Desa Jangga yang Menyimpan Sejarah Batak

Kehidupan suku Batak tradisional masih hidup di Desa Jangga, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Para penduduk desa hidup dengan menjunjung tinggi budaya dan hukum adat di tengah alam yang masih asri. Keharuman nama desa ini bahkan tercium hingga Belanda dan Jerman.

Desa ini berada di lereng Gunung Simanuk-manuk, atau sekitar 24 kilometer dari Parapat, Danau Toba. Biasanya turis singgah ke Desa Jangga setelah menikmati keindahan Danau Toba. Udara desa masih sejuk dan segar. Bila menuju ke sana, cukup menggunakan angkutan umum selama 4-6 jam dari Medan dengan bonus keindahan alam tanah Batak di sepanjang jalan.  Sudah tersedia banyak home stay di sekitar desa.

Rumah adat Batak masih mendominasi desa ini. Usianya ratusan tahun dan masih terawat baik. Di dinding-dinding rumah masih terlihat ukiran khas Batak–disebut gorga. Wisata sejarah juga bisa dinikmati di desa ini. Di ujung desa terdapat dua makam Raja Batak, yakni Raja Tambun dan Raja Ma. (Baca juga: Marga Ritonga, From Pusuk Buhit to The World).

Sambil berjalan-jalan, pelancong akan disuguhi pemandangan para perempuan yang membuat ulos di pekarangan rumah. Ulos buatan Desa Jangga sudah termasyhur hingga mancanegara. Ulos produksi mereka dikenal kuat, memiliki motif yang lebih rumit, dan lebih cantik. Mereka juga dengan senang hati akan mengajari Anda cara membuatnya. Bila Anda tertarik, ulos itu bisa dibeli sebagai buah tangan. (Simak pula: Bertemu Sandra Niessen, Si Ahli Ulos).

(Dikutip dari Edisi Khusus Wisata Majalah Tempo, 18 November 2013)

Advertisements

For Old Times’ Sake Drink

Saban  nongkr0ng di ‘kantin padahal warung tenda’ kantor, saya selalu memesan air es timun serut. Bukan timun suri (Curcumis Lativus),  tapi timun biasa (Cucumis sativus). Setelah diserut pakai sendok, ditambah air putih, batu es, dan dua sendok gula, minuman siap dihidangkan. Sederhana sekali cara membuatnya. Sederhana pula rasanya. Manis dan menyegarkan, itu saja. Mungkin karena itu banyak yang bertanya, apa enaknya minum air timun. Timun, kan, hambar?  Saya abaikan saja pernyataan itu.

Saya tidak peduli, karena saya tahu mereka tidak tahu segar dan sehatnya air timun–yang bisa mencegah beberapa jenis kanker termasuk kanker prostat, menyembuhkan tukak lambung, dan membantu proses pencernaan protein. Apalagi, lebih dari sekadar pelepas dahaga, air timun juga selalu membawa saya ke masa lalu yang indah, bukan ke masa depan yang belum pasti,  apalagi masa-lah yang memusingkan.

Di masa-masa pertumbuhan  dulu, setiap berbuka puasa air timun pasti ada di meja makan. Barangkali karena itu pula tinggi saya kini menjadi seadanya saja…di masa pertumbuhan kok dikasih timun, bukan susu, hehe… Sekarang pun, kalau berbuka puasa dan kalau lagi tidak malas mengerok timun, hidangan dari masa lalu ini hadir juga di meja makan.

Minuman dari masa lalu berikutnya yang masih saya gemari adalah teh chrysantemun atau kadang disebut teh kembang. Dulu, minuman dalam kemasan ini selalu saya pesan setiap menonton di bioskop bersama keluarga. Rasanya memang mantap. Buktinya, sampai sekarang pun minuman ini masih bertahan. Dulu, yang sering saya beli adalah Teh Chrysantemum ABC. Sekarang, karena  susah mencari merek ABC, saya menggantinya dengan teh chrysant merek Yeo’s. Cita rasanya tak jauh berbeda. Kegemaran ini sudah berhasil saya tularkan si kecil, hehe…

Minuman ketiga adalah air soda susu. Lagi-lagi minuman sederhana, bukan minuman dengan rasa yang rumit. Cukup campurkan soda botol dengan susu kental manis, ditambah beberapa bongkah es, minuman sudah bisa diteguk. Nah, minuman yang ini sering saya temui  dalam perjalanan darat 3 hari 2 malam dari Jakarta-Medan sewaktu kuliah dulu.  Di daerah Sumatera Utara, minuman soda yang legendaris adalah soda cap Badak, buatan Kota Pematang Siantara. Susunya sih sama saja, susu kental manis cap Bendera.

Tapi, persentuhan dengan si soda susu di lintas tengah Sumatera ini tak lama. Beberapa kali  menginap di bus membuat badan rontok. Coba saja kalau tak percaya, duduk di kursi Anda selama 3 hari 2 malam. Hanya rehat barang 4 jam sehari untuk makan, mandi, dan salat. Satu-satunya hiburan yang bisa menjaga pikiran tetap waras di bus adalah pemandangan alam bumi Sumatera yang rupawan atau mandi pagi di tempat pemandian umum yang di depannya terbuka setengah sehingga kita bisa menikmati pemandangan Danau Singkarak *saya tak yakin betul nama danaunya, tapi sepertinya betul— yang menghampar  luas.

Tahun-tahun berikutnya di UI, saya lebih memilih menumpang kapal laut. Sedikit lebih mahal dan terbatas jadwalnya, tapi lebih manusiawi..haha. Walau sudah tak lagi melintasi jalur darat Sumatera, kebiasaan lalu itu masih terbawa sampai sekarang. Bedanya, karena di sini susah cari soda Badak, diganti dengan F&N atau satu merek soda lain yang dijual di FoodHall.  Ah…for old times’ sake.  ***

Bukan Habitat Bagi si Culas

Dua belas tahun bersama organisasi ini membuat saya kebal dengan isu yang datang dari berbagai arah. Begitu pula pastinya dengan teman-teman sejawat. Sehingga tak heran, isu panas di sebuah laman blog justru menjadi bahan tertawaan yang menyegarkan. Ada kebenaran di tulisan itu, tapi lebih banyak lagi ketidakbenaran dan niat tidak tulus yang menguar. Tak ada yang tahu motif si penulis. Bisa diraba, tapi tak bisa dipastikan. Tak baik pula menuding orang yang belum tentu berbuat.

Dua belas tahun bersama membuat saya yakin betul, organisasi ini bukanlah habitat yang sehat bagi si culas. Dia  bisa saja hidup di sini —karena kami bukanlah paguyuban para malaikat, namun saya percaya, menghirup udaranya akan membuat nafas si culas sesak. Budaya yang dilahirkan manusia-manusia yang berkarya di tempat ini menjadi racun bagi dia. Budaya itu adalah budaya yang membuat siapa saja di antara kami bisa menjadi pengadil etik  bagi  siapa saja. Tak peduli pada lapisan mana dia berada. Budaya yang membuat sang pendiri sekali pun bisa ‘diadili’ dalam majelis terbuka.

Bukan bermaksud membela membabi-buta, karena  bertahun-tahun saya alami sendiri, justru kami lah yang rentan berada dalam posisi tertekan oleh pihak luar. Apa lah daya kami untuk menekan, kalau modal kami hanya  kepercayaan publik. Tidak mungkin pula kami pertaruhkan itu hanya demi kepentingan sesaat,  karena sekali dia tercederai, apa lagi yang bisa menjadi pengisi periuk nasi kami?

Saya yakin, untuk menjadi kepercayaan publik, kami harus percaya terlebih dulu kepada teman. Ibarat mengemudi, kami bisa saja melintir ke kanan atau ke kiri. Tapi, di sisi kiri dan belakang selalu ada teman yang membantu meluruskan kemudi agar kami akhirnya tetap berjalan di garis lurus.  (Baca juga: Orasi Anies Baswedan dalam Acara 19 Tahun Pembredelan Tempo). ***

LPS Run 2013, Tak Ramai itu Menyenangkan

Tadinya saya meragukan kualitas penyelenggaraan LPS Run 2013, 10 November lalu. Ada beberapa alasan, pertama, jumlah pesertanya yang sedikit. Tidak sampai 1.000 orang, hanya sekitar 850 orang. Ini adalah lomba lari dengan peserta paling sedikit yang pernah saya ikuti. Alasan kedua, sponsornya kaum birokrat–walaupun tadinya berasal dari kaum korporat– yang dikhawatirkan membuat acaranya juga penuh birokrasi juga hehe… Tapi, ternyata acaranya berjalan lancar dari A sampai Z, dari awal sampai akhir. Bahkan, jumlah peserta yang sedikit membuat suasana jadi nyaman. Tidak perlu repot mencari parkir, rebutan finisher medal,  berdesak-desakan mengambil refreshment, atau antre di depan toilet. Begitu lah, tak  ramai itu menyenangkan juga. Tambahan lagi, lokasi penyelenggaran di The Breeze, Green Office Park, BSD City  sangat mantap untuk nongkrong sehabis berlari. (Masih banyak cerita soal lari di kategori Push your limits).

wpid-2013-11-10-05.39.04.jpg

wpid-2013-11-10-05.41.56.jpg

wpid-2013-11-10-05.41.28.jpg

wpid-2013-11-10-05.42.10.jpg

wpid-2013-11-10-07.39.21.jpg

Bisa jadi tempat bermain anak-anak.

wpid-2013-11-10-08.11.32.jpg

Akhirnya jadi juara 1. Juara 2 dan 3 bahkan belum sampai finish.