Sokola Rimba: Orang Rimba Tidak Lagi Kubu

Karena buku Sokola Rimba dibuat film, saya jadi ingat dulu pernah menulis resensinya di Koran Tempo edisi 12 Agustus 2007.

—–
sokola rimba

Orang Rimba Tidak Lagi Kubu

Judul: Sokola Rimba
Penulis: Butet Manurung
Penerbit: Insist Press
Cetakan Pertama: Juni 2007
Tebal: 245 halaman

Runtuhnya langit-langit salah satu ruang kelas Sekolah Dasar Muhammadiyah 11 Solo, Jawa Tengah, Senin lalu, menggenapi hitamnya muka pendidikan nasional. Tiga orang siswa yang berada di dalam kelas pada jam istirahat terluka ringan. Ironisnya, para korban adalah siswa yang tengah berdiskusi tentang pelajaran di dalam kelas.

Dilihat dari sejarahnya, tak mengherankan kalau plafon kelas VI itu jebol. Sejak dibangun pada 1963, sekolah ini baru sekali diperbaiki, itu pun 27 tahun silam. Hampir semua langit-langit kelas terlihat bolong. Bahkan batang-batang bambu dipasang untuk menyokong agar plafon tidak melengkung.

Tahun lalu sekolah ini memang mendapat dana renovasi Rp 50 juta dari pemerintah provinsi. Namun, menurut pengurus sekolah, dana itu hanya cukup untuk membenahi satu ruang kelas. Selebihnya, kelas-kelas yang ada tenggelam dalam keadaan yang memprihatinkan.
Kualitas dan fasilitas pendidikan bangsa ini memang belum memuaskan. Bahkan, karena pendapatan negara turun sekitar Rp 38 triliun dari target Rp 723,1 triliun, anggaran pendidikan 2008 terpaksa ditekan dari Rp 44 triliun (11,8 persen) menjadi Rp 39,5 triliun (10,5 persen).

Tapi anomali selalu saja ada. Di tengah jepitan situasi yang serba sulit, ada saja orang yang tidak mau dihambat oleh keterbatasan. Dengan kemampuan sendiri, mereka berjuang mencerdaskan anak bangsa. Saur Marlina Manurung alias Butet adalah satu di antara pahlawan itu.
Buku Sokola Rimba ditulis oleh Butet berdasarkan pengalamannya menjadi fasilitator pendidikan untuk Orang Rimba, yang tinggal di Hutan Bukit Dua Belas, Jambi, pada September 1999 sampai 2005. Selama rentang waktu itu, ia bergabung dengan Warung Informasi Konservasi (Warsi) dan kemudian mendirikan Sokola.

Kawasan Taman Nasional Hutan Bukit Dua Belas memiliki luas 60.500 hektare, yang meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Tebo, dan Kabupaten Sarolangun. Ada 11 temenggung (kepala rombong atau kelompok), dengan populasi berdasarkan survei Warsi pada 1997, sekitar 1.300 orang.

Memasuki ranah kehidupan Orang Rimba sepertinya tidaklah terlalu menyulitkan Butet. Biar memilih hidup menghindar dari modernitas dan menggantungkan diri semata-mata pada apa yang disediakan hutan, Orang Rimba cukup terbuka terhadap Orang Terang (orang yang tinggal di desa atau kota).

Yang menyulitkan Butet adalah mengajak anak-anak Rimba belajar. Satu bulan pertama, Butet, yang merasa sudah dapat mengajak anak-anak belajar, melakukan satu kesalahan. Tawarannya agar mereka ikut bersekolah ditolak mentah-mentah. Si Butet pun dicuekin sendirian.
Di rombong lain, Orang Rimba dengan tegas mengatakan sekolah tidak ada dalam adat Orang Rimba. Para warga menolak kehadiran Warsi dan Butet karena tidak ingin adat mereka dirusak dengan pendidikan yang dibawa Orang Terang.

Baru setelah delapan bulan keluar-masuk hutan, berkunjung ke rombong-rombong berbeda, kegigihannya mulai membuahkan hasil. Si Bontet (Butet versi lidah Orang Rimba) menemukan cara memulai pelajaran membaca dan berhitung lewat permainan. Sampai akhirnya anak-anak itu bersemangat belajar membaca dan berhitung.

Seluruh narasi di buku ini sangat memukau. Butet, yang sudah terbiasa menulis catatan harian sejak sekolah dasar, piawai menuangkan pengalaman yang diselipi pemikirannya ke dalam buku. Seluruh peristiwa direkam dengan kecermatan tinggi. Pilihan kata yang dipakai luwes, renyah, dan jenaka. Di setiap peristiwa tertera tanggal kejadian. Serupa catatan harian saja.

Buku ini akan semakin komplet jika Butet menyelipkan satu atau dua bab yang khusus mengkaji secara ilmiah pengalamannya bersentuhan dengan Orang Rimba. Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya sebagai sarjana antropologi dan sastra Indonesia–keduanya dari Universitas Padjadjaran, Bandung–Bontet punya kompetensi di bidang itu.

Di dalam bukunya, Butet terkesan masih belum menemukan model pendidikan yang tepat untuk Orang Rimba. Begitu pula gambar-gambar yang disajikan, kurang menggigit. Terlalu biasa. Akan sangat menarik jika ada galeri foto seluruh aktivitas sehari-hari Orang Rimba.
Lepas dari itu semua, keseluruhan buku sangat enak dicerna. Dengan membacanya, pikiran kita akan terbuka terhadap kearifan Orang Rimba, yang oleh orang-orang desa sekitarnya disebut Orang Kubu (yang artinya bodoh, kotor, dan primitif). Misalnya, adanya kebebasan mengungkapkan pendapat, penghormatan kepada istri, dan antikekerasan.

Pun yang dapat diteladani dari kisah Bontet adalah kesungguhannya menjadi pendidik. Pertama bergabung dengan Warsi, ia hanya bergaji Rp 500 ribu per bulan. Saat keluar dari Warsi, ia kembali ke hutan dan mengajar Orang Rimba tanpa bayaran dan tanpa pasokan konsumsi. Begitu pula waktu mendirikan Sokola, dengan modal dari kantong sendiri dan sumbangan teman-temannya. Dia layak menjadi inspirasi buat guru-guru di Tanah Air.  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s