Penampakan ‘Rumah’ Baru Tempo

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/ff0/51374024/files/2014/12/img_0753.png
Searah jarum jam:
1.Tampak depan (dari arah Jalan Palmerah Utara)
2.Balkon lantai 5
3.Ruang redaksi di lantai 3 dan 4
4.Pemandangan dari balkon
5.Ruang kerja non-redaksi

photo temprintSearah jarum jam:
1.Pintu menuju balkon
2.Lift (akhirnya punya lift)
3.Ruang redaksi
4.Bolongan untuk jam raksasa
5.Bagian lobi
6.Pemandangan ke arah Jalan Palmerah
7.Ruang rapat besar

Advertisements

Menjawab Jokowi Hater

Sekali-kalinya tulisan gue di koran dapat komentar lewat email, isinya gak keruan. Email pertama mengkritik tulisan tentang kejatuhan nilai tukar rupiah. Kata dia, tulisan tersebut tidak berimbang. Judul asli beritanya, “Tembus 12.600, Pelemahan Rupiah Tidak Wajar.”  Menurut dia, kenapa gak dibikin dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar Karena Kebijakan Jokowi”? Loh, gimana sih, maksud si narsum, gak wajarnya itu karena sudah ada pemerintahan baru, sudah ada kenaikan harga BBM, kok masih melemah. Pasti ada faktor lain dari internal atau eksternal, gitu lho.

Lagi pula, ada hubungan apa kebijakan Jokowi dengan rupiah? Kalau yang dimaksud si pembaca adalah kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi, juga tidak terlalu kuat korelasinya. Apalagi konsensus mayoritas ekonom, kenaikan harga BBM justru menyehatkan APBN dan mendorong infrastruktur dalam jangka panjang. Gue makin gak senang dengan tuduhan dia kalo Tempo mendukung salah satu kelompok. Kelompok yang mane maksudnye…? Mendukung Jokowi? Yaelah…udah lama banget kalee, zaman pilpres, udah 200 tahun yang lalu.

Ada lagi yang keliru, kalaupun dipandang mendukung, redaksi gak pernah tuh mendukung kelompok a.k.a partai. Apa urusannya? Gak pernah ada konsesi, imbalan, atau minimal balas jasa aja deh, mana ada. Gak percaya? Gue undang datang ke kantor kami di Velbak…tempat kami menerima semua presiden dan calon presiden. Ruang rapat di lantai 1 masih beradablah, karena pencitraan untuk tamu. Tapi coba ke lantai 2 dan 3…o mak jang… Masak yang begitu masih dituduh juga?? Ck..ck..

Kebijakan Jokowi juga gak selalu lurus kok. Coba baca penelusuran Koran Tempo/Majalah Tempo tentang kasak-kusuk Surya Paloh mengegolkan Sonangol, keterlibatan tim kampanye Jokowi dalam penjualan perusahaan menara Telkom (Mitratel), atau kecaman keras Tempo waktu Jokowi menunjuk jaksa agung dari Nasdem. Malah, waktu kabinet Jokowi diumumkan, cover Koran Tempo juga memandangnya dengan sebelah mata. Kelihatan kan, udah gak maen lagi dukung-mendukung hari gini. Kalo salah, ya salah saja, kita sikat bareng-bareng. Tapi, kalo bener ya dibilang bener, jangan disalah-salahin.

Soal bias penulis, mungkin ada, dikit. Manusiawilah…Tapi selalu bisa diredam lewat rapat redaksi yang dihadiri banyak kepala. Terus terang, gue pilih Jokowi dulu, tapi setelah itu ya sudah, biasa saja. Gak jadi Jokowi lover juga (dari dulu juga gak). Masalahnya, yang hater ini lho yang provokasi tiap hari, sisa-sisa laskar pilpres. Dalil-dalilnya udah gak waras lagi, pokoknya semua yang dikerjakan pemerintah salah. Pokoke Jokowi harus turun. Bener-bener gak nalar.

Bikin kesal kan, wajar dong, wartawan juga manusia. Bisa dongkol juga. Orang lama-lama diprovokasi jadi kehilangan kesabaran.  Ya, gimana gak, menjelang mini krisis ekonomi begini malah tepuk tangan, nyukurin Presiden, “Itu tuh, presiden yang lu pilih dulu.” “BBM naik, rakyat menjerit, rupiah ambruk, gara-gara bangsa ini salah pilih presiden.” Bukannya bahu-membahu. Mental macam apa kayak begitu?

Pembaca itu juga menuduh redaksi membela KIH dan menjatuhkan KMP. Bah! Ini makin jauh aja angan-angannya. KIH? KMP? Emang gue pikirin?  Kenal juga kagak. Gue pada dasarnya apolitik, memantau politik sekadar kewajiban pekerjaan doang. Alergi gue dengan politik. Mules tiap membahas politik. Makanya gue gak cocok di desk nasional. Nah, sekarang malah dibilang membela KIH, ya gak nyambung, brow.

Akhirnya, dari soal rupiah melenceng ke mana-mana. Soalnya, gue merasa, kalo begini terus ya gak bisa maju-maju. Ibarat angkot, sopirnya udah mau narik, penumpang kagak penuh-penuh, ya gak jadi jalan. Sudahi deh..cape, kontra produktif, dan gak dewasa. Apalagi kalo orang luar (negeri) ngeliat, norak kesannya. Dah ah.

Email 1
“Wawancara dong itu pengamat-pengamat ekonomi yag bbrp waktu lalu saat rupiah sedikit menguat dikatan “efek Jokowi”. Mengapa Koran Tempo tidak membuat headline dengan judul “Pelemahan Rupiah Tidak Wajar karena Kebijakan Jokowi”. Tempo boleh mendukung salah satu kelompok ttp harus fair dalam pemberitaan.”

Email 2
“saya sangat kecewa dengan cara penulisan dan berita Tempo yang terlalu membela KIH dan ada kecenderungan menjatuhkan KMP. Maukah dan beranikah tempo membuat headline “Rupiah Terpuruk karena Kegagalan Kebijakan Jokowi? Waktu rupiah sedikit jatuh beberapa waktu lalu disebut karena kekisruhan DPR akibat ulah KMP.
Editorial Koran Tempo hari ini kurang enak dibaca – rupiah jatuh malah yang disalahkan adalah krn berita di website TheRichest dan BI, membela Jokowi??? “

***

Mendadak Jadi Personal Trainer

Tiba-tiba saya didapuk jadi personal trainer. Awalnya dari perbincangan di grup Whats App alumnus kampus,   beberapa teman menanyakan ihwal program penurunan berat badan. Saya pun ditodong untuk berbagi tips penurunan berat badan. Tentu saja saya menolak. Karena saya jelas tidak punya kualifikasi untuk bicara tentang kebugaran. Bisa salah nanti. Tapi, setelah dipikir-pikir, kalau sekadar berbagai pengalaman pribadi, tidak ada salahnya.

Prinsip penurunan berat badan sederhana, tapi sulit diimplementasikan. Prinsipnya adalah mengurangi asupan  dan memperbanyak pengeluaran. Artinya, kurangi makan dan perbanyak aktivitas fisik.  Kondisi khusus terjadi pada sebagian orang-orang yang beruntung memiliki metabolisme tubuh yang baik. Dengan aktivitas fisik yang normal, mereka bisa membakar kalori lebih banyak daripada orang lain.

Program yang saya susun berikut ini didasarkan pada pengalaman pribadi dan prinsip dasar latihan olahraga.
Setiap olahraga harus dimulai dengan persiapan atau pemanasan. Begitu pula program ini yang disusun mengacu pada standar kemampuan fisik olahraga untuk pemula.

Program persiapan diperlukan supaya tubuh sanggup menelan  latihan inti yang lebih berat. Sebab, kalau tidak dilakukan secara bertahap, tubuh yang mulai menurun kemampuan fisiknya akan kerepotan menerima beban fisik yang lebih dari biasanya. Selain itu, tujuan akhirnya bukanlah berhenti berolahraga  setelah berat badan tercapai, melainkan membiasakan gaya hidup sehat di hari-hari berikutnya.

Bulan I (persiapan)
Pekan I-II 

Hari I : Lari 3-5 km
Hari II: Latihan beban 15 menit
Hari III: Istirahat
Hari IV: Lari 3-5 km
Hari V: Latihan beban 15 menit
Hari VI: Istirahat
Hari VII: Istirahat

Pekan  III-IV
Hari I : Lari 5-8 km
Hari II: Latihan beban 30 menit
Hari III: Istirahat
Hari IV: Lari 5-8 km
Hari V: Latihan beban 30 menit
Hari VI: Istirahat
Hari VII: Istirahat

Bulan II (inti 1):
Hari I : Lari 8-10 km
Hari II: Istirahat
Hari III: Lari 8-10 km
Hari IV: Latihan beban 15 menit
Hari V: Lari 8-10 km
Hari VI: Latihan beban 15 menit
Hari VII: Istirahat

Jika sanggup melalui program di bulan kedua dengan lancar, bisa melanjutkan ke tahapan terakhir, dengan menambah jarak lari. Tapi, jika bulan kedua masih terasa berat, sebaiknya porsi latihan tidak ditambah, cukup  meneruskan program  latihan bulan kedua pada bulan-bulan berikutnya,  hingga target tercapai. Setelah target tercapai, untuk menjaga kebugaran, program bisa diturunkan ke tingkat yang Anda rasa paling nyaman.

Bulan III (inti 2):
Hari I : Lari 8-10 km
Hari II: Latihan beban 30 menit
Hari III: Lari 8-10 km
Hari IV: Latihan beban 30 menit
Hari V: Istirahat
Hari VI: Lari 10-15 km
Hari VII: Istirahat

Meskipun jenis latihan aerobik yang tercantum hanya lari, dalam prakteknya bisa dikombinasi dengan latihan aerobik lainnya seperti berjalan, bersepeda, dan berenang, atau olahraga permainan seperti futsal dan bulu tangkis. Tapi, ritme hariannya tetap seperti yang tertera di dalam program. Karena, olahraga yang benar adalah yang teratur dan terukur. Begitu pula ihwal latihan beban, tidak selamanya harus mengangkat barbel, melainkan bisa ditempuh dengan melakukan push-up, sit-up, pull-up, atau squat-jump,   yang intinya menjadi bobot badan sendiri sebagai beban.  Satu lagi, seperti yang biasa disampaikan personal trainer beneran, sebelum menjalankan program ini, Anda disarankan berkonsultasi dengan dokter dan mempelajari teknik lari/latihan beban yang benar, agar terhindar dari cedera. Selamat mencoba. ***

Gimana Sih, Cara Menaksir Harga Pasar BBM?

Harga minyak, lagi-lagi jadi gunjingan. Soalnya, tak lama setelah harga BBM bersubsidi dinaikkan, harga minyak dunia terus anjlok. Titik terendah dicapai pada Jumat pekan lalu. Dalam satu hari, harga minyak  West Texas Intermediate/WTI yang jadi acuan minyak Amerika Serikat  anjlok 10,17 persen menjadi US$ 66, 15 per barel dan harga minyak Brent yang jadi acuan di Eropa turun 3,35 persen menjadi US$ 70,15 per barel.

Penurunan harga  minyak internasional ini tentu berpengaruh pada pasar spot minyak di Singapura, yang dikelola oleh anak usaha Mc Graw Hill. Harga Mid Oil Platts Singapore/Mean of Platts Singapore (MOPS) yang biasanya lebih mahal US$ 15 dari harga internasional diperkirakan ikut turun ke posisi US$ 81-85 per barel. Jika tren penurunan ini stabil, maka tak lama lagi Premium akan setara dengan harga pasar.

Mengetahui harga MOPS ini penting, karena hingga saat ini Indonesia masih menggunakan MOPS sebagai patokan. Banyak analis yang mengatakan, rezim MOPS harus segera direvisi. Karena sebetulnya, naik dan turunnya MOPS justru dipengaruhi oleh impor minyak Indonesia, yang mencapai 800 ribu barel per hari. Di saat kita impor, MOPS naik, dan membebani anggaran negara.

Pertamina didesak supaya mencari pasokan tetap dari negara-negara produsen minyak, dengan kontrak jangka panjang, ketimbang mencari minyak di pasar spot dengan kontrak jangka pendek. Tapi, kata Pertamina, format kerja sama jangka panjang ini sulit didapat. Pasalnya, produsen/trader minyak umumnya menyukai kontrak spot demi memaksimalkan keuntungan. Alasannya lain, membeli minyak di pasar internasional lebih menjamin keamanan pasokan.

Di sini, mau tak mau MOPS jadi penting, karena merupakan variabel dalam formula penghitungan harga dasar BBM bersubsidi. Rumusannya adalah harga beli (MOPS), ditambah biaya distribusi, bagian keuntungan (margin) untuk Pertamina, dan pajak pertambahan nilai serta pajak bahan bakar kendaraan bermotor.  Konon, ada tambahan biaya-biaya lain yang dibebankan oleh Pertamina di dalam komponen harga BBM.

Variabel lain yang juga harus diperhitungan, menurut  Pertamina,  adalah jenis kilang, jenis minyak yang diimpor, dan jenis campurannya (blending). Sehingga, secara umum didapatkan formula penghitungan harga dasar BBM bersubsidi berupa:

Harga dasar BBM: MOPS + Alpha + Pajak

Sehingga dengan asumsi
-Harga pasar minyak mentah: US$ 70 per barel
-MOPS: US$ 85 per barel
-1 barel= 159 liter
-Kurs rupiah: 12.200 per dolar AS
-Alpha (margin dan ongkos distribusi): Rp 734,2 per liter (ketentuan dari Pertamina)
-Pajak: total 15 persen x (MOPS + alpha)

Diperolehlah harga pasar Premium saat ini sekitar :  Rp 8.344 per liter

Barangkali ada yang mengkritik rumusannya terlalu sederhana dan tidak akurat, justru kata saya, formula yang berkaitan dengan kepentingan rakyat ini harus dibuat sederhana dan transparan. Tanpa berpretensi membuat sesuatu yang  mudah menjadi sulit dipahami, dan akhirnya membuat dunia migas seolah-olah hanya bisa dipahami oleh segelintir orang.  Ini tugas manajemen baru Pertamina dan SKK Migas.