Household Financial Engineering

Saya menyebutnya rekayasa finansial rumah tangga (household financial engineering).  Apakah istilah ini baku dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Tentu saja tidak. Itu istilah yang baru saja saya pikirkan.  Idenya adalah, bukan hanya perusahaan saja yang bisa melakukan rekayasa finansial (financial engineering) supaya bisa tumbuh, rumah tangga dan pribadi juga bisa melakukannya untuk mempercepat (istilah kerennya leverage atau daya ungkit) peningkatan taraf hidup🙂

Rekayasa finansial saya dimulai dari dua bulan lalu. Ketika cicilan mobil,  *akhirnya,  lunas. Dua bulan bersenang-senang dengan gaji utuh, bulan ini saya kembali membuat cicilan baru berwujud kredit tanpa agunan (KTA) di sebuah bank BUMN.  Kenapa KTA,  karena kebetulan perusahaan tempat saya bekerja masuk ke dalam daftar perusahaan pilihan bank tersebut, *yang  entah apa dasarnya, sehingga berhak mendapat bunga ‘murah’.

Saya kasih petik karena  nyatanya tidak murah juga, apalagi dibandingkan dengan kredit dengan agunan.  Cuma keunggulan KTA, prosesnya cepat dan syaratnya tidak bikin jengkel. Terlebih, ada satu syarat yang belum dapat saya penuhi, yang mengharuskan saya berhubungan dengan birokrat kota, *argh, alergi birokrasi.

Mengambil KTA tidak salah juga, kok, asalkan kita memperhatikan beberapa hal. Pertama, tentu saja besaran suku bunga. Bandingkan antara satu bank dengan bank lain. Cari bunga terkecil. Umumnya bank menawarkan bunga dengan istilah-istilah teknis seperti: bunga  efektif 18 persen per tahun atau setara dengan 0,9 % per bulan. Kalau bingung menghitungnya, cukup bandingkan besar cicilan per bulan.  Dijamin gak bakalan salah.

Kedua, cari bank yang menawarkan cicilan tetap. Ini penting di tengah tren kenaikan suku bunga bank. Sayangnya,  bank juga sadar dengan tren itu sehingga jarang yang mau memberikan program cicilan tetap..hehe… Biasanya bunga bergerak sesuai dengan perubahan suku bunga bulanan. Bisa naik, bisa turun. Beruntung lah orang-orang yang mendapatkan cicilan tetap.

Ketiga, pastikan jumlah cicilan bulan yang harus kita bayar benar-benar sesuai dengan profil penghasilan *pakai istilahnya PPATK.  Jangan membohongi diri sendiri seandainya kita mempunyai utang lain yang di luar sistem perbankan.  Selain itu, sisakan sedikit ruang di gaji Anda untuk buat berjaga-jaga, jika  mendadak krisis ekonomi datang dan besar cicilan kita melompat gak karuan.  (Baca: Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?) *Tapi, kalau melompatnya gila-gilaan  kita harus turun ke jalan :))

Keempat, jangan habiskan uang kredit yang kita dapatkan. Tabung/investasikan sebagian, supaya bunga/hasil investasinya bisa dijadikan sebagai kompensasi bunga kredit. Kalau saya, gak cuma disimpan sebagian dan yang utama dipakai untuk renovasi rumah, sebagian lagi dipakai untuk berwisata…hahaha….itu juga investasi, investasi batin.  Boleh kok, memakai uang kredit untuk melancong. Yang gak boleh dipakai itu untuk spekulasi, lebih-lebih lagi spekulasi di pasar keuangan yang lagi gak waras ini. Takutnya modal ambles, cicilan tetap harus dibayar. Rugi dua kali. (Lihat juga: Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?)

Prinsipnya, sama seperti sebuah perusahaan, rekayasa finansial diterapkan supaya kita tidak  harus menggunakan uang kita sendiri,  *kalau di perusahaan istilahnya kas internal, untuk membayar keperluan kita. Jadi, ketimbang memakai tabungan kita yang susah-payah dikumpulkan, pakai lah itu uang menganggur yang ada di sistem perbankan :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s