Selamat Ulang Tahun ke-50 Teknik Metalurgi dan Material UI

Metal 95, Ditempa Kerasnya Reformasi

Setelah terbang 1.900 kilometer dari Kota Medan, ditambah dua jam mengantre untuk mendaftar ulang sebagai mahasiswa baru Jurusan Teknik Metalurgi FTUI angkatan 1995, rasanya paling enak merebahkan badan barang sejenak di tempat tidur Asrama UI Depok yang nyaman. Aku beruntung, karena menjadi mahasiwa angkatan pertama yang menempati Asrama UI Depok.

Pikiranku sedang melayang membayangkan mata kuliah dasar yang berat—kalkulus, aljabar, fisika, dan kimia, ketika tiba-tiba Budi Sudarta menggedor-gedor pintu kamarku, mengajak bermain bola. Budi –sekarang jadi manajer pabrik Mandom, ini juga mahasiswa Metal 95 yang hijrah dari Bekasi. Selain dia, rombongan Metal 95 lainnya yang tinggal di Asrama UI adalah Iwan Sopyan yang datang dari Sumedang, Donald Syaiful dari Padang, dan Pelik Teguh yang merasa sudah merantau hanya karena rumahnya di Tanjung Priok.

“Iya, tunggu sebentar,” aku balik berteriak.  Dan sejak saat itu, hari-hariku pun bergulir bersama para sahabat dan ruang perkuliahan Jurusan Metalurgi.

Tahun-tahun selanjutnya, perkuliahan berjalan lancar bagiku dan 102 orang mahasiswa Metal 95 lainnya. Kecuali ada beberapa orang yang pindah kampus atau terkena dropout, semua berjalan normal hingga memasuki tahun 1998. Bara reformasi yang sudah menyala sejak krisis moneter setahun sebelumnya, mulai membakar.

Ketika itu, kami sudah memasuki tahun ketiga di kampus. Tahun yang matang sebagai seorang aktivis. Sebagian dari kami, termasuk aku, telah mengisi posisi-posisi penting di organisasi kemahasiswaan. Masa perkuliahan yang tadinya datar-datar saja, mulai terasa ‘menarik’. Konsentrasi kami terpecah antara kampus dan jalanan. Namun, ketika ekonomi makin buruk dan keadaan di luar makin kisruh, pada akhirnya kami lebih banyak di jalan.

“Orde Baru harus tumbang. Rakyat Indonesia harus diberi kesempatan mengukir sejarahnya sendiri.” Pikiran kami dipenuhi retorika heroik kala itu. Gas air mata dan pentungan polisi menjadi teman baru yang tiba-tiba akrab. Kuliah sejenak tersisihkan. Sampai akhirnya, penguasa tumbang dan Indonesia memasuki era reformasi. Kami pun kembali kampus untuk menyelesaikan kewajiban.

Kecuali sang legenda Rizal Nangoy yang menyelesaikan kuliahnya dalam tempo 3 tahun, saat itu beberapa mahasiswa Metal 95 mulai memasuki masa kerja praktek dan penyusunan skripsi. Sebagian dari kami menyelesaikan perkuliahan tepat waktu di tahun 1999. Selebihnya meninggalkan kampus pada periode 2000-2001.

Lepas dari kampus, mencari pekerjaan menjadi kegiatan sehari-hari yang menantang. Maklum saja, setelah pertumbuhan ekonomi jatuh ke angka minus 13,1 persen pada tahun 1998, jalannya ekonomi masih tersendat-sendat. Pada tahun 2001 ekonomi cuma bisa tumbuh 3,5 persen. Selanjutnya, bagai gurita, perlahan-lahan kami menyebar di industri otomotif, minyak dan gas, asuransi, perbankan, atau pendidikan. Aku sendiri kini masih berasyik-masyuk di dunia jurnalistik.

Tak usah ditertawakan, karena kami toh sering tertawa sendiri menyaksikan begitu besarnya ‘penyimpangan profesi’ yang kami lakukan. “Sayang dong ilmu Metalurginya,” Adiyatmika yang kini bekerja sebagai analis pasar di Singapura sering menyindir. Untungnya, kami berhasil mewakafkan salah seorang teman kami sebagai pengajar di Departemen Metalurgi dan Material, yaitu Dr. Deni ‘Gogon’ Ferdian. Alhamdulillah. Gogon ini adalah temanku, sesama pengulang Fisika Mekanika, dulu.  Bukan cuma sekali mengulag, tapi berkali-kali. Tidak disangka dia bisa menjadi doktor di bidang solidifikasi aluminium sekarang.

Puji Tuhan juga, beberapa dari kami telah menjadi pengusaha, salah satunya bernama Heri ‘Pati’ Kristiyono yang berkibar dengan bendera perusahaan manufaktur PT Indosateki. Ada yang menduga nama Indosateki dipungut dari bahasa Jepang, ada juga yang mengira kependekan dari Indonesia Sate Kelinci, karena sebelum mendirikan pabrik logam, si Patboy ini –kependekan dari Pati Boy, terlebih dulu membuat usaha rumah makan sate kelinci.

Kedua dugaan itu salah. Karena menurut yang empunya perusahaan, Indosateki adalah kependekan dari Indonesia Satu Tekad Kita. Nama yang pas, karena tidak hanya menggambarkan tekad Heri untuk memberi yang terbaik bagi Negeri, tapi juga menggambarkan tekad Metal 95 untuk terus berkarya di bidangnya masing-masing. Pada akhirnya, profesi kami memang tak sama, tapi semangat kami tetap satu: bersama-sama membangun republik ini. Karena kami adalah para metalurgis yang ditempa oleh reformasi. Selamat ulang tahun yang ke-20 Metalurgi 1995, dan selamat ulang tahun yang ke-50 Departemen Teknik Metalurgi dan Material FTUI.

50 thn 1

50 thn 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s