Dilan-nya Pidi Baiq: Menghibur dan Dangkal

dilan Bulan lalu, saya mampir ke toko buku Gunung Agung–sebuah kegiatan yang lama terlupakan. Melihat-lihat deretan buku baru di dekat pintu masuk, mata saya menangkap kelebatan novel dengan nama Pidi Baiq sebagai penulisnya. Novel dengan cover unik itu berjudul Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1990.  Pidi Baiq ini blogger,  penulis buku, dan musisi favorit saya dari dulu.

Tiga serial novel ‘cacatnya harian’ Pidi dari Drunken Monster, Drunken Molen, dan Drunken Mama saya punya. Semuanya  menarik, berisikan bunga rampai kisah pribadi penulisnya yang  menurut saya merupakan ‘eksperimen sosial’ ala Pidi Baiq yang brilian.

Dengan cara yang tak lazim dan kadang mengesalkan bagi ‘korbannya’, Pidi mengingatkan kita pada banyak nilai-nilai luhur.  Tanpa berusaha tampil sebagai sosok yang paling hebat, ia membawa kita larut dalam pengalamannya yang menggelikan tapi juga sarat nilai-nilai  sosial,   kesederhanaan, religiusitas, cinta keluarga, dan peduli lingkungan.

Disemangati oleh kesan dari membaca tiga novel sebelumnya, saya tergerak membeli buku Dilan. Apalagi, disebutkan buku ini adalah cetakan ketiga sejak terbit perdana pada April lalu. Wow, dalam tiga bulan sudah tiga kali cetak ulang. Kalau sekali cetak 5.000 eksemplar, berarti sudah terjual 15.000 eksemplar dalam tempo singkat. Cukup hebat.

Tak salah kalau saya kemudian berasumsi buku ini pasti menarik. Tapi, harapan saya langsung sirna begitu membaca tuntas novel ini.  Dilan jatuh  ke dalam pakem  novel remaja kebanyakan, cuma bedanya, ia dikemas dengan karakter khas Pidi.  Karakter Dilan yang    mendekati sempurna:  jagoan, pintar, penyayang, digemari wanita, dan patuh kepada orang tua adalah sosok klise remaja era 1980-1990.  Bagi yang tahu cerita Si Boy, ya kira-kira seperti itulah…

Komunikasi pendek-pendek yang cerdas dari Pidi hanya menyenangkan di babak awal. Namun, makin ke dalam terasa membosankan, karena formulanya sudah tertebak. Cerita selanjutnya mengalir dengan datar. Konflik yang dibentuk Pidi juga standar. Konflik dengan guru, sesama pelajar, dengan pacar lama, dan seterusnya. Tidak pula banyak kejutan pada alurnya.  Rasanya, lebih berwarna membaca novel Lupus karya Hilman Hariwijaya yang terbit pada era 1990-an juga. Lagi pula karakter Lupus yang kalem, low profile, cuek, penuh kekurangan dan konyol, namun tetap punya prestasi , lebih pas buat saya.

Tambahan lagi, tidak banyak pelajaran yang bisa dipetik dari novel Dilan. Kecuali, mungkin, jadi bahan contekan bagi remaja yang lagi kasmaran. Padahal, saya berharap, ruh kebijakan Pidi Baiq masih menjiwai novel Dilan.  Kesimpulan saya, novel ini sangat menarik sebagai hiburan, tapi tak cocok sebagai bahan kontemplasi. Sayang sekali. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s