For Old Times’ Sake Drink

Saban  nongkr0ng di ‘kantin padahal warung tenda’ kantor, saya selalu memesan air es timun serut. Bukan timun suri (Curcumis Lativus),  tapi timun biasa (Cucumis sativus). Setelah diserut pakai sendok, ditambah air putih, batu es, dan dua sendok gula, minuman siap dihidangkan. Sederhana sekali cara membuatnya. Sederhana pula rasanya. Manis dan menyegarkan, itu saja. Mungkin karena itu banyak yang bertanya, apa enaknya minum air timun. Timun, kan, hambar?  Saya abaikan saja pernyataan itu.

Saya tidak peduli, karena saya tahu mereka tidak tahu segar dan sehatnya air timun–yang bisa mencegah beberapa jenis kanker termasuk kanker prostat, menyembuhkan tukak lambung, dan membantu proses pencernaan protein. Apalagi, lebih dari sekadar pelepas dahaga, air timun juga selalu membawa saya ke masa lalu yang indah, bukan ke masa depan yang belum pasti,  apalagi masa-lah yang memusingkan.

Di masa-masa pertumbuhan  dulu, setiap berbuka puasa air timun pasti ada di meja makan. Barangkali karena itu pula tinggi saya kini menjadi seadanya saja…di masa pertumbuhan kok dikasih timun, bukan susu, hehe… Sekarang pun, kalau berbuka puasa dan kalau lagi tidak malas mengerok timun, hidangan dari masa lalu ini hadir juga di meja makan.

Minuman dari masa lalu berikutnya yang masih saya gemari adalah teh chrysantemun atau kadang disebut teh kembang. Dulu, minuman dalam kemasan ini selalu saya pesan setiap menonton di bioskop bersama keluarga. Rasanya memang mantap. Buktinya, sampai sekarang pun minuman ini masih bertahan. Dulu, yang sering saya beli adalah Teh Chrysantemum ABC. Sekarang, karena  susah mencari merek ABC, saya menggantinya dengan teh chrysant merek Yeo’s. Cita rasanya tak jauh berbeda. Kegemaran ini sudah berhasil saya tularkan si kecil, hehe…

Minuman ketiga adalah air soda susu. Lagi-lagi minuman sederhana, bukan minuman dengan rasa yang rumit. Cukup campurkan soda botol dengan susu kental manis, ditambah beberapa bongkah es, minuman sudah bisa diteguk. Nah, minuman yang ini sering saya temui  dalam perjalanan darat 3 hari 2 malam dari Jakarta-Medan sewaktu kuliah dulu.  Di daerah Sumatera Utara, minuman soda yang legendaris adalah soda cap Badak, buatan Kota Pematang Siantara. Susunya sih sama saja, susu kental manis cap Bendera.

Tapi, persentuhan dengan si soda susu di lintas tengah Sumatera ini tak lama. Beberapa kali  menginap di bus membuat badan rontok. Coba saja kalau tak percaya, duduk di kursi Anda selama 3 hari 2 malam. Hanya rehat barang 4 jam sehari untuk makan, mandi, dan salat. Satu-satunya hiburan yang bisa menjaga pikiran tetap waras di bus adalah pemandangan alam bumi Sumatera yang rupawan atau mandi pagi di tempat pemandian umum yang di depannya terbuka setengah sehingga kita bisa menikmati pemandangan Danau Singkarak *saya tak yakin betul nama danaunya, tapi sepertinya betul— yang menghampar  luas.

Tahun-tahun berikutnya di UI, saya lebih memilih menumpang kapal laut. Sedikit lebih mahal dan terbatas jadwalnya, tapi lebih manusiawi..haha. Walau sudah tak lagi melintasi jalur darat Sumatera, kebiasaan lalu itu masih terbawa sampai sekarang. Bedanya, karena di sini susah cari soda Badak, diganti dengan F&N atau satu merek soda lain yang dijual di FoodHall.  Ah…for old times’ sake.  ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s