Berlibur ke Bali, Apa Masih Menarik?

Empat kali sudah saya ke Bali, apakah sekarang masih menarik untuk didatangi? Ternyata,  pulau kecil ini masih menggoda buat disambangi. Awal tahun baru 2014 –yang berbarengan dengan liburan sekolah,  saya buka dengan plesiran ke Pulau Dewata. Kesibukannya sudah dimulai dari awal Desember. Googling tempat-tempat wisata, menyusun jadwal perjalanan, memesan tiket  pesawat, memesan mobil rental, sampai  mencari hotel.

Meski sudah berkali-kali ke Bali, bukan berarti saya punya pengetahuan banyak tentang tempat-tempat di sana. Pasalnya, keempat kunjungan sebelumnya selalu terkait pekerjaan, yang  membuat saya tidak leluasa bepergian.  Mulai dari liputan peluncuran produk, konferensi internasional, uji coba mobil anyar, atau sekadar singgah sepulang dari menjelajahi Maluku dan Papua. Sehingga bagi saya, melancong ke Bali bersama keluarga merupakan barang ‘baru’.

Agoda Vs Raja Kamar. Urusan penerbangan gampang. Saya sudah memilih Citilink.  Harga tiketnya murah dan anak usaha BUMN pula.   Urusan hotel yang bikin pening. Saban ke Bali saya selalu menclok di hotel mewah.  Biasanya di Kawasan Pariwisata Nusa Dua dengan harga kamar Rp 4-8 juta semalam.  Itu kamar terapung ala Kota Venesia yang begitu pintu belakangnya dibuka, langsung  bisa mencebur ke kolam renang.

Giliran pergi dengan biaya sendiri, saya berjibaku mencari hotel yang murah tapi tetap beradab. Mula-mula, saya mencari lewat Raja Kamar, agen hotel online milik Smailing Tour, Panorama Tours, dan Dwidaya Tour. Sudah diubek-ubek selama berhari-hari, tidak ketemu juga yang cocok. Ada yang bagus harganya mahal, ada yang murah fasilitasnya minim.

Menyerah dengan Raja Kamar, saya kembali melongok si kawan lama: Agoda. Tak lama kemudian, saya menemukan buruan saya, Hotel Park Regis, di Jalan Raya Kuta. Lokasinya mudah diakses, jaraknya hanya 1,5 km dari Pantai Kuta; harganya pun miring.  Hotel ini tidak terdapat pada daftar Raja Kamar yang hanya mencantumkan 571 hotel di Bali, jauh di bawah Agoda yang bekerja sama dengan 2.921 hotel di Bali. Dengan berat hati, saya harus nyatakan Agoda menang. Mudah-mudahan nantinya Raja Kamar menjadi yang terdepan.

Tampak depan Park Regis Kuta

Tampak depan Park Regis Kuta.

Tampak depan Park Regis Kuta.

Tampak depan Park Regis Kuta.


Makan Malam Mahal di Jimbaran. 
Tiba di Bali, hari sudah sore. Kami sengaja memesan jam penerbangan yang agak siang, supaya tidak terburu-buru. Ditambah bonus delay satu jam, kami tiba di Bandara Ngurah Rai yang masih berantakan itu sekitar pukul 16.00.  Malamnya  saya ajak keluarga menikmati seafood di Pantai Jimbaran. Beberapa tahun lalu, saya pernah ditraktir pengundang makan malam di tepi Pantai Jimbaran. Saya pikir, tak ada salahnya membagikan kenangan eksotis itu kepada keluarga.

Sopir pengganti kami  lantas membawa kami ke sebuah restoran di Jimbaran. Katanya, dia sering mengantar klien ke restoran tersebut. Tempatnya bagus, meski tidak istimewa. Pelayanannya cepat  dan cita rasanya maknyus.  Tiga menu yang kami pesan–cumi-cumi, baronang, dan king prawn, semuanya mantap.  Tapi, bukan itu yang paling berkesan buat saya, melainkan harganya yang berlebihan. Sebagai perbandingan,  duit yang sama bisa dipakai dua  kali bersantap di Bandar Jakarta.  Demi pembalasan dendam seorang budget tourist, satu porsi ikan baronang utuh yang tersisa saya bungkus untuk dimakan keesokan harinya. Barulah hati ini merasa puas.

Bali Bird Park Vs Ragunan
. Hari kedua, pagi-pagi mendadak si raja kecil kami minta ke Bali Bird Park. Padahal tempat ini tidak masuk dalam agenda semula. Dari pada dia merengek terus seharian, kami sepakat menjadikan BBP sebagai tujuan hari ini. Oya, sebelum itu kami sempat singgah ke Pura Tanah Lot, di Tabanan, Bali. Pura yang juga disebut Pura Pekendungan ini dibangun di atas batu karang petilasan Danghyang Nirartha.

Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Ojek payung di Tanah Lot.

Ojek payung di Tanah Lot.

Selepas dari Tanah Lot, mobil kami arahkan ke BBP  di Jalan Singapadu, sekitar 30 kilometer dari Tanah Lot. Taman burung ini  hanya 2 hektare luasnya, yang berarti 70x lebih kecil ketimbang Ragunan yang luasnya 140 hektare. Isinya  1.000 ekor burung dari 250 spesies. Lucunya, di sana ada juga komodo yang jelas-jelas tak punya sayap apalagi bisa terbang.

Sambil berjalan-jalan di taman yang asri, saya berpikir mengenai Ragunan.  Kebun binatang pertama di Indonesia itu jadi terlihat bagaia si buruk rupa jika dibandingkan dengan BBP.  Wajar saja, sebagai kebun binatang terbesar nomor dua di dunia setelah  Toronto, Kanada; harga tiket masuk ke Ragunan hanya Rp 4.000 per kepala. Bandingkan dengan BPP yang berkisar Rp 47.000 (anak-anak) hingga Rp 92.000 (dewasa).  Sedangkan  turis asing dikenai tarif US$ 11,75 – 23,5 per orang ditambah pajak 10 persen.

Kalau mau dibandingkan sesama kebun binatang, dua tahun lalu kami  pernah ke Singapore Zoo, tiketnya kalau  tak silap sekitar Rp 450 ribu untuk tiga orang. Dan hasilnya, dengan tiket masuk sebesar itu kebun binatang menjadi terawat dan penghuninya juga terlihat sehat. Kontras sekali dengan Ragunan. Sering kami ke Ragunan, belum pernah bersua dengan harimau atau singa. Kandangnya yang besar hanya dipenuhi ilalang. Saya mencoba berpikir positif, mungkin macannya lagi day off. 

Untuk menjadikan Ragunan sebagus kebun binatang swasta tentu rencana yang terlalu di atas awan. Karena tiket tidak bisa dinaikkan sedrastis itu atau subsidi tiba-tiba jadi menjulang.  Menurut saya,  yang penting harga tiket masih terjangkau oleh pengunjung dan hewan-hewannya dapat diperlakukan dengan layak.  Coba bayangkan, masa pengunjungnya berpesta-pora di taman, sedangkan hewannya merana di dalam kandang yang bobrok.

Bali Bird Park.

Bali Bird Park.

Burung Elang Jawa di Bali Bird Park.

Burung Elang Jawa, Bali Bird Park.

100_4193

Burung Kakak Tua, Bali Bird Park.

Burung Kasuari Gelambir Tunggal,  Bali Bird Park.

Burung Kasuari Gelambir Tunggal, Bali Bird Park.

Burung Rangkok Tanah, Bali Bird Park.

Burung Rangkok Tanah, Bali Bird Park.

Waktunya makan, Bali Bird Park.

Waktunya makan, Bali Bird Park.

Pilih Sukawati atau Krisna? Hari ketiga, kami berganti sopir. Bli yang selama dua hari memandu kami digantikan Bli asli yang sebelumnya absen harus mengikuti upacara adat. Mobil yang dipakai ikut bertukar. Tadinya Avanza, sekarang APV New Arena. Lebih lega. Berbeda dengan Bli pengganti, Bli yang asli ini pakarnya parawisata. Dia terbiasa memandu turis berkeliling Bali, bahkan sampai naik gunung segala.

Perjalanan hari itu difokuskan ke arah utara dan timur laut Bali. Atas permintaan saya, kami mampir terlebih dulu di Pasar Seni Sukawati. Soalnya, dulu saya pernah diajak ke sana, dan seingat saya tempatnya bagus untuk berbelanja barang-barang seni.  Sekalian saya ingin menunjukkan kepada istri,  ini lho, pasar terkenal di Bali. Namun, begitu tiba di sana, kenapa rasanya berbeda sekali dengan gambaran saya. Mungkin karena faktor ‘u’ yang membuat memori memudar atau karena dulu sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan kondisi pasar tersebut. Kini Pasar Sukawati tampak kusam.

Kami tiba sekitar pukul 10.00. Tidak terlihat jumlah pengunjung yang membludak seperti dulu. Kata istri saya, kualitas barang yang dijajakan juga kurang bagus, masih di bawah kualitas barang  di Krisna yang kami kunjungi sehari lalu.  Saya tambahkan, jenis barang yang dijual juga cenderung seragam, kurang bervariasi. Tak lama kami di sana. Sesudah membeli beberapa helai baju, kami berlalu meninggalkan Sukawati.

Bli pemandu mengakui, dengan semakin populernya pasar modern seperti Krisna dan Agung, Sukawati menjadi tidak terlalu menarik bagi turis.  Kata dia, “Tapi, pengunjungnya tetap ramai.  Karena ada yang senang dengan tawar-menawar dan menganggap itu seninya berbelanja. Selain itu, keberadaan pasar tradisional menumbuhkan ekonomi rakyat,  banyak pedagang kecil yang hidup di Sukawati. Kalau di Krisna cuma pemiliknya saja yang menjadi pedagang, yang lainnya pekerja…bla…bla..” Wah, saya jadi diberi kuliah singkat. Ya, deh, saya setuju dengan pendapat itu.  Tapi, tetap saja saya kurang suka terlibat tawar-menawar barang, takut kecewa dengan harga yang didapat.  Rasanya juga risih kalau setiap langkah ditawari membeli barang ini dan itu.

Perjalanan dari Sukawati dilanjutkan ke Kintamani. Sayangnya, karena hujan dan kabut keburu datang, tak terlihat apa-apa dari Kintamani. Jangankan Desa Trunyan yang kesohor dengan adat pemakaman di bawah pohonnya, Gunung Batur yang menjulang di depan mata pun tak tampak lagi. Sebelum suasana di lokasi syuting film Kabut di Kintamani, *film ini buatan tahun 1978 yang dibintangi W.D Mochtar, itu  benar-benar putih gulita, kami tancap gas menuju Pura Tirta Emphul di Tampaksiring.

Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Mata air abadi di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Mata air abadi di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Fotografer keliling dengan printer-nya di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Fotografer keliling dengan printer-nya di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Donation Desa Tegallalang. Dari Tampak Siring kami menuju Desa Tegallalang.   Desa ini terkenal sebagai desa perajin dan konon merupakan penghasil kerajinan terbesar di Bali.  Desa itu dikenal pula dengan gugusan sawah terasering. Kalau pengen menjajal kekuatan dengkul, Anda boleh turun ke sawah melalui tangan beton yang disediakan. Jangan lupa, begitu mendekati sawah Anda akan disapa seorang bli yang sambil lalu menunjuk papan pengumuman dan kotak di bawahnya. “Donation, donation…” Lha?

Saya mengakui banyaknya kerajinan tangan yang dijajakan di sepanjang tepi jalan desa tersebut. Rajutan ada, ukiran ada, lukisan ada juga. Saya terpikat dengan sebuah lukisan yang menceritakan suasana Pura Luhur Tanah Lot. Setelah tawar-menawar sejenak *saya tak tega menawar terlalu jauh karena tahu sulitnya melukis, dicapai kesepakatan. Penjual itu juga  menawarkan seperangkat papan catur berukir indah. Namun, karena harganya tak indah di kantong, dengan ikhlas tawaran itu saya tolak.  Ada satu rahasia yang bisa saya bagikan, kalau Anda ingin berbelanja di toko suvenir di Tegallalang, tawar sepertiga dari harga barang. Misalnya, harga Rp 150 ribu harus ditawar menjadi Rp 50 ribu. Kenapa begitu? Karena setelah saya bandingkan dengan lapak ‘tetangga’ , harga barang yang sama paling mahal hanya setengah dari harga di Tegallalang. Tak terkecuali lukisan yang saya beli. Duh…

Jalan menuju sawah terasering, Tegalalang, Bali.

Jalan menuju sawah terasering, Tegallalang, Gianyar, Bali.

Pertokoan di atas sawah terasering, Desa Tegallalang, Gianyar, Bali.

Pertokoan di atas sawah terasering, Desa Tegallalang, Gianyar, Bali.

Bebek Tepi Sawah. Tuntas di Tegallalang perut tiba-tiba terasa lapar. Tujuan kami selanjutnya sudah ditentukan: Rumah Makan Bebek Tepi Sawah di Ubud. Rumah makan ini konon paling terkenal di seantero Ubud. Promosinya gak tanggung-tanggung: SBY, setiap ke Bali selalu makan di sini.  Bener juga sih, di kasir restoran itu dipejeng foto SBY lagi berdiri sama entah itu pemilik atau karyawan restoran.

Ternyata,  nama besar restoran ini bukan omong kosong. Sebagai penggemar bebek, saya berani beri garansi bahwa bebeknya memang top.  Paling tidak rasa bebek betutu yang saya pesen setara dengan harganya yang premium.   Menu yang lain juga tidak kalah mantap. Tempatnya pun menyenangkan. Di tengah restoran dibuat beberapa petak sawah beneran, minus pak tani dan kerbaunya.  Resto BTS  punya saingan di dekatnya, namanya mirip-mirip pula:  Bebek Sawah Indah. Mungkin tak lama lagi di Jakarta lahir saingannya, Bebek Sawah Besar.

RM Bebek Tepi Sawah, Ubud.

RM Bebek Tepi Sawah, Ubud.

Daftar menu Bebek Tepi Sawah.

Daftar menu Bebek Tepi Sawah.

Menjajal Pasir Pantai Kuta. Hari keempat, pagi-pagi sekali kami sudah menuju Pantai Kuta. Saya, sebagai pelari andal, tentu tidak melewatkan kesempatan mencicipi pasir Pantai Kuta.  Berlari dengan kaki terbenam pasir di pantai yang miring capeknya luar biasa. Dua kali lipat ketimbang lari di jalanan.  Gak percaya? Coba saja sendiri.  Banyak juga yang menemani kami berlari saat itu. Bule ada, lokal pun banyak.  Pagi, ketika kami mulai berlari, sampah musiman yang dibawa ombak masih  memenuhi bibir pantai. Selesai berlari, satu jam kemudian, sebagian besar sampah sudah disingkirkan oleh puluhan petugas kebersihan.

Berlari di Pantai Kuta. *Jangan keburu kagum, ini reka ulang.

Berlari di Pantai Kuta.

Baliho Ormas.  Beres dari Kuta,  saatnya kami  mengucapkan selamat tinggal kepada Hotel Park Regis Kuta. Hotel best value dengan sarapan pagi terbaik serta kamar yang luas. Saya juga  mengucapkan selamat tinggal yang takzim kepada baliho-baliho ormas yang menguasai jalanan Kota Denpasar dan sekitarnya. Baliho dengan foto puluhan orang yang memamerkan bisep besar  yang berpose di atas tulisan “kami bertekad mengamankan Bali.” Ah, rupanya, demam ormas sudah menular dari Jakarta ke Bali. ***

2 thoughts on “Berlibur ke Bali, Apa Masih Menarik?

  1. Thank you very much, I’am really glad that I’m following you. I’m still figuring out. Just wanted to say that you are an awesome blogger, Inspiring and May you inspire more readers essentially perfectly ok. greetings from Gede Prama🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s