Melawat ke Jantung Legenda Batak

Dalam setiap legenda, kata seorang penulis, betapapun musykilnya, terdapat butir-butir kebenaran. Dan legenda Si Raja Batak berawal dari Gunung Pusuk Buhit dan bermula di Sianjur Mula-mula. Disemangati oleh cerita itu, saya pun meluncur ke kaki Gunung Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir pada Lebaran lalu. Tempat inilah, yang menurut legenda, merupakan tempat mendaratnya Si Raja Batak dari langit.  Menikah dengan perempuan bumi di tempatnya turun, Si Raja Batak  kemudian menjadi leluhur orang Batak sedunia.

Desa yang pertama kali dibangun Si Raja Batak setelah turun ke bumi adalah Sianjur Mula-mula.  Desa ini terletak persis di kaki Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut). Gunung ini merupakan satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus pada 17.000 tahun lalu, ketika terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba. Jejak-jejak peninggalan leluhur Batak konon banyak terpendam di sana.

Berangkat dari Medan, ada dua pilihan rute yang bisa ditempuh untuk menuju Sianjur Mula-mula. Rute pertama adalah melalui jalur Kota Parapat.  Awalnya, kita mengendarai mobil ke Parapat sejauh 3-4 jam perjalanan.  Sesampainya di Parapat, kita menumpang kapal feri menuju Desa Tomok,  di Pulau Samosir  sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari Tomok, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 -2 jam lagi ke Sianjur Mula-mula melalui Kota Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir. Sehingga total waktunya bisa menempuh 7 jam perjalanan.

Saya tidak memilih rute pertama ini karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang, belum lagi kalau ditambah waktu tunggu feri yang bisa mencapai dua jam.  Lagipula Tomok sudah saya kenal sejak masih kecil. Tapi, bagi wisatawan yang belum pernah ke Tomok, saya sarankan melalui rute pertama ini. Selain karena menjual banyak cinderamata, Tomok dan sekitarnya juga menyimpan banyak situs bersejarah seperti makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu berukuran raksasa dan matu kursi Parsidangan Siallagan. Belum lagi dalam perjalanan menuju Pangururan, akan banyak bersisian dengan objek wisata menarik seperti Museum Simanindo dan Hutabolon, pantai Batu Hoda, pantai Parbaba, dan pantai Indah Situngkir.

Adapun saya, menjatuhkan pilihan pada rute kedua, yaitu melewati Kota Brastagi, Kabanjahe, Taman Wisata Iman, Tele, hingga ke Sianjur Mula-mula. Rute ini relatif lebih sepi pemukiman penduduk dan lalu lintas kendaraan. Kami bertolak pagi dari Medan. Namun karena terhadang insiden mesin overheating, lepas Magrib kami baru tiba di Kota Pangururan untuk bermalam. Kalau dari arah Medan, kita terlebih dulu melewati Sianjur Mula-mula, baru mendapati Pangururan. Untuk catatan, meskipun berada dalam satu kabupaten, Kota Pangururan terletak di Pulau Samosir, sementara Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera.

Tersebab tidak ada anggota rombongan yang pernah ke Sianjur Mula-mula atau Pangururan, kami mengandalkan Google Map sebagai pemandu jalan. Piranti pintar itu terbukti akurat. Tapi, catatan dari saya, saat melalui Jalan Sidikalang-Medan, Google Map mengarahkan pengguna untuk melalui jalan pintas yang tidak bisa saya temukan. Kemungkinan terbesar, jalan yang disarankan oleh perusahaan Sergey Brin ini adalah jalan setapak yang tidak bisa dilintasi mobil, sehingga tidak terlihat. Akhirnya, kami meneruskan perjalanan ke arah Taman Wisata Iman, baru kemudian berbelok ke kiri memasuki Jalan Dolok Sanggul-Sidikalang menuju Jalan Tele-Pangururan.

Sempatkan singgah sebentar di daerah Tele. Di sana disediakan menara pandang setinggi tiga lantai. Dari atasnya kita bisa menyaksikan pemandangan cantik kaldera kawah Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purba. Angin berembus kencang dan suhu udara dingin di sana. Sebaiknya bawa jaket supaya kegiatan memandang menjadi lebih leluasa.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Sampai di titik tujuan yang ditunjukkan Google Map,  hari mulai gelap. Karena tidak menemukan petunjuk arah ke Sianjur Mula-mula ataupun Pusuk Buhit, kami pun menepikan mobil untuk bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan melintas. 

“Permisi Bu, mau tanya, jalan ke Sianjur Mula-mula lewat mana ya?” “OO..DI SINI LAH INI KECAMATAN SIANJUR MULA-MULA. ININYA TEMPATNYA, WILAYAHNYA.” 
(Seisi mobil kaget dengan volume suara Si Inang)
“Kalau mau ke Pusuk Buhit di mana jalan masuknya?”
 “PUSUK BUHIT?  ITU GUNUNGNYA (menujuk). BANYAK ORANG MENDAKI KE SANA. ADA AIR UNTUK AWET MUDA DI PUNCAKNYA.”
 Lega lantaran mengetahui berada di tempat yang benar,  dan juga demi kesehatan gendang telinga, kami pun mohon pamit kepada Si Inang. MAULIATE INANG !.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Karena hari sudah menjelang malam, kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Kota Pangururan yang berjarak sekitar 20 kilometer ke depan. Atas rekomendasi seorang teman, kami bermalam di Hotel P di tepi Pantai Situngkir. Hotel ini adalah hotel baru, berkelas melati dengan tarif Rp 350 ribu per malam, tanpa AC, tanpa  restoran, dengan bau saluran air yang menguar hingga ke kamar kami di lantai dua. Hotel yang tidak direkomendasikan untuk disinggahi, namun lantaran sudah terlanjur masuk, tak mungkin pulak kami pergi lagi,  terpaksalah kami menginap di sana.

***

Pagi harinya, setelah membeli kaos yang harganya terjangkau dari penjaja suvenir di dekat hotel dan merenung di tepi Pantai Situngkir yang berpasir putih, kami berangkat menuju Sianjur Mula-mula.  Saya ingatkan lagi, Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera, sedangkan Pangururan adanya di Pulau Samosir. Antara kedua  pulau ini dipisahkan oleh kanal berair dangkal selebar kira-kira 20-30 meter, dan dihubungkan dengan jembatan.

Jarak Pangururan – Sianjur Mula-mula sekitar 20 kilometer. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan yang sebelumnya disembunyikan oleh malam. Deretan rumah tradisional Batak berderet rapi di tepi jalan. Rumah panggung beratap tanduk kerbau  seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa pagar, tanpa pembatas antar rumah. Anak-anak bercengkrama  di tangga rumah yang jumlahnya ganjil atau bermain di halaman yang temaram oleh pepohonan.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

 

Rumah penduduk.

Rumah penduduk.

Jalan menuju Pusuk Buhit sudah cukup lebar dan mulus. Tapi, karena ketika kami mampir ke sana kebetulan berbarengan dengan pesta penduduk setempat yang menutup seluruh badan jalan, jadilah perjalanan kami dialihkan ke jalan desa yang kondisinya semi-offroad. Untunglah kami menumpang mobil MPV. Karena sedan dan sejenisnya pasti akan kesulitan melewati jalan desa ini.

Di tengah perjalanan menuju Pusuk Buhit, terdapat posko untuk pendaftaran pendakian. Pagi itu sudah sekitar pukul 9.30, tapi posko masih tutup. Setelah bertanya kepada orang-orang yang nongkrong di warung kopi, barulah penjaga posko hadir. Kami berbincang-bincang dengan pak penjaga. Beliau menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai objek wisata di sekitar Pusuk Buhit. Soal pendakian, dia tidak menyarankan dilakukan saat ini,  karena sudah terlalu siang. Sementara pendakian harus dilakukan dengan berjalan kaki dan butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak gunung. 

Tapi, dia menjelaskan, meski tak sempat mendaki, masih banyak artefak bersejarah di kawasan Sianjur Mula-mula yang bisa dijangkau dengan mobil. Kami sepakat. Toh tujuan hari itu memang bukan pendakian, melainkan hanya sekadar menapakkan kaki di kaki Pusuk Buhit. Daripada bingung tak tentu arah, supaya lebih efisien, kami boyong saja pak penjaga posko sebagai pemandu jalan.

 

Posko pendakian.

Posko pendakian.

Kantor Desa Sianjur Mula-mula.

Kantor Kepala Desa Sianjur Mula-mula.

Naik sedikit ke punggu Pusuk Buhit, terdapat artefak Batu Hobon yang berwujud tumpukan batu berbentuk meja. Batu Hobon ini konon dipakai oleh Si Raja Batak dan keturunannya untuk bermusyawarah. Legenda menyebutkan, di dalam rongga Batu Hobon ini Si Raja Batak menyimpan harta kekayaannya. Cerita lain mengisahkan, batu ini ditumpuk oleh orang-orang terdahulu untuk menutupi lubang magma. Pusuk Buhit memang tergolong gunung api aktif, namun dikategorikan sebagai gunung api kelas C yang tidak mungkin meletus. Konon, tentara Jepang di masa pendudukannya pernah hendak membongkar batu tersebut dengan menembakinya, karena diduga di dalamnya banyak disimpan emas perhiasan.   Tapi ajaib, batu tebal itu bergeming, tak lecet sedikitpun. Dan tak berapa lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin kencang nan dingin, begitu dinginnya sampai-sampai si orang Jepang yang menembak batu tadi tewas kedinginan. Di belakang situs Batu Hobon didirikan patung raksasa cucu Raja Batak bernama Ompui Tuan Sariburaja, anak dari Guru Tetea Bulan.

 

 

 

Situs Batu Hobon.

Situs Batu Hobon.

 

Patung Ompu Saribu Raja.

Patung Ompui Tuan Saribu Raja.

Selesai dari Batu Hobon, naik sedikit lagi ke Desa Sianjur Mula-mula (namanya memang sama dengan nama kecamatannya) kita bisa menyaksikan replika  rumah bolon atau rumah adat Batak yang ditempati Raja Batak dan keluarganya. Mungkin ada yang bertanya, selain rumah, apakah Raja Batak punya istana?  Jawabannya, tidak. Dalam kultur Batak, sebutan raja tidak mengacu kepada seorang penguasa wilayah, melainkan sebagai panggilan kepada orang yang dituakan atau dihormati di kampungnya. Kebiasaan itu masih berlaku sampai sekarang.  Makanya ada guyonan, di Batak rajanya banyak, tapi tidak ada istana. Teringat ketika saya pesta pernikahan dulu, butuh waktu dua jam untuk mendengarkan sambutan dan petuah dari sekian banyak raja kampung.

 

Replika rumah bolon.

 

Replika rumah bolon.

Replika rumah bolon.

Di depan rumah bolon dibangun tiruan gua tempat Raja Batak bertapa. Konon, kata orang-orang, ketika tentara Jepang menyerbu, gua Raja Batak yang asli menjadi tempat perlindungan penduduk satu kampung. Kejadian ini mengejutkan sebab secara kasat mata, gua tersebut hanya mampu menampung tiga orang. “Bagi orang yang memiliki mata batin, bisa kelihatan gua ini luas sekali di dalamnya,” kata pak penjaga. Sayangnya, keberadaan gua bersejarah itu kini tidak diketahui lagi letak persisnya. Kembali dari lokasi replika rumah bolon sempatkan  berhenti sejenak di sebuah pertigaan. Lihat ke bawah untuk menyaksikan hamparan hijau Desa Sagala. Desa ini adalah salah satu desa yang pertama kali dibangun oleh leluhur Batak. Nama Sagala diambil dari nama anak Guru Tatea Bulan. Selain Desa Sagala, desa tua lainnya adalah Desa Limbong, yang terletak di sisi lain Pusuk Buhit.

Desa Sagala.

Desa Sagala.

Tempat wisata lain yang sudah disiapkan pemerintah adalah Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan, anak Si Raja Batak. Rumah ini  seperti museum terbuka dengan patung-patung yang kasar buatannya. Jajaran patung-patung itu menggambarkan semua anak dan cucu Si Raja Batak. Satu patung dengan cerita yang paling menggelitik adalah patung seorang perempuan berkemben putih, berambut panjang, yang dalam posisi seperti hendak terbang. Beliau adalah Si Biding Laut, satu dari enam putri Guru Tatea Bulan. Selain enam putri, Tatea Bulan juga memiliki lima orang putra. Legendanya, Si Biding Laut ini adalah putri yang paling cantik di antara putri Tatea Bulan lainnya (dari sini saja sudah bisa ditebak jalan ceritanya).

Putri-putri Tatea lainnya yang iri dengan kecantikan Biding Laut mengajak berjalan-jalan lalu meninggalkan di sebuah pulau. Pertolongan datang, Biding Laut ditemukan oleh pedagang, dibawa ke Tanah Jawa dan menikah dengan raja di sana. Tapi, kesialan Biding belum usai, dia dituduh berselingkuh, dan dibuang ke tengah laut. Tapi tak tahu bagaimana ceritanya (pikiran mulai gak fokus) dia selamat dan dibawa berlayar menuju Sumatera.  Di tengah perjalanan, kapalnya dihantam ombak dan tenggelam. Namun, entah karena kesaktian atau ketulusan hatinya  (makin gak fokus), Biding tidak mati, melainkan menjelma menjadi makhluk halus penjaga Pantai Selatan. Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya…Biding Laut telah menjadi Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Tidak percaya? Baca cerita lengkapnya di Internet, banyak. 

Tak seberapa jauh dari Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan masih ada objek wisata kultural lainnya, yakni Perkampungan Si Raja Batak di Sigulatti. Kampung ini dipercaya sebagai kampung pertama yang didirikan oleh Raja Batak. Namun, karena hari sudah siang, dan kami harus segera berangkat, kampung ini terpaksa dilewatkan.  Masih di Kecamatan Sianjur Mula-mula, juga terdapat air mancur tujuh sumber di Desa Aek Sipitu Dai. Air yang berasal dari tujuh kanal itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Patung Si Biding Laut.

Patung Si Biding Laut.

 

Rumah Parsaktian Tatea Bulan.

Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan.

Siang kian meninggi, menghindari malam di jalan, kami bergegas meninggalkan lokasi yang menawan ini. Meninggalkan tempat berawalnya bangsa Batak, dengan berbagai legendanya, yang dibuat dengan melebih-lebihkan cerita sebenarnya,  bukan dengan maksud buruk, melainkan untuk mengabadikan kisah-kisah di masa lampau kepada anak-cucu.  Soal mana di antara legenda itu yang benar, tak perlulah disaring dan terlalu dipikirkan, cukup dinikmati sebagai karya budaya para leluhur. 

Sebelum tulisan wisata ini menjadi semakin filosofis dan bikin ngantuk, saya sudahi sajalah. Wassalam.

PS: Dalam perjalanan pergi atau pulang, coba singgah sejenak untuk makan siang di Rumah Makan Yaya Barona, di Kecamatan Tiga Panah, Karo. Ikan nilanya enak.

****

Advertisements

Selamat Ulang Tahun ke-50 Teknik Metalurgi dan Material UI

Metal 95, Ditempa Kerasnya Reformasi

Setelah terbang 1.900 kilometer dari Kota Medan, ditambah dua jam mengantre untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru Jurusan Teknik Metalurgi FTUI angkatan 1995, rasanya paling enak merebahkan badan barang sejenak di tempat tidur Asrama UI Depok yang nyaman. Aku beruntung, karena menjadi mahasiwa angkatan pertama yang menempati Asrama UI Depok.

Pikiranku sedang melayang membayangkan mata kuliah dasar yang berat—kalkulus, aljabar, fisika, dan kimia, ketika tiba-tiba Budi Sudarta menggedor-gedor pintu kamarku, mengajak bermain bola. Budi –sekarang jadi manajer pabrik Mandom, ini juga mahasiswa Metal 95 yang hijrah dari Bekasi. Selain dia, rombongan Metal 95 lainnya yang tinggal di Asrama UI adalah Iwan Sopyan yang datang dari Sumedang, Donald Syaiful dari Padang, dan Pelik Teguh yang merasa sudah merantau hanya karena rumahnya di Tanjung Priok.

“Iya, tunggu sebentar,” aku balik berteriak.  Dan sejak saat itu, hari-hariku pun bergulir bersama para sahabat dan ruang perkuliahan Jurusan Metalurgi.

Tahun-tahun selanjutnya, perkuliahan berjalan lancar bagiku dan 102 orang mahasiswa Metal 95 lainnya. Kecuali ada beberapa orang yang pindah kampus atau terkena dropout, semua berjalan normal hingga memasuki tahun 1998. Bara reformasi yang sudah menyala sejak krisis moneter setahun sebelumnya, mulai membakar.

Ketika itu, kami sudah memasuki tahun ketiga di kampus. Tahun yang matang sebagai seorang aktivis. Sebagian dari kami, termasuk aku, telah mengisi posisi-posisi penting di organisasi kemahasiswaan. Masa perkuliahan yang tadinya datar-datar saja, mulai terasa ‘menarik’. Konsentrasi kami terpecah antara kampus dan jalanan. Namun, ketika ekonomi makin buruk dan keadaan di luar makin kisruh, pada akhirnya kami lebih banyak di jalan.

“Orde Baru harus tumbang. Rakyat Indonesia harus diberi kesempatan mengukir sejarahnya sendiri.” Pikiran kami dipenuhi retorika heroik kala itu. Gas air mata dan pentungan polisi menjadi teman baru yang tiba-tiba akrab. Kuliah sejenak tersisihkan. Sampai akhirnya, penguasa tumbang dan Indonesia memasuki era reformasi. Kami pun kembali kampus untuk menyelesaikan kewajiban.

Kecuali sang legenda Rizal Nangoy yang menyelesaikan kuliahnya dalam tempo 3 tahun, saat itu beberapa mahasiswa Metal 95 mulai memasuki masa kerja praktek dan penyusunan skripsi. Sebagian dari kami menyelesaikan perkuliahan tepat waktu di tahun 1999. Selebihnya meninggalkan kampus pada periode 2000-2001.

Lepas dari kampus, mencari pekerjaan menjadi kegiatan sehari-hari yang menantang. Maklum saja, setelah pertumbuhan ekonomi jatuh ke angka minus 13,1 persen pada tahun 1998, jalannya ekonomi masih tersendat-sendat. Pada tahun 2001 ekonomi cuma bisa tumbuh 3,5 persen. Selanjutnya, bagai gurita, perlahan-lahan kami menyebar di industri otomotif, minyak dan gas, asuransi, perbankan, atau pendidikan. Aku sendiri kini masih berasyik-masyuk di dunia jurnalistik.

Tak usah ditertawakan, karena kami toh sering tertawa sendiri menyaksikan begitu besarnya ‘penyimpangan profesi’ yang kami lakukan. “Sayang dong ilmu Metalurginya,” Adiyatmika yang kini bekerja sebagai analis pasar di Singapura sering menyindir. Untungnya, kami berhasil mewakafkan salah seorang teman kami sebagai pengajar di Departemen Metalurgi dan Material, yaitu Dr. Deni ‘Gogon’ Ferdian. Alhamdulillah. Gogon ini adalah temanku, sesama pengulang Fisika Mekanika, dulu.  Bukan cuma sekali mengulag, tapi berkali-kali. Tidak disangka dia bisa menjadi doktor di bidang solidifikasi aluminium sekarang.

Puji Tuhan juga, beberapa dari kami telah menjadi pengusaha, salah satunya bernama Heri ‘Pati’ Kristiyono yang berkibar dengan bendera perusahaan manufaktur PT Indosateki. Ada yang menduga nama Indosateki dipungut dari bahasa Jepang, ada juga yang mengira kependekan dari Indonesia Sate Kelinci, karena sebelum mendirikan pabrik logam, si Patboy ini –kependekan dari Pati Boy, terlebih dulu membuat usaha rumah makan sate kelinci.

Kedua dugaan itu salah. Karena menurut yang empunya perusahaan, Indosateki adalah kependekan dari Indonesia Satu Tekad Kita. Nama yang pas, karena tidak hanya menggambarkan tekad Heri untuk memberi yang terbaik bagi Negeri, tapi juga menggambarkan tekad Metal 95 untuk terus berkarya di bidangnya masing-masing. Pada akhirnya, profesi kami memang tak sama, tapi semangat kami tetap satu: bersama-sama membangun republik ini. Karena kami adalah para metalurgis yang ditempa oleh reformasi. Selamat ulang tahun yang ke-20 Metalurgi 1995, dan selamat ulang tahun yang ke-50 Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI.

50 thn 1

50 thn 2

Menjawab Jokowi Hater

Sekali-kalinya tulisan gue di koran dapat komentar lewat email, isinya gak keruan. Email pertama mengkritik tulisan tentang kejatuhan nilai tukar rupiah. Kata dia, tulisan tersebut tidak berimbang. Judul asli beritanya, “Tembus 12.600, Pelemahan Rupiah Tidak Wajar.”  Menurut dia, kenapa gak dibikin dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar Karena Kebijakan Jokowi”? Loh, gimana sih, maksud si narsum, gak wajarnya itu karena sudah ada pemerintahan baru, sudah ada kenaikan harga BBM, kok masih melemah. Pasti ada faktor lain dari internal atau eksternal, gitu lho.

Lagi pula, ada hubungan apa kebijakan Jokowi dengan rupiah? Kalau yang dimaksud si pembaca adalah kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, juga tidak terlalu kuat korelasinya. Apalagi konsensus mayoritas ekonom, kenaikan harga BBM justru menyehatkan APBN dan mendorong infrastruktur dalam jangka panjang. Gue makin gak senang dengan tuduhan dia kalo Tempo mendukung salah satu kelompok. Kelompok yang mane maksudnye…? Mendukung Jokowi? Yaelah…udah lama banget kalee, zaman pilpres, udah 200 tahun yang lalu.

Ada lagi yang keliru, kalaupun dipandang mendukung, redaksi gak pernah tuh mendukung kelompok a.k.a partai. Apa urusannya? Gak pernah ada konsesi, imbalan, atau minimal balas jasa aja deh, mana ada. Gak percaya? Gue undang datang ke kantor kami di Velbak…tempat kami menerima semua presiden dan calon presiden. Ruang rapat di lantai 1 masih beradablah, karena pencitraan untuk tamu. Tapi coba ke lantai 2 dan 3…o mak jang… Masak yang begitu masih dituduh juga?? Ck..ck..

Kebijakan Jokowi juga gak selalu lurus kok. Coba baca penelusuran Koran Tempo/Majalah Tempo tentang kasak-kusuk Surya Paloh mengegolkan Sonangol, keterlibatan tim kampanye Jokowi dalam penjualan perusahaan menara Telkom (Mitratel), atau kecaman keras Tempo waktu Jokowi menunjuk jaksa agung dari Nasdem. Malah, waktu kabinet Jokowi diumumkan, cover Koran Tempo juga memandangnya dengan sebelah mata. Kelihatan kan, udah gak maen lagi dukung-mendukung hari gini. Kalo salah, ya salah saja, kita sikat bareng-bareng. Tapi, kalo bener ya dibilang bener, jangan disalah-salahin.

Soal bias penulis, mungkin ada, dikit. Manusiawilah…Tapi selalu bisa diredam lewat rapat redaksi yang dihadiri banyak kepala. Terus terang, gue pilih Jokowi dulu, tapi setelah itu ya sudah, biasa saja. Gak jadi Jokowi lover juga (dari dulu juga gak). Masalahnya, yang hater ini lho yang provokasi tiap hari, sisa-sisa laskar pilpres. Dalil-dalilnya udah gak waras lagi, pokoknya semua yang dikerjakan pemerintah salah. Pokoke Jokowi harus turun. Bener-bener gak nalar.

Bikin kesal kan, wajar dong, wartawan juga manusia. Bisa dongkol juga. Orang lama-lama diprovokasi jadi kehilangan kesabaran.  Ya, gimana gak, menjelang mini krisis ekonomi begini malah tepuk tangan, nyukurin Presiden, “Itu tuh, presiden yang lu pilih dulu.” “BBM naik, rakyat menjerit, rupiah ambruk, gara-gara bangsa ini salah pilih presiden.” Bukannya bahu-membahu. Mental macam apa kayak begitu?

Pembaca itu juga menuduh redaksi membela KIH dan menjatuhkan KMP. Bah! Ini makin jauh aja angan-angannya. KIH? KMP? Emang gue pikirin?  Kenal juga kagak. Gue pada dasarnya apolitik, memantau politik sekadar kewajiban pekerjaan doang. Alergi gue dengan politik. Mules tiap membahas politik. Makanya gue gak cocok di desk nasional. Nah, sekarang malah dibilang membela KIH, ya gak nyambung, brow.

Akhirnya, dari soal rupiah melenceng ke mana-mana. Soalnya, gue merasa, kalo begini terus ya gak bisa maju-maju. Ibarat angkot, sopirnya udah mau narik, penumpang kagak penuh-penuh, ya gak jadi jalan. Sudahi deh..cape, kontra produktif, dan gak dewasa. Apalagi kalo orang luar (negeri) ngeliat, norak kesannya. Dah ah.

Email 1
“Wawancara dong itu pengamat-pengamat ekonomi yag bbrp waktu lalu saat rupiah sedikit menguat dikatan “efek Jokowi”. Mengapa Koran Tempo tidak membuat headline dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar karena Kebijakan Jokowi”. Tempo boleh mendukung salah satu kelompok ttp harus fair dalam pemberitaan.”

Email 2
“saya sangat kecewa dengan cara penulisan dan berita Tempo yang terlalu membela KIH dan ada kecenderungan menjatuhkan KMP. Maukah dan beranikah tempo membuat headline “Rupiah Terpuruk karena Kegagalan Kebijakan Jokowi? Waktu rupiah sedikit jatuh beberapa waktu lalu disebut karena kekisruhan DPR akibat ulah KMP.
Editorial Koran Tempo hari ini kurang enak dibaca – rupiah jatuh malah yang disalahkan adalah krn berita di website TheRichest dan BI, membela Jokowi??? “

***

Pulang Kampung (1): Muara, Jejak Leluhur di Tepi Danau Toba

Ketika pulang kampung pada Idul Adha lalu,  maksud hati sebenarnya ingin mengunjungi Kecamatan Sianjur Mula-mula di Kabupaten Samosir. Kampung ini terkenal di dalam legenda sebagai tempat diturunkannya si Raja Batak dari langit yang kemudian melahirkan generasi pertama bangsa Batak. Tapi, karena waktu yang ada singkat, sedangkan ke Sianjur Mula-mula jaraknya masih jauh, dari arah Siborong-borong kami melipir ke Kecamatan Muara, di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Kota kecil ini dipilih bukan tanpa alasan. Konon, dari Sianjur Mula-mula di kaki Gunung Pusuk Buhit,  nenek moyang bangsa Batak mulai berimigrasi ke kota-kota terdekat, termasuk ke Muara. Sehingga di Muara kini banyak bermukim marga-marga “tua”. Kota ini juga, katanya, terkenal akan tugu-tugu marga Batak yang dibangun keturunannya. Di antaranya tugu Simatupang, tugu Siregar,  dan tugu Raja Pamoto Siregar. Sehingga, Muara dikenal juga sebagai Kota Tugu.

Simatupang sudah banyak dikenal orang. Begitu juga Siregar. Tapi, siapa pula Raja Pamoto Siregar? Bagi saya, tugu Raja Pamoto justru destinasi utama di Muara. Lokasinya tidak jauh. Tiba di Muara, ambil jalan ke kiri, beberapa kilometer sudah sampai. Tapi, untuk sampai ke Muara yang perlu  perjuangan. Muara bisa dicapai dalam waktu sekitar 8-9 jam perjalanan darat dari Medan. Setelah Parapat, terus ke arah Balige. Sebelum mencapai Siborong-borong, berbelok ke arah kanan, menuju Bandara Silangit. Dari Silangit,  jarak ke Muara sekitar 30 kilometer lagi.

 

IMG_7236

Pemandangan Danau Toba.

IMG_7208

Kecamatan Muara.

Jalan menuju Muara sudah diaspal seluruhnya, meski tidak terlalu mulus dan badan jalannya  hanya untuk dua mobil. Di tengah perjalanan, sempatkan mampir ke satu tempat yang saya lupa namanya. Dari tempat yang tinggi ini, kita bisa melihat pemandangan mengagumkan Danau Toba yang luas dan desa-desa yang melingkarinya.  Dari situ, perjalanan terus menurun menuju Muara yang terletak di tepi Danau Toba.

Tempat rehat yang menawan.

Tempat rehat yang menawan.

Di Muara, kami terlebih dulu menyambangi rumah tempat penyimpanan dua solu bolon milik keturunan Raja Simatupang. Solu bolon berarti perahu besar.  Bentuknya kira-kira mirip dengan perahu naga. Dulu, di zaman nenek moyang, solu bolon merupakan alat transportasi dari satu desa ke desa lain di sekeliling Danau Toba. Selain solu bolon,  ada enam solu lain yang berukuran lebih kecil.

Solu bolon ini menjadi terkenal bukan karena usianya yang sudah tua–karena perahu ini belum berumur dua tahun. Perahu ini dikenal karena kisah pembuatannya yang heroik dan disisipi cerita mistis. Solu bolon dibuat mulai 7 Januari 2013 dari batang pohon  Meranti utuh yang dipahat di bagian tengahnya. Ukurannya raksasa, dengan panjang 21 meter lebar 110 sentimeter, dan tinggi 70 sentimeter.

Sepasang solu bolon di dalam rumah penyimpanan.

Sepasang solu bolon di dalam rumah penyimpanan.

solu-bolon

Solu bolon kuno berkepala singa di Danau Toba. Foto oleh Feiberk pada tahun 1870. © Leiden, Museum Volkenkunde, inv. A13-25. Dikutip dari http://www.gobatak.com.

Saya kutip dari informasi di Internet, pohon Meranti untuk pembuatan solu bolon didapat di Dusun Tordolok Nauli, Desa Sarulla Dolok, Kecamatan Pahae Jae,  Tapanuli Utara.   Proses pembuatannya berlangsung selama hampir satu tahun. Bersama dua solu bolon, dibikin pula enam solu kecil  yang masing masing memiliki panjang 5 meter, lebar 80 sentimeter serta tinggi 40 sentimeter. Seluruh perahu  dibuat dengan menggunakan tujuh batang pohon Meranti yang tumbuh di dalam hutan.

Semua solu  tersebut dipahat langsung di  dalam hutan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari jalan desa. Setelah selesai solu dilangsir dengan tangan oleh 333 orang keturunan Simatupang menuju jalan desa di Dusun Tordolok Nauli, sebelum dibawa ke Muara yang berjarak 85 kilometer. Disebutkan pula, pembuatan solu bolon ini merupakan hasil musyawarah keturunan Raja Simatupang yang ingin melestarikan situs-situs budaya Raja Simatupang sekaligus sebagai pengingat  nenek moyangnya yang berpindah dari Muara ke Sarulla.

“Juru kunci” rumah solu bolon yang menerima kami menambahkan informasi supranatural. Kata dia, keberadaan kayu Meranti di tengah hutan itu diketahui melalui mimpi  seorang keturunan Raja Simatupang yang tinggal di Jakarta. Namanya Jauhari.  Berdasarkan informasi dari mimpi itu, Jauhari membimbing tim pencari menemukan pohon Meranti yang letaknya jauh di dalam hutan. Kejadian ini dianggap mengherankan lantaran Jauhari tak pernah masuk ke dalam hutan itu sebelumnya.

Ongkos pembuatan solu ini tentu tidak murah. Selain harus mengerahkan puluhan tukang pahat ke tengah hutan, keturunan Raja Simatupang juga harus membangun jalan sementara untuk membawa solu hingga mencapai jalan desa. Belum lagi biaya untuk menyambut solu dan membuat acara adat di Muara. Saat ini, solu bolon disimpan di dalam sebuah rumah kayu di tepi Danau Toba. Tapi, nantinya, solu akan ditempatkan di dua dermaga khusus dari beton yang sedang dibangun, tak jauh dari lokasinya sekarang.

Meski letaknya di pelosok, jangan bayangkan Muara sebagai kota terpencil. Dalam perjalanan pendek dari lokasi solu bolon ke monumen Raja Pamoto, kami melihat sudah ada dua unit hotel baru yang cukup bagus, kira-kira kaliber bintang dua. Maklum, Muara sekarang sudah jadi tempat tujuan wisata lokal. Kenapa monumen Raja Pamoto penting? Karena, dari sanalah nama lengkap saya berasal: Efri Nirwan Pamoto Ritonga.

Ceritanya dulu, di tahun 1960-an, ketika tugu ini diresmikan, almarhum opung saya yang mengaku sebagai tentara “belek-belek” itu ikut menghadiri acara peresmian tugu Raja Pamoto. Sejak itu, ia bertekad menyisipkan nama Pamoto di nama cucunya. Sebagai cucu pertama, saya lah yang menjadi  “korbannya.”

Tugu Raja Pamoto Siregar.

Tugu Raja Pamoto Siregar.

Siapa Raja Pamoto ini  dan di mana istananya? Raja Pamoto Siregar alias Silali adalah anak Siregar.  Tapi,  setelah hijrah ke Tapanuli Selatan, keturunannya yang bernama Parisang-isang Sohorbangun “mendirikan” marga sendiri yakni Ritonga. Lantas, di mana istananya? Gak ada. Di Batak itu raja banyak, tapi istananya tak ada. Karena raja itu adalah panggilan untuk tokoh masyarakat. Jadi, jangankan istana, abdi dalemnya saja gak ada. Tugu ini sekarang diurus oleh keluarga Siregar yang tinggal di sekitar tugu. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan inang yang tinggal di belakang, sambil bermain gitar, kami pun pamit.

IMG_7282

Rumah Inang.

IMG_7297

***

 

Early Real Count Pilpres 2014 KPU

Saya gak mau kalah dengan lembaga survei apalagi timses capres!  Setelah bekerja keras, hari ini akhirnya saya berhasil merampungkan real count pilpres 2014..hohoho.  Sumbernya dari situs web KPU dan pengumuman KPUD. Sebagian besar sudah terverifikasi, tinggal beberapa provinsi yang belum. Untuk rekapitulasi tingkat provinsi, hanya Provinsi Maluku yang masih menghitung suara untuk dua kabupaten, yaitu Buru Selatan dan Seram Bagian Timur.  Selebihnya sudah menyelesaikan rekapitulasi.

Dan, hasilnya:

Prabowo-Hatta : 62.576.444  (46,85%)
Jokowi-JK : 70.997.859 (53,15%)
Total suara:  133.574.303

Kalau pun ada perubahan, tidak akan banyak lagi. Boleh diadu dengan situs http://www.kawalpemilu.org, siapa yang lebih pas dengan hasil final KPU 🙂   Selamat bertugas Jokowi-JK, bulan madu dengan media massa pun berakhir sampai di sini. Selanjutnya, kami akan kembali menjadi “anjing galak” bagi Anda berdua. Hati-hati melangkah!

rekap

Festival Kopi Sipirok 2014

festival kopi sipirok
Tidak selamanya nama dicatut itu bikin hati gak enak. Buktinya baru-baru ini nama saya tiba-tiba muncul di susunan kepengurusan panitia Festival Kopi Sipirok 2014 sebagai anggota Seksi Hubungan Media.  Tapi, saya gak marah tuh, senang malah…hehe…  Tugas pertama saya adalah mempublikasikan rencana penyelenggaraan festival kepada khalayak ramai. Pertama-tama, saya publikasikan di blog dulu deh.

Tanggal pelaksanaan
30 Juli- 3 Agustus 2014

Lokasi
Alun-alun (alaman bolak), Sipirok*, Tapanuli Selatan

Rangkaian kegiatan
-Pertunjukan musik Sipirok Voice dan grup musik lokal
-Opera Batak /Sitilhang
-Tortor, Sitogol, Ungut-ungut, dan Dikkir
-Kopi Luwak Day
-Traditional Brewing
-Modern Brewing dan Latte Art
-Pemilihan Putra/ Putri Kopi Sipirok
-Lokakarya budi daya kopi unggulan
-Malam minum kopi bersama perantau (penciptaan rekor minum kopi luwak).  Penciptaan rekor MURI dalam hal menyeduh dan minum kopi luwak liar Sipirok ini rencananya akan diramaikan oleh 3.500 orang peserta pada 2 Agustus 2014.

Peserta 
Kopi Pinabar, Karya Serasi, Angkola Kopi Sipirok, Sipirock Coffee (Penggagas), Kopi Raja, penggiat kuliner dan oleh-oleh khas Sipirok.

*Sipirok adalah kota kecil di jajaran Bukit Barisan yang terhampar di Lembah Sibualbuali, di ketinggian 800-1900 mdpl. Di awal pengembangannya pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Tapanuli. Kota Sipirok saat ini sebagai ibu kota kecamatan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Jumlah penduduk Kecamatan Sipirok sesuai dengan sensus penduduk tahun 2012 adalah 30.775 jiwa.

Salah satu sumber penghasilan masyarakat Sipirok adalah KOPI, yang telah dikembangkan sejak tahun 1.700-an. Umumnya adalah jenis kopi Robusta, Liberika dan sedikit Arabika. Belakangan ini banyak dibudidayakan kopi Arabika yang bibitnya diperoleh/dibawa dari Aceh Tenggara (kopi Ateng), yang lebih populer dengan sebutan kopi Sibayar Utang.

Kopi Arabika Sipirok berciri khas fruity, full body, rendah asam, dan gurih. Di masa lalu, bahkan digadang-gadang sebagai “the world’s finest unwashed arabica”. Dalam buku ‘All About Coffee’ William H. Ukers (New York, 1922) mendeskripsikan kopi Sipirok (Angkola) sebagai berikut:

“Formerly a Government coffee; large fat bean, making a dull roast; second only to Mandhelings; it has a heavy body and rich, musty flavor.” 
Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kopi Sipirok merupakan kopi premium dan seharusnya memiliki harga tinggi di pasar internasional.

Dari segi demografi, kebanyakan masyarakat Sipirok hidup dari pertanian/perkebunan. Namun ironisnya sawah/ kebun yang dimiliki tidak layak secara skala ekonomi baik dari luas maupun jenis tanamannya. Oleh karena itu, masih perlu difasilitasi dan didukung agar para petani dapat mengembangkan potensi geografisnya yaitu dengan menanam tanaman kopi unggulan, dengan
minimal yang layak secara skala ekonomi. Oleh karena itu, promosi dan pemasaran kopi Sipirok perlu terus menerus digalakkan. Salah satu caranya melalui  acara tahunan : Festival Kopi Sipirok. ***