Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?

Berlagak sebagai begawan ekonomi, dua bulan terakhir saya ikut-ikutan pusing melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saya punya kepentingan langsung terhadap nilai tukar, tapi Anda tidak akan saya beritahu apa. Dari cuma 9.600-an per dolar AS di awal tahun, sekarang nilai tukar rupiah sudah menembus 11.400-an per dolar AS.  Rupiah jatuh 1.800 poin (18 persen) dalam tempo singkat. Habis semua analisis dan optimisme yang meruap di awal tahun ini.

Para ekonom sebuah BUMN pada Januari 2013  pernah  melansir  analisis yang menyebutkan, dengan tingkat nilai tukar rupiah ketika itu 9.698 per dolar AS, rupiah mengalami deviasi -4,4 persen. Maksudnya, nilai tukar rupiah saat itu lebih rendah (undervalued) 4,4 persen dibanding nilai fundamental atau nilai wajarnya yang sebesar 9.272 per dolar AS. Nilai fundamental bisa dihitung? Ternyata bisa. Saya juga baru tahu.

Cara menghitungnya tentu saya tidak paham persis. Hanya disebutkan bahwa nilai fundamental merupakan nilai rata-rata antara nilai yang didapat dari perhitungan dengan indikator PPP (purchasing power parity), trend PPP, REER (real effective exchange rate), trend REER, competing currency, dan econometric. Setelah itu dibuat rata-ratanya, maka jadilah nilai fundamental rupiah sebesar 9.272 per dolar AS.

Tapi, apalah daya. Tak berapa lama, rupiah mulai loyo. Sejak bulan Mei, nilainya terhadap dolar AS makin kendor hingga menembus 11.400-an pada bulan September. Kata ekonom, penyebabnya macam-macam. Tidak tunggal. Biang keladi pertama adalah rencana dihentikannya kebijakan quantitave easing/QE —nama lain dari kebijakan ‘mencetak  uang’,  oleh Bank Sentral AS.

Tapering—istilah beken kebijakan  penghentian QE itu, jika jadi diberlakukan akan menyedot balik seluruh uang ‘panas’ yang beredar di pasar saham dan obligasi kita. Kenapa begitu? Katanya, dengan dihentikannya QE, maka tingkat suku bunga di AS pelan-pelan akan naik, sehingga menarik bagi investor. Kenaikan ini dapat dipahami karena dengan dihentikannya QE, jumlah uang yang beredar akan berkurang.

Pelaku pasar saham dan obligasi asing yang mengais rezeki di Bumi Nusantara pun kelihatannya ikut-ikutan arus ‘pulang kampung.’ Mereka melepas portofolionya dalam bentuk rupiah di sini untuk dibawa pulang ke negaranya dalam bentuk dolar AS. Konversi hasil investasi dari rupiah ke dolar AS ini membuat tekanan permintaan terhadap dolar AS meningkat. Walhasil, melemah lah nilai uang tercinta kita.

Biang kerok kedua adalah terus berlangsungnya defisit neraca berjalan (current account) kita yang turut menyumbang defisit neraca pembayaran. Defisit neraca berjalan terjadi akibat pertumbuhan ekspor yang tidak sekuat harapan dan peningkatan impor yang tinggi. Ekspor-impor bukan hanya barang, tapi juga jasa. Banyak yang menyalahkan defisit neraca berjalan semata-mata disebabkan oleh defisit di sektor migas karena tingginya impor. Menimpakan kesalahan terhadap migas tidak tepat juga, sebab neraca perdagangan di sektor riil juga mengalami defisit, meski tidak besar.

Hubungannya dengan rupiah, impor membutuhkan valuta asing, terutama dalam bentuk dolar AS. Makin banyak impor, makin tinggi pula kebutuhan valas. Parahnya, defisit neraca perdagangan kita ini sudah berlangsung berbulan-bulan sejak  April 2012, dengan hanya diselingi beberapa kali surplus. Kabar buruk lagi, defisit neraca perdagangan ini dari bulan ke bulan semakin melebar dan menambah  buruk ‘demam’ tinggi yang dialami rupiah.

Tekanan terhadap rupiah yang berasal dari neraca perdagangan ini tidak kita alami pada  pelemahan rupiah tahun-tahun sebelumnya. Pada Juni 1998,  rupiah pernah melemah  hingga di atas 16.000 per dolar AS. Tapi pada waktu itu, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan  surplus. Kondisi yang sama terjadi pada  krisis 2008. Sekitar bulan November– berdekatan dengan tutupnya Bank Century, rupiah turun sampai hampir menyentuh 13.000 per dolar AS. Namun kala itu, neraca perdagangan masih surplus, sedangkan transaksi berjalan defisit.

Tekanan ketiga adalah spekulasi. Tekanan ini datang akibat volatilitas pasar uang, terutama pasar spot rupiah di luar negeri (off shore). Salah satu pasar spot  yang cukup besar adalah di Singapura. Menurut Bank Indonesia, keberadaan pasar spot di luar negeri ini sebenarnya bisa membantu agar rupiah dapat dimanfaatkan lebih luas dalam transaksi perdagangan internasional.

Namun, bagi  mata uang sebuah negara yang pasar valuta  dalam negerinya masih tipis, keberadaan pasar uang  off shore  dapat mengganggu pasar spot on shore (dalam negeri). Saat ini,  volume pasar  spot rupiah di Jakarta hanya sekitar US$ 500 juta  per hari dan pasar berjangka US$ 200-300 juta  per hari.  Angka tersebut  turun dibandingkan pada 2011 yang mencapai US$ 1,3 miliar  per hari. Sementara,  volume pasar NDF (nondeliverable forward) rupiah di Singapura pun  berkisar US$ 500 -700 juta.

Seringkali,  pasar off shore rupiah menun­jukkan kurs yang lebih lemah dibanding kurs on shore. Selisihnya bisa  1-2 persen. Kurs do­lar AS yang dimunculkan Asosiasi Perbankan  Singapura, misalnya, bisa lebih tinggi  50-150 poin dibandingkan dengan  yang dikutip BI.  Pasar uang  off shore biasanya dipakai untuk transaksi derivatif (berjangka, opsi, dan NDF), transaksi yang  spekulatif. Melihat pada produknya saja kita bisa maklum, di pasar off shore  rentan terjadinya manipulasi nilai tukar yang bisa meningkatkan volatilitas rupiah.

Untunglah, BI pada Mei 2013 sudah meluncurkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).  JISDOR dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai kurs referensi yang punya kredibilitas tinggi. Termasuk bila dibandingkan dengan kurs  off shore seperti di Singapura.

Tekanan keempat adalah utang  dalam mata uang dolar AS yang kabarnya  akan jatuh tempo  dalam waktu dekat. Ada ekonom yang mensinyalir utang luar negeri swasta yang jatuh tempo pada September ini mencapai US$ 30 miliar. Jumlah yang fantastis, karena itu artinya lebih dari 1/3 cadangan devisa kita yang tak sampai US$ 100 miliar. Permintaan dolar AS dalam jumlah besar dan dalam tempo singkat dipastikan akan kembali menghantam rupiah.

Tapi,  BI punya catatan lain yang pasti lebih akurat. Berdasarkan data BI, utang jatuh tempo Indonesia pada semester II-2013 hanya US$ 27,78 miliar.   Itu pun  komposisinya  terdiri dari swasta sebesar US$ 22,27 miliar dan utang pemerintah US$ 5,51 miliar.

Ya, cukup sudah analisisnya, Bung Efri. Sekarang jawab, pada angka berapa rupiah akan nangkring sepanjang sisa tahun ini? Ntar dulu, belum selesai. Faktor penekan rupiah sudah, faktor pendukungnya kan belum. Rupiah masih berpeluang selamat, tidak terjerumus lebih dalam, karena krisis yang terjadi saat ini tidak seperti krisis 1998 yang dipicu krisis mata uang Baht Thailand yang berimbas ke mata uang Asia.

Krisis ekonomi kali ini, saya pikir, sudah hampir sampai di ujungnya. Amerika Serikat mulai pulih, Cina masih stabil, negara-negara Asia lain  juga tidak terlalu buruk.  Selain itu,  rasio utang luar negeri pemerintah terhadap produk domestik bruto semakin mengecil. Dari di atas 60 persen di tahun 2004, sekarang rasio utang tinggal sekitar 23 persen.   Diharapkan dengan begitu, sentimen negatif akibat tekanan utang tidak seberat krisis-krisis sebelumnya.

Nah…setelah semua variabel itu saya sodorkan ke bola kristal finansial saya yang sakti, muncul lah gambaran bahwa nilai tukar rupiah tahun ini tidak akan jauh-jauh dari krisis 2008, yakni di antara 12.000-13.000 per dolar AS. Anda percaya saya? Jangan…. 🙂

***

PERBANDINGAN 1998, 2008, 2013
(
seluruh grafik bersumber dari tradingeconomics.com)

Rupiah 1998
Rp 1998

Neraca berjalan 1998
CA 1998

Rupiah 2008
Rp 2008

Neraca berjalan 2008
CA 2008

Rupiah 2013
Rp 2013

Neraca berjalan 2013
CA 2013

Advertisements

Memahami Neraca Pembayaran

Tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi, supaya mudah dibuka di mana saja kalau lupa 🙂 Saya sarikan dengan beberapa modifikasi dari berbagai sumber.

**

Pengertian
Neraca pembayaran (balance of payment) adalah catatan yang sistematis tentang transaksi ekonomi internasional antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain dalam jangka waktu tertentu. Biasanya dalam jangka waktu setahun.

Fungsi
Fungsi utama neraca pembayaran yaitu untuk memberikan informasi kepada pemerintah tentang posisi keuangannya, khususnya yang terkait dengan hasil praktek hubungan ekonomi dengan negara lain. Neraca pembayaran juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan bidang moneter, fiskal, perdagangan dan pembayaran internasional

Komponen
Neraca pembayaran terdiri atas dua komponen utama:
1. Neraca perdagangan dan jasa (current account)
Selisih nilai ekspor dan impor barang dan jasa. Neraca perdagangan ini termasuk kategori neraca berjalan atau current acount.
2. Neraca modal (capital account)
Merupakan selisih antara aliran modal masuk dan modal keluar.  Dihitung dari transaksi investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, dan transaksi pengangkatan mata uang.

Sistem Pencatatan
Sistem pencatatan neraca dilakukan dengan menggunakan variabel debet dan kredit.
1. Transaksi Debet
Adalah transaksi yang menyebakan terjadinya pembayaran kepada penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang keluar .  Meliputi:
a. impor barang, pembayaran jasa transportasi, jasa asuransi, dan ongkos makelar.
b. pembayaran bunga dan deviden.
c. pemberian hadiah dan pengiriman uang.
d. investasi di luar negeri.
e. pembelian emas dari negara lain.
f. penduduk yang menyimpan uangnya di bank luar negeri.

2. Transaksi Kredit
Adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya penerimaan dari penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang masuk.  Meliputi:
a. ekspor barang.
b. penerimaan jasa transportasi, asuransi, ongkos makelar dari negara lain.
c. penerimaan bunga dan deviden.
d. penerimaan hadiah dan kririman uang.
e.investasi asing di dalam negeri.
f.penjualan emas ke negara lain.
g.penduduk negara lain yang menabungkan uangnya di bank dalam negeri.

Tiap-tiap credit entry  harus diseimbangkan  dengan debit entry  yang sama. Kedua entries tersebut dikombinasikan untuk menghasilkan laporan sumber-sumber dan penggunaan modal nasional (dari mana kita memperoleh dana-dana/ daya beli, dan bagaimana kita mengunakannya). Jadi, total kredit dan debit dari neraca pembayaran suatu negara akan sama secara agregat; namun, dari komponen-komponen neraca pembayaran, mungkin terdapat surplus dan defisit.

Contoh : Suatu perusahaan RI meminjam Poundsterling Inggris.  Pinjaman ini merupakan peningkatan  utang penduduk/perusahaan RI pada pihak luar negeri. Pinjaman ini merupakan suatu credit entry. Karena, memiliki aset dalam valuta asing sama seperti memberikan pinjaman jangka pendek kepada negara lain. Debit entry yang sama akan diklasifikasikan sebagai peningkatan dalam kepemilikan aset finansial luar negeri.

Sebagai catatan, Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II 2013 defisit US$ 2,5 miliar.  Nilai ini lebih kecil dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 6,6 miliar. Turunnya defisit tersebut disebabkan oleh surplus transaksi modal.

Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?

Jumat pekan lalu, ke kantor datanglah beberapa orang utusan sebuah bank yang mempresentasikan program cicilan emas. Saya sendiri tidak menghadiri presentasi itu, tapi tetap kebagian selebaran yang disebarkan dari meja ke meja. Rupanya, ada juga yang tertarik di antara rekan sejawat. Kepada saya, mereka bertanya, investasi emas menguntungkan tidak? Lebih baik mana ketimbang saham? Kapan tepatnya membeli emas?  Ada pula yang yakin investasi emas pasti menguntungkan, karena  pasti naik.

Jawaban saya standar,  tidak ada investasi yang tidak berisiko. Tidak terkecuali logam transisi dengan kode Au ini. Harga emas memang trennya selalu naik, tapi kalau sekadar naik, menyimpang uang di deposito atau obligasi juga pasti naik setiap tahun. Persoalannya adalah, apakah imbal hasil yang didapatkan sepadan dan layak dijadikan alat investasi, ataukah sekadar menjaga nilai uang kita? Pertanyaan yang rada abstrak dan sulit dijawab memang. Saya juga bingung menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Lha, saya bukan ahli investasi.

Tapi, untuk memuaskan teman saya itu, saya memberi beberapa pertimbangan. Pertama, balik dulu ke program cicil emas. Program cicil emas dari sebuah bank itu menawarkan program cicilan dengan berat antara 10 gram sampai 250 gram. Dengan uang muka 20 persen, pembiayaan 80 persen, dan bunga antara 7,6-7,9 persen, serta tenor 2-5 tahun. Berarti, kalau kita mengambil tenor 2 tahun saja, sudah keluar biaya bunga 24 persen. Itu artinya, jika ingin untung,  maka emas hanya boleh dijual pada saat harganya telah naik 24 persen ditambah inflasi (sekitar 6-7 persen per tahun).

Kedua, kata saya, pertimbangkan juga diskon harga jual kembali.  Mengacu pada harga di unit bisnis Antam– Logam Mulia, harga jual per 2 Agustus 2013 untuk berat 10 gram sebesar Rp 466 ribu per gram. Sedangkan harga beli kembali oleh Logam Mulia sebesar Rp 432 ribu per gram atau ada selisih Rp 34 ribu per gram atau sekitar 7 persen.  Sehingga, kalau kita membeli tunai, supaya untung harus dijual ketika harga emas tumbuh di atas 7 persen. Sedangkan kalau kita membeli dengan cara dicicil, harus dijual supaya untung pada saat harganya naik  di atas akumulasi dari 24% biaya bunga bank +7% inflasi + 7 % harga buyback Antam = 38%.

Ketiga, mengacu pada pergerakan harga emas dunia dengan standar dolar AS, sebenarnya harga emas tidak selamanya sakti. Pada tahun 1980,  harganya pernah naik mencapai  sekitar US$ 800 per troy oz. Tapi, pada 1985 harganya melorot menjadi sekitar US$ 300  per troy oz. Selanjutnya harga emas stagnan di level US$ 250-400 per troy oz sampai tahun 2004 atau sekitar 19 tahun.

Pergerakan harga emas dalam 40 tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Pergerakan harga emas dalam 40 tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Baru pada tahun 2005 “gemboknya” terlepas  dan harganya melejit dari sekitar US$ 400 menjadi  sekitar US$ 1.800 pada 2011 (naik 350 persen) hanya dalam tempo 6 tahun. Periode inilah masa kejayaan emas sebagai sarana investasi.  Namun, setelah tahun 2011 sampai saat ini, harganya terus terjun dari US$ 1.800-an menjadi US$ 1.200-an (sekitar 20 persen).

Pergerakan harga emas dua tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Pergerakan harga emas dua tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Dari sekilas data ini bisa dibaca, selama hampir 20 tahun harga emas stagnan. Dengan menghitung tekanan inflasi, berarti pemegang emas mengalami kerugian inflasi. Belum lagi kerugian potensial jika uang dibenamkan di instrumen investasi lain seperti deposito, properti, reksadana, atau saham. Selain itu, pembeli emas pada periode tahun 2011 dipastikan mengalami “kerugian” selama dua tahun ini karena harga emas terus turun. Kerugian akan bertambah besar jika pembeli membeli dengan cara berutang ke bank.

“Masa begitu perhitungannya? Harga emas waktu saya kecil cuma berapa…murah sekali. Sekarang sudah di atas Rp 400 ribu? ” Teman saya berkeras. Benar, itu benar. Harga emas dulu memang murah sekali dibandingkan harga sekarang. Kenapa bisa begitu? Padahal, selama belasan tahun harganya stagnan? Saya jawab,  itu terjadi karena harga emas mengacu pada dolar AS. Dengan begitu, meski harganya stagnan apalagi naik, jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jatuh (dulu cuma  800 per dolar AS sekarang jadi  10.000 per dolar AS), otomatis harga emas akan terlihat naik tinggi sekali. Dalam konteks ini, emas lebih tepat dijadikan  sarana hedging (lindung nilai) untuk menjaga nilai tukar, terutama saat rupiah anjlok, ketimbang sebagai sarana investasi.

“Jadi kesimpulannya?” Teman itu terus mengejar. Haduh, “Jangan beli emas dengan cara dicicil. Kalau punya uang tunai…” Kata saya sambil cepat-cepat berlalu. Dari kejauhan terdengar teriakan, “Masalahnya gue gak punya uaaaang…” Nah, betul, kan.  ***

BBM Naik, Ekonomi 2013 Suram?

blog spbu

Kalau tidak ada kejadian luar biasa, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2013 akan disahkan di dalam sidang paripurna DPR 17 Juni mendatang. Selain perubahan asumsi-asumsi makro, target penerimaan pajak, dan sebagainya, yang paling penting dari pengesahan APBN-P kali ini adalah implikasinya. Tahu dong, jika APBN-P yang satu ini jadi disahkan, artinya harga BBM bersubsidi akan segera naik. Entah itu besoknya, atau bulan depannya.

Harga BBM subsidi naik, itu sih sudah wajib. Gimana, gak, nilai subsidi BBM tahun ini diperkirakan Rp 200 triliun (persisnya Rp 199,85 triliun). Jumlah itu sekitar 11,5 persen dari belanja negara 2013 yang sebesar Rp 1.726 triliun. Buayangkan..tahun 2005 subsidi BBM masih  Rp 95,6 triliun. Memang sih, ketika itu anggaran belanja negara hanya Rp 509,6 triliun, jadi persentase subsidi 2005 sebesar 18,8 persen dari belanja negara. Tapi, tetap saja, Rp 200 triliun itu sesuatu banget.

Katakanlah subsidi BBM gak dihapus 100 persen, 30 persen saja, menurut pemerintah penghematannya sekitar Rp 42 triliun. Jangan ditanya, saya juga tidak mengerti kenapa tidak jadi Rp 60 triliun. Mungkin karena besar kenaikan solar-premium tidak sama dan ada kenaikan volume pemakaian seiring dengan pertumbuhan kendaraan bermotor. Terus, dari Rp 42 triliun, dikurangi dana kompensasi BBM Rp 28 triliun, masih ada sisa Rp 14 triliun lagi. Lumayanlah, dari pada nambah utang. Belum lagi penghematan di tahun-tahun mendatang.

Memang sih, ada risikonya dalam jangka pendek. Yang jelas inflasi akan melambung, pertumbuhan ekonomi mengkerut, penjualan otomotif turun, suku bunga kredit naik, daya saing ekspor turun. Loh, kok banyak ya dampak negatifnya. Tapi, itu kan semua jangka pendek, tahun depannya lagi juga stabil, dengan catatan BBM gak naik lagi.

Salahnya pemerintah juga. Infrastruktur tidak dibenahi, akibatnya, kualitas pertumbuhan ekonomi kita menuju stagnan. Tumbuh, tapi lambat, bahkan dalam keadaan ekonomi bullish, pertumbuhan kita biasa saja. Apalagi saat sulit kayak begini. Ditambah lagi kenaikan BBM, menjelang puasa dan Lebaran pula.

Banyak ekonom yang khawatir kenaikan BBM menjelang puasa dan Lebaran akan memukul inflasi lebih dahsyat lagi. Harga-harga akan naik gila-gilaan karena dua faktor: biaya produksi tinggi dan permintaan tinggi. Walhasil, bulan-bulan mendatang hidup akan lebih susah. Maklum, harga kalau sudah naik, sulit turun lagi (deflasi hanya terjadi paling banyak 2 bulan dalam setahun).

Seberapa parahnya dampak dari kenaikan BBM bisa tercermin dari pengalaman kenaikan tahun-tahun sebelumnya:

Tahun      Premium            Inflasi (%)   Mobil (ribu)  Pertumbuhan (%)   Investasi
2005    1.810–>4.500            17,11           533             5,7                         –
2006     –                               6,6              318             5,48                       Turun 32%
2007     –                               6,59            433             6,3                          –
2008    4.500–>6.000            11,06           603             6,2                          –
2009    5.000–>4.500            2,78             483             4,5                         Turun 12,5%
2010     –                               6,96             –                 6,1                         –
2011     –                               3,79             –                 6,5                         –
2012     –                               4,3             1.116            6,23                       –

Kelihatan dari tabel, kenaikan BBM akan langsung memukul inflasi pada tahun yang sama (dibaca: harga-harga barang dan jasa naik), dan menekan penjualan mobil/pertumbuhan ekonomi di tahun berikutnya.  Tahun ini, dalam APBN-P 2013 disepakati asumsi inflasi 7,2 persen, lebih rendah dari prediksi beberapa ekonom yang menyebut inflasi akibat BBM 7,9 persen. Kalau target itu tercapai, berarti inflasi relatif terkendali, meski tetap tinggi.

Persoalannya, inflasi tinggi  membuat investor malas datang. Apalagi infrastruktur kita masih buruk. Dan biasanya, dampaknya baru terasa pada tahun berikutnya. Kenapa begitu? Gak tahu juga, ilmu saya belum nyampe.

Jadi, bener dong ekonomi 2013 suram? Rasanya kok bener ya. Tahun ini kita akan melihat pukulan bertubi-tubi terhadap ekonomi. Bukan cuma akibat kenaikan BBM, tapi juga perlambatan ekonomi dunia, daya saing produk kita yang rendah (membuat ekspor makin lama makin turun), infrastruktur yang memble, produksi minyak makin sedikit. Saya khawatir, satu-satunya jalan yang bisa menyelamatkan ekonomi dari kemerosotan lebih dalam adalah menjaga konsumsi domestik.

Tahun lalu, porsi konsumsi domestik mencapai 55 persen dari PDB. Investasi porsinya 30 persen, sisanya ekspor dan belanja pemerintah. Mungkin, di mata pemerintah, selain untuk menjaga kualitas hidup kelompok masyarakat miskin, fungsi BLSM juga untuk menjaga konsumsi domestik. Cuma saya merasa aneh mengenai BLSM ini,  mau berhemat kok malah mengguyur uang tunai, yang jelas habis tak berbekas. Gak ada hasilnya.

Suram yah…gambarannya. Tapi, jangan khawatir, dari sejarah, setelah kenaikan BBM biasanya ekonomi akan tumbuh lebih kencang (meski harusnya bisa lebih kencang lagi kalau manajemennya beres). We’ll see.

Dengan Bekal Ini, Anda pun Bisa Berinvestasi Saham

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Ilustrasi pialang saham di Bursa Efek Indonesia.

Masuk ke pasar modal tanpa ilmu seperti masuk hutan tanpa tahu arah. Saya jamin 99,99 persen Anda akan tersesat , kehabisan bekal , dan ‘mati’ ditelan belantara pasar modal. Sebaliknya, dengan ilmu yang cukup,  Anda akan memasuki dunia saham seperti menumpang kapal besar.   Lihat kapal besar, kalau berlayar dia tenang, ombak besar dia cuek, penumpang di atasnya bisa tidur nyenyak, tahu-tahu sudah sampai di tempat tujuan. Gak pake nyasar.

Begitu pula sebaiknya perilaku seorang investor. Tenang, penuh perhitungan,  tidak panik menghadapi gejolak pasar, dan cepat mengambil keputusan.  Tentu saja, ketenangan tidak bisa datang tiba-tiba, butuh jam terbang yang memadai. Untungnya, bagi investor  pemula,   sudah banyak tips yang ditulis oleh para investor andal. Saya peras dan pilhkan beberapa tips yang aplikatif untuk Anda, para pendatang baru:

1. LIHAT SEKELILING
Perhatikan saham emiten yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebelum makan atau mandi, misalnya, lihat pada kemasan, siapa produsennya? Biasanya akan kita temui nama-nama beken seperti Unilever (UNVR), Indofood  Sukses Makmur (INDF), atau Indofood CBP (ICBP).

Selesai mandi pakai baju, merek apa yang Anda punya? DKNY, Zara, Marks & Spencer, atau Pull and Bear? Maka pastikan Anda mengingat distributornya: Mitra Adiperkasa (MAPI). Atau Anda pernah berbelanja  pakaian di tempat yang lebih ‘guyub’, Anda tentu ingat jaringan toko Ramayana Lestari (RALS).

Selesai berpakaian, Anda sarapan, kalau tidak Indomie-nya ICBP, pilihan lain biasanya  roti Sari Roti yang dibikin oleh Nippon Indosari (ROTI).  Mau pergi ke kantor atau ke tempat usaha, kalau naik mobil, mayoritas tunggangan yang beredar  adalah Toyota atau Daihatsu yang  di Indonesia berinduk ke Astra International (ASII) atau Suzuki yang berinduk ke Indomobil  Sukses (IMAS).

Masuk jalan tol, pilihannya cuma dua, kalau tidak asetnya  Jasa Marga (JSMR), ya Citra Marga (CMNP).  Ah, pokoknya, banyak deh perusahaan yang bagus di sekitar kita.

2.PERTUMBUHAN LABA  KONSISTEN
Setelah melihat-lihat sekeliling, saringan paling utama adalah mencermati pertumbuhan laba emiten buruan Anda . Cari emiten  yang memiliki pertumbuhan laba  tahunan yang konsisten selama 3-5 tahun terakhir.  Berapa persen pertumbuhan yang ideal? Ada yang bilang 20-30 persen. Menurut saya, yang penting tumbuh. Apalagi kalau dia masih bisa tumbuh di tengah krisis, itu pasti perusahaan top.

Selain laba tahunan, lihat juga laba kuartalan. Contohnya, kalau Anda membeli di kuartal III, lihat laba kuartal I dan II. Jika turun terus dalam 2 kuartal, meski laba tahun lalu naik, waspada. Cek faktor internal atau eksternal  yang mempengaruhi industri emiten tersebut.

3.PRICE TO EARNING RATIO
Misalnya, laba per saham Semen Indonesia (SMGR) tahun 2012  sebesar Rp 817, sedangkan harga SMGR pada perdagangan Jumat lalu Rp 18.200 per lembar, maka PER SMGR = 18.200/817 = 22,2X. Bisa dibaca sebagai: investor bersedia membeli selembar saham SMGR pada harga 22,2 kali labanya.

Apa manfaat PER buat investor? PER berguna untuk menentukan apakah suatu saham masuk kategori mahal atau murah. Berapa PER yang disebut mahal atau murah? Tidak ada ukuran bakunya. Yang bisa dilakukan adalah membandingkan PER di antara satu kelompok industri tertentu.  Ambil contoh,  SMGR dengan PER 22,2X  lebih mahal daripada Holcim Indonesia (SMCB) dengan PER 20,9X dan Indocement (INTP) yang memiliki PER 18,16X.

Kalau begitu apakah saham dengan PER tinggi berarti harus dijauhi? Jawabannya belum tentu. Karena PER tinggi bisa menjadi tanda bahwa banyak investor yang memburu saham tersebut, sehingga harganya terus melambung. Sehingga, Anda perlu mendalami lagi kenapa sebuah saham dihargai lebih tinggi atau lebih rendah ketimbang saham lain. Kata orang, saham ‘mahal’ tapi memiliki prospek cerah, lebih baik ketimbang saham ‘murah’ tapi memiliki prospek suram.

4.MAU JADI INVESTOR ATAU TRADER?
Pada dasarnya, semua orang yang menanamkan uangnya pasar modal disebut investor. Hanya saja, ada orang yang tergolong investor jangka panjang (sering disebut sebagai ‘investor’ saja), ada pula yang memiliki jalan sebagai investor jangka pendek atau trader .

Nah, Sebelum menceburkan diri ke pasar modal, tentukan dulu tempat berpijak Anda. Apakah mau menjadi investor atau trader. Seorang investor menginvestasikan uangnya dalam jangka panjang pada emiten-emiten yang memiliki  sejarah pertumbuhan laba  bagus dan prospek cerah.

Biasanya, pertimbangan membeli atau menjual saham bagi seorang investor adalah laporan keuangan. Jika laporan keuangan membaik, maka itu saatnya membeli atau terus memegang saham. Sebaliknya, saat laporan keuangan memburuk, itu adalah sinyal untuk melepas saham.

Sedangkan trader, mendasarkan kegiatan jual-belinya dengan analisis teknikal dalam jangka pendek. Ketika indikator-indikator yang dipakai sudah memunculkan sinyal jual, maka trader akan melepas sahamnya, meskipun kinerja perusahaan sebenarnya masih bagus. Ia baru akan membeli lagi ketika sinyal beli sudah muncul.

Sebagian trader berani mengambil risiko dengan memperdagangkan saham-saham berkinerja buruk—satu hal yang dihindari investor,  dengan mengacu pada indikator teknikal.  Tapi, tidak salah juga kalau  Anda memilih menjadi keduanya. Artinya, sebagian dana Anda  tempatkan dalam jangka panjang, sebagian lagi untuk jangka pendek alias diperdagangkan.

5.PELAJARI TEKNIK ANALISIS FUNDAMENTAL DAN TEKNIKAL
Apakah memilih  menjadi investor  atau trader, analisis fundamental dan teknikal harus Anda kuasai. Analisis fundamental mencakup pemahaman terhadap laporan keuangan perusahaan dan rasio-rasionya, kondisi ekonomi mikro dan makro, serta ekonomi global.

Sedangkan analisis teknikal mencakup pemahaman terhadap indikator-indikator teknis seperti MACD, Stochastic, Aroon, atau Average Directional. Indikator ini jumlahnya puluhan. Jangan khawatir, karena biasanya sekuritas sudah menyediakan software dari semua indikator  tersebut. Anda tinggal memahami cara membacanya saja.

Pusing? Tidak perlu. Sebab, Anda tidak harus serta-merta menguasai semua analisis itu sebelum masuk ke pasar modal. Pelajari  semuanya sambil jalan. Kalau menunggu Anda menjadi seorang ahli dulu baru berinvestasi, mau sampai kapan…

Menakar Geliat Saham GMTD

logo GMTD

Beberapa hari ini ada satu saham yang sepertinya sedang cari-cari perhatian, sehingga  terpaksa menjadi pusat perhatian. Sampai ada yang nekat mempromosikannya di forum para investor. Gak tanggung-tanggung, target price Rp 13.000, dari harga asal Rp 660. Wow, banget! Kalau melihat pergerakan harganya dalam hitungan hari ini saja sih,  memang bisa tercapai target tak masuk akal itu, tapi, sebelum ikutan kejebur, kita lihat dulu dong jeroannya, jangan asal comot hehe… Aturan ini berlaku untuk semua  emiten, gak cuma kelompok Lippo ini saja lho.

Kita perhatikan, lepas dari ‘kerangkeng’ suspensi BEI, harga saham PT Gowa Makassar  Tourism Development (GMTD) memang kayak orang kesurupan. Kembali diperdagangkan pada  24 April 2013 setelah disuspensi sejak 18 Februari 2011, harga saham perusahaan  pengembang ini melonjak dari awalnya Rp 660 menjadi Rp 7.050 per lembar atau naik 968  %, cuy… GMTD seolah ‘tak kapok’, karena suspensi yang dilakukan BEI 2 tahun silam  itu pun dipicu oleh kenaikan tak wajar saham kelompok Lippo itu sebesar 220 % dalam  tempo sepekan.

Tapi, sayangnya, peningkatan harga saham GMTD tidak diikuti dengan fundamental pasar  yang baik. Pada perdagangan Jumat pekan lalu misalnya, lonjakan harga GMTD dari Rp  5.900 ke Rp 7.050 harga disertai dengan volume penjualan 500 lembar alias 1 lot.  Hari-hari perdagangan sebelumnya tidak jauh beda, paling tinggi volume transaksi GMTD  hanya 5.000 lembar atau 10 lot. Bahkan, pernah 0 lembar.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Historical Price GMTD. Dicuplik dari Yahoo Finance.

Tidak masuk akal kalau ada saham yang sudah memberi gain begitu tinggi dalam waktu  singkat, tidak ada yang profit taking. Pertanda apa ini? Kemungkinan jawabannya cuma  satu, pemegang sahamnya itu-itu saja. Menurut analis, jumlah pemegang saham publiknya cuma 20 pihak. Lah, gimana orang mau jual-beli, barangnya gak  ada di pasar? Mestinya, kalau sudah begini–sudah disuspensi 2 tahun pun tak jera, BEI harus memaksa emiten melakukan stock split atau aksi korporasi lainnya.  Okelah, itu urusan BEI. Kita ikut saja. Saya sih lebih tertarik untuk menguliti siapa  GMTD ini. Siapa tahu ada juga yang kepincut 🙂

**

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Perusahaan-perusahaan terkait GMTD.

Profil :
Didirikan pada tanggal 14 Mei 1991. Bergerak di bidang investasi dan pengembangan kota mandiri Tanjung Bunga,  di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pembangunan fisiknya telah dimulai sejak tahun 1997.
Pendapatan Perseroan diperoleh terutama dari penjualan rumah dan kavling hunian, penjualan lahan siap bangun untuk komersial, dan pendapatan dari fasilitas komersial dan rekreasi yang dibangun.  Bank land 1.000 hektare.

Pemegang saham:
PT Makassar Permata Sulawesi : 32,5 %
Kabupaten Gowa : 6,5 %
Kota Makassar : 6,5 %
Propinsi Sulawesi Selatan : 13 %
Yayasan Partisipasi Pembangunan Sulsel : 6,5 %
Masyarakat di bawah 5 % : 35 %

Jumlah saham disetor :     101.538.000 lembar
Kinerja Q1/2013:
Laba  Rp 25,58 miliar, naik 35 % dari Q1/2012  sebesar Rp 19,01 miliar.
Laba per saham Rp 251.
Pendapatan Rp 70,24 miliar, naik 15,1 % dari Q1/2012 sebesar Rp 61,01 miliar.
Aset bertambah Rp 31,16 miliar menjadi Rp 931,8 miliar dari posisi 31 Desember 2012.

Wajar, Kalau SBY Ragu Menaikkan Harga BBM

Banyak orang geram melihat maju-mundurnya kebijakan pengendalian konsumsi dan subsidi bahan bakar minyak bersubsidi. Hampir semua jari menuding Presiden SBY tak tegas bersikap. Padahal, alokasi subsidi BBM sudah mencapai tingkat siaga I. Nilai subsidi yang dibuang untuk menggerakkan bangsa Indonesia satu titik ke titik lain tiap tahun makin melambung. Tahun 2012, realisasi subsidi BBM mencapai Rp 211,9 triliun atau sekitar 14 persen dari belanja negara sepanjang tahun itu. Tahun ini, tentu jumlahnya akan semakin tinggi seiring dengan pertambahan kendaraan bermotor dan penduduk.

Kita sepakat, nilai subsidi yang besar itu tentu lebih bermanfaat jika dipakai untuk membangun infrastruktur, pendidikan, atau kesehatan, ketimbang membiayai BBM untuk kelompok menengah-atas. Cuma, menarik  juga kalau kita mencoba mengintip dari perspektif lain,  kenapa sih SBY  berkeras menjaga harga BBM pada posisi saat ini. Presiden yang terpilih dengan suara  60,8 persen ini malah balik melempar bola panas ke DPR. Berlindung di balik APBN Perubahan 2013, dia mengatakan harga BBM bersubsidi akan dinaikkan jika konsep  bantuan langsung tunai sudah dimatangkan dalam APBN Perubahan.

Sebenarnya apa yang menghalangi SBY untuk menaikkan harga BBM sekadar Rp 1.000-1.500 per liter? Barangkali, jawabannya adalah Inflasi. SBY khawatir inflasi akan melompat ke langit di saat yang tidak tepat. Bukankah sekarang saat yang tepat.  Karena inflasi tahunan sampai April lalu cuma 5,57 persen? Apalagi Bank Indonesia juga mendukung kebijakan harga BBM saat ini dengan pertimbangan inflasi rendah. Tapi, sayangnya, sebagian ekonom menebak, inflasi akan menjebol angka 7,9 persen jika harga BBM jadi dinaikkan.

Gelembung inflasi

Gelembung inflasi

Lantas, apa bahaya inflasi bagi ekonomi kita? Bagi masyarakat menengah-bawah? Kelompok masyarakat nyaris miskin? Inflasi yang secara sederhana berarti naiknya harga barang dan jasa di satu wilayah, mempunyai efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi bangsa.

Inflasi, bagi semua negara terlebih Indonesia, harus dijaga pada batas nyaman supaya pertumbuhan ekonomi terjaga. Jika inflasi tinggi, yang dalam konteks Indonesia di atas 5 persen, risikonya tingkat konsumsi rumah tangga dan investasi akan melambat. Kalau itu terjadi, berarti malapetaka bagi pertumbuhan ekonomi.  Sebab, kedua faktor itu masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi kita.

Berdasarkan data, sepanjang 2011-2012, konsumsi rumah tangga masih menempati porsi di atas 55 persen sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Sedangkan investasi duduk di posisi kedua dengan porsi pendorong sekitar 30 persen. Selebihnya adalah belanja pemerintah dan ekspor barang/jasa.

Apa jadinya jika faktor 55 persen itu turun? Dampaknya pasti sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Apalagi, belanja pemerintah cenderung terlambat dan mengumpul di kuartal terakhir  dan tidak efisien. Diperkirakan masih ada puluhan triliun anggaran kementerian yang dibintangi oleh Kementerian Keuangan karena proses penganggaran yang tidak tepat administrasi. Naiknya harga barang juga dikhawatirkan membuat kepercayaan konsumen yang masih dalam pemulihan kembali goyah.  Pengaruhnya terhadap investasi juga sama. Naiknya harga barang dan jasa akan menjadi alasan bagi buruh untuk kembali menuntut kenaikan upah dalam jumlah besar.

Ketakutan SBY pasti semakin bertambah setelah kemarin, BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi selama kuartal I 2013 cuma 6,02 persen. Angka tersebut jauh di bawah pertumbuhan pada periode yang sama 2012 sebesar 6,29 persen. Perlambatan pertumbuhan antara lain disebabkan oleh penurunan realisasi pembentukan modal tetap bruto (investasi) yang turun 5,9 persen. Sebaliknya, pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga kembali menjadi penyelamat pertumbuhan karena naik 5,7 persen. Melihat angka ini, akankah SBY berani menaikkan harga BBM bersubsidi? Rasanya tidak dalam waktu dekat.