Menjawab Jokowi Hater

Sekali-kalinya tulisan gue di koran dapat komentar lewat email, isinya gak keruan. Email pertama mengkritik tulisan tentang kejatuhan nilai tukar rupiah. Kata dia, tulisan tersebut tidak berimbang. Judul asli beritanya, “Tembus 12.600, Pelemahan Rupiah Tidak Wajar.”  Menurut dia, kenapa gak dibikin dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar Karena Kebijakan Jokowi”? Loh, gimana sih, maksud si narsum, gak wajarnya itu karena sudah ada pemerintahan baru, sudah ada kenaikan harga BBM, kok masih melemah. Pasti ada faktor lain dari internal atau eksternal, gitu lho.

Lagi pula, ada hubungan apa kebijakan Jokowi dengan rupiah? Kalau yang dimaksud si pembaca adalah kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, juga tidak terlalu kuat korelasinya. Apalagi konsensus mayoritas ekonom, kenaikan harga BBM justru menyehatkan APBN dan mendorong infrastruktur dalam jangka panjang. Gue makin gak senang dengan tuduhan dia kalo Tempo mendukung salah satu kelompok. Kelompok yang mane maksudnye…? Mendukung Jokowi? Yaelah…udah lama banget kalee, zaman pilpres, udah 200 tahun yang lalu.

Ada lagi yang keliru, kalaupun dipandang mendukung, redaksi gak pernah tuh mendukung kelompok a.k.a partai. Apa urusannya? Gak pernah ada konsesi, imbalan, atau minimal balas jasa aja deh, mana ada. Gak percaya? Gue undang datang ke kantor kami di Velbak…tempat kami menerima semua presiden dan calon presiden. Ruang rapat di lantai 1 masih beradablah, karena pencitraan untuk tamu. Tapi coba ke lantai 2 dan 3…o mak jang… Masak yang begitu masih dituduh juga?? Ck..ck..

Kebijakan Jokowi juga gak selalu lurus kok. Coba baca penelusuran Koran Tempo/Majalah Tempo tentang kasak-kusuk Surya Paloh mengegolkan Sonangol, keterlibatan tim kampanye Jokowi dalam penjualan perusahaan menara Telkom (Mitratel), atau kecaman keras Tempo waktu Jokowi menunjuk jaksa agung dari Nasdem. Malah, waktu kabinet Jokowi diumumkan, cover Koran Tempo juga memandangnya dengan sebelah mata. Kelihatan kan, udah gak maen lagi dukung-mendukung hari gini. Kalo salah, ya salah saja, kita sikat bareng-bareng. Tapi, kalo bener ya dibilang bener, jangan disalah-salahin.

Soal bias penulis, mungkin ada, dikit. Manusiawilah…Tapi selalu bisa diredam lewat rapat redaksi yang dihadiri banyak kepala. Terus terang, gue pilih Jokowi dulu, tapi setelah itu ya sudah, biasa saja. Gak jadi Jokowi lover juga (dari dulu juga gak). Masalahnya, yang hater ini lho yang provokasi tiap hari, sisa-sisa laskar pilpres. Dalil-dalilnya udah gak waras lagi, pokoknya semua yang dikerjakan pemerintah salah. Pokoke Jokowi harus turun. Bener-bener gak nalar.

Bikin kesal kan, wajar dong, wartawan juga manusia. Bisa dongkol juga. Orang lama-lama diprovokasi jadi kehilangan kesabaran.  Ya, gimana gak, menjelang mini krisis ekonomi begini malah tepuk tangan, nyukurin Presiden, “Itu tuh, presiden yang lu pilih dulu.” “BBM naik, rakyat menjerit, rupiah ambruk, gara-gara bangsa ini salah pilih presiden.” Bukannya bahu-membahu. Mental macam apa kayak begitu?

Pembaca itu juga menuduh redaksi membela KIH dan menjatuhkan KMP. Bah! Ini makin jauh aja angan-angannya. KIH? KMP? Emang gue pikirin?  Kenal juga kagak. Gue pada dasarnya apolitik, memantau politik sekadar kewajiban pekerjaan doang. Alergi gue dengan politik. Mules tiap membahas politik. Makanya gue gak cocok di desk nasional. Nah, sekarang malah dibilang membela KIH, ya gak nyambung, brow.

Akhirnya, dari soal rupiah melenceng ke mana-mana. Soalnya, gue merasa, kalo begini terus ya gak bisa maju-maju. Ibarat angkot, sopirnya udah mau narik, penumpang kagak penuh-penuh, ya gak jadi jalan. Sudahi deh..cape, kontra produktif, dan gak dewasa. Apalagi kalo orang luar (negeri) ngeliat, norak kesannya. Dah ah.

Email 1
“Wawancara dong itu pengamat-pengamat ekonomi yag bbrp waktu lalu saat rupiah sedikit menguat dikatan “efek Jokowi”. Mengapa Koran Tempo tidak membuat headline dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar karena Kebijakan Jokowi”. Tempo boleh mendukung salah satu kelompok ttp harus fair dalam pemberitaan.”

Email 2
“saya sangat kecewa dengan cara penulisan dan berita Tempo yang terlalu membela KIH dan ada kecenderungan menjatuhkan KMP. Maukah dan beranikah tempo membuat headline “Rupiah Terpuruk karena Kegagalan Kebijakan Jokowi? Waktu rupiah sedikit jatuh beberapa waktu lalu disebut karena kekisruhan DPR akibat ulah KMP.
Editorial Koran Tempo hari ini kurang enak dibaca – rupiah jatuh malah yang disalahkan adalah krn berita di website TheRichest dan BI, membela Jokowi??? “

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s