Koperasi: The Untold Stories

Dua bulan lalu, saya dipercaya menjadi pengurus koperasi karyawan di kantor. Metode pemilihannya adalah setiap karyawan yang menjadi anggota koperasi diberi secarik kertas untuk ditulisi nama calon pengurus. Siapa saja bisa diusulkan, terserah penulis. Singkat cerita, setelah semua kertas terkumpul, menurut pengurus yang lama,¬† saya dan empat teman lain adalah pengepul suara terbanyak. Katanya begitu, walau saya curiga ada indikasi “penceburan” di sini ūüôā Tapi, ya sudahlah, namanya amanah diterima saja.

Bedanya dengan kerja di bank–ini barangkali lho, karena saya tidak pernah kerja di bank adalah menjadi pengurus koperasi cenderung berada di posisi debitor ketimbang kreditor. Kok bisa begitu? Sebabnya, pengurus yang dikejar-kejar orang calon pengutang. Bukan sebaliknya.¬† “Permohonan pinjaman gue sudah diterima, belum?”. Kalau dijawab sudah, ditanya lagi, “Berapa yang disetujui?”. Dalam masa menunggu pencairan sering datang pertanyaan susulan, “Kapan cairnya? Kok, lama banget. Bisa cepat, gak?”

Itu sih gak seberapa. Satu hal yang paling berat sesungguhnya adalah menampung cerita-cerita ‘untold stories‘ kawan-kawan yang sampai ke telinga kami.¬† Prosedurnya, setiap pemohon harus menyampaikan rencana penggunaan uang pinjaman supaya bisa diketahui apakah pinjaman itu bisa diprioritaskan atau tidak. Pinjaman untuk usaha atau konsumsi kami nomor duakan di belakang pinjaman¬† untuk pendidikan atau kesehatan.¬† Prosedur itu sering membuat kami harus mendengar keluh-kesah yang sangat pribadi. Sebuah cerita yang terkadang bahkan disembunyikan dari keluarga terdekat mereka.

Tiba-tiba saya merasa lebih mengenal mereka. Orang-orang yang selama ini hanya ditemui sambil lalu atau malah tidak pernah bertemu karena berbeda lokasi kantor. Saya juga jadi lebih sadar. Di antara kekurangan kita, masih banyak orang-orang yang lebih membutuhkan. Tapi, hebatnya, orang-orang itu tidak pernah menampakkan kesulitan mereka.¬† Sejak itu pun, saya jadi agak jengah kalau melihat ada orang yang membicarakan mau beli ini, ganti itu, kredit ono…sementara di antara teman-teman ada yang menyembunyikan kesusahannya. Terlalu sentimentil? Gak juga kok, rileks saja… ūüôā

Sec Form 4 dan iVolatility

Pelatihan¬†outlook pasar modal yang diselenggaran sebuah badan usaha milik negara ¬†siang ini menguak dua situs ‘rahasia’ yang ¬† direkomendasikan oleh pembicara untuk menilai tren pasar modal. Situs pertama adalah http://www.secform4.com. ¬†Situs ini memberikan informasi mengenai ¬†posisi jual-beli investor pasar modal ternama Amerika Serikat. ¬†Tinggal pilih, misalnya ¬†Warren Buffet. Akan terlihat saham-saham yang dibeli atau dijual Buffet dalam periode tertentu.

Seperti apa polanya?  Benar, bapak-ibu, dalam masa downtrend,  Buffet justru banyak melakukan pembelian.  Sebaliknya dengan George Soros. Istiqomah di jalur trader, dalam masa downtrend  Soros menjual  koleksinya.  Jadi, kalau Anda mengidolakan Buffet, ikuti teknik investasinya.  Begitu pula kalau mengidolakan Soros, jangan ragu melepas simpanan Anda. Kesannya gampang, ya? Nyatanya tidak, karena ada mental blocking yang bisa menghapus semua logika.

Situs kedua adalah http://www.ivolatility.com. Situs ini, katanya, ¬†menampilkan tingkat volatilitas bursa efek di seluruh dunia. Saya belum mengeksplorasi situs ini lebih dalam. Tapi, ada cara mudahnya, karena volatilitas pasar rupanya ada indeksnya juga. Caranya, cari di finance.yahoo.com,¬†ketik di kolom symbol¬†¬†^vix. Setelah itu akan tampak indeks volatility di indeks tertentu. Tampilan standarnya adalah volatilitas S&P 500. Yang perlu diperhatikan bukan berapa nilainya, namun merah atau hijaunya. Kalau merah berarti volatilitas rendah, kalau hijau volatilitas tinggi. Begitu. Selamat berinvestasi ūüôā

Bung Jokowi, Semua Orang Berhak Punya Mobil

Biasanya saya sependapat dengan  Jokowi. Tapi, kali ini tidak.  Protes yang dilontarkannya terhadap kebijakan mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC) bisa dipahami di satu sisi, tapi keliru di sisi lain. Sebagai kepala wilayah wajar dia   khawatir mobil murah akan merusak programnya untuk mengurai kemacetan. Namun, Jokowi juga mesti melihat lebih luas, bahwa memiliki kendaraan merupakan hak semua orang. Tanpa diskriminasi.

Bukankah Jokowi dulu yang mencitrakan dirinya sebagai pelopor mobil murah “nasional” dengan membawa Esemka–tanpa surat-surat, ¬†dari Solo ke Jakarta? Kebetulan saja proyek ¬†ambisius yang penuh “ilusi” itu gagal sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2013 yang diteken SBY 23 Mei 2013 terbit. Kalau tidak, bisa jadi Esemka turut menikmati insentif pemotongan pajak penjualan barang mewah seperti duo Agya-Ayla.

Kenapa harus melarang mobil murah? Adalah hak semua warga negara untuk mendapat perlakuan yang sama, fasilitas yang sama, dan kesejahteraan yang sama. Kenapa tidak meributkan mobil mahal yang juga sama membuat macetnya dengan mobil murah? Kenapa Jokowi tidak meributkan Avanza yang dapat terjual 18 ribu unit per bulan atau Ertiga yang bisa mencapai 15 ribu per bulan?

Sementara LCGC,  baru terlahir dalam hitungan hari dengan jumlah produksi pada tahun ini hanya sekitar 30 ribu unit. Tahun depan ditargetkan  150 ribu unit, untuk semua merek. Kelihatannya memang banyak, tapi itu hanya 13 persen dari total penjualan mobil sepanjang 2012 sebanyak 1,1 juta unit. Lagi pula, kalau mobil murah tidak ada, apakah penjualan mobil akan turun? Ya, tidaklah. Kecuali ada badai krisis ekonomi.

Populasi mobil di Jakarta memang sudah sangat tinggi. Tahun lalu saja jumlahnya sudah 2,7 juta unit, ditambah sepeda motor 5,6 juta unit. Nah, ini lagi, kenapa Jokowi tidak memprotes kebijakan kredit yang memudahkan pembelian motor? Memiliki mobil, sekali lagi, adalah hak semua orang. Tak peduli dia miskin atau kaya, mobil mewah atau mobil ‚Äúkaleng‚ÄĚ. Tak ada keluarga yang mau liburan dalam siraman hujan dan terik matahari. Tak ada pula keluarga yang harus menangisi orang terdekatnya gara-gara tidak sempat dibawa ke rumah sakit karena harus mencari pinjaman truk bak terbuka.

Tugas pemerintah, siapa pun yang naik, adalah menyediakan infrastruktur yang memadai untuk seluruh warganya. Bukan hanya berupaya mengosongkan jalan demi memberi keleluasaan bagi mobil-mobil mahal untuk melintas. Bangunlah jembatan penyeberangan di kawasan yang ramai perlintasan orang, galilah terowongan di bawah rel kereta api atau persimpangan, bangun jalan layang berlapis-lapis.

Tidak mudah memang. Tidak semudah menggusur Pasar Tanah Abang atau Pasar  Gembrong, atau menerapkan aturan ganjil-genap yang tinggal meneken sehelai kertas. Aturan ganjil-genap  juga akan bermasalah tanpa didukung transportasi massal yang cukup. Bayangkan, jika kebijakan itu diberlakukan tanpa persiapan, maka akan ada tambahan  1,3 juta pengguna mobil dan 2,8 juta pengguna motor yang harus diangkut oleh angkutan massal. Apakah sarana transportasi massal kita sanggup menampungnya?

Prinsip  yang paling tepat adalah jangan batasi pembelian mobil, tapi batasi penggunaannya. Tentu dengan memaksimalkan pelayanan transportasi umum. Jadi, pilihannya, mau macet dan mahal silakan bawa mobil pribadi, mau lancar dan murah, ayo naik kendaraan umum. Kalau itu sudah terwujud, tidak usah dipaksa, semua orang yang punya akal sehat pasti akan beralih dengan sendirinya ke transportasi publik.

Pemerintah pusat juga jangan asal menelurkan kebijakan mobil murah demi kepentingan produsen mobil dengan kedok pertumbuhan ekonomi. Mereka juga bertanggung jawab membantu pemerintah daerah mengurus infrastruktur. Sudah pasti tidak semudah menerbitkan PP karena butuh kerja keras, berkeringat. Setelah membuat bahagia produsen kendaraan bermotor, pemerintah pusat juga harus bekerja sungguh-sungguh menuntaskan 17 program mengatasi macet yang sudah lama disampaikan Boediono.

Oya, satu lagi…agak di luar konteks, saya berpikir, ketimbang menerbitkan aturan yang memberikan segudang insentif demi terwujudnya mobil murah, kenapa pemerintah tidak mendahulukan insentif bagi penyediaan rumah murah ramah lingkungan (low cost green house/LCGH) untuk mengatasi backlog rumah yang mencapai 15 juta unit? Ah…ada-ada saja. ***

Seberapa Dalam Rupiah akan Terbenam?

Berlagak sebagai begawan ekonomi, dua bulan terakhir saya ikut-ikutan pusing melihat pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Saya punya kepentingan langsung terhadap nilai tukar, tapi Anda tidak akan saya beritahu apa. Dari cuma 9.600-an per dolar AS di awal tahun, sekarang nilai tukar rupiah sudah menembus 11.400-an per dolar AS.  Rupiah jatuh 1.800 poin (18 persen) dalam tempo singkat. Habis semua analisis dan optimisme yang meruap di awal tahun ini.

Para ekonom sebuah BUMN pada Januari 2013  pernah  melansir  analisis yang menyebutkan, dengan tingkat nilai tukar rupiah ketika itu 9.698 per dolar AS, rupiah mengalami deviasi -4,4 persen. Maksudnya, nilai tukar rupiah saat itu lebih rendah (undervalued) 4,4 persen dibanding nilai fundamental atau nilai wajarnya yang sebesar 9.272 per dolar AS. Nilai fundamental bisa dihitung? Ternyata bisa. Saya juga baru tahu.

Cara menghitungnya tentu saya tidak paham persis. Hanya disebutkan bahwa nilai fundamental merupakan nilai rata-rata antara nilai yang didapat dari perhitungan dengan indikator PPP (purchasing power parity), trend PPP, REER (real effective exchange rate), trend REER, competing currency, dan econometric. Setelah itu dibuat rata-ratanya, maka jadilah nilai fundamental rupiah sebesar 9.272 per dolar AS.

Tapi, apalah daya. Tak berapa lama, rupiah mulai loyo. Sejak bulan Mei, nilainya terhadap dolar AS makin kendor hingga menembus 11.400-an pada bulan September. Kata ekonom, penyebabnya macam-macam. Tidak tunggal. Biang keladi pertama adalah rencana dihentikannya kebijakan quantitave easing/QE ‚ÄĒnama lain dari kebijakan ‚Äėmencetak ¬†uang‚Äô, ¬†oleh Bank Sentral AS.

Tapering‚ÄĒistilah beken kebijakan ¬†penghentian QE itu, jika jadi diberlakukan akan menyedot balik seluruh uang ‚Äėpanas‚Äô yang beredar di pasar saham dan obligasi kita. Kenapa begitu? Katanya, dengan dihentikannya QE, maka tingkat suku bunga di AS pelan-pelan akan naik, sehingga menarik bagi investor. Kenaikan ini dapat dipahami karena dengan dihentikannya QE, jumlah uang yang beredar akan berkurang.

Pelaku pasar saham dan obligasi asing yang mengais rezeki di Bumi Nusantara pun kelihatannya ikut-ikutan arus ‚Äėpulang kampung.‚Äô Mereka melepas portofolionya dalam bentuk rupiah di sini untuk dibawa pulang ke negaranya dalam bentuk dolar AS. Konversi hasil investasi dari rupiah ke dolar AS ini membuat tekanan permintaan terhadap dolar AS meningkat. Walhasil, melemah lah nilai uang tercinta kita.

Biang kerok kedua adalah terus berlangsungnya defisit neraca berjalan (current account) kita yang turut menyumbang defisit neraca pembayaran. Defisit neraca berjalan terjadi akibat pertumbuhan ekspor yang tidak sekuat harapan dan peningkatan impor yang tinggi. Ekspor-impor bukan hanya barang, tapi juga jasa. Banyak yang menyalahkan defisit neraca berjalan semata-mata disebabkan oleh defisit di sektor migas karena tingginya impor. Menimpakan kesalahan terhadap migas tidak tepat juga, sebab neraca perdagangan di sektor riil juga mengalami defisit, meski tidak besar.

Hubungannya dengan rupiah, impor membutuhkan valuta asing, terutama dalam bentuk dolar AS. Makin banyak impor, makin tinggi pula kebutuhan valas. Parahnya, defisit neraca perdagangan kita ini sudah berlangsung berbulan-bulan sejak ¬†April 2012, dengan hanya diselingi beberapa kali surplus. Kabar buruk lagi, defisit neraca perdagangan ini dari bulan ke bulan semakin melebar dan menambah¬† buruk ‚Äėdemam‚Äô tinggi yang dialami rupiah.

Tekanan terhadap rupiah yang berasal dari neraca perdagangan ini tidak kita alami pada  pelemahan rupiah tahun-tahun sebelumnya. Pada Juni 1998,  rupiah pernah melemah  hingga di atas 16.000 per dolar AS. Tapi pada waktu itu, neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan  surplus. Kondisi yang sama terjadi pada  krisis 2008. Sekitar bulan NovemberРberdekatan dengan tutupnya Bank Century, rupiah turun sampai hampir menyentuh 13.000 per dolar AS. Namun kala itu, neraca perdagangan masih surplus, sedangkan transaksi berjalan defisit.

Tekanan ketiga adalah spekulasi. Tekanan ini datang akibat volatilitas pasar uang, terutama pasar spot rupiah di luar negeri (off shore). Salah satu pasar spot  yang cukup besar adalah di Singapura. Menurut Bank Indonesia, keberadaan pasar spot di luar negeri ini sebenarnya bisa membantu agar rupiah dapat dimanfaatkan lebih luas dalam transaksi perdagangan internasional.

Namun, bagi  mata uang sebuah negara yang pasar valuta  dalam negerinya masih tipis, keberadaan pasar uang  off shore  dapat mengganggu pasar spot on shore (dalam negeri). Saat ini,  volume pasar  spot rupiah di Jakarta hanya sekitar US$ 500 juta  per hari dan pasar berjangka US$ 200-300 juta  per hari.  Angka tersebut  turun dibandingkan pada 2011 yang mencapai US$ 1,3 miliar  per hari. Sementara,  volume pasar NDF (nondeliverable forward) rupiah di Singapura pun  berkisar US$ 500 -700 juta.

Seringkali,  pasar off shore rupiah menun­jukkan kurs yang lebih lemah dibanding kurs on shore. Selisihnya bisa  1-2 persen. Kurs do­lar AS yang dimunculkan Asosiasi Perbankan  Singapura, misalnya, bisa lebih tinggi  50-150 poin dibandingkan dengan  yang dikutip BI.  Pasar uang  off shore biasanya dipakai untuk transaksi derivatif (berjangka, opsi, dan NDF), transaksi yang  spekulatif. Melihat pada produknya saja kita bisa maklum, di pasar off shore  rentan terjadinya manipulasi nilai tukar yang bisa meningkatkan volatilitas rupiah.

Untunglah, BI pada Mei 2013 sudah meluncurkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR).  JISDOR dirancang untuk memenuhi kriteria sebagai kurs referensi yang punya kredibilitas tinggi. Termasuk bila dibandingkan dengan kurs  off shore seperti di Singapura.

Tekanan keempat adalah utang  dalam mata uang dolar AS yang kabarnya  akan jatuh tempo  dalam waktu dekat. Ada ekonom yang mensinyalir utang luar negeri swasta yang jatuh tempo pada September ini mencapai US$ 30 miliar. Jumlah yang fantastis, karena itu artinya lebih dari 1/3 cadangan devisa kita yang tak sampai US$ 100 miliar. Permintaan dolar AS dalam jumlah besar dan dalam tempo singkat dipastikan akan kembali menghantam rupiah.

Tapi,  BI punya catatan lain yang pasti lebih akurat. Berdasarkan data BI, utang jatuh tempo Indonesia pada semester II-2013 hanya US$ 27,78 miliar.   Itu pun  komposisinya  terdiri dari swasta sebesar US$ 22,27 miliar dan utang pemerintah US$ 5,51 miliar.

Ya, cukup sudah analisisnya, Bung Efri. Sekarang jawab, pada angka berapa rupiah akan nangkring sepanjang sisa tahun ini? Ntar dulu, belum selesai. Faktor penekan rupiah sudah, faktor pendukungnya kan belum. Rupiah masih berpeluang selamat, tidak terjerumus lebih dalam, karena krisis yang terjadi saat ini tidak seperti krisis 1998 yang dipicu krisis mata uang Baht Thailand yang berimbas ke mata uang Asia.

Krisis ekonomi kali ini, saya pikir, sudah hampir sampai di ujungnya. Amerika Serikat mulai pulih, Cina masih stabil, negara-negara Asia lain  juga tidak terlalu buruk.  Selain itu,  rasio utang luar negeri pemerintah terhadap produk domestik bruto semakin mengecil. Dari di atas 60 persen di tahun 2004, sekarang rasio utang tinggal sekitar 23 persen.   Diharapkan dengan begitu, sentimen negatif akibat tekanan utang tidak seberat krisis-krisis sebelumnya.

Nah‚Ķsetelah semua variabel itu saya sodorkan ke bola kristal finansial saya yang sakti, muncul lah gambaran bahwa nilai tukar rupiah tahun ini tidak akan jauh-jauh dari krisis 2008, yakni di antara 12.000-13.000 per dolar AS. Anda percaya saya? Jangan…. ūüôā

***

PERBANDINGAN 1998, 2008, 2013
(
seluruh grafik bersumber dari tradingeconomics.com)

Rupiah 1998
Rp 1998

Neraca berjalan 1998
CA 1998

Rupiah 2008
Rp 2008

Neraca berjalan 2008
CA 2008

Rupiah 2013
Rp 2013

Neraca berjalan 2013
CA 2013

Secuplik Silsilah Suku Batak

Manuskrip silsilah Suku Batak ini saya temukan sewaktu melakukan ekskavasi di kaki Gunung Pusuk Buhit, Sumatera Utara. Dari hasil uji karbon diketahui umur manuskrip ini sekitar 5.000 tahun….hehe…gak lah, becanda. Silsilah ini saya rangkum dengan susah dari sebuah buku tua–terbitan tahun 1960-an, yang sudah entah ke mana sekarang.¬† Saya pikir-pikir, dari pada kertas ini pun ikut raib, tak ada salahnya didokumentasikan ke dalam blog. Mungkin ada gunanya. InsyaAllah pelan-pelan akan saya rapikan. Jadi, kalau ada masukan atau revisi, silakan lho…

Bagian I

Silsilah 1 blog

Bagian II

Silsilah 2 blog

Bagian III

Silsilah 3 blog

Memahami Neraca Pembayaran

Tulisan ini hanya sebagai catatan pribadi, supaya mudah dibuka di mana saja kalau lupa ūüôā Saya sarikan dengan beberapa modifikasi dari berbagai sumber.

**

Pengertian
Neraca pembayaran (balance of payment) adalah catatan yang sistematis tentang transaksi ekonomi internasional antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain dalam jangka waktu tertentu. Biasanya dalam jangka waktu setahun.

Fungsi
Fungsi utama neraca pembayaran yaitu untuk memberikan informasi kepada pemerintah tentang posisi keuangannya, khususnya yang terkait dengan hasil praktek hubungan ekonomi dengan negara lain. Neraca pembayaran juga dapat membantu dalam pengambilan keputusan bidang moneter, fiskal, perdagangan dan pembayaran internasional

Komponen
Neraca pembayaran terdiri atas dua komponen utama:
1. Neraca perdagangan dan jasa (current account)
Selisih nilai ekspor dan impor barang dan jasa. Neraca perdagangan ini termasuk kategori neraca berjalan atau current acount.
2. Neraca modal (capital account)
Merupakan selisih antara aliran modal masuk dan modal keluar.  Dihitung dari transaksi investasi jangka panjang, investasi jangka pendek, dan transaksi pengangkatan mata uang.

Sistem Pencatatan
Sistem pencatatan neraca dilakukan dengan menggunakan variabel debet dan kredit.
1. Transaksi Debet
Adalah transaksi yang menyebakan terjadinya pembayaran kepada penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang keluar .  Meliputi:
a. impor barang, pembayaran jasa transportasi, jasa asuransi, dan ongkos makelar.
b. pembayaran bunga dan deviden.
c. pemberian hadiah dan pengiriman uang.
d. investasi di luar negeri.
e. pembelian emas dari negara lain.
f. penduduk yang menyimpan uangnya di bank luar negeri.

2. Transaksi Kredit
Adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya penerimaan dari penduduk negara lain atau transaksi yang menyebabkan arus uang masuk.  Meliputi:
a. ekspor barang.
b. penerimaan jasa transportasi, asuransi, ongkos makelar dari negara lain.
c. penerimaan bunga dan deviden.
d. penerimaan hadiah dan kririman uang.
e.investasi asing di dalam negeri.
f.penjualan emas ke negara lain.
g.penduduk negara lain yang menabungkan uangnya di bank dalam negeri.

Tiap-tiap credit entry  harus diseimbangkan  dengan debit entry  yang sama. Kedua entries tersebut dikombinasikan untuk menghasilkan laporan sumber-sumber dan penggunaan modal nasional (dari mana kita memperoleh dana-dana/ daya beli, dan bagaimana kita mengunakannya). Jadi, total kredit dan debit dari neraca pembayaran suatu negara akan sama secara agregat; namun, dari komponen-komponen neraca pembayaran, mungkin terdapat surplus dan defisit.

Contoh : Suatu perusahaan RI meminjam Poundsterling Inggris.  Pinjaman ini merupakan peningkatan  utang penduduk/perusahaan RI pada pihak luar negeri. Pinjaman ini merupakan suatu credit entry. Karena, memiliki aset dalam valuta asing sama seperti memberikan pinjaman jangka pendek kepada negara lain. Debit entry yang sama akan diklasifikasikan sebagai peningkatan dalam kepemilikan aset finansial luar negeri.

Sebagai catatan, Neraca Pembayaran Indonesia pada kuartal II 2013 defisit US$ 2,5 miliar.  Nilai ini lebih kecil dibandingkan defisit pada triwulan sebelumnya yang mencapai US$ 6,6 miliar. Turunnya defisit tersebut disebabkan oleh surplus transaksi modal.