Nike Bajak Jakarta 10K 2013

Nike Bajak Jakarta 10K 2013, 15 Desember 2013.

wpid-2013-12-15-06.26.16.jpg

image

Bajak jkt

Advertisements

Household Financial Engineering

Saya menyebutnya rekayasa finansial rumah tangga (household financial engineering).  Apakah istilah ini baku dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Tentu saja tidak. Itu istilah yang baru saja saya pikirkan.  Idenya adalah, bukan hanya perusahaan saja yang bisa melakukan rekayasa finansial (financial engineering) supaya bisa tumbuh, rumah tangga dan pribadi juga bisa melakukannya untuk mempercepat (istilah kerennya leverage atau daya ungkit) peningkatan taraf hidup 🙂

Rekayasa finansial saya dimulai dari dua bulan lalu. Ketika cicilan mobil,  *akhirnya,  lunas. Dua bulan bersenang-senang dengan gaji utuh, bulan ini saya kembali membuat cicilan baru berwujud kredit tanpa agunan (KTA) di sebuah bank BUMN.  Kenapa KTA,  karena kebetulan perusahaan tempat saya bekerja masuk ke dalam daftar perusahaan pilihan bank tersebut, *yang  entah apa dasarnya, sehingga berhak mendapat bunga ‘murah’.

Saya kasih petik karena  nyatanya tidak murah juga, apalagi dibandingkan dengan kredit dengan agunan.  Cuma keunggulan KTA, prosesnya cepat dan syaratnya tidak bikin jengkel. Terlebih, ada satu syarat yang belum dapat saya penuhi, yang mengharuskan saya berhubungan dengan birokrat kota, *argh, alergi birokrasi.

Mengambil KTA tidak salah juga, kok, asalkan kita memperhatikan beberapa hal. Pertama, tentu saja besaran suku bunga. Bandingkan antara satu bank dengan bank lain. Cari bunga terkecil. Umumnya bank menawarkan bunga dengan istilah-istilah teknis seperti: bunga  efektif 18 persen per tahun atau setara dengan 0,9 % per bulan. Kalau bingung menghitungnya, cukup bandingkan besar cicilan per bulan.  Dijamin gak bakalan salah.

Kedua, cari bank yang menawarkan cicilan tetap. Ini penting di tengah tren kenaikan suku bunga bank. Sayangnya,  bank juga sadar dengan tren itu sehingga jarang yang mau memberikan program cicilan tetap..hehe… Biasanya bunga bergerak sesuai dengan perubahan suku bunga bulanan. Bisa naik, bisa turun. Beruntung lah orang-orang yang mendapatkan cicilan tetap.

Ketiga, pastikan jumlah cicilan bulan yang harus kita bayar benar-benar sesuai dengan profil penghasilan *pakai istilahnya PPATK.  Jangan membohongi diri sendiri seandainya kita mempunyai utang lain yang di luar sistem perbankan.  Selain itu, sisakan sedikit ruang di gaji Anda untuk buat berjaga-jaga, jika  mendadak krisis ekonomi datang dan besar cicilan kita melompat gak karuan.  (Baca: Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?) *Tapi, kalau melompatnya gila-gilaan  kita harus turun ke jalan :))

Keempat, jangan habiskan uang kredit yang kita dapatkan. Tabung/investasikan sebagian, supaya bunga/hasil investasinya bisa dijadikan sebagai kompensasi bunga kredit. Kalau saya, gak cuma disimpan sebagian dan yang utama dipakai untuk renovasi rumah, sebagian lagi dipakai untuk berwisata…hahaha….itu juga investasi, investasi batin.  Boleh kok, memakai uang kredit untuk melancong. Yang gak boleh dipakai itu untuk spekulasi, lebih-lebih lagi spekulasi di pasar keuangan yang lagi gak waras ini. Takutnya modal ambles, cicilan tetap harus dibayar. Rugi dua kali. (Lihat juga: Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?)

Prinsipnya, sama seperti sebuah perusahaan, rekayasa finansial diterapkan supaya kita tidak  harus menggunakan uang kita sendiri,  *kalau di perusahaan istilahnya kas internal, untuk membayar keperluan kita. Jadi, ketimbang memakai tabungan kita yang susah-payah dikumpulkan, pakai lah itu uang menganggur yang ada di sistem perbankan :)).

Sokola Rimba: Orang Rimba Tidak Lagi Kubu

Karena buku Sokola Rimba dibuat film, saya jadi ingat dulu pernah menulis resensinya di Koran Tempo edisi 12 Agustus 2007.

—–
sokola rimba

Orang Rimba Tidak Lagi Kubu

Judul: Sokola Rimba
Penulis: Butet Manurung
Penerbit: Insist Press
Cetakan Pertama: Juni 2007
Tebal: 245 halaman

Runtuhnya langit-langit salah satu ruang kelas Sekolah Dasar Muhammadiyah 11 Solo, Jawa Tengah, Senin lalu, menggenapi hitamnya muka pendidikan nasional. Tiga orang siswa yang berada di dalam kelas pada jam istirahat terluka ringan. Ironisnya, para korban adalah siswa yang tengah berdiskusi tentang pelajaran di dalam kelas.

Dilihat dari sejarahnya, tak mengherankan kalau plafon kelas VI itu jebol. Sejak dibangun pada 1963, sekolah ini baru sekali diperbaiki, itu pun 27 tahun silam. Hampir semua langit-langit kelas terlihat bolong. Bahkan batang-batang bambu dipasang untuk menyokong agar plafon tidak melengkung.

Tahun lalu sekolah ini memang mendapat dana renovasi Rp 50 juta dari pemerintah provinsi. Namun, menurut pengurus sekolah, dana itu hanya cukup untuk membenahi satu ruang kelas. Selebihnya, kelas-kelas yang ada tenggelam dalam keadaan yang memprihatinkan.
Kualitas dan fasilitas pendidikan bangsa ini memang belum memuaskan. Bahkan, karena pendapatan negara turun sekitar Rp 38 triliun dari target Rp 723,1 triliun, anggaran pendidikan 2008 terpaksa ditekan dari Rp 44 triliun (11,8 persen) menjadi Rp 39,5 triliun (10,5 persen).

Tapi anomali selalu saja ada. Di tengah jepitan situasi yang serba sulit, ada saja orang yang tidak mau dihambat oleh keterbatasan. Dengan kemampuan sendiri, mereka berjuang mencerdaskan anak bangsa. Saur Marlina Manurung alias Butet adalah satu di antara pahlawan itu.
Buku Sokola Rimba ditulis oleh Butet berdasarkan pengalamannya menjadi fasilitator pendidikan untuk Orang Rimba, yang tinggal di Hutan Bukit Dua Belas, Jambi, pada September 1999 sampai 2005. Selama rentang waktu itu, ia bergabung dengan Warung Informasi Konservasi (Warsi) dan kemudian mendirikan Sokola.

Kawasan Taman Nasional Hutan Bukit Dua Belas memiliki luas 60.500 hektare, yang meliputi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Batang Hari, Kabupaten Muaro Tebo, dan Kabupaten Sarolangun. Ada 11 temenggung (kepala rombong atau kelompok), dengan populasi berdasarkan survei Warsi pada 1997, sekitar 1.300 orang.

Memasuki ranah kehidupan Orang Rimba sepertinya tidaklah terlalu menyulitkan Butet. Biar memilih hidup menghindar dari modernitas dan menggantungkan diri semata-mata pada apa yang disediakan hutan, Orang Rimba cukup terbuka terhadap Orang Terang (orang yang tinggal di desa atau kota).

Yang menyulitkan Butet adalah mengajak anak-anak Rimba belajar. Satu bulan pertama, Butet, yang merasa sudah dapat mengajak anak-anak belajar, melakukan satu kesalahan. Tawarannya agar mereka ikut bersekolah ditolak mentah-mentah. Si Butet pun dicuekin sendirian.
Di rombong lain, Orang Rimba dengan tegas mengatakan sekolah tidak ada dalam adat Orang Rimba. Para warga menolak kehadiran Warsi dan Butet karena tidak ingin adat mereka dirusak dengan pendidikan yang dibawa Orang Terang.

Baru setelah delapan bulan keluar-masuk hutan, berkunjung ke rombong-rombong berbeda, kegigihannya mulai membuahkan hasil. Si Bontet (Butet versi lidah Orang Rimba) menemukan cara memulai pelajaran membaca dan berhitung lewat permainan. Sampai akhirnya anak-anak itu bersemangat belajar membaca dan berhitung.

Seluruh narasi di buku ini sangat memukau. Butet, yang sudah terbiasa menulis catatan harian sejak sekolah dasar, piawai menuangkan pengalaman yang diselipi pemikirannya ke dalam buku. Seluruh peristiwa direkam dengan kecermatan tinggi. Pilihan kata yang dipakai luwes, renyah, dan jenaka. Di setiap peristiwa tertera tanggal kejadian. Serupa catatan harian saja.

Buku ini akan semakin komplet jika Butet menyelipkan satu atau dua bab yang khusus mengkaji secara ilmiah pengalamannya bersentuhan dengan Orang Rimba. Jika dilihat dari latar belakang pendidikannya sebagai sarjana antropologi dan sastra Indonesia–keduanya dari Universitas Padjadjaran, Bandung–Bontet punya kompetensi di bidang itu.

Di dalam bukunya, Butet terkesan masih belum menemukan model pendidikan yang tepat untuk Orang Rimba. Begitu pula gambar-gambar yang disajikan, kurang menggigit. Terlalu biasa. Akan sangat menarik jika ada galeri foto seluruh aktivitas sehari-hari Orang Rimba.
Lepas dari itu semua, keseluruhan buku sangat enak dicerna. Dengan membacanya, pikiran kita akan terbuka terhadap kearifan Orang Rimba, yang oleh orang-orang desa sekitarnya disebut Orang Kubu (yang artinya bodoh, kotor, dan primitif). Misalnya, adanya kebebasan mengungkapkan pendapat, penghormatan kepada istri, dan antikekerasan.

Pun yang dapat diteladani dari kisah Bontet adalah kesungguhannya menjadi pendidik. Pertama bergabung dengan Warsi, ia hanya bergaji Rp 500 ribu per bulan. Saat keluar dari Warsi, ia kembali ke hutan dan mengajar Orang Rimba tanpa bayaran dan tanpa pasokan konsumsi. Begitu pula waktu mendirikan Sokola, dengan modal dari kantong sendiri dan sumbangan teman-temannya. Dia layak menjadi inspirasi buat guru-guru di Tanah Air.  ***

Berapa Lama Umur Pakai Ban Mobil?

Berapa lama  umur pakai ban mobil? Jawabannya tergantung. Tergantung kondisi jalan, apakah mulus, berlubang-lubang, aspal hotmix atau beton. Tergantung pula teknik mengemudi apakah alon-alon, ngebut, sering ngepot atau tidak. Tergantung pula perawatan, apakah rajin melakukan rotasi  antara ban depan dan belakang, rajin spooring and balancing,  atau getol merawat kaki-kaki atau tidak.

Buat saya, yang malas melakukan perawatan ini *apalagi merotasi ban, umur pakai ban mobil hanya 2 tahun 8 bulan, terhitung sejak pembelian sampai diganti dua hari lalu. Ambil rata-rata sehari 50 kilometer *antar-jemput ke sekolah, pulang-pergi kantor, ke luar kota, berarti sekitar 48.000 kilometer. Sedikit di bawah rekomendasi beberapa situs web yang menyebutkan standar pakai ban mobil sekitar 50.000 kilometer.

wpid-2013-11-28-12.21.56.jpg

Gambar di atas adalah gambar kondisi ban sebelum penggantian. Ban merek Gajah Tunggal, Champiro. Tapak ban sudah aus. Bahkan, tapak bagian dalam terkikis hebat sampai keluar benangnya. Ini gara-gara masalah pada kaki-kaki yang terlambat ditangani. (Baca: Soluna Ajrut-ajrutan, Saatnya ke Bengkel). Tapi, sekarang sudah tidak lagi, sudah sembuh.

wpid-2013-11-29-06.08.16.jpg

Nah, gambar ini gambar ban baru. Mereknya Gajah Tunggal Champiro, dengan spesifikasi 175/65  R14. Angka 175 = lebar tapak ban dalam milimeter, 65 = tebal ban diukur dari tepi pelek, R = radial, dan 14 = jenis pelek 14 inchi. Harganya paling top *paling murah maksudnya, hanya Rp 420 ribu sebiji. Dibanding merek lain seperti Bridgestone, Dunlop, atau Falken bisa 2-3 kali lipat harganya. Hebatnya GJTL *kode saham Gajah Tunggal, harganya tidak berubah sejak 3 tahun lalu.  Begitu dong, ciri-ciri perusahaan yang pintar mengelola efisiensi produksi.  Itu pengalaman saya. Ambil yang baik-baik,  buang yang kurang baik. Semoga bermanfaat. Amin. ***