Melawat ke Jantung Legenda Batak

Dalam setiap legenda, kata seorang penulis, betapapun musykilnya, terdapat butir-butir kebenaran. Dan legenda Si Raja Batak berawal dari Gunung Pusuk Buhit dan bermula di Sianjur Mula-mula. Disemangati oleh cerita itu, saya pun meluncur ke kaki Gunung Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir pada Lebaran lalu. Tempat inilah, yang menurut legenda, merupakan tempat mendaratnya Si Raja Batak dari langit.  Menikah dengan perempuan bumi di tempatnya turun, Si Raja Batak  kemudian menjadi leluhur orang Batak sedunia.

Desa yang pertama kali dibangun Si Raja Batak setelah turun ke bumi adalah Sianjur Mula-mula.  Desa ini terletak persis di kaki Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut). Gunung ini merupakan satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus pada 17.000 tahun lalu, ketika terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba. Jejak-jejak peninggalan leluhur Batak konon banyak terpendam di sana.

Berangkat dari Medan, ada dua pilihan rute yang bisa ditempuh untuk menuju Sianjur Mula-mula. Rute pertama adalah melalui jalur Kota Parapat.  Awalnya, kita mengendarai mobil ke Parapat sejauh 3-4 jam perjalanan.  Sesampainya di Parapat, kita menumpang kapal feri menuju Desa Tomok,  di Pulau Samosir  sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari Tomok, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 -2 jam lagi ke Sianjur Mula-mula melalui Kota Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir. Sehingga total waktunya bisa menempuh 7 jam perjalanan.

Saya tidak memilih rute pertama ini karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang, belum lagi kalau ditambah waktu tunggu feri yang bisa mencapai dua jam.  Lagipula Tomok sudah saya kenal sejak masih kecil. Tapi, bagi wisatawan yang belum pernah ke Tomok, saya sarankan melalui rute pertama ini. Selain karena menjual banyak cinderamata, Tomok dan sekitarnya juga menyimpan banyak situs bersejarah seperti makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu berukuran raksasa dan matu kursi Parsidangan Siallagan. Belum lagi dalam perjalanan menuju Pangururan, akan banyak bersisian dengan objek wisata menarik seperti Museum Simanindo dan Hutabolon, pantai Batu Hoda, pantai Parbaba, dan pantai Indah Situngkir.

Adapun saya, menjatuhkan pilihan pada rute kedua, yaitu melewati Kota Brastagi, Kabanjahe, Taman Wisata Iman, Tele, hingga ke Sianjur Mula-mula. Rute ini relatif lebih sepi pemukiman penduduk dan lalu lintas kendaraan. Kami bertolak pagi dari Medan. Namun karena terhadang insiden mesin overheating, lepas Magrib kami baru tiba di Kota Pangururan untuk bermalam. Kalau dari arah Medan, kita terlebih dulu melewati Sianjur Mula-mula, baru mendapati Pangururan. Untuk catatan, meskipun berada dalam satu kabupaten, Kota Pangururan terletak di Pulau Samosir, sementara Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera.

Tersebab tidak ada anggota rombongan yang pernah ke Sianjur Mula-mula atau Pangururan, kami mengandalkan Google Map sebagai pemandu jalan. Piranti pintar itu terbukti akurat. Tapi, catatan dari saya, saat melalui Jalan Sidikalang-Medan, Google Map mengarahkan pengguna untuk melalui jalan pintas yang tidak bisa saya temukan. Kemungkinan terbesar, jalan yang disarankan oleh perusahaan Sergey Brin ini adalah jalan setapak yang tidak bisa dilintasi mobil, sehingga tidak terlihat. Akhirnya, kami meneruskan perjalanan ke arah Taman Wisata Iman, baru kemudian berbelok ke kiri memasuki Jalan Dolok Sanggul-Sidikalang menuju Jalan Tele-Pangururan.

Sempatkan singgah sebentar di daerah Tele. Di sana disediakan menara pandang setinggi tiga lantai. Dari atasnya kita bisa menyaksikan pemandangan cantik kaldera kawah Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purba. Angin berembus kencang dan suhu udara dingin di sana. Sebaiknya bawa jaket supaya kegiatan memandang menjadi lebih leluasa.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Sampai di titik tujuan yang ditunjukkan Google Map,  hari mulai gelap. Karena tidak menemukan petunjuk arah ke Sianjur Mula-mula ataupun Pusuk Buhit, kami pun menepikan mobil untuk bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan melintas. 

“Permisi Bu, mau tanya, jalan ke Sianjur Mula-mula lewat mana ya?” “OO..DI SINI LAH INI KECAMATAN SIANJUR MULA-MULA. ININYA TEMPATNYA, WILAYAHNYA.” 
(Seisi mobil kaget dengan volume suara Si Inang)
“Kalau mau ke Pusuk Buhit di mana jalan masuknya?”
 “PUSUK BUHIT?  ITU GUNUNGNYA (menujuk). BANYAK ORANG MENDAKI KE SANA. ADA AIR UNTUK AWET MUDA DI PUNCAKNYA.”
 Lega lantaran mengetahui berada di tempat yang benar,  dan juga demi kesehatan gendang telinga, kami pun mohon pamit kepada Si Inang. MAULIATE INANG !.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Karena hari sudah menjelang malam, kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Kota Pangururan yang berjarak sekitar 20 kilometer ke depan. Atas rekomendasi seorang teman, kami bermalam di Hotel P di tepi Pantai Situngkir. Hotel ini adalah hotel baru, berkelas melati dengan tarif Rp 350 ribu per malam, tanpa AC, tanpa  restoran, dengan bau saluran air yang menguar hingga ke kamar kami di lantai dua. Hotel yang tidak direkomendasikan untuk disinggahi, namun lantaran sudah terlanjur masuk, tak mungkin pulak kami pergi lagi,  terpaksalah kami menginap di sana.

***

Pagi harinya, setelah membeli kaos yang harganya terjangkau dari penjaja suvenir di dekat hotel dan merenung di tepi Pantai Situngkir yang berpasir putih, kami berangkat menuju Sianjur Mula-mula.  Saya ingatkan lagi, Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera, sedangkan Pangururan adanya di Pulau Samosir. Antara kedua  pulau ini dipisahkan oleh kanal berair dangkal selebar kira-kira 20-30 meter, dan dihubungkan dengan jembatan.

Jarak Pangururan – Sianjur Mula-mula sekitar 20 kilometer. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan yang sebelumnya disembunyikan oleh malam. Deretan rumah tradisional Batak berderet rapi di tepi jalan. Rumah panggung beratap tanduk kerbau  seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa pagar, tanpa pembatas antar rumah. Anak-anak bercengkrama  di tangga rumah yang jumlahnya ganjil atau bermain di halaman yang temaram oleh pepohonan.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

 

Rumah penduduk.

Rumah penduduk.

Jalan menuju Pusuk Buhit sudah cukup lebar dan mulus. Tapi, karena ketika kami mampir ke sana kebetulan berbarengan dengan pesta penduduk setempat yang menutup seluruh badan jalan, jadilah perjalanan kami dialihkan ke jalan desa yang kondisinya semi-offroad. Untunglah kami menumpang mobil MPV. Karena sedan dan sejenisnya pasti akan kesulitan melewati jalan desa ini.

Di tengah perjalanan menuju Pusuk Buhit, terdapat posko untuk pendaftaran pendakian. Pagi itu sudah sekitar pukul 9.30, tapi posko masih tutup. Setelah bertanya kepada orang-orang yang nongkrong di warung kopi, barulah penjaga posko hadir. Kami berbincang-bincang dengan pak penjaga. Beliau menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai objek wisata di sekitar Pusuk Buhit. Soal pendakian, dia tidak menyarankan dilakukan saat ini,  karena sudah terlalu siang. Sementara pendakian harus dilakukan dengan berjalan kaki dan butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak gunung. 

Tapi, dia menjelaskan, meski tak sempat mendaki, masih banyak artefak bersejarah di kawasan Sianjur Mula-mula yang bisa dijangkau dengan mobil. Kami sepakat. Toh tujuan hari itu memang bukan pendakian, melainkan hanya sekadar menapakkan kaki di kaki Pusuk Buhit. Daripada bingung tak tentu arah, supaya lebih efisien, kami boyong saja pak penjaga posko sebagai pemandu jalan.

 

Posko pendakian.

Posko pendakian.

Kantor Desa Sianjur Mula-mula.

Kantor Kepala Desa Sianjur Mula-mula.

Naik sedikit ke punggu Pusuk Buhit, terdapat artefak Batu Hobon yang berwujud tumpukan batu berbentuk meja. Batu Hobon ini konon dipakai oleh Si Raja Batak dan keturunannya untuk bermusyawarah. Legenda menyebutkan, di dalam rongga Batu Hobon ini Si Raja Batak menyimpan harta kekayaannya. Cerita lain mengisahkan, batu ini ditumpuk oleh orang-orang terdahulu untuk menutupi lubang magma. Pusuk Buhit memang tergolong gunung api aktif, namun dikategorikan sebagai gunung api kelas C yang tidak mungkin meletus. Konon, tentara Jepang di masa pendudukannya pernah hendak membongkar batu tersebut dengan menembakinya, karena diduga di dalamnya banyak disimpan emas perhiasan.   Tapi ajaib, batu tebal itu bergeming, tak lecet sedikitpun. Dan tak berapa lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin kencang nan dingin, begitu dinginnya sampai-sampai si orang Jepang yang menembak batu tadi tewas kedinginan. Di belakang situs Batu Hobon didirikan patung raksasa cucu Raja Batak bernama Ompui Tuan Sariburaja, anak dari Guru Tetea Bulan.

 

 

 

Situs Batu Hobon.

Situs Batu Hobon.

 

Patung Ompu Saribu Raja.

Patung Ompui Tuan Saribu Raja.

Selesai dari Batu Hobon, naik sedikit lagi ke Desa Sianjur Mula-mula (namanya memang sama dengan nama kecamatannya) kita bisa menyaksikan replika  rumah bolon atau rumah adat Batak yang ditempati Raja Batak dan keluarganya. Mungkin ada yang bertanya, selain rumah, apakah Raja Batak punya istana?  Jawabannya, tidak. Dalam kultur Batak, sebutan raja tidak mengacu kepada seorang penguasa wilayah, melainkan sebagai panggilan kepada orang yang dituakan atau dihormati di kampungnya. Kebiasaan itu masih berlaku sampai sekarang.  Makanya ada guyonan, di Batak rajanya banyak, tapi tidak ada istana. Teringat ketika saya pesta pernikahan dulu, butuh waktu dua jam untuk mendengarkan sambutan dan petuah dari sekian banyak raja kampung.

 

Replika rumah bolon.

 

Replika rumah bolon.

Replika rumah bolon.

Di depan rumah bolon dibangun tiruan gua tempat Raja Batak bertapa. Konon, kata orang-orang, ketika tentara Jepang menyerbu, gua Raja Batak yang asli menjadi tempat perlindungan penduduk satu kampung. Kejadian ini mengejutkan sebab secara kasat mata, gua tersebut hanya mampu menampung tiga orang. “Bagi orang yang memiliki mata batin, bisa kelihatan gua ini luas sekali di dalamnya,” kata pak penjaga. Sayangnya, keberadaan gua bersejarah itu kini tidak diketahui lagi letak persisnya. Kembali dari lokasi replika rumah bolon sempatkan  berhenti sejenak di sebuah pertigaan. Lihat ke bawah untuk menyaksikan hamparan hijau Desa Sagala. Desa ini adalah salah satu desa yang pertama kali dibangun oleh leluhur Batak. Nama Sagala diambil dari nama anak Guru Tatea Bulan. Selain Desa Sagala, desa tua lainnya adalah Desa Limbong, yang terletak di sisi lain Pusuk Buhit.

Desa Sagala.

Desa Sagala.

Tempat wisata lain yang sudah disiapkan pemerintah adalah Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan, anak Si Raja Batak. Rumah ini  seperti museum terbuka dengan patung-patung yang kasar buatannya. Jajaran patung-patung itu menggambarkan semua anak dan cucu Si Raja Batak. Satu patung dengan cerita yang paling menggelitik adalah patung seorang perempuan berkemben putih, berambut panjang, yang dalam posisi seperti hendak terbang. Beliau adalah Si Biding Laut, satu dari enam putri Guru Tatea Bulan. Selain enam putri, Tatea Bulan juga memiliki lima orang putra. Legendanya, Si Biding Laut ini adalah putri yang paling cantik di antara putri Tatea Bulan lainnya (dari sini saja sudah bisa ditebak jalan ceritanya).

Putri-putri Tatea lainnya yang iri dengan kecantikan Biding Laut mengajak berjalan-jalan lalu meninggalkan di sebuah pulau. Pertolongan datang, Biding Laut ditemukan oleh pedagang, dibawa ke Tanah Jawa dan menikah dengan raja di sana. Tapi, kesialan Biding belum usai, dia dituduh berselingkuh, dan dibuang ke tengah laut. Tapi tak tahu bagaimana ceritanya (pikiran mulai gak fokus) dia selamat dan dibawa berlayar menuju Sumatera.  Di tengah perjalanan, kapalnya dihantam ombak dan tenggelam. Namun, entah karena kesaktian atau ketulusan hatinya  (makin gak fokus), Biding tidak mati, melainkan menjelma menjadi makhluk halus penjaga Pantai Selatan. Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya…Biding Laut telah menjadi Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Tidak percaya? Baca cerita lengkapnya di Internet, banyak. 

Tak seberapa jauh dari Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan masih ada objek wisata kultural lainnya, yakni Perkampungan Si Raja Batak di Sigulatti. Kampung ini dipercaya sebagai kampung pertama yang didirikan oleh Raja Batak. Namun, karena hari sudah siang, dan kami harus segera berangkat, kampung ini terpaksa dilewatkan.  Masih di Kecamatan Sianjur Mula-mula, juga terdapat air mancur tujuh sumber di Desa Aek Sipitu Dai. Air yang berasal dari tujuh kanal itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Patung Si Biding Laut.

Patung Si Biding Laut.

 

Rumah Parsaktian Tatea Bulan.

Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan.

Siang kian meninggi, menghindari malam di jalan, kami bergegas meninggalkan lokasi yang menawan ini. Meninggalkan tempat berawalnya bangsa Batak, dengan berbagai legendanya, yang dibuat dengan melebih-lebihkan cerita sebenarnya,  bukan dengan maksud buruk, melainkan untuk mengabadikan kisah-kisah di masa lampau kepada anak-cucu.  Soal mana di antara legenda itu yang benar, tak perlulah disaring dan terlalu dipikirkan, cukup dinikmati sebagai karya budaya para leluhur. 

Sebelum tulisan wisata ini menjadi semakin filosofis dan bikin ngantuk, saya sudahi sajalah. Wassalam.

PS: Dalam perjalanan pergi atau pulang, coba singgah sejenak untuk makan siang di Rumah Makan Yaya Barona, di Kecamatan Tiga Panah, Karo. Ikan nilanya enak.

****

Desa Jangga yang Menyimpan Sejarah Batak

Kehidupan suku Batak tradisional masih hidup di Desa Jangga, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Para penduduk desa hidup dengan menjunjung tinggi budaya dan hukum adat di tengah alam yang masih asri. Keharuman nama desa ini bahkan tercium hingga Belanda dan Jerman.

Desa ini berada di lereng Gunung Simanuk-manuk, atau sekitar 24 kilometer dari Parapat, Danau Toba. Biasanya turis singgah ke Desa Jangga setelah menikmati keindahan Danau Toba. Udara desa masih sejuk dan segar. Bila menuju ke sana, cukup menggunakan angkutan umum selama 4-6 jam dari Medan dengan bonus keindahan alam tanah Batak di sepanjang jalan.  Sudah tersedia banyak home stay di sekitar desa.

Rumah adat Batak masih mendominasi desa ini. Usianya ratusan tahun dan masih terawat baik. Di dinding-dinding rumah masih terlihat ukiran khas Batak–disebut gorga. Wisata sejarah juga bisa dinikmati di desa ini. Di ujung desa terdapat dua makam Raja Batak, yakni Raja Tambun dan Raja Ma. (Baca juga: Marga Ritonga, From Pusuk Buhit to The World).

Sambil berjalan-jalan, pelancong akan disuguhi pemandangan para perempuan yang membuat ulos di pekarangan rumah. Ulos buatan Desa Jangga sudah termasyhur hingga mancanegara. Ulos produksi mereka dikenal kuat, memiliki motif yang lebih rumit, dan lebih cantik. Mereka juga dengan senang hati akan mengajari Anda cara membuatnya. Bila Anda tertarik, ulos itu bisa dibeli sebagai buah tangan. (Simak pula: Bertemu Sandra Niessen, Si Ahli Ulos).

(Dikutip dari Edisi Khusus Wisata Majalah Tempo, 18 November 2013)

Marga Ritonga, From Pusuk Buhit to The World

Gunung Pusuk Buhit (samosirkab.go.id)

Gunung Pusuk Buhit (samosirkab.go.id)

Leluhur suku Batak dijuluki Si Raja Batak yang bermukim di kampung bernama Sianjur Mula-mula. Tempat ini terletak di kaki gunung Pusuk Buhit, di tepi Danau Toba.  Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut) adalah satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus ketika 17.000 tahun lalu terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba.

Desa Sianjur Mula-mula (kabsamosir.go.id)

Desa Sianjur Mula-mula (samosirkab.go.id)

Saat ini, Sianjur Mula-mula menjadi sebuah desa  di bawah Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, yang berjarak sekitar 8 kilometer dari Kota Pangururan, Ibu Kota Samosir.  SI RAJA BATAK yang diperkirakan hidup tahun 1.200-an  memiliki tiga orang anak, yaitu GURU TATEA BULAN, Raja Isombaon, dan Toga Laut.

Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning,  Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra yaitu Si Raja Biak-Biak, TUAN SARIBURAJA, Limbong Mulana, Sagala Raja, Malau Raja dan  4 orang putri yaitu Si Boru Pareme, Si Boru Anting Sabungan, Si Boru Biding Laut, dan Si Boru Nan Tinjo. Terjadi pernikahan inses, Boru Pareme menikah dengan  Sariburaja dan melahirkan LONTUNG dan Borbor.

Lontung yang merupakan putra pertama dari Tuan Sariburaja mempunyai 7 orang putra. Mereka adalah Tuan Situmorang, Sinaga Raja, Pandiangan,  Toga Nainggolan, Simatupang, Aritonang, dan SIREGAR. Serta dua orang putri: Si Boru Anakpandan  serta Si Boru Panggabean. Siregar merupakan anak bungsu dari 9 bersaudara ini.

Dari hasil pernikahannya,  Siregar mempunyai empat orang anak bernama Silo, Dongoran, SILALI, dan Siagian. Selanjutnya, Silali memiliki anak bernama SILALI TORUAN atau RITONGA yang menjadi nenek moyang seluruh keluarga Ritonga.

Menurut hikayat,  Lontung bermukim di Desa Banuaraja–sebuah  daerah perbukitan di sebelah atas Desa Sabulan, di pinggir Danau Toba, berseberangan dengan Pangururan di Pulau Samosir. Pada suatu masa, terjadi banjir besar yang melanda  Banuaraja dan Sabulan.

Anak-anak keturunan Lontung  mengungsi. Sinaga dan Pandiangan ke Urat-Samosir, Nainggolan ke Nainggolan-Samosir, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, dan Siregar ke Aeknalas-Sigaol. Sedangkan, Situmorang hanya sampai di Sabulan.

Suatu ketika Aritonang memanggil adiknya, Siregar dari Aeknalas-Sigaol ke Desa Aritonang di Muara, yang akhirnya  menetap dan beranak-pinak di situ. Selanjutnya dari Desa Aritonang keluarga Siregar menyebar ke sekitar Muara.

Kemarau panjang  melanda Muara yang menyebabkan gagal panen sehingga beberapa keturunan Siregar merantau ke arah Siborongborong-Humbang dan  membangun kampung di sana yang diberi nama Lobu Siregar.
Untuk mencari penghidupan yang lebih baik,  sebagian dari mereka  menjelajah ke arah Pangaribuan dan sebagian lagi menuju Desa Sibatangkayu. Setelah bermukim beberapa lama,  mereka pergi lagi ke Bunga Bondar di Sipirok hingga ke Angkola-Tapanuli Selatan.

Mendengar saudara-saudaranya berhasil di perantauan, keturunan  Siregar yang masih tinggal di Muara, akhirnya  pindah ke Tarutung-Silindung dan mendirikan kampung  Simarlala Pansurnapitu. Dari desa itu, mereka berpindah lagi menuju Pantis-Pahae dan berkembang di sana.

Keturunan  Siregar yang berasal dari Pantis  menjelajah dan mendirikan kampung di Onanhasang, di sekitar Pahae. Dari Onanhasang, keturunannya merantau lagi dan mendirikan kampung di Simangumban dan Bulupayung.

Dengan demikian dapat disimpulkan, silsilah  marga Ritonga sebagai berikut:
Si Raja Batak –> Guru Tatea Bulan (1) –> Sariburaja (2) –> Lontung (3) –> Siregar (4) –> SIlali (5) –> Ritonga (6).  Artinya, Ritonga adalah generasi keenam keluarga Si Raja Batak.

Sedangkan perjalanan perantauan keluarga Ritonga dimulai dari Banuaraja-Sabulan –> Muara –> Humbang Hasundutan (Dolok Sanggul) –> Pangururan –>  Bunga BondarSipirok –> Pahae –> Simangumban –> dan Bulupayung.

(Sumber: margasiregar.wordpress.com, sebuah buku, samosir.go.id, dan sumber lain)

Batak Angkola, Bukan Mandailing

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Tampak depan Museum Batak, Balige.

Kemarin ada berita, tiket Lebaran sudah habis terjual. Tidak terasa, sudah mau Lebaran lagi. Jadi teringat, Lebaran tahun lalu, Agustus 2012, kami sekeluarga pulang ke Medan. Beberapa hari di Medan, perjalanan dilanjutkan menuju “kampung sebenarnya” bernama Dusun Aeksyah, di Pahae Jae, Tapanuli Selatan yang berjarak sekitar 8 jam perjalanan darat dari Medan,atau sekitar 20 kilometer sebelum Kota Sipirok dari arah Medan.

Dalam perjalanan menuju Aeksyah, kami mampir ke Museum Batak yang menyatu dengan kompleks TB Silalahi Center di Jalan Pagar Batu, Desa Silalahi Pagar Batu-Balige, Kabupaten Toba Samosir. Jarak dari Medan sekitar 5 jam perjalanan atau 250 kilometer. Hari sudah menjelang sore waktu itu. Cuaca hujan dan berkabut.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Diresmikan  17 April 2008 oleh  mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara T.B. Silalahi, kompleks museum ini dikelola oleh organisasi non-profit yang bertujuan  memelihara, mengembangkan, serta meneliti kebudayaan Batak.  Komplek T.B. Silalahi Center terdiri dari beberapa bangunan utama, di antaranya adalah Museum Batak, gedung konvensi,  museum pribadi T.B. Silalahi, Rumah Bolon (rumah adat Batak yang berukuran besar), serta Huta Batak.

Sesuai namanya, huta yang berarti kampung dalam bahasa  Batak, Huta Batak merupakan miniatur perkampungan Batak. Di dalamnya terdapat beberapa rumah adat tradisional suku Batak yang sudah berusia ratusan tahun  yang dilengkapi pula dengan  Patung Sigale-gale. Patung Sigale-gale ini berupa patung kayu yang bisa digerakkan seperti menari oleh tangan manusia.

Nah, soal Museum Batak, museum megah ini dibangun di atas tanah seluas kurang lebih 5 hektare dengan luas bangunan sekitar 3.300 meter persegi. Museum ini terdiri dari 4 lantai. Lantai 1 merupakan ruang pamer terbuka dan fasilitas penunjang seperti laboratorium dan ruang dokumentasi. Lantai dua diisi oleh tempat penerimaan tamu dan ruang pamer. Sedangkan lantai tiga adalah ruang pamer dalam ruangan dan ruang audio-visual. Terakhir, lantai empat adalah restoran.

Secara umum, Museum Batak berisi koleksi artefak, peralatan upacara, senjata tradisional, dan kain ulos dari enam subetnik Batak yakni Batak Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, Angkola, dan Pakpak.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Ruang pamer Museum Batak, Balige.

Oya, di bagian taman depan terdapat miniatur Danau Toba dengan ukuran 10X12 meter dan sebuah patung Si Raja Batak yang terbuat dari perunggu setinggi 7 meter. Di bagian depan juga terdapat diorama berupa relief perunggu yang menggambarkan 6 puak Batak.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Patung Si Raja Batak, Museum Batak, Balige.

Lepas dari kemegahan museum yang seolah-olah muncul ‘in the middle of nowhere’ itu,
satu yang paling saya ingat dalam kunjungan singkat itu adalah ternyata marga Ritonga yang mashyur itu, berada dalam sub-etnik Batak Angkola, bukan Batak Mandailing seperti selama ini dikira. Ha! Salah kaprah.

Menurut museum Pak Jenderal ini, subetnik Batak Angkola adalah orang-orang yang sekarang bermukim di Kabupaten Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Padang Lawas Utara, dan Padang Lawas. Marga-marga yang khas di Angkola adalah Siregar, Harahap, dan Hasibuan. Sistem interaksi sosialnya menganut filosofi dalihan na tolu (tungku yang tiga/bersusun) yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru.

Filosofi dalihan na tolu ini penting dalam sistem sosial masyarakat Batak dan upacara ada (horja adat). Pengertian Mora adalah pihak yang memberi boru (perempuan) atau istri. Dalam setiap acara adat, mora mempunyai derajat “paling tinggi”. Posisinya di samping raja-raja dan pemangku adat, Kahanggi adalah saudara semarga.  Sedangkan anak boru adalah pihak  yang menerima boru. Dalam acara adat, anak boru ini posisinya “paling rendah” yang  bisa disuruh-suruh. Tapi, penjelasan ini adalah penyederhanaan saja, filosofinya aslinya sih jauh lebih dalam. Kita bahas lain waktu, ya.

Sedangkan orang Mandailing, sekarang dikenal sebagai orang-orang yang berasal dari Kabupaten Mandailing Natal. Namun, sebagian memang ada yang bermigrasi ke Tapanuli Selatan, Padang Sidempuan, dan Labuhan Batu. Sedangkan sistem interaksi sosialnya sama, menganut filosofi dalihan na tolu yang terdiri dari Mora, Kahanggi, dan Anakboru. Sebenarnya filosofi dalihan na tolu ini sama untuk seluruh subetnik Batak, hanya berbeda istilah saja.

Melihat persebaran penduduk ini,Tapanuli Selatan, khususnya Sipirok condong ke Batak Angkola. Perbedaan yang paling kentara antara Mandailing vs Angkola ini adalah pada pakaian adatnya. Pakaian adat Mandailing didominasi warna merah, dengan ornamen yang ramai. Sedangkan pakaian adat Angkola lebih sederhana dan pengantin prianya didominasi warna hitam. Berarti, waktu menikah dulu berarti salah kostum dong? Apa harus diulang? Hiyaaa…

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Mandailing, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Pakaian pengantin Batak Angkola, Museum Batak, Balige.

Hari sudah menjelang sore, hujan mulai reda, kabut mulai terangkat. Setelah puas memandang-mandang hamparan Danau Toba dan berfoto-foto, kami pun bergegas meninggalkan museum, dengan niat, akan kembali lagi suatu waktu. Horas, Angkola!

Lihat juga:
Belajar dari Perseteruan Mandailing-Batak
Bagaimana Identitas “Batak” Terbentuk?