Melawat ke Jantung Legenda Batak

Dalam setiap legenda, kata seorang penulis, betapapun musykilnya, terdapat butir-butir kebenaran. Dan legenda Si Raja Batak berawal dari Gunung Pusuk Buhit dan bermula di Sianjur Mula-mula. Disemangati oleh cerita itu, saya pun meluncur ke kaki Gunung Pusuk Buhit, di Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir pada Lebaran lalu. Tempat inilah, yang menurut legenda, merupakan tempat mendaratnya Si Raja Batak dari langit.  Menikah dengan perempuan bumi di tempatnya turun, Si Raja Batak  kemudian menjadi leluhur orang Batak sedunia.

Desa yang pertama kali dibangun Si Raja Batak setelah turun ke bumi adalah Sianjur Mula-mula.  Desa ini terletak persis di kaki Pusuk Buhit (1.982 meter di atas permukaan laut). Gunung ini merupakan satu-satunya anak Gunung Toba purba yang tidak ikut meletus pada 17.000 tahun lalu, ketika terjadi letusan dahsyat yang membentuk Danau Toba. Jejak-jejak peninggalan leluhur Batak konon banyak terpendam di sana.

Berangkat dari Medan, ada dua pilihan rute yang bisa ditempuh untuk menuju Sianjur Mula-mula. Rute pertama adalah melalui jalur Kota Parapat.  Awalnya, kita mengendarai mobil ke Parapat sejauh 3-4 jam perjalanan.  Sesampainya di Parapat, kita menumpang kapal feri menuju Desa Tomok,  di Pulau Samosir  sekitar 1 jam perjalanan. 

Dari Tomok, perjalanan dilanjutkan sekitar 1,5 -2 jam lagi ke Sianjur Mula-mula melalui Kota Pangururan, Ibu Kota Kabupaten Samosir. Sehingga total waktunya bisa menempuh 7 jam perjalanan.

Saya tidak memilih rute pertama ini karena pertimbangan waktu tempuh yang sangat panjang, belum lagi kalau ditambah waktu tunggu feri yang bisa mencapai dua jam.  Lagipula Tomok sudah saya kenal sejak masih kecil. Tapi, bagi wisatawan yang belum pernah ke Tomok, saya sarankan melalui rute pertama ini. Selain karena menjual banyak cinderamata, Tomok dan sekitarnya juga menyimpan banyak situs bersejarah seperti makam Raja Sidabutar yang terbuat dari batu-batu berukuran raksasa dan matu kursi Parsidangan Siallagan. Belum lagi dalam perjalanan menuju Pangururan, akan banyak bersisian dengan objek wisata menarik seperti Museum Simanindo dan Hutabolon, pantai Batu Hoda, pantai Parbaba, dan pantai Indah Situngkir.

Adapun saya, menjatuhkan pilihan pada rute kedua, yaitu melewati Kota Brastagi, Kabanjahe, Taman Wisata Iman, Tele, hingga ke Sianjur Mula-mula. Rute ini relatif lebih sepi pemukiman penduduk dan lalu lintas kendaraan. Kami bertolak pagi dari Medan. Namun karena terhadang insiden mesin overheating, lepas Magrib kami baru tiba di Kota Pangururan untuk bermalam. Kalau dari arah Medan, kita terlebih dulu melewati Sianjur Mula-mula, baru mendapati Pangururan. Untuk catatan, meskipun berada dalam satu kabupaten, Kota Pangururan terletak di Pulau Samosir, sementara Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera.

Tersebab tidak ada anggota rombongan yang pernah ke Sianjur Mula-mula atau Pangururan, kami mengandalkan Google Map sebagai pemandu jalan. Piranti pintar itu terbukti akurat. Tapi, catatan dari saya, saat melalui Jalan Sidikalang-Medan, Google Map mengarahkan pengguna untuk melalui jalan pintas yang tidak bisa saya temukan. Kemungkinan terbesar, jalan yang disarankan oleh perusahaan Sergey Brin ini adalah jalan setapak yang tidak bisa dilintasi mobil, sehingga tidak terlihat. Akhirnya, kami meneruskan perjalanan ke arah Taman Wisata Iman, baru kemudian berbelok ke kiri memasuki Jalan Dolok Sanggul-Sidikalang menuju Jalan Tele-Pangururan.

Sempatkan singgah sebentar di daerah Tele. Di sana disediakan menara pandang setinggi tiga lantai. Dari atasnya kita bisa menyaksikan pemandangan cantik kaldera kawah Danau Toba yang terbentuk dari letusan Gunung Toba purba. Angin berembus kencang dan suhu udara dingin di sana. Sebaiknya bawa jaket supaya kegiatan memandang menjadi lebih leluasa.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Pemandangan kaldera Gunung Toba dari atas menara pandang Tele.

Sampai di titik tujuan yang ditunjukkan Google Map,  hari mulai gelap. Karena tidak menemukan petunjuk arah ke Sianjur Mula-mula ataupun Pusuk Buhit, kami pun menepikan mobil untuk bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan melintas. 

“Permisi Bu, mau tanya, jalan ke Sianjur Mula-mula lewat mana ya?” “OO..DI SINI LAH INI KECAMATAN SIANJUR MULA-MULA. ININYA TEMPATNYA, WILAYAHNYA.” 
(Seisi mobil kaget dengan volume suara Si Inang)
“Kalau mau ke Pusuk Buhit di mana jalan masuknya?”
 “PUSUK BUHIT?  ITU GUNUNGNYA (menujuk). BANYAK ORANG MENDAKI KE SANA. ADA AIR UNTUK AWET MUDA DI PUNCAKNYA.”
 Lega lantaran mengetahui berada di tempat yang benar,  dan juga demi kesehatan gendang telinga, kami pun mohon pamit kepada Si Inang. MAULIATE INANG !.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Jembatan penghubung Pulau Sumatera-Pulau Samosir.

Karena hari sudah menjelang malam, kami memutuskan meneruskan perjalanan ke Kota Pangururan yang berjarak sekitar 20 kilometer ke depan. Atas rekomendasi seorang teman, kami bermalam di Hotel P di tepi Pantai Situngkir. Hotel ini adalah hotel baru, berkelas melati dengan tarif Rp 350 ribu per malam, tanpa AC, tanpa  restoran, dengan bau saluran air yang menguar hingga ke kamar kami di lantai dua. Hotel yang tidak direkomendasikan untuk disinggahi, namun lantaran sudah terlanjur masuk, tak mungkin pulak kami pergi lagi,  terpaksalah kami menginap di sana.

***

Pagi harinya, setelah membeli kaos yang harganya terjangkau dari penjaja suvenir di dekat hotel dan merenung di tepi Pantai Situngkir yang berpasir putih, kami berangkat menuju Sianjur Mula-mula.  Saya ingatkan lagi, Sianjur Mula-mula terletak di Pulau Sumatera, sedangkan Pangururan adanya di Pulau Samosir. Antara kedua  pulau ini dipisahkan oleh kanal berair dangkal selebar kira-kira 20-30 meter, dan dihubungkan dengan jembatan.

Jarak Pangururan – Sianjur Mula-mula sekitar 20 kilometer. Sepanjang perjalanan, tampak pemandangan yang sebelumnya disembunyikan oleh malam. Deretan rumah tradisional Batak berderet rapi di tepi jalan. Rumah panggung beratap tanduk kerbau  seluruhnya terbuat dari kayu, tanpa pagar, tanpa pembatas antar rumah. Anak-anak bercengkrama  di tangga rumah yang jumlahnya ganjil atau bermain di halaman yang temaram oleh pepohonan.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

Pantai Indah Situngkir, Samosir.

 

Rumah penduduk.

Rumah penduduk.

Jalan menuju Pusuk Buhit sudah cukup lebar dan mulus. Tapi, karena ketika kami mampir ke sana kebetulan berbarengan dengan pesta penduduk setempat yang menutup seluruh badan jalan, jadilah perjalanan kami dialihkan ke jalan desa yang kondisinya semi-offroad. Untunglah kami menumpang mobil MPV. Karena sedan dan sejenisnya pasti akan kesulitan melewati jalan desa ini.

Di tengah perjalanan menuju Pusuk Buhit, terdapat posko untuk pendaftaran pendakian. Pagi itu sudah sekitar pukul 9.30, tapi posko masih tutup. Setelah bertanya kepada orang-orang yang nongkrong di warung kopi, barulah penjaga posko hadir. Kami berbincang-bincang dengan pak penjaga. Beliau menjelaskan dengan singkat dan padat mengenai objek wisata di sekitar Pusuk Buhit. Soal pendakian, dia tidak menyarankan dilakukan saat ini,  karena sudah terlalu siang. Sementara pendakian harus dilakukan dengan berjalan kaki dan butuh waktu sekitar 2-3 jam untuk mencapai puncak gunung. 

Tapi, dia menjelaskan, meski tak sempat mendaki, masih banyak artefak bersejarah di kawasan Sianjur Mula-mula yang bisa dijangkau dengan mobil. Kami sepakat. Toh tujuan hari itu memang bukan pendakian, melainkan hanya sekadar menapakkan kaki di kaki Pusuk Buhit. Daripada bingung tak tentu arah, supaya lebih efisien, kami boyong saja pak penjaga posko sebagai pemandu jalan.

 

Posko pendakian.

Posko pendakian.

Kantor Desa Sianjur Mula-mula.

Kantor Kepala Desa Sianjur Mula-mula.

Naik sedikit ke punggu Pusuk Buhit, terdapat artefak Batu Hobon yang berwujud tumpukan batu berbentuk meja. Batu Hobon ini konon dipakai oleh Si Raja Batak dan keturunannya untuk bermusyawarah. Legenda menyebutkan, di dalam rongga Batu Hobon ini Si Raja Batak menyimpan harta kekayaannya. Cerita lain mengisahkan, batu ini ditumpuk oleh orang-orang terdahulu untuk menutupi lubang magma. Pusuk Buhit memang tergolong gunung api aktif, namun dikategorikan sebagai gunung api kelas C yang tidak mungkin meletus. Konon, tentara Jepang di masa pendudukannya pernah hendak membongkar batu tersebut dengan menembakinya, karena diduga di dalamnya banyak disimpan emas perhiasan.   Tapi ajaib, batu tebal itu bergeming, tak lecet sedikitpun. Dan tak berapa lama berselang, datanglah hujan lebat disertai angin kencang nan dingin, begitu dinginnya sampai-sampai si orang Jepang yang menembak batu tadi tewas kedinginan. Di belakang situs Batu Hobon didirikan patung raksasa cucu Raja Batak bernama Ompui Tuan Sariburaja, anak dari Guru Tetea Bulan.

 

 

 

Situs Batu Hobon.

Situs Batu Hobon.

 

Patung Ompu Saribu Raja.

Patung Ompui Tuan Saribu Raja.

Selesai dari Batu Hobon, naik sedikit lagi ke Desa Sianjur Mula-mula (namanya memang sama dengan nama kecamatannya) kita bisa menyaksikan replika  rumah bolon atau rumah adat Batak yang ditempati Raja Batak dan keluarganya. Mungkin ada yang bertanya, selain rumah, apakah Raja Batak punya istana?  Jawabannya, tidak. Dalam kultur Batak, sebutan raja tidak mengacu kepada seorang penguasa wilayah, melainkan sebagai panggilan kepada orang yang dituakan atau dihormati di kampungnya. Kebiasaan itu masih berlaku sampai sekarang.  Makanya ada guyonan, di Batak rajanya banyak, tapi tidak ada istana. Teringat ketika saya pesta pernikahan dulu, butuh waktu dua jam untuk mendengarkan sambutan dan petuah dari sekian banyak raja kampung.

 

Replika rumah bolon.

 

Replika rumah bolon.

Replika rumah bolon.

Di depan rumah bolon dibangun tiruan gua tempat Raja Batak bertapa. Konon, kata orang-orang, ketika tentara Jepang menyerbu, gua Raja Batak yang asli menjadi tempat perlindungan penduduk satu kampung. Kejadian ini mengejutkan sebab secara kasat mata, gua tersebut hanya mampu menampung tiga orang. “Bagi orang yang memiliki mata batin, bisa kelihatan gua ini luas sekali di dalamnya,” kata pak penjaga. Sayangnya, keberadaan gua bersejarah itu kini tidak diketahui lagi letak persisnya. Kembali dari lokasi replika rumah bolon sempatkan  berhenti sejenak di sebuah pertigaan. Lihat ke bawah untuk menyaksikan hamparan hijau Desa Sagala. Desa ini adalah salah satu desa yang pertama kali dibangun oleh leluhur Batak. Nama Sagala diambil dari nama anak Guru Tatea Bulan. Selain Desa Sagala, desa tua lainnya adalah Desa Limbong, yang terletak di sisi lain Pusuk Buhit.

Desa Sagala.

Desa Sagala.

Tempat wisata lain yang sudah disiapkan pemerintah adalah Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan, anak Si Raja Batak. Rumah ini  seperti museum terbuka dengan patung-patung yang kasar buatannya. Jajaran patung-patung itu menggambarkan semua anak dan cucu Si Raja Batak. Satu patung dengan cerita yang paling menggelitik adalah patung seorang perempuan berkemben putih, berambut panjang, yang dalam posisi seperti hendak terbang. Beliau adalah Si Biding Laut, satu dari enam putri Guru Tatea Bulan. Selain enam putri, Tatea Bulan juga memiliki lima orang putra. Legendanya, Si Biding Laut ini adalah putri yang paling cantik di antara putri Tatea Bulan lainnya (dari sini saja sudah bisa ditebak jalan ceritanya).

Putri-putri Tatea lainnya yang iri dengan kecantikan Biding Laut mengajak berjalan-jalan lalu meninggalkan di sebuah pulau. Pertolongan datang, Biding Laut ditemukan oleh pedagang, dibawa ke Tanah Jawa dan menikah dengan raja di sana. Tapi, kesialan Biding belum usai, dia dituduh berselingkuh, dan dibuang ke tengah laut. Tapi tak tahu bagaimana ceritanya (pikiran mulai gak fokus) dia selamat dan dibawa berlayar menuju Sumatera.  Di tengah perjalanan, kapalnya dihantam ombak dan tenggelam. Namun, entah karena kesaktian atau ketulusan hatinya  (makin gak fokus), Biding tidak mati, melainkan menjelma menjadi makhluk halus penjaga Pantai Selatan. Sahabat-sahabat saya yang baik hatinya…Biding Laut telah menjadi Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul. Tidak percaya? Baca cerita lengkapnya di Internet, banyak. 

Tak seberapa jauh dari Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan masih ada objek wisata kultural lainnya, yakni Perkampungan Si Raja Batak di Sigulatti. Kampung ini dipercaya sebagai kampung pertama yang didirikan oleh Raja Batak. Namun, karena hari sudah siang, dan kami harus segera berangkat, kampung ini terpaksa dilewatkan.  Masih di Kecamatan Sianjur Mula-mula, juga terdapat air mancur tujuh sumber di Desa Aek Sipitu Dai. Air yang berasal dari tujuh kanal itu dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit.

Patung Si Biding Laut.

Patung Si Biding Laut.

 

Rumah Parsaktian Tatea Bulan.

Rumah Parsaktian Guru Tatea Bulan.

Siang kian meninggi, menghindari malam di jalan, kami bergegas meninggalkan lokasi yang menawan ini. Meninggalkan tempat berawalnya bangsa Batak, dengan berbagai legendanya, yang dibuat dengan melebih-lebihkan cerita sebenarnya,  bukan dengan maksud buruk, melainkan untuk mengabadikan kisah-kisah di masa lampau kepada anak-cucu.  Soal mana di antara legenda itu yang benar, tak perlulah disaring dan terlalu dipikirkan, cukup dinikmati sebagai karya budaya para leluhur. 

Sebelum tulisan wisata ini menjadi semakin filosofis dan bikin ngantuk, saya sudahi sajalah. Wassalam.

PS: Dalam perjalanan pergi atau pulang, coba singgah sejenak untuk makan siang di Rumah Makan Yaya Barona, di Kecamatan Tiga Panah, Karo. Ikan nilanya enak.

****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s