Bayar Pajak Kendaraan Cukup 20 Menit

samsat
Sebagai warga negara yang sangat baik dan layak dapat penghargaan,  beberapa pekan lalu  saya menunaikan kewajiban membayar pajak kendaraan bermotor. Karena saya tinggal di Depok, membayarnya pun harus di Depok. Kalau saya tinggal di Bekasi tentu membayarnya juga di Bekasi (gak penting dibahas). Lama tak membayar sendiri pajak kendaraan, kali ini saya memutuskan untuk membayarnya sendiri.

Dulu, saya ingat, membayar PKB hanya bisa dilakukan di kantor Samsat Depok di Depok II. Butuh waktu kira-kira  2-2,5 jam ketika itu untuk membayar pajak–terhitung dari  memfoto kopi berkas, menyerahkan berkas, menunggu, dan menyetorkan uang. Cukup lama. Itu lima tahun lalu. Karena setelah itu saya menumpuk pembayaran pajak selama empat tahun dan baru dibayarkan setelah kendaraan balik nama 🙂

Tahun ini, saya membayar pajak di kantor Samsat ITC Depok. Gak perlu jauh-jauh dan tempat parkir dijamin ada. Lokasi Samsatnya ada di lower ground (sudah lower, ground lagi), dekat tempat permainan anak-anak. Tiba di TKP pukul 11.30, langsung saja salin sinar berkas (pertama kali tahu istilah ini di koperasi FKUI dulu banget) –KTP dan STNK, sekaligus beli map di tukang salin sinarnya. Seingat saya ongkos salin sinar dan mapnya Rp 5 ribu. Setelah itu, daftarkan berkas ke loket pendaftaran.

Sekitar jam 11.45 nama saya pun dipanggil (bukan oleh Yang Maha Kuasa), oleh petugasnya. Diminta bersiap-siap untuk membayar dan diumumkan nilai pajaknya. Tak lama kemudian kita dipanggil ke loket pendaftaran, lalu bayar, dan duduk lagi untuk menunggu  penyerahan bukti setor pajak. Tepat jam 11.52—waktunya saya hitung betul karena memang disiapkan untuk blog ini, bukti setor pajak sudah diserahkan. Jadi, total, waktu yang diperlukan untuk bayar pajak cuma 22 menit. Cepat sekali prosesnya, bukan? Secepat duit kita berpindah dari dompet ke dompet negara :)) Nah, tunggu apa lagi. Segera bayar pajak, ketimbang didenda.

Advertisements

Bebek Goreng Pak Ndut, Depok

Bebek dan Ayam Goreng Sari Rasa Pak Ndut.  Tempatnya di Jalan Siliwangi, Depok. Kalau dari arah Margonda, setelah Rumah Sakit Mitra Keluarga,  belok  kiri ke arah Rumah Sakit Hermina.  Sesuai namanya, restoran ini mengunggulkan menu bebek dan ayam dalam berbagai variasi. Khusus bebek, rasanya memang tidak seistimewa Bebek Slamet yang kesohor itu,  atau  Bebek Bandar, atau Bebek Tepi Sawah yang mahal itu. Sambalnya juga  kurang menggigit. Tapi, Pak Ndut unggul sebagai restoran keluarga karena interiornya yang nyaman dengan suasana  tahun 1980-an. Selain itu,  harganya  yang lebih murah cocok untuk rombongan besar.

image

image

image

image

Bakmi Roxy, Depok

wpid-2014-08-16-15.50.14.jpg.jpeg

Sudah lama istri mengajak makan di sini. Akhirnya baru kesampaian kemarin. Penasaran juga dari awal, karena tempatnya yang selalu ramai. Mungkin karena lokasinya yang strategis, persis di pinggir Jalan Margonda, Depok. Bakmi Roxy menempati dua bangunan ruko, dengan parkiran yang mengambil badan jalan. Tapi, tenang saja, karena badan jalannya dibelah dua, bagian Roxy  terletak di jalur lambat yang sepi, biasanya. Jadi, bisa parkir dengan tenang. Tempatnya ramai, namun apakah jaminan rasanya enak? Belum tentu.

(-) Lahan parkir, terutama mobil terbatas.
(-) Rasa pangsit kuahnya agak tengik.
(-) Sedangkan pangsit gorengnya keras sekali.

(+) Baksonya top, segar. Nomor satu.
(+) Mienya juga padat. Mantap.

Kesimpulannya: Patut dikunjungi.

Sate Kambing 88, Depok

Ini nih, warung sate kambing yang paling enak…minimal terenak se-Depok. Lokasinya benar-benar nook and cranny, dijepit warung dan ruko lain di Jalan Asmawi, Beji, Depok. Tapi, menandainya gampang kok. Karena,  meski nyempil letaknya persis di depan SPBU satu-satunya di sepanjang ruas jalan itu.

Menu yang paling layak dicoba adalah sate kambing tanpa lemak dan tongseng kambing. Digaransi rasanya bikin ketagihan. Harganya juga bersaing, cuma Rp 15 ribu untuk tongseng dan Rp 26 ribu untuk sate tanpa lemak.  Menu lainnya ada sate kambing muda, sop, dan sate ayam. Sangat saya rekomendasikan untuk dilongok.

wpid-2013-08-20-19.55.16.jpg

wpid-2013-08-20-19.55.30.jpg

wpid-2013-08-20-19.56.33.jpg

Resto & Sushi Bowty, Depok

Ada tempat nongkrong baru di Beji, Depok. Letaknya persis di pertigaan antara Jalan Kalimantan dengan Jalan Nusantara Raya. Namanya: Resto & Sushi Bowty. Anak saya yang pertama kali menyadari kemunculan tempat ini sekitar sebulan lalu. Sejak saat itu,  beberapa kali ia  minta kami mampir ke sana. Dua hari silam,  kesempatan itu datang. Sekitar pukul 22.00 kami berbelok ke Bowty.

Lokasinya strategis, di tepi jalan raya yang ramai. Lahan parkirnya  muat tiga mobil dan banyak sepeda motor. Tempat makannya tidak terlalu besar. Hanya sekitar 3,5×7 meter, ditambah meja cadangan di luar kafe. Menu yang disediakan   dibagi beberapa kelompok.  Untuk kelompok sushi yang membawa konsep “fusion sushi”—mungkin maksudnya cita rasa sushi sudah disesuaikan dengan lidah lokal,  tersedia dynamite roll, california roll, Beji roll, salmon roll, dll.

Dari kelompok noodle  ada chicken soyu ramen, teriyaki chicken noodle, yakiniku beef noddle, dsb. Kelompok hidangan nusantara juga ada. Seperti nasi kebuli, soto betawi, dan bubur ayam. Cuma, pilihan minumannya terbatas, hanya ada jus kiwi dan Milo.

Datang  menjelang last order, kami hanya sempat memesan jumbo dragon roll. Namanya saja yang jumbo,  isinya cuma empat potong sushi.  Tapi, apa yang bisa dikeluhkan dengan sushi seharga Rp 15 ribu. Apalagi rasanya masuk dengan lidah saya yang bukan penggemar sushi ini.  Well, dengan kisaran harga Rp 10 ribu-Rp 23 ribu per menu plus lokasinya yang “menjemput bola”,  Bowty bisa menjadi tempat nongkrong alternatif.

image

Resto & Sushi Bowty

Jumbo Dragon Roll

Jumbo Dragon Roll