Early Real Count Pilpres 2014 KPU

Saya gak mau kalah dengan lembaga survei apalagi timses capres!  Setelah bekerja keras, hari ini akhirnya saya berhasil merampungkan real count pilpres 2014..hohoho.  Sumbernya dari situs web KPU dan pengumuman KPUD. Sebagian besar sudah terverifikasi, tinggal beberapa provinsi yang belum. Untuk rekapitulasi tingkat provinsi, hanya Provinsi Maluku yang masih menghitung suara untuk dua kabupaten, yaitu Buru Selatan dan Seram Bagian Timur.  Selebihnya sudah menyelesaikan rekapitulasi.

Dan, hasilnya:

Prabowo-Hatta : 62.576.444  (46,85%)
Jokowi-JK : 70.997.859 (53,15%)
Total suara:  133.574.303

Kalau pun ada perubahan, tidak akan banyak lagi. Boleh diadu dengan situs http://www.kawalpemilu.org, siapa yang lebih pas dengan hasil final KPU 🙂   Selamat bertugas Jokowi-JK, bulan madu dengan media massa pun berakhir sampai di sini. Selanjutnya, kami akan kembali menjadi “anjing galak” bagi Anda berdua. Hati-hati melangkah!

rekap

Dilan-nya Pidi Baiq: Menghibur dan Dangkal

dilan Bulan lalu, saya mampir ke toko buku Gunung Agung–sebuah kegiatan yang lama terlupakan. Melihat-lihat deretan buku baru di dekat pintu masuk, mata saya menangkap kelebatan novel dengan nama Pidi Baiq sebagai penulisnya. Novel dengan cover unik itu berjudul Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1990.  Pidi Baiq ini blogger,  penulis buku, dan musisi favorit saya dari dulu.

Tiga serial novel ‘cacatnya harian’ Pidi dari Drunken Monster, Drunken Molen, dan Drunken Mama saya punya. Semuanya  menarik, berisikan bunga rampai kisah pribadi penulisnya yang  menurut saya merupakan ‘eksperimen sosial’ ala Pidi Baiq yang brilian.

Dengan cara yang tak lazim dan kadang mengesalkan bagi ‘korbannya’, Pidi mengingatkan kita pada banyak nilai-nilai luhur.  Tanpa berusaha tampil sebagai sosok yang paling hebat, ia membawa kita larut dalam pengalamannya yang menggelikan tapi juga sarat nilai-nilai  sosial,   kesederhanaan, religiusitas, cinta keluarga, dan peduli lingkungan.

Disemangati oleh kesan dari membaca tiga novel sebelumnya, saya tergerak membeli buku Dilan. Apalagi, disebutkan buku ini adalah cetakan ketiga sejak terbit perdana pada April lalu. Wow, dalam tiga bulan sudah tiga kali cetak ulang. Kalau sekali cetak 5.000 eksemplar, berarti sudah terjual 15.000 eksemplar dalam tempo singkat. Cukup hebat.

Tak salah kalau saya kemudian berasumsi buku ini pasti menarik. Tapi, harapan saya langsung sirna begitu membaca tuntas novel ini.  Dilan jatuh  ke dalam pakem  novel remaja kebanyakan, cuma bedanya, ia dikemas dengan karakter khas Pidi.  Karakter Dilan yang    mendekati sempurna:  jagoan, pintar, penyayang, digemari wanita, dan patuh kepada orang tua adalah sosok klise remaja era 1980-1990.  Bagi yang tahu cerita Si Boy, ya kira-kira seperti itulah…

Komunikasi pendek-pendek yang cerdas dari Pidi hanya menyenangkan di babak awal. Namun, makin ke dalam terasa membosankan, karena formulanya sudah tertebak. Cerita selanjutnya mengalir dengan datar. Konflik yang dibentuk Pidi juga standar. Konflik dengan guru, sesama pelajar, dengan pacar lama, dan seterusnya. Tidak pula banyak kejutan pada alurnya.  Rasanya, lebih berwarna membaca novel Lupus karya Hilman Hariwijaya yang terbit pada era 1990-an juga. Lagi pula karakter Lupus yang kalem, low profile, cuek, penuh kekurangan dan konyol, namun tetap punya prestasi , lebih pas buat saya.

Tambahan lagi, tidak banyak pelajaran yang bisa dipetik dari novel Dilan. Kecuali, mungkin, jadi bahan contekan bagi remaja yang lagi kasmaran. Padahal, saya berharap, ruh kebijakan Pidi Baiq masih menjiwai novel Dilan.  Kesimpulan saya, novel ini sangat menarik sebagai hiburan, tapi tak cocok sebagai bahan kontemplasi. Sayang sekali. ***

Umat yang Mana?

Dalam sepekan ini dua kali  saya gagal paham. Kali ini pada partai yang menyerukan supaya memilih  Prabowo dengan alasan berpihak pada kepentingan umat Islam. Sedangkan Jokowi, awas jangan dipilih, karena katanya, tidak pro-Islam. Saya bertanya-tanya dong, menurut mereka, apa sih kepentingan umat itu, dan bagaimana pemimpin yang pro-umat?

Kata saya nih, selama seorang pemimpin bekerja keras mensejahterakan rakyatnya, memberantas korupsi,  menegakkan hukum, bertindak profesional, dan berpolitik dengan santun, maka dia sesungguhnya sudah mengayomi kepentingan umat Islam di negeri ini yang jumlahnya 87,18 persen.

Sebaliknya, meski dari mulutnya bertebaran  ribuan janji manis, ayat, dan hadits, jika perilakunya tercela, memainkan politik transaksional,  mentoleransi pencurian uang negara,  menista saudaranya sesama muslim, dia sama sekali bukan pemimpin yang berpihak pada kepentingan Islam.

Atau mungkin, saya yang salah memahami, bahwa ‘kepentingan umat” yang mereka maksud adalah kepentingan untuk menempatkan tangannya di kabinet dan mengeruk keuntungan dari kekuasaan?  Kalau ternyata memang itu definisi kepentingan umat di benak mereka, berarti saya yang belum berubah, masih naif.   Ah, selamat datang pemimpin baru. ***

Festival Kopi Sipirok 2014

festival kopi sipirok
Tidak selamanya nama dicatut itu bikin hati gak enak. Buktinya baru-baru ini nama saya tiba-tiba muncul di susunan kepengurusan panitia Festival Kopi Sipirok 2014 sebagai anggota Seksi Hubungan Media.  Tapi, saya gak marah tuh, senang malah…hehe…  Tugas pertama saya adalah mempublikasikan rencana penyelenggaraan festival kepada khalayak ramai. Pertama-tama, saya publikasikan di blog dulu deh.

Tanggal pelaksanaan
30 Juli- 3 Agustus 2014

Lokasi
Alun-alun (alaman bolak), Sipirok*, Tapanuli Selatan

Rangkaian kegiatan
-Pertunjukan musik Sipirok Voice dan grup musik lokal
-Opera Batak /Sitilhang
-Tortor, Sitogol, Ungut-ungut, dan Dikkir
-Kopi Luwak Day
-Traditional Brewing
-Modern Brewing dan Latte Art
-Pemilihan Putra/ Putri Kopi Sipirok
-Lokakarya budi daya kopi unggulan
-Malam minum kopi bersama perantau (penciptaan rekor minum kopi luwak).  Penciptaan rekor MURI dalam hal menyeduh dan minum kopi luwak liar Sipirok ini rencananya akan diramaikan oleh 3.500 orang peserta pada 2 Agustus 2014.

Peserta 
Kopi Pinabar, Karya Serasi, Angkola Kopi Sipirok, Sipirock Coffee (Penggagas), Kopi Raja, penggiat kuliner dan oleh-oleh khas Sipirok.

*Sipirok adalah kota kecil di jajaran Bukit Barisan yang terhampar di Lembah Sibualbuali, di ketinggian 800-1900 mdpl. Di awal pengembangannya pernah menjadi pusat pemerintahan Keresidenan Tapanuli. Kota Sipirok saat ini sebagai ibu kota kecamatan sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Jumlah penduduk Kecamatan Sipirok sesuai dengan sensus penduduk tahun 2012 adalah 30.775 jiwa.

Salah satu sumber penghasilan masyarakat Sipirok adalah KOPI, yang telah dikembangkan sejak tahun 1.700-an. Umumnya adalah jenis kopi Robusta, Liberika dan sedikit Arabika. Belakangan ini banyak dibudidayakan kopi Arabika yang bibitnya diperoleh/dibawa dari Aceh Tenggara (kopi Ateng), yang lebih populer dengan sebutan kopi Sibayar Utang.

Kopi Arabika Sipirok berciri khas fruity, full body, rendah asam, dan gurih. Di masa lalu, bahkan digadang-gadang sebagai “the world’s finest unwashed arabica”. Dalam buku ‘All About Coffee’ William H. Ukers (New York, 1922) mendeskripsikan kopi Sipirok (Angkola) sebagai berikut:

“Formerly a Government coffee; large fat bean, making a dull roast; second only to Mandhelings; it has a heavy body and rich, musty flavor.” 
Hal tersebut semakin menegaskan bahwa kopi Sipirok merupakan kopi premium dan seharusnya memiliki harga tinggi di pasar internasional.

Dari segi demografi, kebanyakan masyarakat Sipirok hidup dari pertanian/perkebunan. Namun ironisnya sawah/ kebun yang dimiliki tidak layak secara skala ekonomi baik dari luas maupun jenis tanamannya. Oleh karena itu, masih perlu difasilitasi dan didukung agar para petani dapat mengembangkan potensi geografisnya yaitu dengan menanam tanaman kopi unggulan, dengan
minimal yang layak secara skala ekonomi. Oleh karena itu, promosi dan pemasaran kopi Sipirok perlu terus menerus digalakkan. Salah satu caranya melalui  acara tahunan : Festival Kopi Sipirok. ***

 

 

Gagal Paham

Aku muslim.  Tak terlalu taat, tapi salat selalu lekat.  Kadang radikal, kadang moderat, tapi tak pernah jadi sesat. Dan malam ini aku gagal paham, muslim dari spesies apa yang mencibir saudaranya yang sedang bertamu ke Baitullah.   Siapa bisa membuat saya paham? Akan kuhibahkan sebulan gajiku kepadamu. ***