I Drive Slow, Problem?

Beberapa hari lalu pandangan mata saya tertancap pada  sebuah stiker yang menempel di kaca belakang sebuah mobil  mengkilap. Bunyinya nantangin, “I Drive Slow, Problem?” Lepas dari benar-tidaknya itu tata bahasa, saya suka sekali dengan isinya. “Gue netirnya  lambat, masalah buat loe?” Begitu kira-kira terjemahannya, Kenapa saya suka.  Karena isi tulisan itu tidak hanya menegaskan sikap berhati-hati dalam mengemudi,  tapi juga lebih dalam mencerminkan perilaku santun dalam berkendara.

Coba saja, kalau kita mengemudi dengan terukur, saya jamin kita bisa lebih memahami pengemudi lain. Misalnya, bila kendaraan di depan kita bergerak lebih lambat dari seharusnya, kita lantas berpikir, “Barangkali, koplingnya rusak. Barangkali mesinnya tiba-tiba mati,” kan begitu. Bukannya klakson langsung menyalak bertubi-tubi. Ingatlah, klakson bukan  alat untuk memaki, tapi untuk memperingatkan potensi bahaya.

Mengemudi slow, selow, atau woles kata orang, juga berarti menghargai penyeberang jalan. Dahulukan lah orang-orang yang   bergaya hidup sehat itu. Jangan malah berkejaran dengan mereka, sibuk mengukur jarak pake rumus fisika mekanika yang dipelajari di SMP.  “Kalau gue geber 60 km/jam, jarak 100 meter lagi, siapa yang lebih cepat sampe dari pada si engkong yang baru mau nyeberang itu?”  Begitu juga kalau lagi teronggok di persimpangan yang ada lampu merahnya, jangan baru lampu kuning,   sudah digongong klakson dari belakang. Sabar lah…apa sih yang dikejar?

Dalam kehidupan sehar-hari, drive slow  berarti bersabar dengan apa yang ada. Termasuk  sabar ketika ada kesempatan di depan mata. Misalnya, kita pejabat negara denga gaji  ‘hanya’ Rp 50-100 juta, pingin punya  Mercedes Benz  S 350, Toyota Crown Athelete, dan Audi Q5 yang total harganya lebih dari Rp 3 miliar, ya sabar dong…menabung dulu barang dua atau tiga tahun setelah menjabat.  Atau kalau kita pengusaha, kontraktor kelas menengah, pingin jadi konglomerat dengan tanah di mana-mana, mobil berderet-deret termasuk Ferrari dan Rolls Royce, ya sabar dong, garap proyek secara profesional.  Bukan semua dilahap, dari infrastruktur sampai alat kesehatan.  Sabar itu penting.  Kalau kita semua sabar,  tidka kita saja kok yang makmur, tapi seluruh bangsa ini…. *Loh kok melantur.  Yah, pokoknya itulah, di jalan maupun di kehidupan sehari-hari…drive slow for better living. ***

Duo Mie Goreng Aceh: Pidie 2000 & Bang Ram

wpid-2013-10-22-20.06.09.jpg

Nasi goreng Aceh

wpid-2013-10-22-20.07.17.jpg

Mie goreng Aceh

wpid-2013-10-22-20.01.02.jpg

Soda susu. Ini versi original.

Ada dua tempat makan nasi goreng dan mie goreng Aceh enak di Jalan Margonda, Depok. Pertama adalah Pidie 2000. Tempatnya di tepi jalan Margonda, kalau dari arah Jakarta sebelum Gang Kober. Letaknya agak sulit ditemukan, jadi harus jeli kalau mau ke sini. Begitu lewat melewati kolong jembatan, sebaiknya segera masuk ke jalur kiri karena di ruas jalan ini ada pembatas beton. Tidak disarankan membawa mobil, mengingat tempat parkir yang sempit, sedangkan pengunjungnya lumayan banyak.

Tempat kedua adalah Bang Ram,  yang kalau dari arah Depok lokasinya tak jauh dari Mal Depok. Di sini tempat parkirnya lebih lega. Tetap on the street, tapi karena jalurnya sepi, apalagi kalau hari kerja, bisa menampung lebih banyak kendaraan. Bang Ram ini dulu masih berwujud warung tenda di dekat BCA Margonda. Setelah pindah ke seberang jalan dia berganti wujud menjadi warung semi-permanen. Ada kemajuan.

Sebenarnya ada satu lagi tempat mie dan nasi goreng Aceh di Kukusan, Depok. Tapi tidak saya rekomendasikan karena waktu buka-tutupnya tak jelas. Suka-suka yang punya saja. Menurut saya, ini lah salah satu kelemahan usaha mikro, tidak konsisten. Kadang buka, kadang tutup. Banyak pula yang tutup di saat libur. Pekerja libur, dia ikut libur. Akhirnya calon konsumen akan melupakan tempat itu.  Oke, selamat berburu makanan Aceh.  Harganya belum? Itu sih standar lah…antara Rp 10 ribu-20 ribu per porsi. ***

Kelak, Berkurban Jadi Barang Mewah

image

SI EMBEK. Karena belum cukup umur (masih di bawah 18 tahun), wajahnya disamarkan.

Setahun tak berkurban,  tahun ini  wahyu turun kepada saya untuk berkurban.  Hal pertama yang saya lakukan setelah berniat adalah memantau harga pasar kambing. Situs web yang paling tepat untuk keperluan itu –salah satu indikasi ketergantungan kronis terhadap Internet–adalah THK alias Tebar Hewan Kurban.  Seekor kambing di sana dipatok dengan harga Rp 1,55 juta. Lembaga-lembaga zakat lain yang belakangan ini tumbuh seperti wabah menawarkan harga antara Rp 1,4 juta – Rp 2,5 juta per ekor. Mahal sekali, pikir saya. Empat tahun lalu saya berkurban lewat THK kalau tidak salah harganya masih Rp 800-900 ribu. Berarti naik hampir 100 persen.

Oke, bagaimana dengan kambing di pinggir jalan? Pasti lebih mahal karena ukurannya rata-rata lebih besar ketimbang kambing THK. Keliling sana, keliling sini pada hari-H akhirnya saya dapat kambing dengan harga Rp 1,9 juta. Itu sudah paling murah, karena di tempat lain Rp 2,5 juta tak kurang.  Eh, boleh dong ditawar. Bisnis is bisnis. Ibadah urusan lain lagi. Si embek 1,9 ini memang masih terlihat imut. Tapi, si penjual memastikan usia kambing asal Lampung tersebut sudah memenuhi syarat kurban, artinya di atas 1 tahun.  Dan jantan.

Dibanding di tempat lain harga yang kami dapat memang yang terbaik, namun, dibandingkan harga dua tahun lalu, kenaikannya signifikan. Mari kita hitung, pada 2011, harga kambing  ukuran sedang masih Rp 1,2 juta. Saat ini, harga ukuran kecil sudah Rp 1,9 juta. Naik  hampir 60 persen, atau sekitar 30 persen per tahun. Kalau dibandingkan dengan ukuran yang sepadan, kenaikan harganya bisa 70-80 persen atau 40 persen per tahun. Padahal, inflasi  yang mencerminkan kenaikan harga barang dan jasa sepanjang 2012-September 2013 paling hanya 12 persen lebih sedikit. Masa harga kambing bisa melejit 3-4 kali lipat inflasi?

Ini pasti ada sesuatu yang salah. Bisa jadi perhitungan Badan Pusat Statistik yang keliru, ada spekulan kambing,  atau memang harga kambing kurban tak masuk komponen inflasi. Kalau BPS keliru rasanya kecil kemungkinan. Saya percaya dengan independensi dan kemampuan lembaga itu. Spekulan kambing? Hm..ini sih tiap tahun pasti ada pelaku ‘penimbunan’ kambing dan sapi yang sengaja menunggu harga naik. Perhitungan harga kambing tak masuk inflasi, bisa jadi. Mungkin karena acara tahunan ini pengaruhnya terlalu kecil. Atau alternatif keempat, saya yang terlalu perhitungan? Bisa jadi juga.

Entahlah, mana yang benar. Yang pasti benar, kalau pola kenaikan harga kambing seperti ini, maka lama-kelamaan berkurban akan menjadi ibadah yang mewah.   ***

Mencari Tuhan di Partikel “Tuhan”

Sejak pusat riset nuklir Eropa,  CERN (Conseil Européen pour la Recherche  Nucléaire, mengumumkan penemuan partikel boson Higgs pada 4 Juli 2012, semua  orang sudah meramalkan bahwa penghargaan Nobel fisika, cepat atau lambat akan
jatuh ke tangan fisikawan Peter Higgs.

Ramalan itu terbukti benar dan cepat. Setahun berselang, 8 Oktober 2013 Komite Nobel mengumumkan Peter Higgs yang kini mengajar di Universitas Edinburg, Inggris dan Francois Englert asal Université libre de Bruxelles, Belgia sebagai duet pemenang Nobel Fisika 2013.

Keduanya dinyatakan menang berkat teori yang mereka cetuskan secara terpisah pada tahun 1964. Teori itu menyebutkan adanya PARTIKEL PEMBAWA GAYA gaya yang berperan membuat seluruh PARTIKEL ELEMENTER memperoleh massa. Massa itu beda dengan berat, lho, dia adalah konsep yang abstrak. Bagi saya yang nilai fisika mekanika dan kuantumnya jelek ini, massa berarti eksistensi dari sebuah benda itu sendiri.

Oleh akademisi partikel gaya yang belum ditemukan ini dinamai boson Higgs. Menurut ilmuwan Suharyo Sumowidagdo, boson adalah nama untuk partikel-partikel yang cenderung menggerombol dengan partikel-partikel sejenisnya sendiri. Sedangkan boson Higgs  adalah boson yang juga berinteraksi dengan partikel-partikel lain penyusun materi dan menyebabkan partikel-partikel lain penyusun materi tersebut memiliki massa.

Boson Higgs ini disebut sebagai partikel pembawa gaya KEENAM atau terakhir dalam Model Standar Fisika  yang melukiskan bahwa  di alam semesta terdapat 12 partikel elementer dan 6 partikel pembawa gaya. Ilmuwan percaya, 18 partikel inilah yang menyusun segala sesuatu di alam semesta setelah Ledakan Besar.

Boson Higgs belakangan mendapat julukan Partikel Tuhan (The God Particle). Julukan yang tidak disenangi sebagian besar peneliti. Julukan ini lahir dari buku yang berjudul “The God Particle: If the Universe Is the Answer, What Is the Question?” karya pemenang Nobel Fisika Leon M. Lederman yang terbit tahun 1993. Konon, tadinya judul buku ini adalah “The Goddamn Particle”, tapi karena editornya tidak setuju akhirnya diubah 🙂

Provokasi yang membuat banyak orang terpikat pada teori Higgs adalah kemampuannya menjelaskan mengenai sesuatu dari waktu sebelum waktu itu sendiri lahir. Maksudnya, mekanisme terbentuknya alam semesta. Konon, setelah era Big Bang, alam semesta ini masih berupa kumpulan energi yang bergerak tak beraturan dalam kecepatan cahaya. Belum ada massa, belum ada wujud kala itu.

Boson Higgs sebagai medan tak kasat mata yang membanjiri antariksa menciptakan  interaksi di antara partikel-partikel di alam semesta. Makin sering partikel itu berinteraksi, makin bertambah pula massa mereka. Partikel-partikel yang sudah bergabung ini kemudian menyusun unit-unit yang lebih besar mulai dari molekul hingga bintang mahabesar. Dan…terciptalah alam semesta dengan segala isinya.

Peran penciptaan ini pula yang  sering membuat membuat orang menghubungkan boson Higgs dengan peran Sang Pencipta.  Jangan lupa juga, selain alasan editorial, Leon punya alasan lain yang lebih serius di balik penamaan judul “The God Particle”. Alasan ini ada kaitannya dengan sebuah kitab suci yang menjelaskan mengenai penciptaan.

Menakjubkan melihat apa yang telah diketahui manusia dengan otaknya yang rata-rata hanya seberat 1,4 kilogram ini. Saya kagum dengan pemikiran para jenius itu yang bisa jauh melampaui waktunya, tidak hanya melangkah ke depan, tapi juga melihat ke belakang. Menembus waktu miliaran tahun, ke masa-masa awal penciptaan.

Menakjubkan karena kita menyadari, untuk dapat melihat ke seluruh alam semesta yang diameternya diperkirakan 93 miliar tahun ini tidak harus berkelana hingga ke dinding terluarnya, tapi alam semesta bisa dipahami dengan kembali ke titik tempat kita berpijak. Di bumi ini.

Peneliti CERN waktu menjawab kekhawatiran masyarakat bahwa penelitian boson Higgs akan menghasilkan tabrakan-tabrakan partikel yang akan mengubah wujud bumi  ini menjadi cahaya. Kata mereka kurang lebih:  kami tidak melakukan sesuatu yang baru, kami hanya membuktikan apa yang setiap hari terjadi di sekeliling kita.

Saya jadi teringat perkataan Tuhan di kitab suci yang  isinya kira-kira, kalau manusia bertanya tentang Aku, katakan Aku “dekat.” Apakah itu artinya dekat secara fisik dan psikologis, tak ada yang tahu.  Penciptaan alam semesta dan eksistensi Tuhan –bahkan ada ada tidaknya Dia–adalah teka-teki terbesar yang ditinggalkan Sang Pencipta untuk kita terus-menerus kita perdebatkan dan pecahkan.  Karena Tuhan juga adalah sains,  saya percaya, saat manusia berhasil menyingkap selubung misteri Sang Pencipta, maka itu adalah puncak dari ilmu pengetahuan.  Selamat untuk Pak Peter dan Francois. *Serasa kenal saja…
 

Tutur dalam Masyarakat Angkola

Sebagai halak hita blasteran Minang, kemudian menjadi perantauan pula, acara  pertemuan dengan sanak-famili yang jauh serasa  ajang perpeloncoan. Pangkal soalnya adalah saya tidak mengenal orang-orang yang saya temui. Apalagi  mengetahui harus memanggil apa kepada mereka. Kalau sudah begitu, jadilah saya  memanggil dengan tutur sapu jagad seperti om, tante, atau pak. Kalau sudah begitu, belum lagi kalimat saya selesai biasanya sudah dipotong dengan kata-kata, “Panggilnya amang boru. Amang boru ini anaknya si anu, bapaknya si itu, tulangnya si ini,” dan seterusnya…. Eh, mana lah ku tahu :))

Seharusnya sih tahu, ya. Karena tutur atau partuturon dalam masyarakat Batak dan sub-etnik Angkola  diperlukan untuk menunjukkan sikap saling menghormati antara yang tua dan muda. Sebagaimana di semua adat Nusantara, memanggil nama kepada sanak keluarga bukanlah sikap yang pantas. Sehingga, cara berkomunikasi tutur dipergunakan sebagai pengganti nama seseorang.

Dalam masyarakat Batak, tutur mempunyai kaitan yang erat dengan perkawinan. Nah, supaya pengalaman bingung saya tidak dialami oleh orang lain, saya mencoba menguraikan tutur yang berlaku dalam masyarakat Angkola yang dirangkum dari berbagai sumber. Dengan mengetahui tutur  dalam pergaulan sehari-hari atau acara adat, niscaya kita bisa mengetahui kedudukan dan fungsi seseorang dalam struktur dalihan na tolu (Baca juga: Tradisi Puasa dan Lebaran: Gaya Dusun Aeksah).

1.Angkang (abang)
2.Iboto/Ito (saudara perempuan/laki-laki atau sepupu. Orang yang dipanggil ito tidak boleh dinikahi)
3.Amang (ayah atau bisa juga panggilan untuk anak laki-laki)
4.Inang (ibu atau panggilan untuk anak perempuan)
5.Nantulang (istri dari saudara laki-laki ibu)
6.Tulang (saudara laki-laki ibu atau panggilan cicit dari anak perempuan kepada buyutnya)
7.Ompung bayo (ompung dari pihak ibu)
8.Ompung suhut (ompung dari pihak bapak)
9.Uda (adik laki-laki ayah)
10.Nanguda (istri uda)
11.Babere/bere (keponakan dari saudara perempuan)
12.Namboru (adik perempuan ayah)
13.Amang boru (suami namboru)
14.Eda (ipar perempuan)
15.Tunggane (saudara laki-laki istri)
16.Lae (panggilan dari tunggane kepada suami saudara perempuan)
17.Tulang poso (naposo artinya yang muda. Adalah panggilan untuk keponakan dari tunggane)
18.Aya poso (panggilan untuk keponakan atau putra tunggane yang diucapkan istri)
19.Bujing (adik ibu)
20.Amang poso (panggilan untuk keponakan laki-laki dari saudara laki-laki)
21.Inang poso (saudara perempuan amang poso)
22.Parumaen (istri dari anak laki-laki alias menantu perempuan)
23.Anggi (adik)
24.Pariban (anak perempuan tulang/namboru)
25.Pahompu (cucu)
26.Inang tobang (kakak dari ibu atau bisa juga panggilan oleh cicit dari anak laki-laki kepada buyutnya)
27.Amang tobang (suami inang tobang)

Mungkin ada pertanyaan kenapa panggilan dari cicit kepada buyutnya menjadi inang tobang? Ini terjadi karena tutur kepada cucu laki-laki berulang seperti kepada ompungnya. Dengan kata lain, cucu laki-laki adalah pengganti dari ompung. Sehingga, anak laki-laki dari cucu menjadi keponakan dari buyut  yang mengakibatkan buyut dipanggil inang/amang tobang (tante/om).

***