Manfaatkan Momentum Investment Grade

Peringkat layak investasi (investment grade)  yang disematkan Fitch Ratings kepada surat utang Indonesia tidak selayaknya menjadi alasan pemerintah berpuas diri dan berleha-leha menunggu pemilik modal menyambangi negeri ini. Masih ada 1.001 pekerjaan rumah yang harus dibereskan pemerintah sebelum investor benar-benar mampir.

Satu di antara sekian banyak tunggakan pekerjaan itu adalah memperbaiki peringkat kemudahan berusaha (ease of doing business) Indonesia yang tahun ini masih bertengger di peringkat ke-109. Posisi itu jauh di bawah negara-negara tetangga seperti Brunei Darussalam di peringkat ke-84, Thailand ke- 49, atau Malaysia ke-18. Dan, jangan coba-coba bandingkan dengan Singapura yang ada di peringkat ke-1.

Poin yang membuat Indonesia kedodoran di mata Bank Dunia sebagai pemberi peringkat, adalah kemudahan memulai bisnis (starting business). Tahun lalu,  peringkat kemudahan berbisnis di negara ini masih ada di peringkat ke-163. Tahun ini, melorot menjadi 173. Poin minus lainnya adalah ketersediaan pasokan listrik.

Pemerintah sudah berupaya mempermudah izin usaha dengan mengeluarkan 12 paket kebijakan ekonomi secara bertahap sejak tahun lalu. Sayangnya,  bagi pengusaha upaya tersebut dianggap tidak cukup. Mereka mengatakan, banyak kebijakan kemudahan perizinan yang hanya garang di atas kertas namun ompong di lapangan.

Jargon kemudahan izin usaha di tingkat pusat seringkali tidak senafas dengan realitas di derah. Sulitnya pembebasan lahan untuk membuka usaha, yang wewenangnya ada di pemerintah kabupaten dan kota, masih menjadi momok. Kendala pembebasan lahan juga menghantui proyek-proyek jalan dan pembangkit listrik.

Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2016  yang meleset dari target –hanya 4,92 persen dari target 5,3 persen–juga mesti menjadi peringatan dini. Karena, setelah ditelusuri, lemahnya pertumbuhan ekonomi dipicu oleh rendahnya penyerapan belanja pemerintah. Penyakit lama rupanya kambuh lagi. Sempat dikebut di bulan Januari, penyerapan belanja pemerintah kembali kendor di bulan-bulan berikutnya.

Perilaku pemerintah daerah yang gemar mengendapkan dana pembangunan di perbankan juga belum sembuh.  Hingga akhir April lalu, jumlah uang anggaran daerah yang berumah di bank daerah mencapai Rp 220 triliun. Presiden Joko Widodo pun berang, karena nyaris tak ada belanja modal maupun barang yang dilakukan pemerintah daerah dalam periode tersebut.

Tak akan selesai dengan hanya marah-marah, Presiden dituntut untuk mendorong birokrasi pusat dan daerah bergerak. Kucurkan belanja modal dan barang pemerintah secepatnya. Evaluasi terhadap implementasi berbagai insentif dan kemudahan yang dijanjikan Jokowi dalam paket kebijakan ekonomi juga mesti dilaksanakan.

Dari sisi permintaan, daya beli masyarakat wajib dijaga melalui pengendalian laju inflasi.  Investor mana yang mau masuk kalau hasil barangnya sepi pembeli? Tanpa pembenahan di semua sektor, bukan mustahil Indonesia, yang sebenarnya hanya sedikit di atas garis tidak layak investasi (junk bond), terlempar dari zona invesment grade dalam penilaian berikutnya. Tak ada waktu untuk berpuas diri.    (*)

Nenek Moyang Suku Nias (2): Ono Niha Menggeser Penghuni Terdahulu

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Een_familie_op_Nias_TMnr_10005771

Orang Nias yang ada sekarang bukanlah manusia pertama di Pulau Nias. Menurut arkeolog Badan Arkeologi Medan, Ketut Wiradyana, sejarah Nias bermula sejak 12 ribu tahun lalu. Ketika itu Nias didatangi manusia ras Austromelanesoid dari kebudayaan Hoabinh, yang biasanya bermukim di gua-gua Vietnam utara.

Manusia awal yang menempati Nias ini bertubuh besar, berkulit gelap, dan mempunyai tengkorak lonjong. Mereka menyusuri jalur barat melewati Thailand, Semenanjung Malaysia, dan menyeberang ke pantai timur Pulau Sumatera.  Manusia Austromelanesoid ini datang bergelombang dan hidup nomaden menyusur pantai timur ke arah utara, lalu berbelok ke selatan melewati pantai barat sampai akhirnya menyeberang ke Pulau Nias.

Selama perjalanan, mereka memanen hasil laut dan menumpuknya di Banda Aceh, Aceh Utara, Aceh Timur, Langkat, sampai Bintan.

”Jejaknya berupa bukit kerang sisa makanan dan alat batu bernama sumatralith,” ujar Ketut, pada 22 Mei lalu.  Artefak yang sama ditemukan di Gua Togi Ndrawa di Desa Lelewonu Niko’otano, Gunungsitoli, dan Nias.

 Penduduk awal Nias kemudian terdesak oleh kedatangan manusia Austronesia yang datang dari Taiwan.

Majunya peradaban manusia Austronesia menggeser eksistensi Austromelanesoid di Nias. ”Budayanya lebih maju, sudah mengenal padi dan logam,” kata Ketut.

 Jalur kedatangan ditempuh melalui Filipina, Sulawesi, dan Kalimantan, lalu menyusuri pantai Sumatera.

Peninggalan artefak manusia Austronesia tertua di Indonesia ditemukan di Minangas Sippako di Sulawesi Barat, yang umurnya diperkirakan 3.500 tahun silam. Menurut Ketut, kedatangan orang Taiwan di Nias terjadi 600 tahun lalu–3,5 milenium lebih lambat ketimbang teori Van Oven.

Bukti kedatangan ini ditemukan pada jejak peradaban megalitikum di Nias sekitar abad ke-15 dan menjadi nenek moyang bagi Ono Niha.

”Orang Nias sekarang menyebut leluhur mereka turun dari langit di Boronadu Gomo,” ucap Ketut. Boronadu Gomo adalah daerah di Nias tengah.

Manusia dari generasi yang lebih modern ini menempati kawasan di pantai Nias bagian selatan.

 Pemuka masyarakat Nias, Waspada Wau, membenarkan anggapan bahwa kepercayaan leluhur mereka berasal dari langit. Leluhur Ono Niha turun pertama kali di daerah Gomo, yang terletak di tengah pulau. Di daerah ketinggian ini mereka menetap dan mendirikan peradaban yang masih bisa dilihat sisanya hingga sekarang. ”Di Gomo banyak ditemukan menhir bikinan mereka,” ujar dia.

Menurut Wau, leluhur dari Gomo inilah yang kemudian turun ke berbagai daerah di Nias, termasuk kampung kelahirannya, Baweumataluo, di Nias bagian selatan, yang terkenal dengan tradisi lompat batu. Orang Gomo sendiri tidak memiliki tradisi lompat batu.

Penelitian Van Oven secara tidak langsung memberikan konfirmasi bukti arkeologis di Togi Ndrawa, meski ia tidak menganalisis artefak di gua kuno itu. ”Kami tidak menemukan bukti adanya hubungan genetik antara penduduk Nias kuno dan masyarakat yang ada sekarang,” kata dia.

Sumber: Mahardika Satria Hadi | Anton William (Koran Tempo) 

Nenek Moyang Suku Nias (1): Dari Taiwan Ke Ono Niha

Tradisi hombo batu (lompat batu) Suku Nias.

Tradisi hombo batu (lompat batu) Suku Nias.

Mannis van Oven terpana tatkala mengetahui hasil penelusuran genetik terhadap penduduk Nias. Peneliti biologi molekuler dari  Erasmus MC University Medical Center Rotterdam di Belanda ini menemukan bahwa genetik orang Nias berbeda dibanding etnis lain di Indonesia. Orang Nias justru bertalian darah dengan penduduk Taiwan, yang terpaut jarak 3.500 kilometer ke arah timur laut.

“Secara genetika, orang Nias mirip dengan rumpun Austronesia yang menghuni Taiwan pada 4.000-5.000 tahun lalu,” ujar Van Oven dalam paparan ilmiahnya di Auditorium Lembaga Biologi Eijkman, pertengahan April lalu.

Van Oven menemukan keunikan orang Nias ini setelah meneliti selama sepuluh tahun. Ia mengumpulkan 407 sampel darah dari 11 klan atau marga yang tersebar di Nias bagian selatan hingga utara. Darah orang Nias dikirimkan ke Jerman untuk ekstraksi asam deoksiribonukleat (DNA), lalu dibawa ke Rotterdam untuk dianalisis.

Pria 30 tahun ini berfokus pada analisis DNA di dalam kromosom Y yang melacak garis keturunan ayah dan DNA mitokondria untuk melacak garis keturunan ibu. Pelacakan bermuara pada haplogroup, pengelompokan manusia ke dalam klan atau marga purba berdasarkan marka genetik dengan pola unik yang disebut single-nucleotide polymorphism (SNP).

SNP merupakan perubahan kecil dalam DNA yang terjadi secara alami dari waktu ke waktu. Munculnya SNP pada satu generasi akan menjadi penanda garis keturunan unik yang diwariskan ke generasi selanjutnya. Inilah yang ditangkap oleh Van Oven untuk memetakan asal-usul suku Nias. “Manusia dari klan purba yang sama akan berbagi pola SNP yang sama,” katanya.

DNA Ono Niha–sebutan setempat untuk orang Nias–miskin variasi. Hanya dua marka genetik kromosom Y yang ditemukan, yaitu O-M119 dan O-M110. Kedua penanda ini hanya ditemukan pada suku bangsa asli Taiwan yang memulai penyebaran ras Austronesia yang kini mengisi wilayah dari Madagaskar, Asia Tenggara, Papua, hingga Easter Island.

Untuk membandingkannya, Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Anehnya lagi, kedua etnis yang bertetangga wilayahnya dengan Pulau Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias.

Perbandingan menggunakan 1.500 sampel dari 38 populasi dari Asia Timur, Asia Tenggara, Melanesia, Polinesia, dan Australia mengkonfirmasi keseragaman DNA Ono Niha. “Genetik orang Nias tampak paling mirip dengan populasi dari Taiwan dan Filipina,” ujar dia.

Kesimpulan ini didukung pakar genetika Profesor Herawati Sudoyo. Lewat proyek penelitian Pan-Asian SNP Initiative, Deputi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini memetakan DNA suku bangsa di Indonesia dan menemukan Indonesia tak hanya terdiri atas dua rumpun besar–Melayu di barat dan Papua di timur–tapi juga terdapat rumpun ketiga.

“Nias membentuk satu cluster dengan orang Mentawai dan Taiwan,” kata Herawati. Orang Simeulue dan Enggano, penghuni deretan pulau paling barat di Kepulauan Mentawai kemungkinan juga tergolong cluster ini.

Menurut Herawati, isolasi geografis menyebabkan keseragaman materi genetik orang Nias. Kultur perkawinan yang “eksklusif” turut memperparah kondisi ini. “Mereka kawin dengan sesama orang Nias sehingga materi genetik tidak menyebar,” ujarnya. Suku bangsa di daerah lain di Indonesia menunjukkan tren materi genetik yang lebih beragam. Kondisi ini menandakan terjadinya efek penyempitan genetik (bottleneck event) dalam sejarah orang Nias.

Penyempitan genetik ternyata juga memicu perbedaan yang sangat kuat di antara 11 klan orang Nias. “Orang di Nias utara dan selatan sangat berbeda,” kata Van Oven.

Klan Gözö, Hia, Ho, Laoya, Daeli, Zebua, Hulu, dan Zalukhu di tengah dan utara hanya memiliki marka genetik O-119. Sedangkan di selatan, tiga klan bangsawan, Sarumaha, Fau, dan Si’ulu, sama-sama mewarisi marka genetik O-110 yang dominan pada kromosom Y mereka.

Van Oven mengatakan, sistem perkawinan orang Nias, yang mengambil istri dari luar klan, turut mempengaruhi isolasi genetik ini. Sistem yang dikenal dengan patrilineal clan and exogamus marriage ini mengharuskan seorang pria dari satu klan menikahi perempuan dari klan yang berbeda. Perempuan yang dinikahi itu kemudian harus pindah ke daerah tempat tinggal pria.

Keunikan DNA orang Nias ini tak dapat dilepaskan dari aliran gen ke Nusantara. Van Oven menduga orang Nias mewarisi gen mereka dari orang Taiwan yang bermigrasi ke Indonesia lewat Filipina menuju Kalimantan dan Sulawesi–teori penyebaran Formosa, yang diambil dari nama pulau Formosa di Selat Taiwan.

Gelombang migrasi manusia modern ini sebenarnya dimulai dari Afrika. Gelombang ini sampai di Taiwan 6.000 tahun lalu. Proses aliran gen hingga mencapai Nias 1.000-2.000 tahun kemudian. Rute ini didukung bukti kemiripan DNA suku Nias dengan penduduk Filipina.

Sumber: Mahardika Satria Hadi | Anton William (Koran Tempo)