ITO SUMARDI, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar: Myanmar Ingin Balas Jasa ke Indonesia

DSC_7359 BARU delapan bulan bertugas di Myanmar, pengetahuan Ito Sumardi terhadap Negeri Seribu Pagoda berkembang cepat, terlebih soal ekonomi. Dalam perbincangan dengan saya dan teman dari Jakarta Post, di kantor Kedutaan Besar Indonesia yang bersahaja di pusat Kota Yangon pada akhir Agustus lalu, ia memaparkan dengan detail ihwal potensi ekonomi dan investasi di negara yang baru belajar berdemokrasi ini.

Posisi sebagai Ketua ASEAN 2014 menempatkan negara ini di dalam sorotan. Semua level pertemuan ASEAN berlangsung di Nay Pyi Taw, ibu kota baru Myanmar. Kesempatan ini dimanfaatkan pemerintah Myanmar untuk memperkenalkan potensi ekonomi negaranya.

Melihat potensi dan tekad pemerintahnya untuk berkembang, Myanmar suatu bisa menjadi negara dengan perekonomian besar di ASEAN. Berikut kutipan perbincangan saya dengan mantan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri pengganti Susno Duadji ini:

**

Bagaimana potensi ekonomi dan investasi di Myanmar?

Indonesia sudah membantu sepenuhnya Myanmar dari sisi politik. Satu-satunya negara ASEAN yang bertahan agar Myanmar tetap di ASEAN kan kita. Kita ditekan. Indonesia sangat diharapkan pemerintah Myanmar untuk membalas jasa. Myanmar sudah mulai membuka diri. Sayangnya, kita kurang memanfaatkan potensi Myanmar. Mereka punya sumber kekayaan alam, biaya buruh sangat murah, hanya US$ 40-60 per bulan. Penduduknya 61 juta jiwa.

Myanmar ini berkembang menuju demokrasi. Sehingga yang dikhawatirkan investor adalah kepastian hukum, tidak bisa instan. Di sini harus siap, harus siapkan infrastruktur, sehinggga harus bangun dulu. Ini yang dilakukan Cina dan Singapura. Nay Pyi Taw yang membangun Cina. Kompensasinya, mereka mendapat saluran pipa gas di bawah laut. Di sini juga rata-rata produknya Cina.

Mereka pengen memberikan kesempatan kepada Indonesia, apa yang mau diinvestasikan di sini. Kadin datang, tapi tidak ada follow up-nya sehingga mereka kecewa. Mereka kan butuh uang, karena embargo ekonomi sudah dibuka, embargo senjata saja yang belum.

Strategi berbisnis di Myanmar?
Di sini jangan main kualitas dulu, karena daya beli masyarakatnya belum mendukung. Kalau mau usaha, usahalah yang sesuai dengan daya beli masyarakat di sini, yang sifatnya massal.

Kalau peluang yang paling besar di bidang mineral. Tapi berani tidak kita membuat infrastrukturnya? Ibaratnya rugi dulu dua tahun. Sistem di sini, tanah sebagian besar punya negara. Jadi tidak akan kita temukan lagi menambang tahu-tahu dipagari masyarakat.

Kita menyewa tanah 70,80, atau 90 tahun, masa dalam masa itu tidak BEP (balik modal). Itu yang harus dipelajari oleh calon investor. Bahkan Pak James Riyadi (bos Lippo) juga tidak tahu peluang dan kendala di sini. Kendala juga bisa jadi peluang kalau kita tahu.

Apa kendala berbisnis di Myanmar?DSC_7311
Banyak orang tidak sadar peran Kedubes itu signifikan. Ada yang mencoba B to B. Tapi, manakala ingkar janji, diputus sepihak, kita tidak bisa apa-apa. Tapi kalau B to B diangkat ke G to G kan kita bisa membawa ke arbitrase. Di sini banyak yang menawarkan bisnis, tahu-tahu dia kasih ke orang lain.

Telkom misalnya, gagal karena pendekatan yang keliru. Dia kalah dengan perusahaan telekomunikasi Norwegia yang di negara asalnya, biasa saja, nothing banget, kecil. Telkom yang sedemikian besar bisa kalah. Sekarang sudah ada renegosiasi. Pakai orang lokal, tidak melibatkan perwakilannya.

Di sini KKN masih kuat, dia akan cari orang lokal yang berpengaruh. Makanya manfaatkan perwakilan kita. Kami akan kasih informasi, kalau mau menang harus begini. Dulu ada kejadian kurang mengenakkan dengan Sampoerna, sudah investasi banyak, ada sesuatu hal yang mungkin kurang pas, akhirnya disita semua. Rugi banyak.

Kedutaan harus dilibatkan. Kita akan selidiki kredibilitas mitra lokal, kendala administrasi. Pendekatannya kepada seseorang di sini yang tidak pas. Akhirnya yang masuk ke sini Jepang. Mereka akan bangun jalur kereta dari Yangon ke Nay Pyi Taw.

Perusahaan kita yang paling berhasil di Myanmar adalah Japfa Comfeed. Mereka sudah membangun pabrik makanan terbesar di Myanmar, lebih besar dari di Thailand. Sebanyak 40 persen ayam di Myanmar dipasok dari Japfa.

Kendala lain?
Infrastruktur listrik jangan berharap deh. Pokoknya setiap bikin proyek di sini harus punya diesel sendiri. Termasuk di sini sehari mati berapa kali. Kendala bisa jadi peluang, kita jualan pembangkit listrik. Kita mau teken kontrak pembangunan pembangkit listrik batu bara 300 MW, dengan batu bara dari indonesia.

Siapa lagi yang masuk ke sini?
Lippo mau masuk ke sini, mau bangun rumah sakit modern. Di ini untuk kesehatan masih Malaysia, Bangkok, atau Singapura minded. Dalam waktu dekat juga akan ada kerja sama dengan pengusaha yang menguasai supermarket, akan membangun hypermarket.

Investor Indonesia juga akan masuk di bidang pembangkit listrik, bekerja sama dengan Asia World, perusahaan terbesar di sini. Dia yang pegang semua bandara di Yangon, Nay Pyi Taw, pelabuhan, Hotel Horizon. Kita akan bekerja sama dalam waktu dekat untuk gas dan minyak. Di sini baru ada PT Guna Nusa dari Indonesia.

Tadi saya mengantar perusahaan dari Indonesia yang pada bulan September mendatang sudah mulai membangun gedung kantor dan apartemen, 18 lantai. Yang akan membangun adalah Wijaya Karya, 100 persen.

Semen Indonesia mau masuk juga, saya sudah ketemu mitra lokal yang kuat. Akan saya bawa ke jakarta untuk membicarakan kerja sama. Di sini murah. Tidak ada kompetitior kecuali thailand. Pemerintah di sini yang penting investasi bisa masuk untuk menyerap tenaga kerja. Upah tenaga kerjanya juga murah. Pekerja level expert saja gajinya US$ 100, tapi biaya hidupnya juga kecil.

Mereka di sini kepengen Indomie. Saingannya ada dari Korea, Thailand, tapi mereka maunya Indomie. Saya minta ke Pak Anthony Salim 300 karton, saya kirim ke stakeholder, nanti kita cari peluang untuk masuk di sini. Diplomasi Indomie. Di sini ada belum pengusaha air mineral. Peluang itu, karena dalam waktu tertentu selama 4 bulan cuacanya ekstrem, bisa 42 -45 derajat.

Ada persoalan perburuhan?
Di sini serikat pekerja tidak boleh ada. Pemerintah Myanmar tidak begitu saja menerima proses reformasi. Mereka melihat dampak negatifnya, sehingga dia pagari dengan undang-undang. DPR di sini separuhnya dari fraksi tentara. Sampai kapan pun tidak mungkin konstitusi diubah.

<<Myanmar saat ini dipimpin oleh Presiden U Thein Sien yang merupakan presiden pemerintahan sipil pertama Republik Uni Myanmar. Ia menjabat sejak 30 Maret 2011. Dan sejak itu pula, Myanmar mulai melakukan berbagai kebijakan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Khusus di bidang ekonomi, reformasi dilakukan dengan pendekatan kebijakan fiskal dan moneter, dan reformasi pelayanan perbankan.

Tak hanya itu, berdasarkan data dari Kedutaan Besar Indonesia di Yangoon, Myanmar melakukan pula pengembangan industri, pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas kelembagaan, pengurangan tarif bea masuk, dan menetapkan standarisasi dan kelonggaran aturan dagang.

Semua perkembangan positif itu mendapat pengakuan dari komunitas internasional, yang antara lain ditunjukkan dengan dikuranginya sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia bagi negara berpenduduk 61 juta jiwa ini.

Nilai perdagangan Indonesia-Myanmar juga terus meningkat. Sepanjang April 2013-Maret 2014 Myanmar mengimpor barang dari Indonesia senilai US$ 438,82 juta (tahun 2012 US$ 195,23 juta). Sedangkan ekspor Myanmar ke Indonesia sebesar US$ 60,04 juta (tahun 2012 US$ 31,54 juta).

Komoditas ekspor Indonesia ke Myanmar antara lain minyak sawit, peralatan industri, besi-baja, farmasi, barang elektronik, plastik, karet, kertas, dan suku cadang kendaraan bermotor. Sedangkan impor dari Myanmar meliputi sumber daya mineral, kacang-kacangan, jati, matpe hitam, dan tepung maizena>>


Kondisi keamanan?

Di sini aman. Orangnya sangat ramah. Dan di sini muslimnya hampir 100 persen, lihat di jalan semua orang pakai sarung. Ke kantor pakai sarung juga, pakai sandal. Sepatu gak laku di sini. Pejabat dan rakyat sama, bedanya hanya bahannya. Sarung di sini yang paling laku sarung Indonesia, kalau dagang, bawa Cap Gajah Duduk, 100 saja, dua hari habis. Sarung di sini yang kelasnya Rp 40 ribu-an, dipakai seminggu sudah robek. Kalau yang Rp 100 ribu-an bagus.

Kerja sama militer?
Saya juga mau jualan panser Anoa, senjata, kapal, baju seragam tentara buatan Sritex. PT DI, Pindad, PAL, dan Sritex akan rapat dengan Kemenhan. Pemerintah Myanmar akan belajar pengamanan Pemilu 2015, mereka mau beli peralatan dari Pindad.

Kendalanya di sini masih diembargo oleh AS dan Eropa. Sementara CN 295 kita yang mau dibeli Myanmar, 2 mesinnya dari Boeing dan peralatannya dari Spanyol. Anoa mesinnya dari Renault. Saya beri solusi, kenapa tidak skema sewa-pakai. Sewa, barangnya punya indonesia. Mereka merasa oke. Di dalam klausul embargo juga tidak ada klausul menyewa.

Dari sisi kebudayaan dan pariwisata, peluang apa yang bisa digarap?
Gubernur Sumsel Alex Noerdin menyumbang 500 kain selendang yang kita kasih sebagai suvenir pada waktu resepsi diplomatik. Senang sekali mereka. Saya harapkan gubernur-gubernur, kepala daerah, ayo dong jual negara kita. Maksudnya, promosikan negara kita. Misalkan Raja Ampat, budaya Papua dipromosikan, sembari mengundang.

Saya sedang berusaha dengan Menteri Kultur Myanmar, kita ingin bikin sister city.
Di sini ada Kota Bagan yang memiliki 4.000 pagoda, kota yang sangat eksotis. Tidak cukup tiga hari berkunjung ke sana, rasanya gak bosen-bosen, paling tidak lima hari. Warisannya dijaga dengan sangat baik. Mereka bisa menjadikannya sebagai tempat wisata.

Saya sangat ingin mengawinkan Bagan dengan Yogyakara menjadi sister city, sehingga ada penerbangan langsung dari sini ke Yogya. Saya sudah bicara dengan pemerintah untuk memfasilitasi. Masalah ekonomi otomatis akan berkembang. Agamanya sama (dengan Borobudur), Budha.

Borobudur dianggap oleh orang sini sebagai Mekkah-nya agama Budha. Di sini ada Pagoda Shwedagon, indah sekali kalau malam. Seperti (Masjid Nabawi) Madinah. Bedanya pagoda denagn kuil, pagoda itu solid, dalamnya tidak ada isi. Kuil itu dalamnya berongga. Uppatasanti (di Nay Pyi Taw) itu kuil, Shwedagon itu pagoda. Emasnya 72 ton, berliannya dan batu berharga 1.500 karat.

Ibu kota baru, Nay Pyi Taw, megah tapi tak ada kegiatan…
Kalau tidak ada acara di Nay Pyi Taw itu sepi. Mereka siap rugi. Mereka berpikiran nanti kalau ekonomi maju, sudah pindah ke sini semua, baru bisa untung. Mereka ingin membangun citra sebagai negara demokrasi. Mereka di sini mau belajar semua hal, kecuali satu, korupsi. Separah-parahnya negara kita, banyak yang lebih parah.
Di kita, saya sangat mengapresiasi KPK, karena tanpa KPK negara kita tidak akan mungkin menjadi “tertib”.

Saya sebagai mantan Kabareskrim bicara sama Bambang Widjajanto, Pak, Bapak tahu gak di daftar gaji anggota Bareskrim berapa yang minus, karena harus nyicil motor, ngontrak rumah, gajinya Rp 2,7 atau Rp 3 juta. Dari sana mulailah, kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah. Jadi menurut saya ada 3 kategori koruptor. Yang pertama untuk bertahan hidup, kedua korupsi untuk masa depan dan untuk pensiun, dan ketiga koruptor yang memang rakus.

Anda dari polisi jadi dubes. Apa tantangannya?
Sejak saya selesai dari polisi, saya bercita-cita jadi pebisnis, tapi tiba-tiba jadi duta besar. Saya sudah mengembangkan usaha dengan istri saya. Ada satu kebanggaan yang luar biasa di satu sisi, di sisi lain tidak bisa konsentrasi dengan bisnis saya. Alhamdulillah dengan pengalaman bisnis yang sedikit bisa mengembangkan bisnis.

Mudah-mudahan ke depan Indonesia lebih baik, sesuai motonya Jokowi, Indonesia Hebat. Kepala pewakilan harus membuat Indonesia lebih hebat. Tentunya, semua tidak ada artinya tanpa bantuan teman-teman media. Saya kan pengalaman 2 tahun jadi Kabareskrim, orang terkenal katanya. Kalau tidak karena media, tidak mungkin saya terkenal. Misalnya saya menutup diri terhadap media.

Kalau saya, daripada media bikin ceritanya sendiri, lebih baik saya jelaskan. Mereka menunggu di depan kehujanan, saya bikinkan Balai Wartawan, ada wifi. Peluang investasi kita di sini tidak akan sampai juga tanpa bantuan media. Ngomong capeklah dengan birokrasi, suratnya sampai di sana, tapi tidak ada gongnya sama sekali.

Di sini semua dubes ASEAN, negara-negara Islam, dan AS saya kasih batik semua. Sekarang saya tetapkan resmi di sini tiap hari pakai batik semua. Tidak usah pakai jas. Karena identitas nasional kita batik. Kecuali ada rapat atau courtesy baru pakai jas. Selain tidak panas, orang sudah tahu bahwa batik itu Indonesia.

Menghadiri undangan smart casual, saya tidak pernah pakai jas, pakai batik. Tapi saya punya batik bagus-bagus banyak. Waktu jadi Kapolda Riau, saya dapat batik riau, saya jahit. Batik Palembang juga ada. Saya bawa ke sini satu lemari. Jadi, kalau ketemu negara sahabat berubah terus batiknya. “Its very nice,” kata mereka. Saya belikan Alleira semua negara. Jadi baik semua. Batik Alleira memang bagus, mereka senang, saya yang senep bayarnya. Pokoknya saya ingin orang menghargai Indonesia, tidak melecehkan Indonesia.

***

Advertisements

Senandung Sunyi Alam Sipirok (Kota kecil dengan segudang potensi wisata)

Naskah: Andry Triyanto
Tulisan ini dikutip dari Majalah Travelounge edisi Oktober 2014. Travelounge adalah majalah wisata kelompok Tempo Media.

Matahari selalu muncul dan tenggelam terlambat di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saat pagi, cahaya mentari selalu kalah dari kabut yang lebih dulu merangkak turun dari bukit memayungi kota penghasil kopi ini. Pada 30 Juli-3 Agustus lalu pun telah digelar Festival Kopi Sipirok. Dengan hawa yang cenderung dingin dan alamnya yang asri, kota ini memiliki potensi wisata alam dan sejarah yang luar biasa. Namun sayang, pesonanya belum mampu menggoda turis. Inilah nyanyian indah alam Sipirok.

Hari pertama: Jakata-Sipirok
Perjalanan saya dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Kualanamu yang memakan waktu sekitar 2 jam masih harus dilanjutkan dengan penerbangan ke Bandara Dr Ferdinand Lumban Tobing di Pinangsori, Tapanuli Tengah, sekitar 35 menit. Perjalanan pun harus dilanjutkan melalui jalur darat sekitar 3 jam menuju Sipirok.

Sebenarnya ada alternatif. Setelah tiba di Bandara Internasional Kualanamu, bisa mengambil penerbangan ke Bandara Aek Godang di Padangsidimpuan. Perjalanan melalui darat ke Sipirok dapat ditempuh hanya sekitar 1 jam. Relatif lebih singkat. Sesampainya di Hotel Tor Sibohi Nauli—satu-satunya hotel di sini—sore sudah menyambut. Bila ingin hotel yang lebih baik, pilihannya bisa ditemukan di Padang Sidempuan.

Hari Kedua: Masjid, Gereja, dan Kuburan Tua
Pada hari ini, saya diajak mengunjungi gereja tertua di Desa Parau Sorat. Tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap, hanya sekitar 7 kilometer. Menurut cerita Ardi Yunus Siregar—rekan yang mengantar saya—Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) ini merupakan gereja pertama yang dibangun Dr Ingwer Ludwig Nommensen pada zaman Belanda.

Konon, Belanda mengenal Sipirok sebagai daerah pertama di Provinsi Sumatera Utara. Beberapa ratus meter berdiri menjulang monumen GKPA yang dibangun guna mengenang perjalanan Nommensen. Saya juga diantar menuju Masjid Sri Alam Dunia di Desa Bagas Nagodang. Masjid dengan enam menara kubah itu memiliki lima pintu masuk. Jumlah pintu itu kabarnya menandakan warga yang ada di sekitar saat pembangunan. Sri Alam Dunia juga masih mempertahankan tradisi membunyikan gong setiap menjelang waktu salat tiba.

Dibangun pada 1926, Masjid Sri Alam Dunia menjadi simbol dari perlawanan atas penjajahan Belanda. Namun pertentangan antara pengelola Masjid Sri Alam Dunia dan Belanda tidak melibatkan masalah agama. Pertentangan antar-agama tidak pernah terjadi di kawasan ini.

Keberadaan gereja dan masjid tertua ini mengingatkan saya pada penuturan tokoh Sipirok, Ayub Suleman Pulungan. “Kerukunan beragama di Sipirok berjalan baik sekali. Meski berbeda agama, warga Sipirok guyub satu sama lain,” katanya.

Selain masjid dan gereja tua, ada pula makam tua di Desa Bunga Bondar. Nisan-nisannya unik dengan batu-batu berukir. Sayangnya, makam kuno ini tak terawat. Tak ada petunjuk yang jelas mengenai keberadaannya. Menurut cerita warga, inilah makam Ja Ulubalang Siregar—cucu Raja Dongaran Siregar, salah seorang hulubalang raja yang melakukan perlawanan keras terhadap Belanda.

Hari Ketiga: Danau Marsabut dan Aek Milas
Selesai sarapan, saya bersiap menuju Danau Marsabut di Desa Bunga Bondar. Marsabut berasal dari kata markabut yang berarti berkabut. Danau di tengah hutan ini selalu ditutupi kabut. Ada legenda menarik di sini. Dikisahkan, dewa murka akibat raja yang mengadakan pesta lalai mengundang seorang janda tua yang hidup sebatang kara. Di tengah kesendiriannya, sang janda mendengarkan alunan musik tor-tor. Dia lantas menari bersama kucing peliharaannya. Dewa marah karena tor-tor amat sakral. Dewa murka dan mengirimkan bencana berupa hujan terus-menerus, sehingga desa tenggelam dan menjadi danau.

Danau itu, sempat diresmikan sebagai obyek wisata oleh mantan Gubernur Sumatera Utara, Raja Inal Siregar. Namun sepeninggal beliau, kondisinya tidak lagi terawat. Akses menuju danau, yang dulunya beraspal, sekarang tertutupi tanaman liar. Saya yang ditemani seorang warga Bunga Bondar, Yahya Siregar, terpaksa trekking selama 2,5 jam menuju Marsabut. Bagi Anda yang ingin mencapai lokasi ini, saya sarankan sebaiknya menggunakan jasa pemandu.

Sesampai di danau, keletihan terasa lenyap. Air danau begitu tenang. Angin berembus sejuk. Bukit di sekelilingnya masih asri. Beberapa gazebo yang sempat dibangun, kini rusak dan ditutupi semak belukar. Asyiknya berlama-lama di sini, tapi saya ingin mampir ke pemandian air panas. Masyarakat setempat menyebutnya aek milas. Ada tiga aek milas: Sosopan, Parandolok, dan Parau Sorat. Aek Milas Sosopan tidak jauh dari pusat kota. Berada di tengah persawahan, atau tepat di belakang masjid. Saat saya berkunjung, banyak wisatawan lokal yang berendam di sana.

Wisata Sipirok sejatinya sangat potensial untuk dikembangkan. Hanya obyek wisata alam dan sejarahnya butuh pengelolaan serta penataan. Marfel Sidabutar, pemandu wisata yang saya temui di hotel, mengaku para agen perjalanan wisata tk pernah membawa turis ke Sipirok. “Selama ini Sipirok hanya dijadikan kota transit wisatawan asing sebelum menuju Bukit Tinggi, Sumatera Barat,” ujar dia. Sungguh sayang! ***