Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?

Berlagak sebagai begawan ekonomi, dua bulan terakhir saya ikut-ikutan pusing melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saya punya kepentingan langsung terhadap nilai tukar, tapi Anda tidak akan saya beritahu apa. Dari cuma 9.600-an per dolar AS di awal tahun, sekarang nilai tukar rupiah sudah menembus 11.400-an per dolar AS.  Rupiah jatuh 1.800 poin (18 persen) dalam tempo singkat. Habis semua analisis dan optimisme yang meruap di awal tahun ini.

Para ekonom sebuah BUMN pada Januari 2013  pernah  melansir  analisis yang menyebutkan, dengan tingkat nilai tukar rupiah ketika itu 9.698 per dolar AS, rupiah mengalami deviasi -4,4 persen. Maksudnya, nilai tukar rupiah saat itu lebih rendah (undervalued) 4,4 persen dibanding nilai fundamental atau nilai wajarnya yang sebesar 9.272 per dolar AS. Nilai fundamental bisa dihitung? Ternyata bisa. Saya juga baru tahu.

Cara menghitungnya tentu saya tidak paham persis. Hanya disebutkan bahwa nilai fundamental merupakan nilai rata-rata antara nilai yang didapat dari perhitungan dengan indikator PPP (purchasing power parity), trend PPP, REER (real effective exchange rate), trend REER, competing currency, dan econometric. Setelah itu dibuat rata-ratanya, maka jadilah nilai fundamental rupiah sebesar 9.272 per dolar AS.

Tapi, apalah daya. Tak berapa lama, rupiah mulai loyo. Sejak bulan Mei, nilainya terhadap dolar AS makin kendor hingga menembus 11.400-an pada bulan September. Kata ekonom, penyebabnya macam-macam. Tidak tunggal. Biang keladi pertama adalah rencana dihentikannya kebijakan quantitave easing/QE —nama lain dari kebijakan ‘mencetak  uang’,  oleh Bank Sentral AS.

Tapering—istilah beken kebijakan  penghentian QE itu, jika jadi diberlakukan akan menyedot balik seluruh uang ‘panas’ yang beredar di pasar saham dan obligasi kita. Kenapa begitu? Katanya, dengan dihentikannya QE, maka tingkat suku bunga di AS pelan-pelan akan naik, sehingga menarik bagi investor. Kenaikan ini dapat dipahami karena dengan dihentikannya QE, jumlah uang yang beredar akan berkurang.

Pelaku pasar saham dan obligasi asing yang mengais rezeki di Bumi Nusantara pun kelihatannya ikut-ikutan arus ‘pulang kampung.’ Mereka melepas portofolionya dalam bentuk rupiah di sini untuk dibawa pulang ke negaranya dalam bentuk dolar AS. Konversi hasil investasi dari rupiah ke dolar AS ini membuat tekanan permintaan terhadap dolar AS meningkat. Walhasil, melemah lah nilai uang tercinta kita.

Biang kerok kedua adalah terus berlangsungnya defisit neraca berjalan (current account) kita yang turut menyumbang defisit neraca pembayaran. Defisit neraca berjalan terjadi akibat pertumbuhan ekspor yang tidak sekuat harapan dan peningkatan impor yang tinggi. Ekspor-impor bukan hanya barang, tapi juga jasa. Banyak yang menyalahkan defisit neraca berjalan semata-mata disebabkan oleh defisit di sektor migas karena tingginya impor. Menimpakan kesalahan terhadap migas tidak tepat juga, sebab neraca perdagangan di sektor riil juga mengalami defisit, meski tidak besar.

Hubungannya dengan rupiah, impor membutuhkan valuta asing, terutama dalam bentuk dolar AS. Makin banyak impor, makin tinggi pula kebutuhan valas. Parahnya, defisit neraca perdagangan kita ini sudah berlangsung berbulan-bulan sejak  April 2012, dengan hanya diselingi beberapa kali surplus. Kabar buruk lagi, defisit neraca perdagangan ini dari bulan ke bulan semakin melebar dan menambah  buruk ‘demam’ tinggi yang dialami rupiah.

Tekanan terhadap rupiah yang berasal dari neraca perdagangan ini tidak kita alami pada  pelemahan rupiah tahun-tahun sebelumnya. Pada Juni 1998,  rupiah pernah melemah  hingga di atas 16.000 per dolar AS. Tapi pada waktu itu, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan  surplus. Kondisi yang sama terjadi pada  krisis 2008. Sekitar bulan November– berdekatan dengan tutupnya Bank Century, rupiah turun sampai hampir menyentuh 13.000 per dolar AS. Namun kala itu, neraca perdagangan masih surplus, sedangkan transaksi berjalan defisit.

Tekanan ketiga adalah spekulasi. Tekanan ini datang akibat volatilitas pasar uang, terutama pasar spot rupiah di luar negeri (off shore). Salah satu pasar spot  yang cukup besar adalah di Singapura. Menurut Bank Indonesia, keberadaan pasar spot di luar negeri ini sebenarnya bisa membantu agar rupiah dapat dimanfaatkan lebih luas dalam transaksi perdagangan internasional.

Namun, bagi  mata uang sebuah negara yang pasar valuta  dalam negerinya masih tipis, keberadaan pasar uang  off shore  dapat mengganggu pasar spot on shore (dalam negeri). Saat ini,  volume pasar  spot rupiah di Jakarta hanya sekitar US$ 500 juta  per hari dan pasar berjangka US$ 200-300 juta  per hari.  Angka tersebut  turun dibandingkan pada 2011 yang mencapai US$ 1,3 miliar  per hari. Sementara,  volume pasar NDF (nondeliverable forward) rupiah di Singapura pun  berkisar US$ 500 -700 juta.

Seringkali,  pasar off shore rupiah menun­jukkan kurs yang lebih lemah dibanding kurs on shore. Selisihnya bisa  1-2 persen. Kurs do­lar AS yang dimunculkan Asosiasi Perbankan  Singapura, misalnya, bisa lebih tinggi  50-150 poin dibandingkan dengan  yang dikutip BI.  Pasar uang  off shore biasanya dipakai untuk transaksi derivatif (berjangka, opsi, dan NDF), transaksi yang  spekulatif. Melihat pada produknya saja kita bisa maklum, di pasar off shore  rentan terjadinya manipulasi nilai tukar yang bisa meningkatkan volatilitas rupiah.

Untunglah, BI pada Mei 2013 sudah meluncurkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).  JISDOR dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai kurs referensi yang punya kredibilitas tinggi. Termasuk bila dibandingkan dengan kurs  off shore seperti di Singapura.

Tekanan keempat adalah utang  dalam mata uang dolar AS yang kabarnya  akan jatuh tempo  dalam waktu dekat. Ada ekonom yang mensinyalir utang luar negeri swasta yang jatuh tempo pada September ini mencapai US$ 30 miliar. Jumlah yang fantastis, karena itu artinya lebih dari 1/3 cadangan devisa kita yang tak sampai US$ 100 miliar. Permintaan dolar AS dalam jumlah besar dan dalam tempo singkat dipastikan akan kembali menghantam rupiah.

Tapi,  BI punya catatan lain yang pasti lebih akurat. Berdasarkan data BI, utang jatuh tempo Indonesia pada semester II-2013 hanya US$ 27,78 miliar.   Itu pun  komposisinya  terdiri dari swasta sebesar US$ 22,27 miliar dan utang pemerintah US$ 5,51 miliar.

Ya, cukup sudah analisisnya, Bung Efri. Sekarang jawab, pada angka berapa rupiah akan nangkring sepanjang sisa tahun ini? Ntar dulu, belum selesai. Faktor penekan rupiah sudah, faktor pendukungnya kan belum. Rupiah masih berpeluang selamat, tidak terjerumus lebih dalam, karena krisis yang terjadi saat ini tidak seperti krisis 1998 yang dipicu krisis mata uang Baht Thailand yang berimbas ke mata uang Asia.

Krisis ekonomi kali ini, saya pikir, sudah hampir sampai di ujungnya. Amerika Serikat mulai pulih, Cina masih stabil, negara-negara Asia lain  juga tidak terlalu buruk.  Selain itu,  rasio utang luar negeri pemerintah terhadap produk domestik bruto semakin mengecil. Dari di atas 60 persen di tahun 2004, sekarang rasio utang tinggal sekitar 23 persen.   Diharapkan dengan begitu, sentimen negatif akibat tekanan utang tidak seberat krisis-krisis sebelumnya.

Nah…setelah semua variabel itu saya sodorkan ke bola kristal finansial saya yang sakti, muncul lah gambaran bahwa nilai tukar rupiah tahun ini tidak akan jauh-jauh dari krisis 2008, yakni di antara 12.000-13.000 per dolar AS. Anda percaya saya? Jangan….🙂

***

PERBANDINGAN 1998, 2008, 2013
(
seluruh grafik bersumber dari tradingeconomics.com)

Rupiah 1998
Rp 1998

Neraca berjalan 1998
CA 1998

Rupiah 2008
Rp 2008

Neraca berjalan 2008
CA 2008

Rupiah 2013
Rp 2013

Neraca berjalan 2013
CA 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s