Gimana Sih, Cara Menaksir Harga Pasar BBM?

Harga minyak, lagi-lagi jadi gunjingan. Soalnya, tak lama setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan, harga minyak dunia terus anjlok. Titik terendah dicapai pada Jumat pekan lalu. Dalam satu hari, harga minyak  West Texas Intermediate/WTI yang jadi acuan minyak Amerika Serikat  anjlok 10,17 persen menjadi US$ 66, 15 per barel dan harga minyak Brent yang jadi acuan di Eropa turun 3,35 persen menjadi US$ 70,15 per barel.

Penurunan harga  minyak internasional ini tentu berpengaruh pada pasar spot minyak di Singapura, yang dikelola oleh anak usaha Mc Graw Hill. Harga Mid Oil Platts Singapore/Mean of Platts Singapore (MOPS) yang biasanya lebih mahal US$ 15 dari harga internasional diperkirakan ikut turun ke posisi US$ 81-85 per barel. Jika tren penurunan ini stabil, maka tak lama lagi Premium akan setara dengan harga pasar.

Mengetahui harga MOPS ini penting, karena hingga saat ini Indonesia masih menggunakan MOPS sebagai patokan. Banyak analis yang mengatakan, rezim MOPS harus segera direvisi. Karena sebetulnya, naik dan turunnya MOPS justru dipengaruhi oleh impor minyak Indonesia, yang mencapai 800 ribu barel per hari. Di saat kita impor, MOPS naik, dan membebani anggaran negara.

Pertamina didesak supaya mencari pasokan tetap dari negara-negara produsen minyak, dengan kontrak jangka panjang, ketimbang mencari minyak di pasar spot dengan kontrak jangka pendek. Tapi, kata Pertamina, format kerja sama jangka panjang ini sulit didapat. Pasalnya, produsen/trader minyak umumnya menyukai kontrak spot demi memaksimalkan keuntungan. Alasannya lain, membeli minyak di pasar internasional lebih menjamin keamanan pasokan.

Di sini, mau tak mau MOPS jadi penting, karena merupakan variabel dalam formula penghitungan harga dasar BBM bersubsidi. Rumusannya adalah harga beli (MOPS), ditambah biaya distribusi, bagian keuntungan (margin) untuk Pertamina, dan pajak pertambahan nilai serta pajak bahan bakar kendaraan bermotor.  Konon, ada tambahan biaya-biaya lain yang dibebankan oleh Pertamina di dalam komponen harga BBM.

Variabel lain yang juga harus diperhitungan, menurut  Pertamina,  adalah jenis kilang, jenis minyak yang diimpor, dan jenis campurannya (blending). Sehingga, secara umum didapatkan formula penghitungan harga dasar BBM bersubsidi berupa:

Harga dasar BBM: MOPS + Alpha + Pajak

Sehingga dengan asumsi
-Harga pasar minyak mentah: US$ 70 per barel
-MOPS: US$ 85 per barel
-1 barel= 159 liter
-Kurs rupiah: 12.200 per dolar AS
-Alpha (margin dan ongkos distribusi): Rp 734,2 per liter (ketentuan dari Pertamina)
-Pajak: total 15 persen x (MOPS + alpha)

Diperolehlah harga pasar Premium saat ini sekitar :  Rp 8.344 per liter

Barangkali ada yang mengkritik rumusannya terlalu sederhana dan tidak akurat, justru kata saya, formula yang berkaitan dengan kepentingan rakyat ini harus dibuat sederhana dan transparan. Tanpa berpretensi membuat sesuatu yang  mudah menjadi sulit dipahami, dan akhirnya membuat dunia migas seolah-olah hanya bisa dipahami oleh segelintir orang.  Ini tugas manajemen baru Pertamina dan SKK Migas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s