Tutur dalam Masyarakat Angkola

Sebagai halak hita blasteran Minang, kemudian menjadi perantauan pula, acara  pertemuan dengan sanak-famili yang jauh serasa  ajang perpeloncoan. Pangkal soalnya adalah saya tidak mengenal orang-orang yang saya temui. Apalagi  mengetahui harus memanggil apa kepada mereka. Kalau sudah begitu, jadilah saya  memanggil dengan tutur sapu jagad seperti om, tante, atau pak. Kalau sudah begitu, belum lagi kalimat saya selesai biasanya sudah dipotong dengan kata-kata, “Panggilnya amang boru. Amang boru ini anaknya si anu, bapaknya si itu, tulangnya si ini,” dan seterusnya…. Eh, mana lah ku tahu :))

Seharusnya sih tahu, ya. Karena tutur atau partuturon dalam masyarakat Batak dan sub-etnik Angkola  diperlukan untuk menunjukkan sikap saling menghormati antara yang tua dan muda. Sebagaimana di semua adat Nusantara, memanggil nama kepada sanak keluarga bukanlah sikap yang pantas. Sehingga, cara berkomunikasi tutur dipergunakan sebagai pengganti nama seseorang.

Dalam masyarakat Batak, tutur mempunyai kaitan yang erat dengan perkawinan. Nah, supaya pengalaman bingung saya tidak dialami oleh orang lain, saya mencoba menguraikan tutur yang berlaku dalam masyarakat Angkola yang dirangkum dari berbagai sumber. Dengan mengetahui tutur  dalam pergaulan sehari-hari atau acara adat, niscaya kita bisa mengetahui kedudukan dan fungsi seseorang dalam struktur dalihan na tolu (Baca juga: Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah).

1.Angkang (abang)
2.Iboto/Ito (saudara perempuan/laki-laki atau sepupu. Orang yang dipanggil ito tidak boleh dinikahi)
3.Amang (ayah atau bisa juga panggilan untuk anak laki-laki)
4.Inang (ibu atau panggilan untuk anak perempuan)
5.Nantulang (istri dari saudara laki-laki ibu)
6.Tulang (saudara laki-laki ibu atau panggilan cicit dari anak perempuan kepada buyutnya)
7.Ompung bayo (ompung dari pihak ibu)
8.Ompung suhut (ompung dari pihak bapak)
9.Uda (adik laki-laki ayah)
10.Nanguda (istri uda)
11.Babere/bere (keponakan dari saudara perempuan)
12.Namboru (adik perempuan ayah)
13.Amang boru (suami namboru)
14.Eda (ipar perempuan)
15.Tunggane (saudara laki-laki istri)
16.Lae (panggilan dari tunggane kepada suami saudara perempuan)
17.Tulang poso (naposo artinya yang muda. Adalah panggilan untuk keponakan dari tunggane)
18.Aya poso (panggilan untuk keponakan atau putra tunggane yang diucapkan istri)
19.Bujing (adik ibu)
20.Amang poso (panggilan untuk keponakan laki-laki dari saudara laki-laki)
21.Inang poso (saudara perempuan amang poso)
22.Parumaen (istri dari anak laki-laki alias menantu perempuan)
23.Anggi (adik)
24.Pariban (anak perempuan tulang/namboru)
25.Pahompu (cucu)
26.Inang tobang (kakak dari ibu atau bisa juga panggilan oleh cicit dari anak laki-laki kepada buyutnya)
27.Amang tobang (suami inang tobang)

Mungkin ada pertanyaan kenapa panggilan dari cicit kepada buyutnya menjadi inang tobang? Ini terjadi karena tutur kepada cucu laki-laki berulang seperti kepada ompungnya. Dengan kata lain, cucu laki-laki adalah pengganti dari ompung. Sehingga, anak laki-laki dari cucu menjadi keponakan dari buyut  yang mengakibatkan buyut dipanggil inang/amang tobang (tante/om).

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s