Kelak, Berkurban Jadi Barang Mewah

image

SI EMBEK. Karena belum cukup umur (masih di bawah 18 tahun), wajahnya disamarkan.

Setahun tak berkurban,  tahun ini  wahyu turun kepada saya untuk berkurban.  Hal pertama yang saya lakukan setelah berniat adalah memantau harga pasar kambing. Situs web yang paling tepat untuk keperluan itu –salah satu indikasi ketergantungan kronis terhadap Internet–adalah THK alias Tebar Hewan Kurban.  Seekor kambing di sana dipatok dengan harga Rp 1,55 juta. Lembaga-lembaga zakat lain yang belakangan ini tumbuh seperti wabah menawarkan harga antara Rp 1,4 juta – Rp 2,5 juta per ekor. Mahal sekali, pikir saya. Empat tahun lalu saya berkurban lewat THK kalau tidak salah harganya masih Rp 800-900 ribu. Berarti naik hampir 100 persen.

Oke, bagaimana dengan kambing di pinggir jalan? Pasti lebih mahal karena ukurannya rata-rata lebih besar ketimbang kambing THK. Keliling sana, keliling sini pada hari-H akhirnya saya dapat kambing dengan harga Rp 1,9 juta. Itu sudah paling murah, karena di tempat lain Rp 2,5 juta tak kurang.  Eh, boleh dong ditawar. Bisnis is bisnis. Ibadah urusan lain lagi. Si embek 1,9 ini memang masih terlihat imut. Tapi, si penjual memastikan usia kambing asal Lampung tersebut sudah memenuhi syarat kurban, artinya di atas 1 tahun.  Dan jantan.

Dibanding di tempat lain harga yang kami dapat memang yang terbaik, namun, dibandingkan harga dua tahun lalu, kenaikannya signifikan. Mari kita hitung, pada 2011, harga kambing  ukuran sedang masih Rp 1,2 juta. Saat ini, harga ukuran kecil sudah Rp 1,9 juta. Naik  hampir 60 persen, atau sekitar 30 persen per tahun. Kalau dibandingkan dengan ukuran yang sepadan, kenaikan harganya bisa 70-80 persen atau 40 persen per tahun. Padahal, inflasi  yang mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa sepanjang 2012-September 2013 paling hanya 12 persen lebih sedikit. Masa harga kambing bisa melejit 3-4 kali lipat inflasi?

Ini pasti ada sesuatu yang salah. Bisa jadi perhitungan Badan Pusat Statistik yang keliru, ada spekulan kambing,  atau memang harga kambing kurban tak masuk komponen inflasi. Kalau BPS keliru rasanya kecil kemungkinan. Saya percaya dengan independensi dan kemampuan lembaga itu. Spekulan kambing? Hm..ini sih tiap tahun pasti ada pelaku ‘penimbunan’ kambing dan sapi yang sengaja menunggu harga naik. Perhitungan harga kambing tak masuk inflasi, bisa jadi. Mungkin karena acara tahunan ini pengaruhnya terlalu kecil. Atau alternatif keempat, saya yang terlalu perhitungan? Bisa jadi juga.

Entahlah, mana yang benar. Yang pasti benar, kalau pola kenaikan harga kambing seperti ini, maka lama-kelamaan berkurban akan menjadi ibadah yang mewah.   ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s