Lari: Rekreasi, Olahraga, atau Kompetisi?

Dari tahun ke tahun, makin banyak aja perusahaan/komunitas  yang jadi sponsor  challenge lari. Ada yang menawarkan lomba banyak-banyakan kilometer (most kilometer) dalam waktu tertentu.  Ada yang menawarkan challenge siapa yang lebih dulu berhasil mencapai kilometer tertentu dalam setahun, misalkan 2.015 kilometer sepanjang 2015. Ada juga yang menawarkan challenge perolehan kalori teranyak (most calorie) dalam rentang waktu tertentu.

Gue juga tahun lalu pernah ikut challenge kategori most kilometer. Siapa yang meraih kilometer terbanyak dalam 2,5 bulan akan menjadi pemenangnya.  Gue masuk peringkat 10 besar  kelompok pelari master. Kelompok lainnya  adalah pelari rutin dan pelari baru. Walau namanya pelari master, sebenarnya sih biasa aja. Gue gak master juga, gak hebat-hebat amat larinya. Cuma modal ngotot :)) Ya, buat senang-senang saja, kalau tidak mau dibilang ketularan tren ikut challenge.

Tapi, setelah capeknya hilang dan gue pikir-pikir lagi, challenge seperti ini sebenarnya sudah melenceng dari tujuan utama berolahraga yakni sehat.  Coba pikir, selama 2,5 bulan lebih; peserta harus lari sebanyak-banyaknya. Pagi, sore, siang, malam…tak peduli apakah malam sebelumnya dia habis begadang misalnya, paginya harus disempatkan lari. Meleng sedikit, pasti akan langsung tergeser dari posisi 10/20  besar.

Padahal kan, teori dasar olahraga adalah kesimbangan antara latihan/aktivitas fisik, istirahat/pemulihan, dan nutrisi. Kenyataannya, gue saja yang cuma peringkat kedelapan rata-rata berlari 11,12 kilometer per hari. Bahwa ternyata para peserta mampu melewati challenge ini dengan selamat walafiat,  ya alhamdulillah.  Berarti fisik pesertanya kuat-kuat.

Persoalannya, bagaimana kalau peserta lomba orang yang tidak terlatih atau punya penyakit? Challenge seperti ini justru bisa mendatangkan efek negatif. Namun, bukan berarti gue menolak kegiatan kayak begini.  Namanya pelari, pasti ada yang pengen tantangan lebih atau mencari unsur rekreasional supaya gak bosen. Namun, yang perlu diingatkan itu adalah supaya penyelenggaranya memberikan informasi yang cukup kepada peserta.

Contohnya, sebelum perlombaan peserta diberi pemahaman, bahwa ini adalah kompetisi yang condong ke arah rekreasional. Jadi yang ditonjolkan bukanlah perlombaannya melainkan rekreasinya. Berikutnya,  peserta diberi pelatihan atau informasi mengenai dasar-dasar olahraga, teknik berlari yang benar, cara menjaga kondisi badan di tengah kompetisi yang ketat, tips untuk mengetahui ciri-ciri kelelahan pada tubuh, dan sebagainya. Peserta juga harus diimbau supaya bisa menakar kemampuan tubuhnya, sehingga tahu kapan harus berhenti.

Tidak cukup sampai di situ, selama challenge berlangsung, peserta juga harus terus-menerus dipantau dan dipandu, terutama kalau kegiatannya berlangsung panjang. Peserta yang umumnya masyarakat awam jangan dilepas begitu saja.  Tanpa ada upaya mendidik para sobat runners, gue khawatir kegiatan lari semacam ini hanya akan jadi strategi pemasaran para sponsornya.  Semoga tidak.  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s