Mengurus Paspor di Imigrasi Jakarta Selatan

Lagi seru-serunya  lomba Allianz Virtual Run, kabar buruk datang. Saya mendadak ditugaskan ke Myanmar untuk meliput pertemuan tingkat menteri ekonomi ASEAN. Gara-gara para menteri itu, saya dipastikan tak bisa berlari selama 8 hari.  Bah! Gara-gara para menteri itu pula, saya terpaksa mengurus perpanjangan paspor yang sudah berbulan-bulan mati.  Arghh! Tapi, yang namanya tugas tetap tugas. Harus dikerjakan, ya toh.

Maka, pada Kamis pagi pekan lalu saya sudah nongkrong di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan. Karena mengurus paspor kini bisa di mana saja, meski ber-KTP Depok, saya memilih mengurus di Jakarta Selatan, supaya searah dengan kantor.  Rupanya, kini banyak prosedur pengurusan paspor yang berbeda dari prosedur lima tahun lalu.  Untungnya, perubahan itu bukan bikin tambah rumit, tapi mempermudah pengurusan paspor.

Bagi yang belum pernah mengurus paspor atau sudah lupa caranya, saya bagikan beberapa tip mengurus paspor. Jika Anda  merasa terbantu dengan tip-tip tersebut, harap uang jasanya ditransfer ke rekening BCA atau Mandiri saya🙂

Datang Pagi.
Saya, oleh Bagian Umum kantor, disarankan sudah ada di kantor Imigrasi di Warung Buncit paling telat pukul 06.30, agar tidak kehabisan nomor antrean. Tapi, karena saya jagonya telat, saya baru nongol pukul 7.20. Selain gara-gara macet, juga karena kebablasan, saya kelewatan sampai Mampang. Dalam ingatan saya, kantor Imigrasi Jaksel itu ditandai dengan parkir mobil yang menghabiskan badan jalan. Akibatnya saya mengabaikan sebuah bangunan di depan jembatan penyeberangan yang dari luar terlihat sepi belaka. Padahal, itulah kantor Imigrasi yang dulu terkenal bikin macet. Katanya sih, sekarang menjadi lebih rapi karena kantor Imigrasi Jaksel sudah dipecah menjadi tiga tempat.

Mengantre. Tiba di Imigrasi, bayangan saya akan antrean yang mengular, sirna. Memang ada antrean di luar gedung, tapi tidak terlalu panjang. Dan kekhawatiran tidak dapat nomor juga kecil.  Namun, bukan berarti saya menyarankan datang terlambat. Lebih cepat tetap lebih baik, kan. Tidak lama mengantre di luar, paling sekitar 5 menit, para pemohon paspor dipersilakan masuk ke dalam gedung. Sampai di lantai 2, kami kembali mengantre. Kalau tadi mengantre untuk masuk, sekarang mengantre untuk mengambil nomor loket. Proses ini juga tidak lama, cuma sekitar 10 menit.

Lengkapi Dokumen. Siapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Yaitu: paspor lama, kartu keluarga, KTP, buku nikah, dan ijazah. Semuanya difotokopi satu kali di atas kertas A4. Semuanya,  seperti fotokopi KTP jangan dipotong-potong, biarkan di kertas A4 karena ternyata, di bagian foto dan wawancara semua dokumen tadi akan dipindai. Jangan lupa, bawa juga dokumen aslinya. Oya, dokumen-dokumen tadi akan diperiksa saat kita mengantre di dalam gedung. Foto di KTP dengan muka Anda dicocokkan. Kalau gak cocok akan dicurigai sebagai calo atau…habis operasi plastik.

Tunggu panggilan. Setelah mendapat nomor antrean yang disusun berdasarkan loket—di sana ada 9 loket, loket 8-9 khusus untuk lanjut usia, saya dipersilakan duduk manis menunggu . Sambil main HP boleh, sambil ngupil boleh, sambil tidur juga boleh. Asalkan tidak sampai lalai mengamati nomor antrean di layar monitor. Sembari, menunggu, seorang bapak-bapak *tunggal tapi jamak, Imigrasi  akan dengan suka cita memberikan penjelasan kepada Anda mengenai tata cara pengisian sejenis lembar biodata yang turut dibagikan bersama nomor antrean. Si bapak-bapak ramah itu juga membuka forum tanya-jawab kepada para hadirin. Hebat, lo.

Wawancara dan Foto. Sekitar satu jam menunggu, akhirnya nomor urut saya keluar di layar *kaya judi bingo. Saya masuk ke sebuah ruangan untuk diwawancara sekaligus foto. “Mau ke mana, Pak?”  “Keperluannya apa?” “Berapa hari?” “Sudah makan belum?”  *Pertanyaan terakhir karena saya lapar. Begitu saya tahu mau menghadiri konferensi tingkat  menteri ASEAN, terlihat sekali petugasnya kagum melihat saya. “Pasti Bapak ini orang berpengaruh.” Tak lama di dalam,  ngobrol-ngobrol sebentar, disuruh duduk di studio mini, dijepret, dikasih tanda terima, selesai.

Bayar. Tapi, sebelum pulang saya harus bayar dulu dong ongkosnya. Biaya pembuatan paspor yang masuk Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp 355 ribu (Rp 300 ribu biaya paspor, Rp 55 biaya foto dan pengurusan dokumen), ditambah biaya jasa Rp 5 ribu. Jadi totalnya Rp 160 ribu. Bayarnya bisa pakai debit BCA atau mesin setoran tunai.

Tiga Hari Kerja. Waktu pembuatan paspor selama tiga hari kerja dari tanggal pembuatan. Itu artinya, kalau bikinnya Kamis, paspor sudah bisa diambil pada hari Selasa, pukul 1 siang ke atas. Bisa diwakilkan, asal membawa tanda terimanya.

No Calo. Satu hal yang berkesan dalam pengurusan paspor di Imigrasi Jaksel, adalah kantornya yang bersih dari calo. Dari awal datang sampai di dalam, tak ada tercium bau-bau calo. Calo memang akan susah masuk, karena ketika pemeriksaan dokumen, harus dicocokkan dengan pembawanya. Tidak dibawa orang lain. Lagian buat apa calo, karena semua proses selesai dalam sehari. Lain dengan dulu. Saya pernah mengurus paspor di Bogor dan Depok, ketika itu prosesnya makan waktu seminggu paling cepat. Hari pertama menyetorkan dokumen.  Hari ketiga wawancara dan foto. Hari ketujuh mengambil paspor. Sekarang tiga hari selesai. Jadi, bagi orang yang butuh berangkat segera, tidak perlu khawatir tidak sempat mengurus paspor.

Nah, begitu kira-kira prosedurnya. Selamat mengurus paspor.

7 thoughts on “Mengurus Paspor di Imigrasi Jakarta Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s