Siapa Bilang Jadi Wartawan Gampang

Untuk ketiga kalinya, saya terlibat dalam proses seleksi calon reporter. Sebagai calon atasan, tugas saya adalah mewawancarai pelamar yang telah lolos saringan administrasi dan psikotes. Materi wawancara–berdasarkan panduan  dari Divisi Sumber Daya Manusia, adalah seputar ketahanan terhadap tekanan, kreativitas menyelesaikan masalah, kemampuan berkomunikasi, rasa ingin tahu, dan minat menulis.

Dalam waktu sekitar 10 menit,  kami mesti memutuskan apakah pelamar cocok sebagai wartawan atau tidak.  Tiba di  gedung tempat wawancara berlangsung, saya melihat puluhan orang sudah berjejer di kursi tunggu. Sebagian pewawancara  sudah mulai beraksi. Setelah membaca sejenak daftar riwayat hidup pelamar, saya pun meminta si calon masuk.

Belajar dari pengalaman wawancara sebelumnya, saya terlatih mengabaikan penilaian berdasarkan kesan pertama.  Sebab, kesan pertama acap tidak sesuai dengan isinya.  Ada calon yang berpenampilan menarik, bersih, dan rapi, tapi tak sedap dibawa diskusi. Sebaliknya, ada yang penampilannya hancur, tapi isinya berlian.

Sebenarnya, waktu 10 menit terlalu lama untuk menentukan apakah pelamar layak melanjutkan tes ke tahap berikutnya atau gugur. Bagi saya, 1-2 menit pertama biasanya sudah cukup. Pertanyaan pertama saya selalu sama:  lulusan mana.  Jujur saja, lulusan sebagian kampus memang lebih baik dari lulusan kampus yang lain.

Pertanyaan pertama menjadi pengantar, pertanyaan kedua yang menentukan: apakah pelamar mempunyai pengalaman menulis. Pernah mengikuti pers kampus, menulis di media massa, atau aktif mengisi blog dan media sosial memberi poin besar bagi saya. Apalagi jika dia bisa menjawab pertanyaan ketiga mengenai isu  terhangat seputar politik, ekonomi, dan perkotaan.

Kenyataannya,  banyak calon yang katanya ingin jadi juru warta tapi kemudian mengaku jarang membaca koran, situs berita, apalagi majalah.
Banyak dari mereka yang merasa cukup mencermati berita hanya dari media sosial. “Saya jarang baca koran atau majalah. Website berita juga jarang. Biasanya dari media sosial,” ada yang terang-terangan bilang seperti itu.

Lebih gawat lagi waktu ada yang mengatakan,  “Saya tidak menaruh minat pada isu politik. Ekonomi juga.  Sosial sama saja.”  Halah, kenapa berani-berani melamar jadi wartawan?  Pelamar tipe begini  akibatnya fatal, dia dipastikan akan tergagap-gagap menjawab pertanyaan pamungkas saya: “Seandainya Anda saya minta turun ke lapangan sekarang,  apa yang ingin Anda tulis?”

Mungkin pertanyaan itu terkesan terlalu maju untuk seorang bakal calon reporter, karena wartawan yang sudah berpengalaman  saja  akan kerepotan menjawabnya. Tapi, saya tidak sedang mencari jawaban yang sempurna, cuma ingin mendengar jawaban yang menggambarkan bahwa dia memahami apa yang terjadi di sekitarnya.  Tidak terbayang oleh saya ada wartawan yang abai dengan lingkungannya.

Kemampuan lain yang saya nilai cukup penting adalah kemampuan berkomunikasi atau kemampuan menyampaikan gagasan. Kemampuan ini sangat penting untuk melobi narasumber. Sayangnya,  dari belasan calon yang saya wawancarai selama hampir tiga jam, sangat sedikit yang memenuhi harapan saya. Dengan berat hati bercampur sedikit rasa kesal, saya  terpaksa hanya meloloskan dua orang calon ke tahap berikutnya. Jadi, siapa bilang jadi wartawan itu mudah…. ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s