tengah kepadatan penumpang, tidak tampak pula penyapu lantai  swasta yang dulu suka beroperasi di dalam gerbong.

Tiba di Stasiun Juanda sekitar pukul 15.00, hujan turun. Kami  berteduh di peron bawah stasiun sambil menyaksikan petugas menyapu air yang terus mengucur dari jalur rel melayang. Menjelang pukul 16.00 kami beranjak ke halte bus Istiqlal. Di sana sudah banyak orang-orang yang menunggu dengan tujuan serupa. Saya duga seperti itu, karena di halte tersebut tidak ada angkutan umum yang lewat.

100_4488Tapi, lucunya, meski di depan halte jelas-jelas  ada plang bertuliskan City Tour, setengah jam menunggu tak ada bus yang lewat. Kesal menunggu, satu-persatu warga calon peserta tur mundur teratur. Kami, karena kepalang basah dalam arti sebenarnya, terus menunggu. Sampai akhirnya pukul 17.15  tetap tak ada bus yang lewat. Akhirnya, dari pada manyun, saya  mencegat taksi dan berlalu menuju kawasan Kota Tua.

Dan, kesialan di hari itu masih rupanya masih berlanjut.  Ingatan mengenai Kota Tua yang apik langsung pupus ketika kami tiba di sana. Lain sekali dengan kunjungan saya ke tempat ini beberapa tahun lalu,  hari itu Kota Tua tak ada bedanya dengan terminal bus, sesak pedagang kaki lima. Saking ramainya, buat berjalan kaki saja susah. Trotoar yang sudah dibikin keren dari batu andesit (saya pernah membuat liputannya waktu awal revitalisasi Kota Tua) dijajah parkiran motor. Pejalan kaki yang menurut konsepnya dulu akan dimanjakan, lagi-lagi tersingkirkan.

Kejengkelan saya sontak sampai ke ubun-ubun. Kapan sih kita bisa rehat barang sejenak dari rutinitas kota besar, kalau di mana-mana ketemunya pedagang kaki lima lagi, motor lagi, dan trotoar yang berubah fungsi? Kalau begini apa yang mau dilihat. Bahkan di sekeliling kotak kaca tempat ditemukannya rel trem terakhir peninggalan zaman penjajahan sudah dikapling pedagang.

100_4495Untunglah, setelah putus asa dengan pemandangan kumuh di Kota Tua, kami menemukan tempat makan yang menyenangkan di sana. Namanya sih nggak nyambung: Kedai Seni Djakarte. Jelas-jelas tempat ini adalah warung makan, kenapa disebut kedai seni? Di tempat itu kami memesan bakmi godog, nasi goreng smoke beef, pisang bakar cokelat, es teh manis, dan bajigur. Semuanya top. Bakmi godognya enak, nasgornya pas, dan bajigurnya yahud. Segar banget.

Tapi, di atas semua itu, saya paling senang dengan arsitektur kedai ini. Berdasarkan plakat yang tertempel di dinding luar, gedung ini dulunya kantor perusahaan asuransi Java Sea & Fire Insurance Co Ltd.  Perusahaan ini pernah memasang iklan di koran Sidney Morning Herald tanggal 14 April 1876. Tertulis di situ, “Policies issued on all classes of marine risks at lowest current rates.”

Pengelola kedai mempertahankan arsitektur  tempat ini. Jadi, interior dan eksteriornya masih asli. Coba lihat jendelanya. besinya teralisnya saja terbuat dari besi tuang yang sangat tebal. Beda dengan teralis sekarang yang dipakukan  dengan baut 3 sentimeter, teralis zaman dulu dipaku pakai pasak segede jempol kaki. Belum lagi kusennya yang segede batang pohon. Saya sampai menduga, kayu ini tidak dipotong-potong dulu dari pohonnya, melainkan satu pohon utuh yang dijadikan kusen.

Tembok dindingnya juga, seperti lazimnya bangunan kuno, sangat tebal. Kira-kira dua kali lipat dari tembok rumah biasa. Padahal dia bukan termasuk bangunan pencakar langit, karena cuma terdiri dari dua lantai. Masuk ke dalam kedai, tempat yang paling berkesan adalah kamar mandi. Kamar mandi itu sempit, mungkin sekitar 1,5×1,5 meter, tapi tinggi langit-langitnya saya taksir mencapai 5 meter.  Berada di dalam kamar mandi itu serasa berada di dalam sumur.  Selesai makan, kami hanya membayar Rp 94.500, sudah termasuk service charge.  Begitulah, kedai Djakarte dengan hidangan dan arsitekturnya menjadi pengobat kecewa di Kota Tua.

Teralis dan kusen yang ‘berotot’.

Plakat Java Sea & Fire

 

 

 

 

 

 

Bajigur sedap.

Bakmi godog.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nasi goreng.

 

Sate Kambing 88, Depok

Ini nih, warung sate kambing yang paling enak…minimal terenak se-Depok. Lokasinya benar-benar nook and cranny, dijepit warung dan ruko lain di Jalan Asmawi, Beji, Depok. Tapi, menandainya gampang kok. Karena,  meski nyempil letaknya persis di depan SPBU satu-satunya di sepanjang ruas jalan itu.

Menu yang paling layak dicoba adalah sate kambing tanpa lemak dan tongseng kambing. Digaransi rasanya bikin ketagihan. Harganya juga bersaing, cuma Rp 15 ribu untuk tongseng dan Rp 26 ribu untuk sate tanpa lemak.  Menu lainnya ada sate kambing muda, sop, dan sate ayam. Sangat saya rekomendasikan untuk dilongok.

wpid-2013-08-20-19.55.16.jpg

wpid-2013-08-20-19.55.30.jpg

wpid-2013-08-20-19.56.33.jpg

Resto & Sushi Bowty, Depok

Ada tempat nongkrong baru di Beji, Depok. Letaknya persis di pertigaan antara Jalan Kalimantan dengan Jalan Nusantara Raya. Namanya: Resto & Sushi Bowty. Anak saya yang pertama kali menyadari kemunculan tempat ini sekitar sebulan lalu. Sejak saat itu,  beberapa kali ia  minta kami mampir ke sana. Dua hari silam,  kesempatan itu datang. Sekitar pukul 22.00 kami berbelok ke Bowty.

Lokasinya strategis, di tepi jalan raya yang ramai. Lahan parkirnya  muat tiga mobil dan banyak sepeda motor. Tempat makannya tidak terlalu besar. Hanya sekitar 3,5×7 meter, ditambah meja cadangan di luar kafe. Menu yang disediakan   dibagi beberapa kelompok.  Untuk kelompok sushi yang membawa konsep “fusion sushi”—mungkin maksudnya cita rasa sushi sudah disesuaikan dengan lidah lokal,  tersedia dynamite roll, california roll, Beji roll, salmon roll, dll.

Dari kelompok noodle  ada chicken soyu ramen, teriyaki chicken noodle, yakiniku beef noddle, dsb. Kelompok hidangan nusantara juga ada. Seperti nasi kebuli, soto betawi, dan bubur ayam. Cuma, pilihan minumannya terbatas, hanya ada jus kiwi dan Milo.

Datang  menjelang last order, kami hanya sempat memesan jumbo dragon roll. Namanya saja yang jumbo,  isinya cuma empat potong sushi.  Tapi, apa yang bisa dikeluhkan dengan sushi seharga Rp 15 ribu. Apalagi rasanya masuk dengan lidah saya yang bukan penggemar sushi ini.  Well, dengan kisaran harga Rp 10 ribu-Rp 23 ribu per menu plus lokasinya yang “menjemput bola”,  Bowty bisa menjadi tempat nongkrong alternatif.

image

Resto & Sushi Bowty

Jumbo Dragon Roll

Jumbo Dragon Roll

Bakso Apotek Rini, Rawamangun

Kemarin sore, dalam perjalanan pulang sehabis bersilaturahim di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur,  kami mampir membeli obat ke Apotek Rini, di Jalan Balai Pustaka Timur.  Di depan apotek ada penjual bakso gerobak. Biasa saja, kecil malah. Tapi, saya amati, ramai sekali pembelinya.  Saking ramainya, dua ruas badan jalan di depan  apotek  terpakai sebagai tempat parkir kendaraan yang berhenti untuk membeli bakso.

Penasaran, saya pun ikut bergabung dalam kerumunan para pemesan. Sambil menunggu pesanan, saya coba googling, dan benar saja, bakso ini lumayan tenar. Banyak orang yang mengulas  tentang bakso gepeng ini.  Sewaktu saya cicipi sendiri, rasanya memang lumayan.  Baksonya segar.  Bumbu kuahnya juga terasa enteng di lidah, tidak terlalu tajam.

Sedangkan bihunnya, bihun putih biasa, tidak istimewa.  Soal harga, sedikit mahal, Rp 15 ribu per porsi. Secara keseluruhan, mengabaikan nilai minus karena meja makan tidak tersedia,  bakso gepeng di Apotek Rini Rawamangun ini bolehlah dicoba, jika kebetulan sedang melintas di wilayah itu.

wpid-2013-08-08-15.09.34.jpg

wpid-2013-08-08-15.09.59.jpg