Jangan Suap Kami!

Bulan lalu, saya diundang untuk bercakap-cakap dengan  direktur utama sebuah BUMN besar di kantornya. Hanya beberapa redaktur media massa yang diundang dalam pertemuan tersebut. Di siang bulan Ramadan itu,  pak dirut memberi klarifikasi seputar kabar tak sedap di kawasan pembangunan pabrik baru perusahaan. Didampingi stafnya, tiga jam lebih ia memberi pemaparan.  Pada akhir acara, seperti biasa, ada penyerahan suvenir.

“Gak apa-apa, Mas. Cuma jaket, kok,” kata sekretaris perusahaan itu membujuk.

Dari pada berdebat tidak keruan, dan saya juga malas membongkar-bongkar isinya, ya sudah saya terima saja. Kalau dulu, semua bingkisan, suvenir, goodie bag selalu saya periksa di tempat. “Benda-benda” yang mencurigakan langsung saya kembalikan saat itu juga. Tapi lama-lama jadi tak elok dan bikin saya ribet sendiri. Lebih praktis semuanya saya bawa, dan dibongkar di kantor, lalu  dikembalikan melalui kurir.

Lain ceritanya kalau saya menghadiri undangan ke luar kota atau ke luar negeri.   “Uang saku” yang diberikan bisa saya tolak di tempat atau dikembalikan saat itu juga. Karena biasanya, jatah preman itu  diberikan sambil bisik-bisik di tempat sepi.  “Mas Efri, kami ada dana konsumsi dan akomodasi, tolong diterima ya. Jumlahnya tidak besar kok.”

Benarkah tidak besar? Pas dicek jumlahnya, jreeng…Rp 3 juta atau sekali waktu US$ 500.  Tidak besar mungkin, tapi dibandingkan uang saku dari kantor yang tidak sampai setengahnya, lumayanlah buat belanja. Nah, kalau begini kejadiannya, bisa langsung dikembalikan. Pernah, satu ketika, saking gak maunya si pemberi menerima amplopnya dikembalikan, sewaktu lewat di depan kamar hotelnya, itu amplop saya masukkan ke bawah pintu. Besoknya, pas ketemu dia gak bilang apa-apa. Wah, jadi mikir, itu benar kamar dia, gak?

Balik lagi ke kasus BUMN tadi. Sampai di dalam taksi, barulah saya berkesempatan membongkar  itu tas. Di bagian atasnya jaket, cukup bagus, bermerek pula. Tapi, tak  masalah. Bukan barang penting. Yang jadi masalah adalah benda di bawah jaket, tergeletak satu amplop yang berisikan sejumlah uang. Langsung saya kecewa. Ada dua hal yang bikin saya kecewa. Mau tahu?

Pertama, masih ada saja narasumber yang memberi amplop kepada wartawan. Padahal, sudah diimbau berkali-kali, jangan “sogok” wartawan. Wartawan, sebagai tukang kritik haruslah makhluk setengah dewa. Dia harus suci laksana pertapa. Tak silau oleh duniawi walau hidup pas-pasan, tak takut dengan ancaman dari siapapun –kecuali dari bosnya :)  Wartawan, sebagai pemasok informasi kepada rakyat mesti bebas dari intervensi.

Kekecewaan saya yang kedua, karena jumlah uangnya ternyata cuma sedikit. Masa redaktur cuma dikasih amplop Rp 1 juta? Gila lu ye… Ternyata, cuma segitu harga kami :)) Ini kelas redaktur lho, yang relatif sudah mapan semua. Kalau mau kasih itu ya, saya bilangin, minimal Rp 10 juta tiap satu acara. Apalagi ini BUMN terbuka yang besar, pemain nomor satu di industrinya. Jadi, kalau sebulan ada 20 kali konferensi pers atau wawancara, kami bisa dapat Rp 200 juta sebulan, Rp 2,4 miliar setahun, Rp 24 miliar dalam 10 tahun.  Pensiun kaya raya! Itu baru amplop namanya. Kebanyakan? Tidak sanggup? Nah…kalau gak sanggup ngasih segitu, jangan coba-coba  menyuap  deh, apalagi dengan uang receh. Itu namanya melecehkan profesi wartawan DUA KALI.  Kesimpulannya: Jangan Suap Kami!  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s