Sipirok dalam Secangkir Kopi

wpid-2014-01-09-19.31.03.jpg

Saya baru tahu kalau kopi Sipirok itu cukup punya nama di kalangan pecinta kopi. Saya juga baru tahu ada kopi Mandailing yang  terkenal sejak zaman penjajahan VOC. Mungkin karena saya kurang bergaul,  mungkin juga karena saya bukan penggemar kopi. Kenapa saya tidak suka kopi? Karena rasanya pahit.  Saya malah  heran, kenapa ada orang yang suka yang pahit-pahit, padahal banyak yang manis-manis. Kalau pun terpaksa menyeruput kopi, saya memilih kopi latte.

Tapi, baru-baru ini, rasa ingin tahu  pada sebuah kafe bernama Coffee Sipirock di Galeri Niaga, Tanjung Barat, Jakarta Selatan memaksa saya untuk kembali menyesap aroma kopi. Kafe ini baru berdiri Agustus 2013 lalu.  Warga Depok pasti  tidak asing dengan kafe ini. Karena,  kalau datang dari arah Pasar Minggu atau TB Simatupang pasti melewati tempat di sebelah Gedung Telkomsel itu.

Kafe ini tidak besar. Luasnya kira-kira dua  unit ruko digabung menjadi satu. Karena masuk di dalam  kompleks ruko, pengguna kendaraan pribadi tidak usah khawatir dengan tempat parkir. Tersedia cukup tempat parkir di kawasan itu. Mencarinya juga tidak susah. Papan nama  besar yang dipejeng di atas kafe  membuat tempat ini  terlihat mencolok dari jauh.

100_4414
Coffee Sipirock terdiri dari tiga lantai. Lantai satu berisi ruang makan, dapur, kasir, dan area live music. Lantai dua tempat makan yang lebih modern, dan lantai tiga musala. Tempat yang paling nyaman adalah di lantai satu. Di sini, meja dan kursinya terbuat dari kayu solid yang berasal dari bangkai kapal nelayan di Muara Baru, Jakarta. Sebelum dipakai, bangkai kapal  ditenggelamkan ke dalam laut selama beberapa tahun. Hasilnya, muncul  efek tertentu pada kayu, seperti lubang-lubang akibat digerogoti hewan laut. Konon pula katanya,  kayu yang telah direndam air laut  akan lebih awet.

Menu  utama di kafe ini adalah kopi,  *ya, iyalah.  Saya pesan kopi drip coffee dan coffee latte. Dua-duanya pakai susu. Teknik penyajian coffee latte saya sudah paham. Banyak di mana-mana.  Namun, drip coffee merupakan barang  baru bagi saya.  Drip coffee  dibuat dengan menempatkan bubuk kopi di atas saringan. Ditekan sedikit supaya padat. Di bawah wadah saringan  ditempatkan cangkir.  Lalu, perlahan-lahan air panas dituangkan ke dalam saringan, dan tunggu sampai air kopi menetes ke dalam cangkir.

Drip Coffee.

Drip Cofee.

Hasilnya adalah secangkir kopi  kental, dengan aroma yang kuat, dan rasanya yang pahit sekali. Rupanya,  saya belum mengaduk susu yang  ada di dasar  cangkir. Setelah diaduk barulah rasanya berubah menjadi “normal”.  Kata orang, teknik drip coffee adalah teknik yang dipakai penduduk Vietnam dalam meminum kopi sehari-hari. Untuk pecinta kopi susu,  susu  dapat ditambahkan di dasar gelas sesuai selera. Katanya lagi, drip coffee  memiliki kadar kafein yang tinggi.

Sembari menyesap dua gelas kopi,  saya berbincang-bincang dengan si empunya kafe, namanya Ayub Pulungan. Pakai “S” di tengahnya. Dari cerita karyawan sebuah perusahaan properti itu saya memahami sedikit mengenai kopi Sipirok. Dia menjelaskan kepada saya yang bodoh ini, kopi Sipirok  didominasi oleh varietas Robusta, Liberika, sedikit Arabika,  dan juga kopi luwak liar.  Kopi  ini dinamai kopi Sipirok karena berasal dari perkebunan rakyat di kaki gunung Gunung Sibualbuali dan sekitar kota Sipirok.  “Aromanya khas fruity atau nutty, full body, dan rendah asam,”  kata dia. Artinya apa? Mungkin kira-kira rasanya lebih manis.

Sejarah kopi Sipirok bisa ditarik panjang ke zaman penindasan VOC alias kumpeni yang menjajah tahun 1602-1798. Melalui kebijakan tanam paksa, perusahaan keparat ini mewajibkan  penduduk Sipirok  menanam kopi varietas Arabika di lereng-lereng Gunung Sibualbuali. Tapi,  mungkin karena bibitnya jelek, varietas Arabika gagal total di sana. Banyak yang terserang hama dan tewas. VOC kemudian menggantinya dengan Robusta, dan sukses. Sejak saat itu, kopi Sipirok menjadi sangat terkenal, bahkan diekspor  melalui pelabuhan Natal dan Teluk Bayur, Sumatera Barat dengan merek Kopi Mandheling.

Di masa kini, sebagian warga Sipirok melanjutkan tradisi menanam kopi.  Sentra-sentra kopi rakyat di Sipirok terletak di Sialaman, Saba Tombak, Siijuk, Pangaribuan, Sidua Dua, Liang, Aek Nabara, Saba Tolang, Parau Sorat, Bunga Bondar X, Silaiya, Mondang, dan Arse. Semua tempat dengan nama-nama “asing” itu terletak di sekitar Sipirok. Tidak semuanya asing sih. Sewaktu masih “kader” Pramuka,  saya pernah berjalan kaki selama tiga hari dari Bunga Bondar ke Desa Benteng Huraba, di dekat Padang Sidempuan.  Perjalanan ini diberi nama Pengembaraan Desember Tradisional (Pedestra) untuk menapaktilasi perjuangan rakyat Sumatera Utara melawan agresi militer Belanda kedua 1948- 1949.

Balik ke kopi, Ayub memastikan  seluruh kopi di Coffee Sipirock didatangkan langsung dari sentra kopi di Sipirok. Mengenai jumlah produksi petani di sana, ia   tidak tahu pasti. Ayub hanya memberi gambaran,   seorang pengepul di Sipirok biasa membawa 50 kilogram bijih kopi setiap hari poken  (pekan) ke pasar. Memang persoalannya, karena dikeringkan dengan cara tradisional–dijemur di tepi jalan,  kadar air pada bijih kopi  perkebunan rakyat masih cukup tinggi, sehingga diperlukan pengeringan  lebih lanjut.

Perihal kopi dan pengeringannya saya sedikit-banyak sudah tahu. Jangan iri ya, sewaktu kecil kerjaan saya adalah memetik kopi di kampung saya yang berjarak 22 kilometer dari Sipirok. Bijih kopi yang sudah dikumpulkan kemudian dihamparkan di atas tikar pandan, dan dijemur di pinggir jalan raya selama tiga hari. Saban hari poken, bijih kopi yang sudah kering lantas dibawa ke pasar Sipirok untuk dijual. (Baca juga: Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah). Tapi, yang saya penasaran adalah mengenai kopi luwak liar  yang katanya juga disajikan di Coffee Sipirock. Apa benar hasil pencernaan luwak liar bisa dikumpulkan? Namanya juga liar, bagaimana cara mendeteksi ini kotoran luwak liar atau bukan?  Jangan-jangan luwak yang ditangkarkan?

Ditanya hal itu, Ayub menjamin kopi luwak di kafe miliknya itu berasal dari luwak liar.  Menurut dia, seekor luwak–meski dikata liar, adalah binatang  resik. Luwak selalu membuang kotoran di tempat-tempat yang bersih, seperti di atas batu atau di atas sebatang kayu. Sehingga, kopi yang sudah dicerna luwak bisa dikenali dengan mudah.

Bukan cuma ingin mengembangkan bisnis, Ayub mengungkapkan, niatnya mendirikan kafe adalah untuk menopang sentra-sentra kopi rakyat di Sipirok.  Ia juga bertekad menjadikan Coffee Sipirock sebagai tempat bagi pecinta kopi sejati yang ingin  mencari “the real coffee“, bukan sekadar mencari tempat nongkrong.  Selama kami  berbincang-bincang, alunan lagu Batak yang dinyanyikan dengan bersemangat oleh sepasang remaja di dalam   kafe terdengar sampai luar. Setelah habis dua cangkir kopi, saya pun pamit *tetap bayar dulu ke kasir, bersama keinginan yang semakin dalam untuk suatu waktu menelusuri seluk-beluk kota kecil bernama Sipirok. Lamunan tentang itu sampai-sampai membuat mata ini tidak bisa terpejam hingga adzan Subuh bergema *Duh…dua gelas kopi di malam hari. ***

Advertisements

Berlibur ke Bali, Apa Masih Menarik?

Empat kali sudah saya ke Bali, apakah sekarang masih menarik untuk didatangi? Ternyata,  pulau kecil ini masih menggoda buat disambangi. Awal tahun baru 2014 –yang berbarengan dengan liburan sekolah,  saya buka dengan plesiran ke Pulau Dewata. Kesibukannya sudah dimulai dari awal Desember. Googling tempat-tempat wisata, menyusun jadwal perjalanan, memesan tiket  pesawat, memesan mobil rental, sampai  mencari hotel.

Meski sudah berkali-kali ke Bali, bukan berarti saya punya pengetahuan banyak tentang tempat-tempat di sana. Pasalnya, keempat kunjungan sebelumnya selalu terkait pekerjaan, yang  membuat saya tidak leluasa bepergian.  Mulai dari liputan peluncuran produk, konferensi internasional, uji coba mobil anyar, atau sekadar singgah sepulang dari menjelajahi Maluku dan Papua. Sehingga bagi saya, melancong ke Bali bersama keluarga merupakan barang ‘baru’.

Agoda Vs Raja Kamar. Urusan penerbangan gampang. Saya sudah memilih Citilink.  Harga tiketnya murah dan anak usaha BUMN pula.   Urusan hotel yang bikin pening. Saban ke Bali saya selalu menclok di hotel mewah.  Biasanya di Kawasan Pariwisata Nusa Dua dengan harga kamar Rp 4-8 juta semalam.  Itu kamar terapung ala Kota Venesia yang begitu pintu belakangnya dibuka, langsung  bisa mencebur ke kolam renang.

Giliran pergi dengan biaya sendiri, saya berjibaku mencari hotel yang murah tapi tetap beradab. Mula-mula, saya mencari lewat Raja Kamar, agen hotel online milik Smailing Tour, Panorama Tours, dan Dwidaya Tour. Sudah diubek-ubek selama berhari-hari, tidak ketemu juga yang cocok. Ada yang bagus harganya mahal, ada yang murah fasilitasnya minim.

Menyerah dengan Raja Kamar, saya kembali melongok si kawan lama: Agoda. Tak lama kemudian, saya menemukan buruan saya, Hotel Park Regis, di Jalan Raya Kuta. Lokasinya mudah diakses, jaraknya hanya 1,5 km dari Pantai Kuta; harganya pun miring.  Hotel ini tidak terdapat pada daftar Raja Kamar yang hanya mencantumkan 571 hotel di Bali, jauh di bawah Agoda yang bekerja sama dengan 2.921 hotel di Bali. Dengan berat hati, saya harus nyatakan Agoda menang. Mudah-mudahan nantinya Raja Kamar menjadi yang terdepan.

Tampak depan Park Regis Kuta

Tampak depan Park Regis Kuta.

Tampak depan Park Regis Kuta.

Tampak depan Park Regis Kuta.


Makan Malam Mahal di Jimbaran. 
Tiba di Bali, hari sudah sore. Kami sengaja memesan jam penerbangan yang agak siang, supaya tidak terburu-buru. Ditambah bonus delay satu jam, kami tiba di Bandara Ngurah Rai yang masih berantakan itu sekitar pukul 16.00.  Malamnya  saya ajak keluarga menikmati seafood di Pantai Jimbaran. Beberapa tahun lalu, saya pernah ditraktir pengundang makan malam di tepi Pantai Jimbaran. Saya pikir, tak ada salahnya membagikan kenangan eksotis itu kepada keluarga.

Sopir pengganti kami  lantas membawa kami ke sebuah restoran di Jimbaran. Katanya, dia sering mengantar klien ke restoran tersebut. Tempatnya bagus, meski tidak istimewa. Pelayanannya cepat  dan cita rasanya maknyus.  Tiga menu yang kami pesan–cumi-cumi, baronang, dan king prawn, semuanya mantap.  Tapi, bukan itu yang paling berkesan buat saya, melainkan harganya yang berlebihan. Sebagai perbandingan,  duit yang sama bisa dipakai dua  kali bersantap di Bandar Jakarta.  Demi pembalasan dendam seorang budget tourist, satu porsi ikan baronang utuh yang tersisa saya bungkus untuk dimakan keesokan harinya. Barulah hati ini merasa puas.

Bali Bird Park Vs Ragunan
. Hari kedua, pagi-pagi mendadak si raja kecil kami minta ke Bali Bird Park. Padahal tempat ini tidak masuk dalam agenda semula. Dari pada dia merengek terus seharian, kami sepakat menjadikan BBP sebagai tujuan hari ini. Oya, sebelum itu kami sempat singgah ke Pura Tanah Lot, di Tabanan, Bali. Pura yang juga disebut Pura Pekendungan ini dibangun di atas batu karang petilasan Danghyang Nirartha.

Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Pura Tanah Lot, Tabanan, Bali.

Ojek payung di Tanah Lot.

Ojek payung di Tanah Lot.

Selepas dari Tanah Lot, mobil kami arahkan ke BBP  di Jalan Singapadu, sekitar 30 kilometer dari Tanah Lot. Taman burung ini  hanya 2 hektare luasnya, yang berarti 70x lebih kecil ketimbang Ragunan yang luasnya 140 hektare. Isinya  1.000 ekor burung dari 250 spesies. Lucunya, di sana ada juga komodo yang jelas-jelas tak punya sayap apalagi bisa terbang.

Sambil berjalan-jalan di taman yang asri, saya berpikir mengenai Ragunan.  Kebun binatang pertama di Indonesia itu jadi terlihat bagaia si buruk rupa jika dibandingkan dengan BBP.  Wajar saja, sebagai kebun binatang terbesar nomor dua di dunia setelah  Toronto, Kanada; harga tiket masuk ke Ragunan hanya Rp 4.000 per kepala. Bandingkan dengan BPP yang berkisar Rp 47.000 (anak-anak) hingga Rp 92.000 (dewasa).  Sedangkan  turis asing dikenai tarif US$ 11,75 – 23,5 per orang ditambah pajak 10 persen.

Kalau mau dibandingkan sesama kebun binatang, dua tahun lalu kami  pernah ke Singapore Zoo, tiketnya kalau  tak silap sekitar Rp 450 ribu untuk tiga orang. Dan hasilnya, dengan tiket masuk sebesar itu kebun binatang menjadi terawat dan penghuninya juga terlihat sehat. Kontras sekali dengan Ragunan. Sering kami ke Ragunan, belum pernah bersua dengan harimau atau singa. Kandangnya yang besar hanya dipenuhi ilalang. Saya mencoba berpikir positif, mungkin macannya lagi day off. 

Untuk menjadikan Ragunan sebagus kebun binatang swasta tentu rencana yang terlalu di atas awan. Karena tiket tidak bisa dinaikkan sedrastis itu atau subsidi tiba-tiba jadi menjulang.  Menurut saya,  yang penting harga tiket masih terjangkau oleh pengunjung dan hewan-hewannya dapat diperlakukan dengan layak.  Coba bayangkan, masa pengunjungnya berpesta-pora di taman, sedangkan hewannya merana di dalam kandang yang bobrok.

Bali Bird Park.

Bali Bird Park.

Burung Elang Jawa di Bali Bird Park.

Burung Elang Jawa, Bali Bird Park.

100_4193

Burung Kakak Tua, Bali Bird Park.

Burung Kasuari Gelambir Tunggal,  Bali Bird Park.

Burung Kasuari Gelambir Tunggal, Bali Bird Park.

Burung Rangkok Tanah, Bali Bird Park.

Burung Rangkok Tanah, Bali Bird Park.

Waktunya makan, Bali Bird Park.

Waktunya makan, Bali Bird Park.

Pilih Sukawati atau Krisna? Hari ketiga, kami berganti sopir. Bli yang selama dua hari memandu kami digantikan Bli asli yang sebelumnya absen harus mengikuti upacara adat. Mobil yang dipakai ikut bertukar. Tadinya Avanza, sekarang APV New Arena. Lebih lega. Berbeda dengan Bli pengganti, Bli yang asli ini pakarnya parawisata. Dia terbiasa memandu turis berkeliling Bali, bahkan sampai naik gunung segala.

Perjalanan hari itu difokuskan ke arah utara dan timur laut Bali. Atas permintaan saya, kami mampir terlebih dulu di Pasar Seni Sukawati. Soalnya, dulu saya pernah diajak ke sana, dan seingat saya tempatnya bagus untuk berbelanja barang-barang seni.  Sekalian saya ingin menunjukkan kepada istri,  ini lho, pasar terkenal di Bali. Namun, begitu tiba di sana, kenapa rasanya berbeda sekali dengan gambaran saya. Mungkin karena faktor ‘u’ yang membuat memori memudar atau karena dulu sebenarnya saya tidak terlalu memperhatikan kondisi pasar tersebut. Kini Pasar Sukawati tampak kusam.

Kami tiba sekitar pukul 10.00. Tidak terlihat jumlah pengunjung yang membludak seperti dulu. Kata istri saya, kualitas barang yang dijajakan juga kurang bagus, masih di bawah kualitas barang  di Krisna yang kami kunjungi sehari lalu.  Saya tambahkan, jenis barang yang dijual juga cenderung seragam, kurang bervariasi. Tak lama kami di sana. Sesudah membeli beberapa helai baju, kami berlalu meninggalkan Sukawati.

Bli pemandu mengakui, dengan semakin populernya pasar modern seperti Krisna dan Agung, Sukawati menjadi tidak terlalu menarik bagi turis.  Kata dia, “Tapi, pengunjungnya tetap ramai.  Karena ada yang senang dengan tawar-menawar dan menganggap itu seninya berbelanja. Selain itu, keberadaan pasar tradisional menumbuhkan ekonomi rakyat,  banyak pedagang kecil yang hidup di Sukawati. Kalau di Krisna cuma pemiliknya saja yang menjadi pedagang, yang lainnya pekerja…bla…bla..” Wah, saya jadi diberi kuliah singkat. Ya, deh, saya setuju dengan pendapat itu.  Tapi, tetap saja saya kurang suka terlibat tawar-menawar barang, takut kecewa dengan harga yang didapat.  Rasanya juga risih kalau setiap langkah ditawari membeli barang ini dan itu.

Perjalanan dari Sukawati dilanjutkan ke Kintamani. Sayangnya, karena hujan dan kabut keburu datang, tak terlihat apa-apa dari Kintamani. Jangankan Desa Trunyan yang kesohor dengan adat pemakaman di bawah pohonnya, Gunung Batur yang menjulang di depan mata pun tak tampak lagi. Sebelum suasana di lokasi syuting film Kabut di Kintamani, *film ini buatan tahun 1978 yang dibintangi W.D Mochtar, itu  benar-benar putih gulita, kami tancap gas menuju Pura Tirta Emphul di Tampaksiring.

Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Mata air abadi di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Mata air abadi di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Fotografer keliling dengan printer-nya di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Fotografer keliling dengan printer-nya di Pura Tirta Emphul, Tampaksiring.

Donation Desa Tegallalang. Dari Tampak Siring kami menuju Desa Tegallalang.   Desa ini terkenal sebagai desa perajin dan konon merupakan penghasil kerajinan terbesar di Bali.  Desa itu dikenal pula dengan gugusan sawah terasering. Kalau pengen menjajal kekuatan dengkul, Anda boleh turun ke sawah melalui tangan beton yang disediakan. Jangan lupa, begitu mendekati sawah Anda akan disapa seorang bli yang sambil lalu menunjuk papan pengumuman dan kotak di bawahnya. “Donation, donation…” Lha?

Saya mengakui banyaknya kerajinan tangan yang dijajakan di sepanjang tepi jalan desa tersebut. Rajutan ada, ukiran ada, lukisan ada juga. Saya terpikat dengan sebuah lukisan yang menceritakan suasana Pura Luhur Tanah Lot. Setelah tawar-menawar sejenak *saya tak tega menawar terlalu jauh karena tahu sulitnya melukis, dicapai kesepakatan. Penjual itu juga  menawarkan seperangkat papan catur berukir indah. Namun, karena harganya tak indah di kantong, dengan ikhlas tawaran itu saya tolak.  Ada satu rahasia yang bisa saya bagikan, kalau Anda ingin berbelanja di toko suvenir di Tegallalang, tawar sepertiga dari harga barang. Misalnya, harga Rp 150 ribu harus ditawar menjadi Rp 50 ribu. Kenapa begitu? Karena setelah saya bandingkan dengan lapak ‘tetangga’ , harga barang yang sama paling mahal hanya setengah dari harga di Tegallalang. Tak terkecuali lukisan yang saya beli. Duh…

Jalan menuju sawah terasering, Tegalalang, Bali.

Jalan menuju sawah terasering, Tegallalang, Gianyar, Bali.

Pertokoan di atas sawah terasering, Desa Tegallalang, Gianyar, Bali.

Pertokoan di atas sawah terasering, Desa Tegallalang, Gianyar, Bali.

Bebek Tepi Sawah. Tuntas di Tegallalang perut tiba-tiba terasa lapar. Tujuan kami selanjutnya sudah ditentukan: Rumah Makan Bebek Tepi Sawah di Ubud. Rumah makan ini konon paling terkenal di seantero Ubud. Promosinya gak tanggung-tanggung: SBY, setiap ke Bali selalu makan di sini.  Bener juga sih, di kasir restoran itu dipejeng foto SBY lagi berdiri sama entah itu pemilik atau karyawan restoran.

Ternyata,  nama besar restoran ini bukan omong kosong. Sebagai penggemar bebek, saya berani beri garansi bahwa bebeknya memang top.  Paling tidak rasa bebek betutu yang saya pesen setara dengan harganya yang premium.   Menu yang lain juga tidak kalah mantap. Tempatnya pun menyenangkan. Di tengah restoran dibuat beberapa petak sawah beneran, minus pak tani dan kerbaunya.  Resto BTS  punya saingan di dekatnya, namanya mirip-mirip pula:  Bebek Sawah Indah. Mungkin tak lama lagi di Jakarta lahir saingannya, Bebek Sawah Besar.

RM Bebek Tepi Sawah, Ubud.

RM Bebek Tepi Sawah, Ubud.

Daftar menu Bebek Tepi Sawah.

Daftar menu Bebek Tepi Sawah.

Menjajal Pasir Pantai Kuta. Hari keempat, pagi-pagi sekali kami sudah menuju Pantai Kuta. Saya, sebagai pelari andal, tentu tidak melewatkan kesempatan mencicipi pasir Pantai Kuta.  Berlari dengan kaki terbenam pasir di pantai yang miring capeknya luar biasa. Dua kali lipat ketimbang lari di jalanan.  Gak percaya? Coba saja sendiri.  Banyak juga yang menemani kami berlari saat itu. Bule ada, lokal pun banyak.  Pagi, ketika kami mulai berlari, sampah musiman yang dibawa ombak masih  memenuhi bibir pantai. Selesai berlari, satu jam kemudian, sebagian besar sampah sudah disingkirkan oleh puluhan petugas kebersihan.

Berlari di Pantai Kuta. *Jangan keburu kagum, ini reka ulang.

Berlari di Pantai Kuta.

Baliho Ormas.  Beres dari Kuta,  saatnya kami  mengucapkan selamat tinggal kepada Hotel Park Regis Kuta. Hotel best value dengan sarapan pagi terbaik serta kamar yang luas. Saya juga  mengucapkan selamat tinggal yang takzim kepada baliho-baliho ormas yang menguasai jalanan Kota Denpasar dan sekitarnya. Baliho dengan foto puluhan orang yang memamerkan bisep besar  yang berpose di atas tulisan “kami bertekad mengamankan Bali.” Ah, rupanya, demam ormas sudah menular dari Jakarta ke Bali. ***

Liburan Sekolah Tak Harus Mahal

Musim liburan sekolah datang  lagi, saatnya mengenalkan pengalaman baru kepada  anak. Banyak pilihan untuk menciptakan pengalaman seru bagi si kecil. Tidak selalu mahal dan jauh, ada juga yang murah dan dekat tapi sama  berharganya.  Cocok untuk pengusaha yang kebetulan bisnisnya lagi seret atau pegawai yang perusahaannya kena imbas krisis mata uang sehingga bonus tahun ini tipis *haha…

Bagi warga Depok, contohnya, di Margo City  sampai 5 Januari mendatang ada festival Kampoeng Main yang diselenggarakan  Caldera Indonesia. Caldera ini jagonya kegiatan outdoor.  Saya pernah mengikuti acara outbound dan arung jeram mereka di Sungai Citarik, Sukabumi. Cukup profesional. Festival Kampoeng Main ini agenda tahunan yang  tempatnya berpindah-pindah. Mumpung lokasinya tahun ini dekat, kami pun mengajak si boncel ke sana. Dua kali malah. Macam-macam permainan ada dalam mal berkonsep city walk tersebut. Untuk kegiatan berbasis aktivitas fisik ada permainan High Rope, Mini Wall Climbing, dan Labirin.

Permainan High Rope  diawali dengan memanjat menara bambu setinggi sekitar 10 meter, kemudian di puncak menara anak dibimbing meniti sebilah bambu, dilanjutkan dengan flying fox  mini, dan diakhiri dengan turun menggunakan tali dari menara kedua. Mini Wall Climbing mirip dengan wall climbing beneran. Cuma, dindingnya dibuat condong dengan kemiringan kurang dari 90 derajat. Jadinya,  anak tidak perlu mengeluarkan tenaga buat memanjat.

Namanya juga anak-anak, *orang dewasa saja mungkin gentar, banyak yang menangis begitu sampai di atas menara atau sewaktu Mini Wall Climbing. Termasuk si boncel :)). Tapi, tidak apa-apa. Itu bisa mengenalkan anak pada ketinggian sekaligus pada pemahaman bahwa dalam hidup risiko terkadang harus diambil,  dengan pertimbangan  yang matang tentu saja.   Permainan fisik ketiga adalah Labirin. Di sini anak masuk ke dalam sebuah lorong  berliku-liku dan gelap. Di ujung lorong ada lintasan tali yang harus dilewati dengan merayap sampai ke pintu keluar.

Memanjat menara bambu.

Memanjat menara bambu.

Meniti jembatan bambu.

Meniti jembatan bambu.

Mini wall climbing.

Mini wall climbing.

Tidak mahal untuk menghabiskan ketiga permainan ini. Cukup  bayar Rp 60 ribu satu paket. Di luar kegiatan fisik masih ada kegiatan lain seperti membatik dan melukis layang-layang. Oya, satu lagi kegiatan adalah  Paint Ball Shooting,  menembak sasaran dengan senapan paint ball. Harganya juga Rp 30 ribu, untuk menembakkan 8 peluru. Nah, kalau yang ini menurut saya sih kelewat mahal. Masa Rp 30 ribu cuma dapat 8 peluru, mana tak ada satu pun yang kena sasaran. Ya, sudah lah…tak ada yang sempurna.

Liburan murah kedua bagi si boncel adalah membuat pizza. Tempatnya di Gian Pizza yang ada di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok.  Kegiatan yang ini harus diikuti dalam rombongan. Tidak bisa sendirian. Kebetulan, si boncel ikut dari tempat mengajinya. Meski namanya membuat pizza, sebenarnya cuma membuat topping dari taburan keju, daging, dan sosis. Adonannya sih sudah disediakan oleh toko pizza kecil itu.

Setelah selesai menyusun topping,  pizza setengah matang itu lantas dipanggang selama sekitar 15 menit. Maka, selesailah pizza mungil ala anak-anak. Manfaat kegiatan ini apa? Bagi saya mungkin adalah mengenalkan anak kepada berbagai profesi, termasuk menjadi pengusaha pizza…:) Ongkos kegiatan ini juga murah kok, cuma Rp 30 ribu, sudah bisa bawa pulang pizza ukuran personal pan.
wpid-2013-12-27-09.30.04.jpg

Pizza sebelum dipanggang.

Pizza sebelum dipanggang.


Akhirnya, si boncel menutup agenda liburan murahnya dengan kursus singkat membuat prakarya dari kertas kokoru (corrugated paper). Buat yang bingung apa itu kertas kokoru, bayangkan karton Indomie, Anda buka lapisan luarnya, maka kertas bergelombang yang di  baliknya  adalah kertas kokoru *mungkin lidah Jepang menyebut corrugated dengan kokoru. Kira-kira seperti itu kertas kokoru, hanya saja warnanya dibuat meriah.  Dari kertas itu bisa dibuat beraneka macam kerajinan tangan seperti pohon-pohonan, bunga-bungaan, mobil-mobilan, dan lain-lain.

Prakarya dari kertas Kokoru.

Prakarya dari kertas Kokoru.


Tempatnya dekat pula, di Depok Town Square. Pengajarnya bernama Wuri Widi, penulis buku “Kreasi Lucu Kokoru Craft for Kids” terbitan Kawan Pustaka. Biaya kursus 2-3 jam ini juga terjangkau, cuma Rp 50 ribu, sudah sama material dan peralatan prakarya.  Terbukti kan, liburan anak tidak harus mahal. Dengan biaya terjangkau si kecil bisa mendapat pengalaman  yang tidak kalah berharganya. Tapi, tunggu dulu, liburan si boncel belum berakhir. Simak ‘petualangan’ selanjutnya 🙂 ***