Mencari Tuhan di Partikel “Tuhan”

Sejak pusat riset nuklir Eropa,  CERN (Conseil Européen pour la Recherche  Nucléaire, mengumumkan penemuan partikel boson Higgs pada 4 Juli 2012, semua  orang sudah meramalkan bahwa penghargaan Nobel fisika, cepat atau lambat akan
jatuh ke tangan fisikawan Peter Higgs.

Ramalan itu terbukti benar dan cepat. Setahun berselang, 8 Oktober 2013 Komite Nobel mengumumkan Peter Higgs yang kini mengajar di Universitas Edinburg, Inggris dan Francois Englert asal Université libre de Bruxelles, Belgia sebagai duet pemenang Nobel Fisika 2013.

Keduanya dinyatakan menang berkat teori yang mereka cetuskan secara terpisah pada tahun 1964. Teori itu menyebutkan adanya PARTIKEL PEMBAWA GAYA gaya yang berperan membuat seluruh PARTIKEL ELEMENTER memperoleh massa. Massa itu beda dengan berat, lho, dia adalah konsep yang abstrak. Bagi saya yang nilai fisika mekanika dan kuantumnya jelek ini, massa berarti eksistensi dari sebuah benda itu sendiri.

Oleh akademisi partikel gaya yang belum ditemukan ini dinamai boson Higgs. Menurut ilmuwan Suharyo Sumowidagdo, boson adalah nama untuk partikel-partikel yang cenderung menggerombol dengan partikel-partikel sejenisnya sendiri. Sedangkan boson Higgs  adalah boson yang juga berinteraksi dengan partikel-partikel lain penyusun materi dan menyebabkan partikel-partikel lain penyusun materi tersebut memiliki massa.

Boson Higgs ini disebut sebagai partikel pembawa gaya KEENAM atau terakhir dalam Model Standar Fisika  yang melukiskan bahwa  di alam semesta terdapat 12 partikel elementer dan 6 partikel pembawa gaya. Ilmuwan percaya, 18 partikel inilah yang menyusun segala sesuatu di alam semesta setelah Ledakan Besar.

Boson Higgs belakangan mendapat julukan Partikel Tuhan (The God Particle). Julukan yang tidak disenangi sebagian besar peneliti. Julukan ini lahir dari buku yang berjudul “The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?” karya pemenang Nobel Fisika Leon M. Lederman yang terbit tahun 1993. Konon, tadinya judul buku ini adalah “The Goddamn Particle”, tapi karena editornya tidak setuju akhirnya diubah🙂

Provokasi yang membuat banyak orang terpikat pada teori Higgs adalah kemampuannya menjelaskan mengenai sesuatu dari waktu sebelum waktu itu sendiri lahir. Maksudnya, mekanisme terbentuknya alam semesta. Konon, setelah era Big Bang, alam semesta ini masih berupa kumpulan energi yang bergerak tak beraturan dalam kecepatan cahaya. Belum ada massa, belum ada wujud kala itu.

Boson Higgs sebagai medan tak kasat mata yang membanjiri antariksa menciptakan  interaksi di antara partikel-partikel di alam semesta. Makin sering partikel itu berinteraksi, makin bertambah pula massa mereka. Partikel-partikel yang sudah bergabung ini kemudian menyusun unit-unit yang lebih besar mulai dari molekul hingga bintang mahabesar. Dan…terciptalah alam semesta dengan segala isinya.

Peran penciptaan ini pula yang  sering membuat membuat orang menghubungkan boson Higgs dengan peran Sang Pencipta.  Jangan lupa juga, selain alasan editorial, Leon punya alasan lain yang lebih serius di balik penamaan judul “The God Particle”. Alasan ini ada kaitannya dengan sebuah kitab suci yang menjelaskan mengenai penciptaan.

Menakjubkan melihat apa yang telah diketahui manusia dengan otaknya yang rata-rata hanya seberat 1,4 kilogram ini. Saya kagum dengan pemikiran para jenius itu yang bisa jauh melampaui waktunya, tidak hanya melangkah ke depan, tapi juga melihat ke belakang. Menembus waktu miliaran tahun, ke masa-masa awal penciptaan.

Menakjubkan karena kita menyadari, untuk dapat melihat ke seluruh alam semesta yang diameternya diperkirakan 93 miliar tahun ini tidak harus berkelana hingga ke dinding terluarnya, tapi alam semesta bisa dipahami dengan kembali ke titik tempat kita berpijak. Di bumi ini.

Peneliti CERN waktu menjawab kekhawatiran masyarakat bahwa penelitian boson Higgs akan menghasilkan tabrakan-tabrakan partikel yang akan mengubah wujud bumi  ini menjadi cahaya. Kata mereka kurang lebih:  kami tidak melakukan sesuatu yang baru, kami hanya membuktikan apa yang setiap hari terjadi di sekeliling kita.

Saya jadi teringat perkataan Tuhan di kitab suci yang  isinya kira-kira, kalau manusia bertanya tentang Aku, katakan Aku “dekat.” Apakah itu artinya dekat secara fisik dan psikologis, tak ada yang tahu.  Penciptaan alam semesta dan eksistensi Tuhan –bahkan ada ada tidaknya Dia–adalah teka-teki terbesar yang ditinggalkan Sang Pencipta untuk kita terus-menerus kita perdebatkan dan pecahkan.  Karena Tuhan juga adalah sains,  saya percaya, saat manusia berhasil menyingkap selubung misteri Sang Pencipta, maka itu adalah puncak dari ilmu pengetahuan.  Selamat untuk Pak Peter dan Francois. *Serasa kenal saja…
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s