Pers Modern, Berpihak namun Independen

Jurnalis harus netral dan tak berpihak? Mana mungkin itu terjadi. Pers harus berpihak! Berpihak pada orang-orang lemah, berpihak pada kepentingan rakyat, berpihak pada orang-orang yang dizalimi, dan berpihak pada kebenaran. Bagaimana bisa pers  netral? Proses menentukan angle, memilih narasumber, mengambil kutipan, dan menuliskan lead semuanya adalah pilihan subjektif para penulis dan editornya.

Lantas, kalau tak ada lagi pers yang netral, pada siapa pembaca harus percaya? Bagaimana pembaca bisa menentukan pers yang ini berpihak pada kebenaran, pers yang itu condong pada kebatilan? Dan pertanyaan yang paling penting adalah bagaimana pers  bisa menentukan sebuah kebenaran? Bukankah kebenaran itu bukan monopoli satu pihak. Kebenaran juga –anehnya–punya banyak versi?

Pers bukanlah pengadilan yang bisa memutuskan ihwal ini benar, ihwal itu salah. Produk hukum punya akhir, produk pers tanpa akhir. Produk pers adalah pencarian kebenaran tanpa henti. Karena itu, kebenaran versi pers adalah hasil pengumpulan data dan fakta yang panjang, perdebatan yang sengit  di ruang-ruang diskusi, dan obrolan di warung-warung bobrok yang berjalan dalam suasana kebebasan intelektual.

Para jurnalis sesungguhnya makhluk yang berada dalam pengasingan. Dia terkucil dalam kotak kaca. Orang luar hanya bisa melihat dan mendengar perdebatan mereka, tapi tak bisa menjulurkan tangannya untuk ikut campur. Sehingga, pada ujungnya, kebenaran yang dihasilkan pers  adalah kebenaran yang  lahir  dari prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Kebenaran yang dituliskan   dengan tangan yang bebas dari belenggu penguasa atau pun pemilik modal. Itu baru namanya independen. ***

Menghitung Biaya Pembangunan Rumah

Baru-baru ini saya merenovasi rumah. Karena ke-pede-an, saya menghitung kebutuhan dananya hanya berdasarkan catatan kebutuhan material sewaktu membangun garasi bertahun-tahun yang lalu, dikalikan sekian persen sebagai faktor penambah. Tentu saja, hasilnya meleset. Anggaran yang diperkirakan cukup menjadi membengkak hampir dua kali lipat. Terpaksa, mengikuti langkah pemerintah memangkas anggaran kementerian dan lembaga, kami melakukan pemotongan anggaran di banyak pos.  Kejadian ini  penyakit umum siapa saja yang membangun rumah. Nah, supaya  tidak ada lagi orang yang keliru seperti saya, di bawah ini ada rekap kebutuhan material untuk renovasi. Dengan catatan, bangunan baru selesai 90 persen, ongkos kerja dan konsumsi tukang belum dimasukkan,  dan beberapa bon pembelian material tidak terbaca akibat tulisan si Encik  yang seperti sandi rumput itu. Semoga bermanfaat.

material 1
material 2material 3

 

Belajar dari Perseteruan Mandailing-Batak

Membaca buku Kolonialisme dan etnisitas  Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut, karya Daniel Perret dan diterjemahkan oleh Saraswati Wardhany, terbitan tahun 2010, menjadikan saya tahu bahwa kelompok  Mandailing dan  Batak  pernah berseteru hebat di awal tahun 1900-an. Bahkan, kabarnya, perseteruan itu tidak sebatas di ruang seminar atau media massa, tapi juga sudah sampai ke bentrok fisik.

Orang Mandailing yang tinggal di selatan Tapanuli, yang kebanyakan sudah merantau  dan berpendidikan tinggi pada masanya, tidak mau disebut sebagai bangsa  Batak. Pangkal soalnya adalah pandangan orang Barat yang membedakan antara  Batak  dan Melayu. Mereka menolak identitas scbagai orang  Batak  lantaran pada masa itu  sebutan  Batak  dinilai berkonotasi memalukan, tidak berpendidikan, dan terbelakang.

Pertama-tama, mereka  menganggap diri  sebagai orang Melayu, kemudian, seiiring dengan berkembangnya komunitas pendatang, mereka memperkenalkan diri sebagai  Mandailing.   Identitas baru ini ditabalkan pada sertifikat-sertifikat, akta-akta dan lamaran pckcrjaan. Mereka memang menganggap bahwa orang dari dataran tinggi di sebelah utara Tapanuli terbelakang.

Orang yang menyatakan diri beridentitas Mandailing bukan hanya orang yang berasal dari daerah Mandailing tetapi juga dari daerah Sipirok, Angkola, dan Padang Lawas. Upaya melepaskan diri dari stigma Batak ini mulai mengeras pada tahun 1910-an. orang Mandailing menyatakan bahwa, menurut sejarah dan silsilah, tidak ada hubungan antara orang Mandailing dan orang Batak. Mereka meminta untuk diperlakukan scbagai “bangsa” tcrsendiri, yaitu “bangsa Mandailing”.

Konflik terbuka mulai terjadi di tahun  1919, di sebuah perusahaan Medan bernama Sjarikat Tapanuli. Perusahaan ini,  sebagian pemegang sahamnya mengaku  Batak, dan sebagian lain Mandailing.  Pada suatu  pcmungutan suara dalam sebuah rapat umum, pemegang-pemegang saham  Batak  hanya memberikan suara untuk orang  Batak, sementara pemegang-pemegang saham Mandailing memberikan suara untuk orang  Batak  dan juga Mandailing. Akibatnya, orang Mandailing tidak puas dan  membentuk  perkumpulan sendiri: Sjarikat Mandailing pada Desember 1921.

Salah satu keputusan pertama Sjarikat Mandailing adalah mclarang orang bukan Mandailing untuk menjadi anggotanya. Oleh karenanya, penduduk daerah Sipirok, Angkola dan Padang Lawas harus memilih identitas Mandailing atau Batak. Setelah berlangsung banyak diskusi antara angkatan muda dan tua di Medan, bulan Februari 1922, mereka mengumumkan bahwa mereka adalah orang Batak.

Pertikaian  berlanjut di media massa.  Salah satunya melalui harian Pewarta Deli. Di sini para kolumnis pendukung masing-masing kubu beradu argumentasi mengenai identitasnya masing-masing. Mereka berdebat panjang mengenai nenek moyang Mandailing dan Batak, siapa yang lebih dulu tinggal di Sumatera, atau membahas kelebihan kelompoknya masing-masing.

Pertengkaran meningkat ke level fisik. Peristiwa yang terkenal adalah  kasus Pekuburan Sungai Mati  di Medan tahun 1922.  Ceritanya, pada  Agustus 1922 pecah kasus pekuburan Sungai Mati di Medan.   Pedagang-pedagang Mandailing di kampung Kesawan telah membeli sebuah lahan dari seorang bangsawan Melayu yang kemudian menjadi tanah wakaf dan digunakan sebagai pekuburan sejak 1889.

April 1922, para pengurus pekuburan memutuskan bahwa setiap pemakaman harus mendapatkan izin sebelumnya, dengan alasan bahwa pekuburan itu disediakan khusus untuk menguburkan orang dari “bangsa Mandailing”, atau berasal dari Mandailing, atau pun yang mengaku sebagai Mandailing. Dengan berpedoman pada gagasan itu, pengelola pekuburan memutuskan untuk melarang orang Batak menguburkan jenazah orang yang tidak diakui sebagai orang Mandailing.

Pada awal bulan Agustus,  orang Batak dari Sipirok sedang mengadakan acara penguburan di Sungai Mati. Upacara itu ditolak oleh orang Mandailing.  Tapi, karena orang Batak berkeras dengan alasan sudah sejak dulu menguburkan keluarganya di sana,  sejumlah anggota bangsa Mandailing sudah bersiap-siap untuk menghadapi bentrokan. Pada sore harinya, sudah ada sekitar seribu orang yang berkumpul di pemakaman untuk mencegah penguburan Batak.  Akhirnya, jasad orang  Batak  itu  dikuburkan di luar pemakaman, di dekat Sungai Kerah.

Atas kejadian tersebut, sebagian raja-raja Mandailing meminta kepada pemimpin-pemimpin “bangsa” untuk datang ke daerah memperkenalkan pandangan mereka.   Sebagai balasan, bulan Agustus 1922 itu juga, 28 pemimpin menandatangani sebuah pernyataan yang dinamakan Batak Maninggoring yang menyatakan bahwa “bangsa” penduduk Mandailing adalah bangsa Batak.

Digarisbawahi bahwa sesungguhnya Batak bukanlah nama sebuah negeri atau pun agama, tetapi nama sebuah bangsa di Indonesia yang bermukim di residentie Tapanuli. Sementara Mandailing bukanlah nama sebuah bangsa, melainkan nama sebuah luak di residentie tersebut. Setelah 20 tahun lebih, debat Mandailing versus Batak  akhirnya berujung damai. ***

 

Bagaimana Identitas “Batak” Terbentuk?

Di waktu saya kecil,  olok-olok SARA yang paling populer adalah “orang Batak makan orang.”  Separuh geli, separuh jengkel mendengarnya. Mau marah gimana,  konon faktanya memang seperti itu. Akhirnya kami malah ramai-ramai menertawakan olok-olok itu. Tidak ada sakit hati, tidak ada dendam, karena dulu belum banyak orang yang memandang kelewat serius isu SARA.

Kisah yang dituturkan secara turun-temurun  juga mendukung cerita itu. Saya pernah ke sebuah pekuburan batu di Pulau Samosir. Pemandu wisata kami mengatakan, batu-batu kuburan di sana berwarna merah kecoklatan karena diwarnai oleh darah. Saya sih tidak percaya. Masa warna merah darah bisa bertahan ratusan tahun?  Perkiraan saya sarkofagus itu diwarnai dengan tumbuh-tumbuhan.

Dia juga  mengakui, penduduk Samosir zaman dulu kerap memakan tubuh tawanan perang yang sudah tewas. Tapi, kata dia, tujuannya bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk menghindari pihak yang membunuh dihantui korbannya. Dengan kata lain, memakan tubuh manusia dilakukan bukan karena masyarakat dahulu kanibal, tapi semata-mata karena kepercayaan dan tradisi.

Suka tidak suka, sejarah yang melatarbelakangi terbentuknya identitas “bangsa Batak” dimulai dari cerita yang tidak nyaman, termasuk ya…cerita makan-memakan orang itu.  Buku berjudul Kolonialisme dan etnisitas  Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut karya Daniel Perret dan diterjemahkan oleh Saraswati Wardhany, terbitan tahun 2010, yang baru saya baca  memberikan informasi yang sama.

Dituliskan di buku itu, catatan pertama yang mempunyai kaitan dengan masyarakat Batak dibuat oleh geograf Yunani, Ptolemaeus, pada abad ke-2 Masehi. Ia melukiskan, bagian utara Sumatera sebagai sekumpulan pulau yang di antaranya dihuni oleh orang pemakan manusia. Setelah itu, muncul tulisan-tulisan lain dari sumber-sumber pengelana Arab yang memberikan informasi tambahan mengenai cara hidup kanibal di Sumatera.

Pada akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16, gambaran tentang populasi Sumatera semakin jelas dengan persinggahan Marco Polo di bagian utara Sumatera pada tahun 1291. Ia adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam dan juga pertentangan antara kaum minoritas penganut paganisme dan sebagian kanibal  yang tinggal di pegunungan.

Nicolo de’ Conti  pada tahun 1430  menjadi orang pertama yang menyebut nama tempat “Batech” yang dikaitkan dengan sebuah populasi yang bersifat kanibal dan gemar berperang. Nama tempat ini ditemukan kembali pada awal abad ke-16 melalui Pires yang menyebut “seorang raja dari Bata” dalam laporannya Suma Oriental.

Nama suku “Bata” muncul berkat F. Mendes Pinto. Ia mungkin adalah orang Eropa pertama yang pergi ke pedalaman utara Sumatera dan meninggalkan jejak tertulis. Dalam Peregrination, penjelajah Portugis ini  mencatat kunjungan duta “raja orang Bata” ke kapten Melaka yang baru.

Tahun 1563, Joao de Barros menggunakan kembali nama suku “Batas” dan menyebutkan bahwa masyarakat kanibal yang  gemar berperang ini menghuni bagian pulau yang berhadapan dengan Melaka. Beaulieu yang mengunjungi Aceh tahun 1620-1621  mencatat bahwa penduduk pulau adalah orang Melayu, tetapi di pedalaman terdapat orang-orang dengan bahasa yang sangat berbeda dengan bahasa Melayu dan di antaranya ada yang kanibal

Sumber tertulis mengenai kunjungan ke Sumatera bagian utara dari abad ke-17 berasal dari seorang
Tionghoa yang mengambarkan penduduk daerah Panda dan Bata, sepuluh atau sebelas hari perjalanan jauhnya dari Barus yang menghuni gunung dan hutan  dan sama sekali tidak berhubungan dengan orang-orang Melayu dari dataran rendah.  Ia menceritakan secara mendetail cara mereka memakan daging manusia.

Di tahun 1772,  Charles Miller  masuk ke pedalaman Tapanuli. Ia  terkesan oleh keanekaragaman bahasa penduduk di pedalaman yang meski pun demikian memiliki abjad yang sama.  Charles juga  mencatat tentang sebuah
masyarakat kanibal bemama “Battas” yang berbeda dari semua penduduk lain di Sumatera dari segi bahasa, kebiasaan, dan adat.

Dua sintesis tentang Sumatera muncul berturut-turut pada akhir abad ke- 18. Sintesis Radermacher tahun 1781   masih tetap menawarkan pembedaan yang sudah dikenal, yaitu antara orang-orang gunung yang kemungkinan adalah penduduk lama pulau itu  dan masyarakat pesisir yang kebanyakan terdiri dari orang asing

William Marsden menjadi orang pertama yang mempertanyakan kompleksitas masyarakat-masyarakat Pulau Sumatera dalam karyanya  yang terbit di London tahun 1783 .  Radermacher dan Marsden adalah orang-orang pertama yang menawarkan deskripsi mengenai geografi politik “kerajaan orang Battas”.

Pada akhir abad ke-18 itu, nama suku “Batta” (“Batak” menurut Radermacher) sudah diketahui umum sebagai  sebutan untuk mengidentifikasi penduduk di pedalaman utara Sumatera. Tapi, mungkin oleh Marsden sebutan itu terlalu umum. Ia kemudian membuat perbedaan antara penduduk “Carrow” dan “Batta”.

Tahun 1823 John Anderson  bertualang cukup jauh ke pedalaman pesisir timur laut Sumatera. Lebih maju dari Marsden, ia  adalah orang pertama yang mulai menyebut nama-nama “suku”,  yaitu “Mandiling atau Kataran, Pappak, Tubba, Karau-Karau, Kappak, dan Alas”.

Pada tahun berikutnya, Raffles menugasi dua orang misionaris baptis Inggris, Burton dan Ward, untuk mulai mengkristenkan orang “Batak”, dari Sibolga menuju pedalaman “Tanah-Tanah Toba”. Kedua misionaris itu menjadi orang pertama yang memberikan perkiraan batas-batas sebuah daerah yang disebut “Tanah Batak“.

Pengakuan penjajah Belanda terhadap keberadaan bangsa “Batak” ditegaskan dengan dibentuknya jabatan kontrolir urusan “Batak” pada tahun 1888.  Bersama dengan berjalannya waktu, pelan-pelan identitas suku Batak terbentuk seperti sekarang.  Perlu dicatat pula, proses penyatuan identitas tersebut tidak mudah karena masyarakat yang disebut sebagai Batak itu sendiri sebenarnya tidak pernah menyatakan dirinya sebagai bangsa “Batak”.

Kata Batak di masa itu umumnya digunakan oleh orang masyarakat Melayu yang tinggal di pesisir untuk menunjuk kepada sekelompok orang yang tinggal di pedalaman.  Penyatuan identitas Batak semakin rumit dengan munculnya pertentangan antara kelompok Mandailing yang tinggal di selatan dengan  kelompok masyarakat yang berada di utara seperti Toba.  Tapi, syukurlah, setelah melalui perdebatan selama bertahun-tahun, pelan-pelan semua komunitas tadi  melebur menjadi satu seperti sekarang.

Ups, terlewatkan…lantas bagaimana dengan kelompok kanibal yang ada? Buku yang sama menyebutkan, penelitian seorang bernama Anderson mencatat bahwa terdapat suku-suku tertentu yang tidak mengenal kanibalisme.  Kasus kanibalisme terakhir yang dicatat antara 1900 dan 1904 terdapat di suku Simalungun dan terutama di suku Pakpak  yang pada akhir abad ke-19 masih dianggap sebagai contoh paling menonjol di antara pemakan daging
manusia. Sebaliknya, kanibalisme di dalam suku Karo banyak diragukan. Setelah itu, sepertinya ekstistensi kanibalisme telah punah dari bumi Sumatera.  ***