Apa Jadinya Demokrasi Tanpa Korupsi

Drama konflik politik di sebuah kota di belahan timur Pulau Jawa membuat saya merenung tentang jalinan  partai politik dan  korupsi. Perseteruan di sana cukup unik, karena terjadi antara wali kota dan partai politik pengusungnya.   Kabarnya, petinggi partai kebakaran jenggot karena tidak mendapat jatah proyek dari sang wali kota dan  semua pejabat usulan partai ditolak.

Saya bisa menebak isi kepala petinggi partai itu. Pasti dia dengan tanpa perasaan bersalah berpikir, “Sudah dibawa menuju kursi wali kota,  wajar dong sekarang partai mendapat imbalannya.”  Sedangkan ibu wali kota itu saya menduga  berpikir, “Saya bukan anggota partai, apalagi kader. Urusan dengan partai selesai sampai pilkada. Sekarang, kontrak politik saya hanya dengan rakyat.”

Konflik  antara  partai politik dan kepala daerah model begini memang langka. Biasanya, kepala daerah yang terpilih akan cenderung menuruti permintaan partai supaya jabatannya langgeng, supaya tidak diutak-atik di parlemen.  Kalau pun ada yang membangkang,  biasanya orang itu sudah memiliki ‘pegangan’ lain, alias partai lain. Jadi, membangkangnya cuma pencitraan.

Kata orang demokrasi itu mahal, ini lah buktinya. Partai-partai yang tidak memiliki cukup dana,  tidak cukup kreatif untuk mencari dana halal, dan malas membina kadernya akan memilih jalan pintas dengan mencari uang haram. Proses ini terus berlangsung selama belasan tahun Reformasi dan akhirnya menjadi sebuah ‘kebenaran’.  Tidak ada lagi orang yang heran melihat anggota partai masuk penjara.

Partai berlomba-lomba menguasai wilayah, untuk selanjutnya uang daerah digorok demi menggerakkan mesin politik. Mereka berdalih, partai harus tetap hidup, karena partai adalah tiang demokrasi, *bukannya tiang demokrasi adalah rakyat?  Tapi, jika jalinan partai-korupsi ini terus menggurita, yang terjadi bukan partai menjadi tiang demokrasi, tapi malah membebani demokrasi.

Namun, menghentikan praktik ini membuat situasi menjadi serba salah. Karena,  tanpa uang korusi partai politik akan punah.  Demokrasi pun akan lumpuh, dan negara jadi kacau balau. Tidak mungkin pula–dengan alasan supaya partai tidak korup,  kita dan negara harus membiayai seluruh operasional partai, membiayai gaya hidup mewah para petingginya–sementara para pemilihnya hidup melarat. (Baca juga: Bangkrut Setelah Ramadhan).

Sampai di sini saya mengakui, demokrasi memang bukan segala-galanya. Dia cuma alat untuk mencapai kesejahteraan. Jika kesejahteraan rakyat tidak juga terwujud sampai sekarang *duh…, berarti ada yang salah dengan alatnya atau penggunanya.  Partai politik yang mestinya bekerja untuk rakyat telah terbukti berbalik memperbudak rakyat. Kalau sudah begini rasanya lebih baik negara anti-demokrasi tapi sejahtera, dari pada bilangnya demokrasi tapi pura-pura.  ***

Hanya Tiga Pekan, Usia Charger iPad

wpid-2014-02-24-14.06.10.jpgBaru saja dipuji setinggi langit (Baca: Kejutan Kecil, yang Membuat Apple Memikat), charger iPad Mini saya yang belum genap berumur tiga pekan sudah bermasalah. Saat dicolok adaptornya hanya menguarkan panas, tapi tidak mengisi sama sekali. Dengan hati setengah dongkol, setengah cemas–khawatir charger tidak masuk komponen yang digaransi, saya pergi ke e-Store Apple Authorized Service Provider di ground floor, Ratu Plaza  e-Mall, Gatot Subroto.

Tidak lama menunggu, saya sudah diterima oleh seorang staf e-Store yang mengatakan charger termasuk dalam garansi iPad. Alhamdulillah.  Tadinya saya juga berpikir akan ditanya asal-usul barang, beli di mana, kuitansinya ada atau tidak, dan sebagainya.  Tapi, rupanya tidak sedetail itu. Cuma ditanya apa yang rusak. Setelah diperiksa, diketahui yang rusak adalah adaptornya,  sedangkan kabelnya masih berfungsi. Adaptor yang soak itu kemudian diambil dan saya diminta mengisi sejumlah data seperti nama, nomor telepon, dan alamat email.

Selanjutnya, saya diharap bersabar menunggu selama 7-10 hari kerja. “Nanti akan dikabari lewat email atau telepon,” kata si staf. Walau saya rasa waktu 10 hari terlalu lama hanya untuk menukar sebuah adaptor, kecekatan e-Store menanggapi pengajuan klaim masih boleh diacungi jempol. Apalagi, setelah diberi tahu adaptor iPhone dan USB Mac Book bisa dipakai untuk mengisi baterai iPad.  Nah, sekarang tinggal menunggu janjinya, benarkah dalam 7-10 hari barang sudah diganti?

**

Hari ini atau hari kerja keempat sejak pengajuan klaim, datang email dari e-Store. Isinya:

Data unit Anda adalah sebagai berikut,
SRO: ******
Warranty Status : Warranty
Complaint:  Adapter iPad Mini No Charge, ingin diklaim.
Dengan ini kami informasikan bahwa status unit Anda adalah Waiting Parts
Diagnosa pemeriksaan kerusakan unit :
Adapter tidak memiliki power, bahkan setelah memeriksa dengan langkah-langkah untuk memperbaiki *mungkin maksudnya “setelah coba diperbaiki”, masih ada masalah yang sama. Tidak ditemukan tanda-tanda paparan cair pada adapter *mungkin maksudnya “kemasukan air”.
Proses klaim
Proses klaim normal 7 -14 hari kerja. Tidak termasuk  Sabtu dan Minggu/tanggal merah.  *Susunan kalimatnya saya bongkar supaya efisien dan enak dibaca 🙂

**
Alhamdulillah, tidak sampai tenggat 10 hari, sudah datang notifikasi via SMS dari e-Store yang memberitahukan barang pengganti sudah bisa diambil. Dua jempol untuk efisiensi pelayanan e-Store.

Kejutan Kecil, yang Membuat Apple Memikat

Awal saya memakai Mac Book Pro dua tahun lalu, seorang  kawan nyeletuk. Intinya dia bilang, ogah membeli laptop dengan kemampuan premium seperti Mac Pro, karena sifat teknologi yang cepat sekali obsolete.  Laptop yang sekarang dikatakan hebat, tahun depan sudah  ketinggalan zaman. Jadi usang. “Tidak ada habisnya kalau ingin mengikuti perkembangan teknologi.”

Saya sih tidak membantah. Saya bahkan setuju  100 % dengan pendapat itu, tapi…kalau konteksnya bukan  Apple.  Kalau bicara Apple, lain lagi persoalannya.  Bagi saya,  Apple–terutama si Mac Pro, dibeli bukan hanya karena teknologinya yang powerful, tapi juga karena desainnya yang cool, ergonomik, serta  pengerjaannya yang presisi.  Gak percaya? Coba Anda buka dan tutup Mac Book *Bisa pinjem atau mampir ke iBox atau eStore,  dan perhatikan bahwa semua sisinya bisa menutup dengan rapat. Kalau istilah anak saya, amazing!

Sehingga, seperti sebuah karya seni, kata saya, seiring dengan perkembangan teknologi,  alih-alih menjadi “obsolete“,   Mac hanya akan berubah menjadi “classic“.  Beuh… Selain desainnya, yang membuat produk Apple gampang dicintai adalah kejutan-kejutan kecil di dalamnya.  Misalnya,  saya yang aslinya “norak teknologi”  ini  dibuat kagum dengan keyboard Mac  yang bisa bercahaya (backlit keyboard). Sekarang mungkin sudah banyak yang begitu, tapi ketika itu saya belum pernah lihat.  Sebuah fitur yang gak penting sebenarnya, kecuali Anda ingin mengetik di dalam bioskop, tapi sangat menghibur.

wpid-2014-01-27-08.56.31.jpgTeknologi gesture pada trackpad yang paling membuat saya kagum sampai sekarang. Sentuhan satu sampai lima jari semuanya bisa dipakai. Soal desain pula yang membuat saya akhirnya memilih iPad Mini ketimbang Samsung Galaxy Note 10.1 2014. Padahal, kalo dibandingkan jeroannya, jauh banget antara iPad Mini yang keluaran 2012 tapi baru nyampe di Indonesia Desember 2013 ini, dengan Note 2014.  Kalah segalanya, deh si Mini.  Namun, diamond cut  di tepi luarnya serta logo Apple yang dibuat seperti cermin di bagian belakang membuat saya gak tahan untuk tak memilih si Mini.

Dan, seperti biasa, si Mini ini juga memberikan kejutan bagi si “norak teknologi” ini. Wallpaper-nya bisa bergerak, lho. Bergeser mengikuti arah mata kita. Oh..sudah tahu, ya? Saya sih baru tahu 🙂  O,ya…satu lagi saran saya, dari pada membeli iPad biasa yang berat itu, lebih baik Anda memilih iPad Mini  yang ringan. Bahkan, banyak yang menyebut-nyebut iPad Mini sebagai the real iPad Air…karena lebih ringkas dan praktis ketimbang iPad Air sendiri. Apalagi, nanti kalau  iPad Mini 2 dengan Retina Display sudah nongol di Tanah Air, pasti lebih oke. Begitu lah pemirsaahh, dan saya  pun sudah menjadi Apple fanboy??? Oh gosh..  ***