Garmin Forerunner 10, Berlari Makin Menyenangkan

wpid-2014-08-24-18.31.08.jpg.jpeg
Sekarang saya sudah sah menjadi pelari ūüôā Sejak kapan sahnya? Sejak saya memiliki jam tangan GPS Garmin Forerunner 10. Kata orang, jam GPS ini adalah jam kelas entry level. Karena dia cuma bisa menghitung jarak tempuh, kalori, dan¬†¬†pace.¬†Tapi, setelah saya pakai, rasanya fasilitas yang disediakan Garmin FR 10 sudah cukup, kok. Saya tidak butuh¬†(paling tidak untuk saat ini)¬†alat pengukur denyut¬†jantung, barometer, termometer, peta, atau fasilitas lainnya.

Bagi saya, FR 10 terutama berguna untuk melengkapi fungsi GPS telepon seluler. Soalnya, sudah beberapa kali HP saya jatuh berhamburan gara-gara saya pengin ngintip pace, waktu, atau jarak tempuh di tengah-tengah¬†sesi lari. Nah, kalau sudah ada FR10 kan mudah tuh, tinggal miringkan tangan sedikit, sudah kelihatan semuanya. Keasyikan lari juga tidak terganggu. Olahraga menjadi lebih menyenangkan. Itu intinya..hehe…

Kualitas FR10 sejauh ini cukup bagus. Penangkapan sinyal GPS-nya sama cepatnya dengan HP. Biasanya tak sampai 1 menit sinyal GPS sudah terkunci sempurna. Akurasinya juga baik, tak jauh berbeda dengan HP. FR10 unggul dalam menghitung pace. Kecepatan penyesuaian penghitungan pace-nya jauh lebih baik ketimbang Samsung saya.  Itu membuat kita bisa segera menyesuaikan kecepatan lari dengan target latihan. Kalau terlalu cepat bisa diturunkan, begitu pula kalau terlalu lambat bisa cepat diketahui.

Fitur-fitur yang disediakan juga bagus. Fitur Run Option bisa mengatur berbagai mode latihan. Misalnya mengatur pace target. Kalau pace kita melebihi atau kurang dari target, FR10 akan memberi tanda, jadi kita bisa segera menyesuaikan diri dengan target. Fitur History, selain bisa menampilkan catatan hasil latihan kita, juga bisa menampilkan rekor terbaik kita. Bagi pemakai Endomondo (saya tidak tahu dengan situs olahraga lainnya), transfer data latihan dari jam tangan ke Endomondo semudah membalik telapak tangan.

Cukup bikin akun di GarminConnect, kemudian unduh communicator plugin dari Garmin. Tidak perlu bingung, kalau belum punya, pada saat hendak memindahkan data dari jam ke Endomondo (pakai kabel charger), akan muncul pemberitahuan berikut link untuk mengunduh plugin-nya.   Ah, mudah deh pokoknya.

Saya akui bentuknya fisiknya memang minimalis, tidak sekeren seri di atasnya. Cuma, setelah dipakai untuk keperluan sehari-hari, sih, alias dijadikan jam tangan, gak buruk-buruk amat…haha…¬†Layarnya yang lebar malah membuat jam ini menjadi bersahabat dengan mata. Angka-angkanya mudah dilihat. Itu kan gunanya jam ūüôā Kesimpulannya, harga Rp 1,5 juta sudah cukup untuk sebuah jam GPS yang bisa menjadi teman berlari saya. Selamat berolahraga. ***

Advertisements

Bakmi Roxy, Depok

wpid-2014-08-16-15.50.14.jpg.jpeg

Sudah lama istri mengajak makan di sini. Akhirnya baru kesampaian kemarin. Penasaran juga dari awal, karena tempatnya yang selalu ramai. Mungkin karena lokasinya yang strategis, persis di pinggir Jalan Margonda, Depok. Bakmi Roxy menempati dua bangunan ruko, dengan parkiran yang mengambil badan jalan. Tapi, tenang saja, karena badan jalannya dibelah dua, bagian Roxy  terletak di jalur lambat yang sepi, biasanya. Jadi, bisa parkir dengan tenang. Tempatnya ramai, namun apakah jaminan rasanya enak? Belum tentu.

(-) Lahan parkir, terutama mobil terbatas.
(-) Rasa pangsit kuahnya agak tengik.
(-) Sedangkan pangsit gorengnya keras sekali.

(+) Baksonya top, segar. Nomor satu.
(+) Mienya juga padat. Mantap.

Kesimpulannya: Patut dikunjungi.

Mengurus Paspor di Imigrasi Jakarta Selatan

Lagi seru-serunya  lomba Allianz Virtual Run, kabar buruk datang. Saya mendadak ditugaskan ke Myanmar untuk meliput pertemuan tingkat menteri ekonomi ASEAN. Gara-gara para menteri itu, saya dipastikan tak bisa berlari selama 8 hari.  Bah! Gara-gara para menteri itu pula, saya terpaksa mengurus perpanjangan paspor yang sudah berbulan-bulan mati.  Arghh! Tapi, yang namanya tugas tetap tugas. Harus dikerjakan, ya toh.

Maka, pada Kamis pagi pekan lalu saya sudah nongkrong di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Jakarta Selatan. Karena mengurus paspor kini bisa di mana saja, meski ber-KTP Depok, saya memilih mengurus di Jakarta Selatan, supaya searah dengan kantor.  Rupanya, kini banyak prosedur pengurusan paspor yang berbeda dari prosedur lima tahun lalu.  Untungnya, perubahan itu bukan bikin tambah rumit, tapi mempermudah pengurusan paspor.

Bagi yang belum pernah mengurus paspor atau sudah lupa caranya, saya bagikan beberapa tip mengurus paspor. Jika Anda¬† merasa terbantu dengan tip-tip tersebut, harap uang jasanya ditransfer ke rekening BCA atau Mandiri saya ūüôā

Datang Pagi.
Saya, oleh Bagian Umum kantor, disarankan sudah ada di kantor Imigrasi di Warung Buncit paling telat pukul 06.30, agar tidak kehabisan nomor antrean. Tapi, karena saya jagonya telat, saya baru nongol pukul 7.20. Selain gara-gara macet, juga karena kebablasan, saya kelewatan sampai Mampang. Dalam ingatan saya, kantor Imigrasi Jaksel itu ditandai dengan parkir mobil yang menghabiskan badan jalan. Akibatnya saya mengabaikan sebuah bangunan di depan jembatan penyeberangan yang dari luar terlihat sepi belaka. Padahal, itulah kantor Imigrasi yang dulu terkenal bikin macet. Katanya sih, sekarang menjadi lebih rapi karena kantor Imigrasi Jaksel sudah dipecah menjadi tiga tempat.

Mengantre. Tiba di Imigrasi, bayangan saya akan antrean yang mengular, sirna. Memang ada antrean di luar gedung, tapi tidak terlalu panjang. Dan kekhawatiran tidak dapat nomor juga kecil.  Namun, bukan berarti saya menyarankan datang terlambat. Lebih cepat tetap lebih baik, kan. Tidak lama mengantre di luar, paling sekitar 5 menit, para pemohon paspor dipersilakan masuk ke dalam gedung. Sampai di lantai 2, kami kembali mengantre. Kalau tadi mengantre untuk masuk, sekarang mengantre untuk mengambil nomor loket. Proses ini juga tidak lama, cuma sekitar 10 menit.

Lengkapi Dokumen. Siapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan. Yaitu: paspor lama, kartu keluarga, KTP, buku nikah, dan ijazah. Semuanya difotokopi satu kali di atas kertas A4. Semuanya,¬† seperti fotokopi KTP jangan dipotong-potong, biarkan di kertas A4 karena ternyata, di bagian foto dan wawancara semua dokumen tadi akan dipindai. Jangan lupa, bawa juga dokumen aslinya. Oya, dokumen-dokumen tadi akan diperiksa saat kita mengantre di dalam gedung. Foto di KTP dengan muka Anda dicocokkan. Kalau gak cocok akan dicurigai sebagai calo atau…habis operasi plastik.

Tunggu panggilan. Setelah mendapat nomor antrean yang disusun berdasarkan loket—di sana ada 9 loket, loket 8-9 khusus untuk lanjut usia, saya dipersilakan duduk manis menunggu . Sambil main HP boleh, sambil ngupil boleh, sambil tidur juga boleh. Asalkan tidak sampai lalai mengamati nomor antrean di layar monitor. Sembari, menunggu, seorang bapak-bapak *tunggal tapi jamak, Imigrasi¬† akan dengan suka cita memberikan penjelasan kepada Anda mengenai tata cara pengisian sejenis lembar biodata yang turut dibagikan bersama nomor antrean. Si bapak-bapak ramah itu juga membuka forum tanya-jawab kepada para hadirin. Hebat, lo.

Wawancara dan Foto. Sekitar satu jam menunggu, akhirnya nomor urut saya keluar di layar *kaya judi bingo. Saya masuk ke sebuah ruangan untuk diwawancara sekaligus foto. “Mau ke mana, Pak?”¬† “Keperluannya apa?” “Berapa hari?” “Sudah makan belum?”¬† *Pertanyaan terakhir karena saya lapar. Begitu saya tahu mau menghadiri konferensi tingkat¬† menteri ASEAN, terlihat sekali petugasnya kagum melihat saya. “Pasti Bapak ini orang berpengaruh.” Tak lama di dalam,¬† ngobrol-ngobrol sebentar, disuruh duduk di studio mini, dijepret, dikasih tanda terima, selesai.

Bayar. Tapi, sebelum pulang saya harus bayar dulu dong ongkosnya. Biaya pembuatan paspor yang masuk Penerimaan Negara Bukan Pajak sebesar Rp 355 ribu (Rp 300 ribu biaya paspor, Rp 55 biaya foto dan pengurusan dokumen), ditambah biaya jasa Rp 5 ribu. Jadi totalnya Rp 160 ribu. Bayarnya bisa pakai debit BCA atau mesin setoran tunai.

Tiga Hari Kerja. Waktu pembuatan paspor selama tiga hari kerja dari tanggal pembuatan. Itu artinya, kalau bikinnya Kamis, paspor sudah bisa diambil pada hari Selasa, pukul 1 siang ke atas. Bisa diwakilkan, asal membawa tanda terimanya.

No Calo. Satu hal yang berkesan dalam pengurusan paspor di Imigrasi Jaksel, adalah kantornya yang bersih dari calo. Dari awal datang sampai di dalam, tak ada tercium bau-bau calo. Calo memang akan susah masuk, karena ketika pemeriksaan dokumen, harus dicocokkan dengan pembawanya. Tidak dibawa orang lain. Lagian buat apa calo, karena semua proses selesai dalam sehari. Lain dengan dulu. Saya pernah mengurus paspor di Bogor dan Depok, ketika itu prosesnya makan waktu seminggu paling cepat. Hari pertama menyetorkan dokumen.  Hari ketiga wawancara dan foto. Hari ketujuh mengambil paspor. Sekarang tiga hari selesai. Jadi, bagi orang yang butuh berangkat segera, tidak perlu khawatir tidak sempat mengurus paspor.

Nah, begitu kira-kira prosedurnya. Selamat mengurus paspor.

Jangan Malu Jadi ‘Alay’

Jangan malu disebut ‘alay’, jika itu bermakna Anda ‘muda’ dan dinamis.
Jangan malu disebut ‘alay’, jika itu bermakna Anda energetik dan antusias.
Tak perlu takut dicap¬† ‘alay’, jika itu berarti Anda orang yang berani membuat perubahan.
Tak perlu takut dicap ‘alay’, jika itu berarti¬† Anda orang yang berani menghadapi tantangan.

~ efri ~

 

 

 

 

 

 

 

 

 

wuih…keren, kan…?

 

Video ISIS, Haruskah Diblokir?

Sambil menulis berita, sambil menulis blog. Sambil berpikir tentang ekonomi bangsa, seorang teman mengajak diskusi dunia maya. Terpaksa dilayani. Temanya anget, tentang ISIS (lagi). Dia bilang, meski dia juga menolak ISIS, tak seharusnya pemerintah memblokir video Join The Ranks. Karena, menurut dia, isi video itu sebagian adalah ide. Sebuah ide, haruslah dibiarkan berkembang menjadi perdebatan. Bukan diberangus! Wow, ide  nyeleneh ini.

“Dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian berlaku tidak adil.”¬† Dia mengutip ayat Al Quran. Berani-beraninya, Al Quran kan punyaku, bukan punyamu! Hehehe…. “Kebetulan saja, ide yang ini berasal dari pihak sana, kalau berasal dari kita, kemudian diberangus, apakah kita rela?”¬† Ah, kau ini. Benar-benar mengusik. “Lu ada benarnya. Tapi, harus mengerti posisi pemerintah. Potensi gerakan makar harus dicegat dari awal. Pemerintah pasti pragmatis, di mana-mana. ”

“Betuul, pemerintah pragamatis. Sikap yang semakin menunjukkan inkompetensi pemerintah menangani isu fundamentalisme!” Bah… Cara paling efektif, ia menyerocos lagi,¬† menangkal paham ISIS bukan dengan memblokir. Gak bisa jalan pintas. Melainkan dengan menyebarkan pemahaman ke masyarakat, sehingga ide ISIS tidak laku lagi. “Ah, bicara sih gampang, kalau ternyata pendukung ISIS di sini benar-benar neror, siapa yang disalahkan? Pemerintah pasti” Jawabnya enteng, “Ya jelas, pemerintah. Teror harus diatasi, tapi tidak boleh semaunya sendiri. Ada koridornya.”

Ah, kamu mengganggu deadline ku. Besok koran ku terbit terlambat, siapa yang tanggung jawab? Lu? Pemerintah? Atau ISIS? Pusing dah. Daripada pusing pengen lihat video Join The Rank lagi di Youtube…dan rupanya benar, kata YT, This content is not available on this country domain due to a legal complaint from the government.” Bah! Aku kembali mengedit berita saja kalau begini. ***

 

 

Negara Islam yang Saya Impikan

ISIS bikin heboh! Dia mendirikan daulah di Irak dan Suriah, eh, orang Indonesia yang berbaiat. Daulah… konsep wilayah yang melintasi batas negara-bangsa. Selain utopis,  daulah ini juga ironis karena justru didirikan di atas genangan darah saudara-saudaranya yang seiman. Saya tak bisa membayangkan, masa depan daulah  yang dibangun dengan fondasi kebencian. Ngeri-ngeri sedap!

Bagi¬† saya,¬† konsep negara Islam itu sederhana. Negara Islam adalah negara yang pemimpinnya menangis jika melihat masih ada kaum dhuafa dan anak terlantar.¬†Ia murka kepada bawahannya sambil mengutip ayat Al Quran: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?¬† Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.”

Negara Islam adalah negara yang pejabatnya menolak hadiah sembari menyitir hadis:¬† “Mengapa dia tidak duduk saja di rumah bapak atau ibunya, sehingga dia bisa melihat apakah dia akan diberikan hadiah atau tidak? Tidak seorang pun dari kamu yang mengambil sebagian dari hadiah itu, kecuali pada hari kiamat dia akan datang membawanya dengan seekor unta yang melenguh di lehernya.”

Cukuplah sebuah negara menjalankan syariat jika penduduknya memberi koruptor, meskipun itu keluarganya karena dia ingat hadis: ‚ÄúSesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kamu adalah apabila bangsawan mencuri, mereka biarkan. Akan tetapi apabila seseorang yang lemah mencuri, mereka tegakkan hukum. Seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, aku potong tangannya.‚ÄĚ

Negara¬† Islam adalah sekumpulan masyarakat yang menolak bermewah-mewahan, karena mereka ingat:¬† ‚ÄúBermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.‚ÄĚ Walau begitu, negara Islam itu adalah negara yang rakyat menghargai perbedaan. Sebab mereka percaya, tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa Nabi diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. ***

 

 

 

Jangan Suap Kami!

Bulan lalu, saya diundang untuk bercakap-cakap dengan  direktur utama sebuah BUMN besar di kantornya. Hanya beberapa redaktur media massa yang diundang dalam pertemuan tersebut. Di siang bulan Ramadan itu,  pak dirut memberi klarifikasi seputar kabar tak sedap di kawasan pembangunan pabrik baru perusahaan. Didampingi stafnya, tiga jam lebih ia memberi pemaparan.  Pada akhir acara, seperti biasa, ada penyerahan suvenir.

“Gak apa-apa, Mas. Cuma jaket, kok,” kata sekretaris perusahaan itu membujuk.

Dari pada berdebat tidak keruan, dan saya juga malas membongkar-bongkar isinya, ya sudah saya terima saja. Kalau dulu, semua bingkisan, suvenir, goodie bag selalu saya periksa di tempat. “Benda-benda” yang mencurigakan langsung saya kembalikan saat itu juga. Tapi lama-lama jadi tak elok dan bikin saya ribet sendiri. Lebih praktis semuanya saya bawa, dan dibongkar di kantor, lalu¬† dikembalikan melalui kurir.

Lain ceritanya kalau saya menghadiri undangan ke luar kota atau ke luar negeri. ¬† “Uang saku” yang diberikan bisa saya tolak di tempat atau dikembalikan saat itu juga. Karena biasanya, jatah preman itu¬† diberikan sambil bisik-bisik di tempat sepi.¬† “Mas Efri, kami ada dana konsumsi dan akomodasi, tolong diterima ya. Jumlahnya tidak besar kok.”

Benarkah tidak besar? Pas dicek jumlahnya, jreeng…Rp 3 juta atau sekali waktu US$ 500.¬† Tidak besar mungkin, tapi dibandingkan uang saku dari kantor yang tidak sampai setengahnya, lumayanlah buat belanja. Nah, kalau begini kejadiannya, bisa langsung dikembalikan. Pernah, satu ketika, saking gak maunya si pemberi menerima amplopnya dikembalikan, sewaktu lewat di depan kamar hotelnya, itu amplop saya masukkan ke bawah pintu. Besoknya, pas ketemu dia gak bilang apa-apa. Wah, jadi mikir, itu benar kamar dia, gak?

Balik lagi ke kasus BUMN tadi. Sampai di dalam taksi, barulah saya berkesempatan membongkar  itu tas. Di bagian atasnya jaket, cukup bagus, bermerek pula. Tapi, tak  masalah. Bukan barang penting. Yang jadi masalah adalah benda di bawah jaket, tergeletak satu amplop yang berisikan sejumlah uang. Langsung saya kecewa. Ada dua hal yang bikin saya kecewa. Mau tahu?

Pertama, masih ada saja narasumber yang memberi amplop kepada wartawan. Padahal, sudah diimbau berkali-kali, jangan “sogok” wartawan. Wartawan, sebagai tukang kritik haruslah makhluk setengah dewa. Dia harus suci laksana pertapa. Tak silau oleh duniawi walau hidup pas-pasan, tak takut dengan ancaman dari siapapun –kecuali dari bosnya ūüôā¬† Wartawan, sebagai pemasok informasi kepada rakyat mesti bebas dari intervensi.

Kekecewaan saya yang kedua, karena jumlah uangnya ternyata cuma sedikit. Masa redaktur cuma dikasih amplop Rp 1 juta? Gila lu ye… Ternyata, cuma segitu harga kami :)) Ini kelas redaktur lho, yang relatif sudah mapan semua. Kalau mau kasih itu ya, saya bilangin, minimal Rp 10 juta tiap satu acara. Apalagi ini BUMN terbuka yang besar, pemain nomor satu di industrinya. Jadi, kalau sebulan ada 20 kali konferensi pers atau wawancara, kami bisa dapat Rp 200 juta sebulan, Rp 2,4 miliar setahun, Rp 24 miliar dalam 10 tahun.¬† Pensiun kaya raya! Itu baru amplop namanya. Kebanyakan? Tidak sanggup? Nah…kalau gak sanggup ngasih segitu, jangan coba-coba¬† menyuap¬† deh, apalagi dengan uang receh. Itu namanya melecehkan profesi wartawan DUA KALI.¬† Kesimpulannya: Jangan Suap Kami!¬† ***