Koperasi: The Untold Stories

Dua bulan lalu, saya dipercaya menjadi pengurus koperasi karyawan di kantor. Metode pemilihannya adalah setiap karyawan yang menjadi anggota koperasi diberi secarik kertas untuk ditulisi nama calon pengurus. Siapa saja bisa diusulkan, terserah penulis. Singkat cerita, setelah semua kertas terkumpul, menurut pengurus yang lama,  saya dan empat teman lain adalah pengepul suara terbanyak. Katanya begitu, walau saya curiga ada indikasi “penceburan” di sini🙂 Tapi, ya sudahlah, namanya amanah diterima saja.

Bedanya dengan kerja di bank–ini barangkali lho, karena saya tidak pernah kerja di bank adalah menjadi pengurus koperasi cenderung berada di posisi debitor ketimbang kreditor. Kok bisa begitu? Sebabnya, pengurus yang dikejar-kejar orang calon pengutang. Bukan sebaliknya.  “Permohonan pinjaman gue sudah diterima, belum?”. Kalau dijawab sudah, ditanya lagi, “Berapa yang disetujui?”. Dalam masa menunggu pencairan sering datang pertanyaan susulan, “Kapan cairnya? Kok, lama banget. Bisa cepat, gak?”

Itu sih gak seberapa. Satu hal yang paling berat sesungguhnya adalah menampung cerita-cerita ‘untold stories‘ kawan-kawan yang sampai ke telinga kami.  Prosedurnya, setiap pemohon harus menyampaikan rencana penggunaan uang pinjaman supaya bisa diketahui apakah pinjaman itu bisa diprioritaskan atau tidak. Pinjaman untuk usaha atau konsumsi kami nomor duakan di belakang pinjaman  untuk pendidikan atau kesehatan.  Prosedur itu sering membuat kami harus mendengar keluh-kesah yang sangat pribadi. Sebuah cerita yang terkadang bahkan disembunyikan dari keluarga terdekat mereka.

Tiba-tiba saya merasa lebih mengenal mereka. Orang-orang yang selama ini hanya ditemui sambil lalu atau malah tidak pernah bertemu karena berbeda lokasi kantor. Saya juga jadi lebih sadar. Di antara kekurangan kita, masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan. Tapi, hebatnya, orang-orang itu tidak pernah menampakkan kesulitan mereka.  Sejak itu pun, saya jadi agak jengah kalau melihat ada orang yang membicarakan mau beli ini, ganti itu, kredit ono…sementara di antara teman-teman ada yang menyembunyikan kesusahannya. Terlalu sentimentil? Gak juga kok, rileks saja…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s