Melihat Myanmar dari Dekat

Sejelek-jeleknya citra sebuah negara, pasti ada hal menarik yang bisa dinikmati dan hal unik yang bisa dipelajari.  Keyakinan itu yang saya bawa sewaktu mendatangi Nay Pyi Taw, ibu kota baru Myanmar untuk meliput ASEAN Economic Ministers’ Meeting ke-46.  Sebagai negara yang baru membuka diri, tidak banyak yang dapat diharapkan dari negara yang dulu bernama Burma ini. Tapi, siapa tahu?

Ada dua rute perjalanan menuju  Nay Pyi Taw. Rute pertama melalui Jakarta-Bangkok-Nay Pyi Taw.  Pada rute ini, semua perjalanan ditempuh dengan pesawat. Tapi, kelemahannya, karena jadwal penerbangan dari Bangkok ke Nay Pyi Taw sangat terbatas, penumpang transit harus menginap satu malam di Bangkok. Rute kedua adalah Jakarta-Singapura-Yangon-Nay Pyi Taw. Lewat rute ini, perjalanan sampai ke Yangon ditempuh dengan pesawat terbang. Sedangkan dari Yangon ke Nay Pyi Taw ditempuh melalui jalur darat.

Rute kedua ini memang lebih singkat, tapi  melelahkan. Diawali dengan penerbangan menumpang Singapore Airlines ke Singapura selama 1,5 jam; lalu transit selama 2 jam di Bandara Changi,  kemudian dilanjutkan  dengan Silk Air selama 2 jam ke Bandara Internasional  Yangon. Walau dikata “internasional”, siang itu saya hanya melihat enam pesawat  di landasan.  Sepi sekali. Dari Yangon, perjalananan disambung dengan mobil selama 5,5 jam menuju Nay Pyi Taw.  Untungnya, panitia lokal menyiapkan Toyota Alphard untuk kami, lumayan bisa beristirahat dengan nyaman di sepanjang perjalanan.

Bandara Yangon.

Bandara Yangon.

Kira-kira 4  jam berkendara melewati jalanan yang lebar, bergelombang, gelap,  dan sepi akhirnya kami berhenti di sebuah rest area yang sangat ramai oleh pengunjung.  Wajar saja ramai, karena ini adalah rest area satu-satunya dalam jarak ratusan kilometer. Walau agak kumuh, banyak ragam restoran yang bisa dipilih di sini.  Orang Myanmar ternyata penggemar babi.  Banyak menu makanan yang “diperkaya” dengan babi.

Tapi, pengunjung muslim  tidak perlu terlalu cemas. Umumnya, hidangan di restoran sudah dipisahkan  antara yang halal dan tidak.  Bagi yang masih ragu-ragu, tersedia juga restoran khusus hidangan halal. Harga makanan di sana relatif murah. Porsinya besar, namun soal rasa, kita wajib berkompromi. Selepas makan dan beristirahat sejenak, kami meneruskan perjalanan ke Nay Pyi Taw dan tiba  jelang tengah malam. Meski Nay Pyi Taw bermakna “istana kerajaan”,  kota yang terletak di dalam Provinsi  Mandalay ini sebenarnya adalah sebuah kota baru.

Rest area.

Rest area.

 

Restoran di rest area.

Restoran di rest area.

Resmi didirikan tahun 2005, Nay Pyi Taw terlihat megah dengan bangunan-bangunan hotel, ruang pertemuan, dan ruas jalan yang lega.  Semuanya gedung baru dan mayoritas hanya bertingkat satu.  Sayangnya,  fasilitas-fasilitas yang dibangun atas bantuan pemerintah Cina itu tidak serta-merta menjadikan kota ini hidup. Sebaliknya, Nay Pyi Taw lebih mirip kota mati–terlebih di malam hari, karena tidak banyak aktivitas masyarakat.

Di Hotel Grand Amara  yang kami huni dari awal hingga menjelang pertemuan ASEAN berakhir,  sepertinya hanya diisi oleh segelintir tamu.  Baru pada dua hari terakhir,  masuk beberapa tamu dari delegasi negara lain. Kondisi hotel lain di sana juga sama. Seperti Royal President dan Royal Ace yang megah, tingkat huniannya tidak bakal cukup untuk menutupi biaya operasional hotel.  Apalagi, tarif kamarnya murah sekali. Satu kamar dengan dua tempat tidur di Grand Amara yang  berbintang lima itu hanya dihargai US$ 80 (Rp 951 ribu) per malam. Satunya-satu lokasi yang ramai adalah MICC (Myanmar International Convention Center), dan dia bukan hotel.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel dan gedung pertemuan di Nay Pyi Taw.

Hotel Grand Amara.

Hotel Grand Amara.

Salah satu ikon di Nay Pyi Taw.

Salah satu ikon di Nay Pyi Taw.

Berada di pusat Nay Pyi Taw serasa berada di kawasan Nusa Dua, Bali–minus manusianya. Problem lain di Nay Pyi Taw adalah fasilitas umum yang belum terbangun. Pusat perbelanjaan yang kami tahu hanyalah  mal bernama “Junction” yang terletak tak jauh dari hotel. Isinya cukup lengkap, untuk berbelanja oleh-oleh juga bisa. Tempat makan di Nay Pyi Taw juga terbatas, dari hari pertama hingga terakhir, kami hanya tahu restoran “Tai Kitchen” dan sebuah restoran lain yang saya tak ingat namanya, tapi tetap saja menyajikan masakan Thailand.

Setiap ditanya restoran yang menyajikan masakan khas Myanmar, Mr Meng Du–nama sopir kami,   selalu mengelak.  Tampangnya seolah-olah tidak yakin dan tidak merekomendasikan sebuah tempat pun. Untungnya, masakan Thailand di Nay Pyi Taw tidak ada yang tidak enak. Semuanya lezat. Alhasil, karena tidak pernah dikenalkan dengan hidangan Myanmar, saya hanya tahu “teh tarik Myanmar” yang mirip dengan teh tarik di sini, hanya saja rasanya lebih pahit.

Suhu udara di Nay Pyi Taw terbilang tinggi. Di atas 30 derajat. Ditambah lagi keadaannya masih gersang, karena pepohonan yang ditanam masih kecil-kecil. Tapi, masalahnya bagi saya bukan itu, melainkan tingkat kelembaban yang tinggi. Bandingkan dengan Depok yang tingkat kelembaban udaranya 58 persen, kelembaban di Nay Pyi Taw mencapai 70 persen. Akibatnya, kalau sedang lari, keringat ogah menguap dan membuat baju cepat basah. Lari 5 km di Nay Pyi Taw seperti lari 20 km di Depok. Basah kuyup.

Masyarakat Nay Pyi Taw, secara sekilas,  terlihat memiliki etos  melayani yang baik.  Mulai dari pelayanan di imigrasi yang tidak bertele-tele—awalnya saya ditagih bikin visa, tapi dengan sedikit berkilah  “Indonesian delegate”, akhirnya petugasnya pasrah, ya…sudah, “tamu negara” mungkin pikirnya. Saya pun diloloskan masuk.  Sopirnya juga bagus-bagus. Kalau ditelepon untuk menjemput di titik tertentu, dalam waktu singkat mereka sudah hadir di depan kita. Begitu kita mau naik-turun mobil, sopir dengan sigap membuka-tutup pintu.

Pelayan restoran juga begitu. Di Yangon, kami  (lagi-lagi) makan di restoran “Thai Kitchen” (yang ini pakai “h”) menjelang last order, sekitar pukul 9 malam. Tidak hanya telat memesan, kami juga harus memperpanjang waktu makan karena menunggu satu orang teman lagi. Akhirnya, jam buka restoran itu diperpanjang dua jam khusus buat kami. Hebatnya, selama kami makan, berkali-kali pelayan restoran mengatakan supaya kami makan dengan tenang, jangan pikirkan jam buka yang terlampaui. “Dont worry, dont worry. Please continue.”  Kalau saja tidak terganggu oleh kehadiran sesosok  tikus yang bolak-balik mengintip dari kolong meja sebelah, saya pasti memberikan lima bintang untuk restoran ini.

Soal tempat wisata, satu-satunya lokasi plesir yang dekat dengan Nay Pyi Taw adalah Pagoda Uppatasanti. Pagoda ini adalah tiruan dari Pagoda (Kuil) Shwedagon di Yangon. Kalau Uppatasanti baru dibangun tahun 2005, Shwedagon adalah pagoda yang berusia 2.500 tahun, atau sezaman dengan  Sidharta Gautama. Meski bangunan modern, sewaktu kami berkunjung malam ke sana, banyak orang yang berkunjung dan berdoa.

Sepekan di Nay Pyi Taw, rasa bosan hampir membuat saya mati.  Sebelum benar-benar tewas, kami memutuskan bertolak ke Yangon sehari lebih awal. Melalui jalur darat, kami tiba di Yangon pada sore hari, lalu  menyempatkan diri berkunjung ke Kedubes RI dan ngobrol barang dua jam dengan Dubes Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, yang mantan Kabareskrim itu. Selepas itu,  kami melanjutkan perjalanan ke  Pagoda Shwedagon yang terletak di dalam Kota Yangon. Konon katanya, di pagoda yang berlapis emas murni ini ada banyak relik agama Buddha. Salah satunya adalah beberapa helai rambut Sidharta Gautama.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Pagoda Shwedagon.

Shwedagon malam itu ramai, dan katanya memang selalu ramai sepanjang waktu oleh umat Buddha setempat dan turis asing. Ramainya turis yang berkunjung ini membuat profesi pemandu wisata subur. Kami tak ketinggalan memakai pemandu wisata selama di Shwedagon. Bahasa Inggrisnya lancar dan bicaranya banyak. Menarik sebenarnya, tapi buat turis tetap saja yang terpenting adalah berfoto-foto. Kalau sudah begitu, sering terjadi, selagi dia menjelaskan ini-itu, kami ngeloyor ke lokasi-lokasi strategis untuk berfoto. Biarin lah, toh  informasi tentang Shwedagon ada di brosur atau bisa dicari sendiri di Internet.

Bicara soal Internet, walau ternyata jaringan telekomunikasi di Myanmar tidak seterbelakang yang saya pikirkan, tetap saja berselancar di sana bikin frustasi. Pertama,  harta kartu telepon seluler  sangat mahal. Kartu telepon kami beli begitu tiba di Bandara Yangon, dengan harga sekitar Rp 280 ribu per kartu. Program Internet-nya menggunakan  sistem time based 150 jam selama sebulan. Cukuplah untuk penggunaan selama di Myanmar. Provider-nya adalah Myanma (tanpa “r”) Post and Telecommunication.

Kedua, harga kartu yang mahal bukan jaminan jaringan Internet (HSDPA) tersedia. Di Yangon sekalipun, mengakses Internet butuh kesabaran tingkat tinggi. Kadang dapat, sering tidaknya. Jaringan Internet malah lebih kuat dan stabil di Nay Pyi Taw. Berselancar dari dalam kamar hotel juga kencang dan stabil. Tapi, di tempat lain, di sepanjang jalan di luar kedua kota itu, jangan harap ada jaringan Internet. Paling hebat, jaringan seluler hanya bisa dipakai untuk menelepon.

Gerai Kementerian Pariwisata Myanmar di Bandara Yangon, sekaligus tempat penjualan kartu telepon MPT.

Gerai Kementerian Pariwisata Myanmar di Bandara Yangon, sekaligus tempat penjualan kartu telepon MPT.

Begitu pun, hadirnya akses Internet dan telekomunikasi tanpa sensor ini saja sudah kemajuan luar biasa buat Myanmar. Menjadi negara tertutup selama puluhan tahun, Myanmar mulai membuka diri sejak beberapa tahun terakhir. Terutama sejak terpilihnya Presiden U Thein Sein  sebagai presiden pemerintahan sipil pertama Republik Uni Myanmar. Ia menjabat sejak 30 Maret 2011. Sejak itu pula Myanmar mulai melakukan berbagai kebijakan reformasi di bidang politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Khusus di bidang ekonomi, reformasi dilakukan lewat pendekatan kebijakan fiskal dan moneter serta reformasi pelayanan perbankan.

Tak hanya itu, Myanmar juga melakukan pengembangan industri, pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas kelembagaan, pengurangan tarif bea masuk, serta standardisasi dan kelonggaran aturan dagang. Semua perkembangan positif itu mendapat pengakuan dari komunitas internasional yang, antara lain, ditunjukkan dengan dikuranginya sanksi dari Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, dan Australia bagi negara berpenduduk 61 juta jiwa ini.

Nilai perdagangan Indonesia-Myanmar juga terus meningkat. Sepanjang April 2013-Maret 2014, Myanmar mengimpor barang dari Indonesia senilai US$ 438,82 juta (tahun 2012 sebesar US$ 195,23 juta). Sedangkan ekspor Myanmar ke Indonesia sebesar US$ 60,04 juta (tahun 2012 sebesar US$ 31,54 juta). Komoditas ekspor Indonesia ke Myanmar, antara lain, minyak sawit, peralatan industri, besi-baja, produk farmasi, barang elektronik, plastik, karet, kertas, dan suku cadang kendaraan bermotor. Sedangkan impor dari Myanmar meliputi sumber daya mineral, kacang-kacangan, jati, matpe hitam, dan tepung maizena.

Lelah berkeliling pagoda dan Kota Yangon, kami mencari hotel, dan ketemu Hotel Summit Parkview. Hotel ini levelnya bintang empat, tapi mungkin karena sudah lama, kualitasnya sudah tidak prima. Perabotnya kadaluarsa, karpetnya berbau, kamar mandinya kusam, AC-nya sentral, dan masih memakai kipas angin besar di atas tempat tidur. Sungguh, tidak saya rekomendasikan buat pengunjung  Yangon. Tapi, karena sudah malam dan cuma untuk dipakai satu malam, ya sudah ditahankan.

Paginya, kami meluncur ke Bandara Yangon.  Kami berangkat lebih pagi karena khawatir terjebak macet di pusat kota Yangon. Kondisi jalanan Yangon sehari-hari sedikit tersendat.  Namun, buat ukuran Jakarta sebenarnya masih tergolong “lancar”.  Menariknya, di tengah kemacetan ini, pengemudi Yangon–dan Myanmar secara umum, terasa lebih sabar dan toleran. Mereka  tenang saja menyaksikan mobil di depan atau sampingnya berpindah jalur mendadak, atau bahkan berjalan tidak pada jalurnya.

Keunikan lain dari lalu-lintas Myanmar adalah aturan setir mobil yang tidak baku. Mobil di sana sebagian menggunakan setir kanan, sebagian lagi setir kiri.  Nah, aturan di jalannya menggunakan aturan setir kiri, artinya jalur kanan adalah jalur lambat. Tapi, loket pembayaran tol dan parkir adanya di sebelah kanan, seperti laiknya aturan mobil setir kanan. Jadi, kalau sopir mau bayar tol atau parkir, harus melalui perantara penumpang di depan.  Kerepotan lain adalah soal salip-menyalip kendaraan. Bayangkan susahnya sopir mobil setir kanan saat ingin mendahului mobil di depannya dari sebelah kiri. Kendaraan yang datang dari arah berlawanan akan sulit terpantau.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Angkutan umum di Yangon.

Pasar di Yangon.

Pasar di Yangon.

Ruko di Yangon.

Ruko di Yangon.

Untunglah, dari semua rintangan itu, kami berhasil sampai dengan selamat di bandara. Sesampainya di sana, kami segera menukar uang kyat (dibaca “cat”) ke dolar AS, dan menyisakan sebagian untuk membeli oleh-oleh.  Tidak ada toko khusus yang dirancang untuk menjual suvenir di bandara. Kios suvenir di sana kebanyakan masih berupa kios “emperan”. Oleh-oleh yang dijual umumnya berupa perhiasan dari bahan batu hias, magnet kulkas, kerajinan tangan, teh tarik, atau kaos. Banyak teman yang tertarik membeli, karena memang harganya murah.  Tertarik ke Myanmar? ***

<<Foto-foto menyusul>>

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s