Lampu Kuning Kebebasan Beragama

Memburuknya tingkat kebebasan beragama sudah menyentuh level mengkhawatirkan. Setara Institute melaporkan sepanjang 2015 jumlah pelanggaran kebebasan beragama mencapai 197 peristiwa, naik drastis dari tahun sebelumnya yang sebanyak 134 peristiwa. Jawa Barat menjadi provinsi tertinggi yang melakukan pelanggaran kebebasan dengan 44 peristiwa, disusul Aceh dengan 34 peristiwa.

Pelanggaran terjadi hampir di seluruh wilayah negeri. Persoalan bertambah pelik lantaran tidak hanya melibatkan masyarakat, pemerintah kabupaten dan kota ikut-ikutan melakukan pelanggaran melalui kebijakan yang diskriminatif dan pembatasan kehidupan beragama. Porsinya juga lumayan banyak, 31 pelanggaran atau 23 persen dari total temuan Setara.

Keterlibatan pemerintah daerah ini bisa ditelusuri muaranya pada masa pemilihan kepala daerah. Di masa pilkada, banyak calon yang mengusung sentimen intoleransi keagamaan untuk memobilisasi suara sekaligus menekan popularitas lawannya. Isu yang paling sering digoreng adalah ihwal pendirian gereja, warga Syiah, dan warga Ahmadiyah.

Setelah terpilih, kepala daerah yang menjual sentimen intoleransi mau tidak mau harus membalas budi dengan menuruti kehendak konstituennya, meski harus melawan konstitusi. Tidak hanya untuk membayar utang, ada kepala daerah yang terang-terangan ‘main mata’ dengan kelompok intoleran sebagai investasi buat pemilihan berikutnya.

Para kepala daerah harusnya sadar bahwa eksploitasi isu-isu intoleransi hanya akan meninggalkan masalah bagi daerah tersebut. Banyak peneliti sosial yang meyakini, terorisme berawal sikap intoleransi yang dirawat sehingga berujung pada gerakan radikal. Kalau ini yang terjadi, konstituen sendiri yang akan merugi.

Aparat penegak hukum pun jangan takut bersikap keras terhadap pelanggaran kebebasan beragama. Tak ada yang perlu ditakutkan, karena kebebasan beragama dilindungi oleh Undang – Undang Dasar 1945. Konstitusi menyatakan setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat. Adapun tugas negara adalah menjamin kemerdekaan beragama penduduknya.

Pengawasan terhadap pelaksanaan pemilihan kepala daerah perlu diperkuat. Calon kepala daerah yang mencoba memainkan isu-isu yang mengancam kesatuan bangsa harus diberi kartu merah. Tidak hanya dilakukan oleh lembaga pengawas pemilu, pengawasan sepatutnya melibatkan masyarakat umum, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.

Masyarakat juga harus diarahkan untuk menjadikan visi toleransi sebagai salah satu ukuran penilaian dalam memilih kepala daerah. Kalau pemahaman akan toleransi sudah terbentuk, tertutup peluang bagi calon kepala daerah menjual isu-isu intoleransi. Sebaliknya, pintu bagi calon yang menjanjikan penghargaan terhadap kebhinekaan akan terbuka lebar.

Pemerintah pusat tidak boleh lepas tangan. Presiden Joko Widodo pasti tidak lupa akan butir ke-9 Nawa Cita yang bunyinya adalah memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial. Sebagai pemimpin negara, dia dituntut lebih sering berbicara kepada publik untuk menggaungkan kembali pengakuan negara terhadap kebhinekaan dan menolak kekerasan terhadap “yang berbeda”.

(Dimodifikasi dari materi Tajuk Koran Tempo)

Demam Urban Farming

Sakit demam kok gak habis-habis. Belum sembuh dari demam lari, sekarang gue kena lagi demam urban farming. Urban farming ini artinya orang kota yang latah ingin jadi petani… hehehe… Tadi baru ada pelatihan dasar di kantor, teori dan praktek bertani di lahan yang terbatas. Pematerinya dari PT East West Seed Indonesia.  Supaya gue sendiri gak lupa dan siapa tahu bisa bermanfaat bagi orang lain, sebagian materinya gue salinkan di sini:

Jenis Tanah
1.Tanah merah
-Terdapat di lingkungan perumahan baru di perkotaan.
-Tanah ini kurang subur.
-Kalau tanaman memasuki fase pembuahan, tanah ini butuh pupuk organik atau kandang.

2.Tanah abu
-Tipikal tanah persawahan.
-Ciri-cirinya sangat lembek kalau basah dan keras seperti besi kalau kering.
-Tanah jenis ini unsur haranya sudah habis.
-Kalau kering akan membentuk lapisan yang sangat keras di permukaan dan mencekik tanaman.
-Hanya cocok ditanami tanaman kayu/keras.
-Masih bisa diolah dengan mencampurkan dolomit (kapur).

3.Tanah hitam
-Tanah yang subur dengan banyak kandungan unsur hara.

Ciri tanah yang baik
-Tanah hitam
-Periksa apakah lebih banyak tanah atau sekam. Harusnya lebih banyak tanah.
-Tes, kalau setelah dipakai tanaman jadi kuning, ganti tanahnya.

Udara
-Tanaman butuh sirkulasi udara untuk membantu akar menyerap mineral dan air.
-Drainase harus bagus. Tidak ada air yang tersisa di permukaan tanah ketika tanaman disiram.

Air
-Air adalah pelarut dan pembawa ion.
-pH ideal 5-9.
-Air hujan deras bagus untuk tanaman. Tapi hujan gerimis tidak baik, karena membawa kotoran dari udara. Tanaman perlu disiram lagi setelah hujan gerimis.
-Air tanah: mengandung banyak kapur. Tidak cocok untuk fase pemupukan. Tapi bisa dipakai untuk menyiram tanaman sehari-hari.
-Penyiraman tanaman dilakukan setiap hari dan idealnya pada pagi hari.

Cahaya

-Tanaman butuh cahaya minimal 5 jam sehari.

Pupuk
1.Pupuk kandang
-Dari bahan kotoran hewan.
-Untuk mengetahui pupuk organik yang bagus, baui pupuknya. Kalau masih ada bau kotoran hewan berarti belum matang. Jangan dibeli.

2.Pupuk kimia
-Pupuk NPK = kandungan nutrisi lengkap
-Pupuk urea = mengandung nitrogen. Kekurangan nitrogen ditandai dengan daun berwarna kuning tanpa bercak
-Pupuk KCl = untuk akar. Kekurangan kalium ditandai dengan daun kuning bercak- bercak.
-Pupuk posphate (TSP) = untuk buah dan bunga.  Kekurangan phospate membuat buah kurang manis.

Pemberian pupuk
-Hanya dilakukan kalau tanaman menunjukkan tanda-tanda kekurangan nutrisi.
-Jangan terlalu sering, nanti tanamannya keracunan.

Media tanam

-Media tanam banyak dijual di toko tanaman.  Media tanam yang bagus memiliki rasio tanah : pupuk kandang : pasir : sekam = 2:1:1:1

Syarat benih yang baik
-Lihat tanggal kadaluarsa. Benih yang kadaluarsa daya kecambahanya sudah berkurang.
-Ada jaminan tahan virus.
-Ada jaminan kualitas.
-Ukuran benih seragam.

Peralatan
Tray
-Penyemaian benih pada tray dibutuhkan oleh tanaman yang “manja” seperti tomat.
Gembor
-Untuk menyiram tanaman. Menyiram dengan memakai selang berisiko membuat benih terlempar.
Net
-Benih tomat dan bunga perlu diteduhkan pada pekan awal penanaman.
Grow box
-Kotak tanam dengan tinggi tanah minimal 20 sentimeter

Tomat
-Masa panen 80-90 hari.
-Benih disemai di dalam tray selama 2 pekan atau hingga tinggi 10-15 sentimeter.
-Selama penyemaian jauhkan dari sinar matahari langsung.

Cabai dan tomat
-Benih dimasukkan ke dalam tray semai.
-1 lubang 1 benih.
-Kedalaman 1 buku jari.
-Setelah 2 pekan pindahkan ke tempat baru.
-Satu tanaman satu pot berukuran 20×30 sentimeter.

Bayam
-Masa panen 1 bulan.
-Benih tidak perlu disemai.
-Penanaman bisa dilakukan dengan cara ditabur/dijumput.

Sawi/Bokcoi/Selada
-Penanaman bisa dilakukan secara massal, satu lubang 2-3 benih.

Eliminasi
-Sebagian jenis tanaman, terutama yang nilai ekonomisnya tinggi perlu dieliminasi supaya tumbuhnya baik.
-Kangkung dan bayam tidak perlu dieliminasi karena merupakan tanaman massal. Asalkan tidak terlalu pada dalam satu lubang.

Pemindahan tanaman semai
-Dilakukan pada sore hari supaya tanaman tidak stres.

Bawang
-Tidak boleh lembab tanahnya.
-Harus banyak pasir. Bisa dicampur pasir bahan bangunan. Porsinya 2 tanah : 1 pasir.

Praktek urban farming di balkon lantai 5.

Praktek urban farming di balkon lantai 5.

 

Menyemai benih cabai dan tomat di dalam tray.

Menyemai benih cabai dan tomat di dalam tray.

 

Benih produksi East West Seed.

Benih produksi East West Seed.

 

Bayam percobaan yang kerdil karena tanah kurang tinggi.

Bayam percobaan yang kerdil akibat tanah kurang tinggi.

 

Bayar Pajak Kendaraan Cukup 20 Menit

samsat
Sebagai warga negara yang sangat baik dan layak dapat penghargaan,  beberapa pekan lalu  saya menunaikan kewajiban membayar pajak kendaraan bermotor. Karena saya tinggal di Depok, membayarnya pun harus di Depok. Kalau saya tinggal di Bekasi tentu membayarnya juga di Bekasi (gak penting dibahas). Lama tak membayar sendiri pajak kendaraan, kali ini saya memutuskan untuk membayarnya sendiri.

Dulu, saya ingat, membayar PKB hanya bisa dilakukan di kantor Samsat Depok di Depok II. Butuh waktu kira-kira  2-2,5 jam ketika itu untuk membayar pajak–terhitung dari  memfoto kopi berkas, menyerahkan berkas, menunggu, dan menyetorkan uang. Cukup lama. Itu lima tahun lalu. Karena setelah itu saya menumpuk pembayaran pajak selama empat tahun dan baru dibayarkan setelah kendaraan balik nama 🙂

Tahun ini, saya membayar pajak di kantor Samsat ITC Depok. Gak perlu jauh-jauh dan tempat parkir dijamin ada. Lokasi Samsatnya ada di lower ground (sudah lower, ground lagi), dekat tempat permainan anak-anak. Tiba di TKP pukul 11.30, langsung saja salin sinar berkas (pertama kali tahu istilah ini di koperasi FKUI dulu banget) –KTP dan STNK, sekaligus beli map di tukang salin sinarnya. Seingat saya ongkos salin sinar dan mapnya Rp 5 ribu. Setelah itu, daftarkan berkas ke loket pendaftaran.

Sekitar jam 11.45 nama saya pun dipanggil (bukan oleh Yang Maha Kuasa), oleh petugasnya. Diminta bersiap-siap untuk membayar dan diumumkan nilai pajaknya. Tak lama kemudian kita dipanggil ke loket pendaftaran, lalu bayar, dan duduk lagi untuk menunggu  penyerahan bukti setor pajak. Tepat jam 11.52—waktunya saya hitung betul karena memang disiapkan untuk blog ini, bukti setor pajak sudah diserahkan. Jadi, total, waktu yang diperlukan untuk bayar pajak cuma 22 menit. Cepat sekali prosesnya, bukan? Secepat duit kita berpindah dari dompet ke dompet negara :)) Nah, tunggu apa lagi. Segera bayar pajak, ketimbang didenda.

Jokowi, Redup di Tahun Pertama

Tidak sulit untuk memberi ponten terhadap rapor Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla di tahun pertamanya memimpin. Melambatnya pertumbuhan ekonomi, gejolak nilai tukar rupiah, dan kenaikan harga kebutuhan pokok sudah menjelaskan belum optimalnya kinerja ekonomi Presiden.

Di bidang penegakan hukum, kriminalisasi terhadap pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi dan terus berlanjutnya upaya menggergaji kewenangan lembaga itu melalui revisi UU KPK membuat Jokowi tampak tidak bersahabat bagi upaya pemberantasan korupsi.

Niat baik Jokowi meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui subsidi kesehatan dan pendidikan tertutupi oleh kegagalannya mencegah kebakaran hutan dan lahan. Intoleransi juga terus terjadi dengan maraknya penyerangan terhadap kelompok masyarakat yang tidak sealiran dan perusakan rumah ibadah.

Di bidang politik, Jokowi dipandang tidak mampu memimpin Kabinet Kerja yang terlihat dari seringnya para menteri bersilang pendapat. Jokowi membantah kabinetnya tidak akur. Ia mengatakan perbedaan di antara para menterinya semata-mata soal karakter.

Presiden tentu saja bukan tanpa prestasi. Kebijakannya mengalihkan subsidi bahan bakar minyak untuk membangun ratusan proyek infrastruktur adalah keputusan yang sangat strategis. Beberapa proyek besar pun telah memasuki lelang tahun ini.

Faktor ‘kesialan’ juga tidak boleh dilupakan. Begitu Jokowi memimpin, ekonomi dunia mulai lunglai yang berimbas ke dalam negeri. Tapi, kualitas seorang pemimpin diuji dalam kesulitan, bukan kelapangan. “Kami sedang membangun pondasi, sudah ditanya genteng,” Jokowi memberi jawaban atas kritik.

Jokowi memang sudah bekerja keras. Tapi, sayang, hasilnya belum terlihat. Tahun pertama yang redup.

Selamat Ulang Tahun ke-50 Teknik Metalurgi dan Material UI

Metal 95, Ditempa Kerasnya Reformasi

Setelah terbang 1.900 kilometer dari Kota Medan, ditambah dua jam mengantre untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru Jurusan Teknik Metalurgi FTUI angkatan 1995, rasanya paling enak merebahkan badan barang sejenak di tempat tidur Asrama UI Depok yang nyaman. Aku beruntung, karena menjadi mahasiwa angkatan pertama yang menempati Asrama UI Depok.

Pikiranku sedang melayang membayangkan mata kuliah dasar yang berat—kalkulus, aljabar, fisika, dan kimia, ketika tiba-tiba Budi Sudarta menggedor-gedor pintu kamarku, mengajak bermain bola. Budi –sekarang jadi manajer pabrik Mandom, ini juga mahasiswa Metal 95 yang hijrah dari Bekasi. Selain dia, rombongan Metal 95 lainnya yang tinggal di Asrama UI adalah Iwan Sopyan yang datang dari Sumedang, Donald Syaiful dari Padang, dan Pelik Teguh yang merasa sudah merantau hanya karena rumahnya di Tanjung Priok.

“Iya, tunggu sebentar,” aku balik berteriak.  Dan sejak saat itu, hari-hariku pun bergulir bersama para sahabat dan ruang perkuliahan Jurusan Metalurgi.

Tahun-tahun selanjutnya, perkuliahan berjalan lancar bagiku dan 102 orang mahasiswa Metal 95 lainnya. Kecuali ada beberapa orang yang pindah kampus atau terkena dropout, semua berjalan normal hingga memasuki tahun 1998. Bara reformasi yang sudah menyala sejak krisis moneter setahun sebelumnya, mulai membakar.

Ketika itu, kami sudah memasuki tahun ketiga di kampus. Tahun yang matang sebagai seorang aktivis. Sebagian dari kami, termasuk aku, telah mengisi posisi-posisi penting di organisasi kemahasiswaan. Masa perkuliahan yang tadinya datar-datar saja, mulai terasa ‘menarik’. Konsentrasi kami terpecah antara kampus dan jalanan. Namun, ketika ekonomi makin buruk dan keadaan di luar makin kisruh, pada akhirnya kami lebih banyak di jalan.

“Orde Baru harus tumbang. Rakyat Indonesia harus diberi kesempatan mengukir sejarahnya sendiri.” Pikiran kami dipenuhi retorika heroik kala itu. Gas air mata dan pentungan polisi menjadi teman baru yang tiba-tiba akrab. Kuliah sejenak tersisihkan. Sampai akhirnya, penguasa tumbang dan Indonesia memasuki era reformasi. Kami pun kembali kampus untuk menyelesaikan kewajiban.

Kecuali sang legenda Rizal Nangoy yang menyelesaikan kuliahnya dalam tempo 3 tahun, saat itu beberapa mahasiswa Metal 95 mulai memasuki masa kerja praktek dan penyusunan skripsi. Sebagian dari kami menyelesaikan perkuliahan tepat waktu di tahun 1999. Selebihnya meninggalkan kampus pada periode 2000-2001.

Lepas dari kampus, mencari pekerjaan menjadi kegiatan sehari-hari yang menantang. Maklum saja, setelah pertumbuhan ekonomi jatuh ke angka minus 13,1 persen pada tahun 1998, jalannya ekonomi masih tersendat-sendat. Pada tahun 2001 ekonomi cuma bisa tumbuh 3,5 persen. Selanjutnya, bagai gurita, perlahan-lahan kami menyebar di industri otomotif, minyak dan gas, asuransi, perbankan, atau pendidikan. Aku sendiri kini masih berasyik-masyuk di dunia jurnalistik.

Tak usah ditertawakan, karena kami toh sering tertawa sendiri menyaksikan begitu besarnya ‘penyimpangan profesi’ yang kami lakukan. “Sayang dong ilmu Metalurginya,” Adiyatmika yang kini bekerja sebagai analis pasar di Singapura sering menyindir. Untungnya, kami berhasil mewakafkan salah seorang teman kami sebagai pengajar di Departemen Metalurgi dan Material, yaitu Dr. Deni ‘Gogon’ Ferdian. Alhamdulillah. Gogon ini adalah temanku, sesama pengulang Fisika Mekanika, dulu.  Bukan cuma sekali mengulag, tapi berkali-kali. Tidak disangka dia bisa menjadi doktor di bidang solidifikasi aluminium sekarang.

Puji Tuhan juga, beberapa dari kami telah menjadi pengusaha, salah satunya bernama Heri ‘Pati’ Kristiyono yang berkibar dengan bendera perusahaan manufaktur PT Indosateki. Ada yang menduga nama Indosateki dipungut dari bahasa Jepang, ada juga yang mengira kependekan dari Indonesia Sate Kelinci, karena sebelum mendirikan pabrik logam, si Patboy ini –kependekan dari Pati Boy, terlebih dulu membuat usaha rumah makan sate kelinci.

Kedua dugaan itu salah. Karena menurut yang empunya perusahaan, Indosateki adalah kependekan dari Indonesia Satu Tekad Kita. Nama yang pas, karena tidak hanya menggambarkan tekad Heri untuk memberi yang terbaik bagi Negeri, tapi juga menggambarkan tekad Metal 95 untuk terus berkarya di bidangnya masing-masing. Pada akhirnya, profesi kami memang tak sama, tapi semangat kami tetap satu: bersama-sama membangun republik ini. Karena kami adalah para metalurgis yang ditempa oleh reformasi. Selamat ulang tahun yang ke-20 Metalurgi 1995, dan selamat ulang tahun yang ke-50 Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI.

50 thn 1

50 thn 2