Korupsi yang Memiskinkan

Aksi solidaritas civitas akademika dan alumnus berbagai kampus untuk mendukung KPK, Rabu, 18 Februari 2015.

Aksi solidaritas civitas akademika dan alumnus berbagai kampus untuk mendukung KPK, Rabu, 18 Februari 2015.

Ada tiga tipe orang yang tidak peduli dengan isu antikorupsi. Pertama, orang yang mendapat manfaat tidak langsung dari korupsi. Kedua, orang yang sudah merasa nyaman dengan tingkat perekonomiannya,  sehingga tumpul kepeduliannya terhadap lingkungan. Dan ketiga, berkebalikan dengan tipe yang kedua, adalah orang yang masih dipusingkan dengan kesejahteraannya, sehingga merasa tidak ada waktu untuk hal-hal absurd seperti korupsi.

Padahal, kalau dipikir lebih dalam  korupsi  tergolong perbuatan maksiat yang dampaknya, menurut ajaran agama, bukan hanya  mendatangkan musibah bagi  pelakunya (dengan catatan kalau tertangkap dan dihukum), tapi juga warga senegara. Mungkin bukan kita yang  merasakan langsung dampaknya, tapi bisa jadi anak-cucu kita kelak, atau keponakan, atau om, atau tante, atau siapalah…orang-orang terdekat kita.  Kemiskinan, kriminalitas, dan kerusakan lingkungan tidak pandang bulu. Tidak cuma merusak pelakunya, tapi juga orang baik-baik, yang tidak berbuat.

Bicara data, saya membandingkan antara Indeks Persepsi Korupsi (IPK) 2014 yang  dibuat oleh Transparency International dengan tingkat perekonomian atau pendapatan satu negara. Secara umum, negara dengan IPK baik mempunyai tingkat kesejahteraan yang baik. Pendapatan per kapita warga negaranya (disesuaikan dengan purchasing power parity) minimal US$ 37 ribu (Rp 462,5 juta) per tahun.  Sebaliknya, negara dengan IPK jeblok, jeblok pula kinerja ekonominya. Indonesia misalnya, dengan peringkat 107 dunia hanya mempunyai PDB/kapita US$ 9.254 (Rp 115,6 juta) per tahun.

Kalau ditanya, bagaimana dengan Cina? Dengan IPK di peringkat 100, negara itu merupakan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia.  Ada catatan untuk Cina. Pertama, produktivitas negara ini memang sangat tinggi, ditambah jumlah penduduk yang besar. Sehingga, dugaan saya, produktivitas yang baik sanggup mengkompensasi perilaku korupsi di sana…untuk saat ini. Kedua,  negara ini negara otoriter, yang baik-buruknya pemerintahan sangat  bergantung pada kekuatan pemimpinnya.

Ketiga, pendapatan per kapita warga Cina ternyata tidak tinggi-tinggi amat, sekitar US$ 11.525 per tahun. Masih jauh di bawah negara dengan perekonomian terbesar di dunia yakni Amerika Serikat yang memiliki PDB/kapita sebesar US$ 51.451. Itu baru indikator ‘kering’ berupa pendapatan. Belum lagi kalau kita bicara indeks kesehatan, pendidikan, pelayanan publik, dll. Saya yakin, hasilnya tidak jauh berbeda. Jadi, masih alergi bicara korupsi?

**

Perbandingan antara IPK dan PDB/kapita 

10 IPK terbaik dunia

1.Denmark (US$ 41.524)
2.Selandia Baru (US$ 32.768)
3.Finlandia (US$ 37.347)
4.Swedia (US$ 42.155)
5.Norwegia (US$ 62.448)
5.Swiss (US$ 51.749)
7.Singapura (US$ 76.237)
8.Belanda (US$ 41.980)
9.Luxemburg (US$ 86.442)
10.Kanada (US$ 37.520)

5 IPK terburuk dunia
171.Sudah Selatan (US$ 2.256)
172.Afganistan (US$ 1.926)
173.Sudan (US$ 3.545)
174.Korea Utara (-)
175.Somalia (US$ 547)

Asia-Pasifik
11.Australia (US$ 37.493)
15.Jepang (US$ 37.433)
17.Hong Kong (US$ 51.509)
43.Korea Selatan (US$ 32.708)
50.Malaysia (US$ 22.556)
85.India (US$ 5.238)
85.Filipina (US$ 6.325)
85.Thailand (US$ 13.932)
100.Cina (US$ 11.525)
107.Indonesia (US$ 9.254)
119.Vietnam (US$ 5.125)
156.Myanmar (US$ 1.325)

Sumber: Transparency.org, Tradingeconomics.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s