Senandung Sunyi Alam Sipirok (Kota kecil dengan segudang potensi wisata)

Naskah: Andry Triyanto
Tulisan ini dikutip dari Majalah Travelounge edisi Oktober 2014. Travelounge adalah majalah wisata kelompok Tempo Media.

Matahari selalu muncul dan tenggelam terlambat di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saat pagi, cahaya mentari selalu kalah dari kabut yang lebih dulu merangkak turun dari bukit memayungi kota penghasil kopi ini. Pada 30 Juli-3 Agustus lalu pun telah digelar Festival Kopi Sipirok. Dengan hawa yang cenderung dingin dan alamnya yang asri, kota ini memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang luar biasa. Namun sayang, pesonanya belum mampu menggoda turis. Inilah nyanyian indah alam Sipirok.

Hari pertama: Jakata-Sipirok
Perjalanan saya dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Kualanamu yang memakan waktu sekitar 2 jam masih harus dilanjutkan dengan penerbangan ke Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah, sekitar 35 menit. Perjalanan pun harus dilanjutkan melalui jalur darat sekitar 3 jam menuju Sipirok.

Sebenarnya ada alternatif. Setelah tiba di Bandara Internasional Kualanamu, bisa mengambil penerbangan ke Bandara Aek Godang di Padangsidimpuan. Perjalanan melalui darat ke Sipirok dapat ditempuh hanya sekitar 1 jam. Relatif lebih singkat. Sesampainya di Hotel Tor Sibohi Nauli—satu-satunya hotel di sini—sore sudah menyambut. Bila ingin hotel yang lebih baik, pilihannya bisa ditemukan di Padang Sidempuan.

Hari Kedua: Masjid, Gereja, dan Kuburan Tua
Pada hari ini, saya diajak mengunjungi gereja tertua di Desa Parau Sorat. Tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap, hanya sekitar 7 kilometer. Menurut cerita Ardi Yunus Siregar—rekan yang mengantar saya—Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) ini merupakan gereja pertama yang dibangun Dr Ingwer Ludwig Nommensen pada zaman Belanda.

Konon, Belanda mengenal Sipirok sebagai daerah pertama di Provinsi Sumatera Utara. Beberapa ratus meter berdiri menjulang monumen GKPA yang dibangun guna mengenang perjalanan Nommensen. Saya juga diantar menuju Masjid Sri Alam Dunia di Desa Bagas Nagodang. Masjid dengan enam menara kubah itu memiliki lima pintu masuk. Jumlah pintu itu kabarnya menandakan warga yang ada di sekitar saat pembangunan. Sri Alam Dunia juga masih mempertahankan tradisi membunyikan gong setiap menjelang waktu salat tiba.

Dibangun pada 1926, Masjid Sri Alam Dunia menjadi simbol dari perlawanan atas penjajahan Belanda. Namun pertentangan antara pengelola Masjid Sri Alam Dunia dan Belanda tidak melibatkan masalah agama. Pertentangan antar-agama tidak pernah terjadi di kawasan ini.

Keberadaan gereja dan masjid tertua ini mengingatkan saya pada penuturan tokoh Sipirok, Ayub Suleman Pulungan. “Kerukunan beragama di Sipirok berjalan baik sekali. Meski berbeda agama, warga Sipirok guyub satu sama lain,” katanya.

Selain masjid dan gereja tua, ada pula makam tua di Desa Bunga Bondar. Nisan-nisannya unik dengan batu-batu berukir. Sayangnya, makam kuno ini tak terawat. Tak ada petunjuk yang jelas mengenai keberadaannya. Menurut cerita warga, inilah makam Ja Ulubalang Siregar—cucu Raja Dongaran Siregar, salah seorang hulubalang raja yang melakukan perlawanan keras terhadap Belanda.

Hari Ketiga: Danau Marsabut dan Aek Milas
Selesai sarapan, saya bersiap menuju Danau Marsabut di Desa Bunga Bondar. Marsabut berasal dari kata markabut yang berarti berkabut. Danau di tengah hutan ini selalu ditutupi kabut. Ada legenda menarik di sini. Dikisahkan, dewa murka akibat raja yang mengadakan pesta lalai mengundang seorang janda tua yang hidup sebatang kara. Di tengah kesendiriannya, sang janda mendengarkan alunan musik tor-tor. Dia lantas menari bersama kucing peliharaannya. Dewa marah karena tor-tor amat sakral. Dewa murka dan mengirimkan bencana berupa hujan terus-menerus, sehingga desa tenggelam dan menjadi danau.

Danau itu, sempat diresmikan sebagai obyek wisata oleh mantan Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar. Namun sepeninggal beliau, kondisinya tidak lagi terawat. Akses menuju danau, yang dulunya beraspal, sekarang tertutupi tanaman liar. Saya yang ditemani seorang warga Bunga Bondar, Yahya Siregar, terpaksa trekking selama 2,5 jam menuju Marsabut. Bagi Anda yang ingin mencapai lokasi ini, saya sarankan sebaiknya menggunakan jasa pemandu.

Sesampai di danau, keletihan terasa lenyap. Air danau begitu tenang. Angin berembus sejuk. Bukit di sekelilingnya masih asri. Beberapa gazebo yang sempat dibangun, kini rusak dan ditutupi semak belukar. Asyiknya berlama-lama di sini, tapi saya ingin mampir ke pemandian air panas. Masyarakat setempat menyebutnya aek milas. Ada tiga aek milas: Sosopan, Parandolok, dan Parau Sorat. Aek Milas Sosopan tidak jauh dari pusat kota. Berada di tengah persawahan, atau tepat di belakang masjid. Saat saya berkunjung, banyak wisatawan lokal yang berendam di sana.

Wisata Sipirok sejatinya sangat potensial untuk dikembangkan. Hanya obyek wisata alam dan sejarahnya butuh pengelolaan serta penataan. Marfel Sidabutar, pemandu wisata yang saya temui di hotel, mengaku para agen perjalanan wisata tk pernah membawa turis ke Sipirok. “Selama ini Sipirok hanya dijadikan kota transit wisatawan asing sebelum menuju Bukit Tinggi, Sumatera Barat,” ujar dia. Sungguh sayang! ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s