Korupsi itu Seperti Berkarir

Ditangkapnya Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Rudi Rubiandini oleh KPK membuat pembicaraan ihwal korupsi di lapak kami menghangat lagi. Di tengah pergunjingan itu, seorang teman bercerita bahwa ia pernah mewawancarai seorang pegawai negeri. Ketika pembicaraan masuk ke materi mafia pajak, pegawai itu menukas, “Bagaimana menolaknya. Coba Anda bayangkan kalau tiba-tiba ada uang satu koper di depan Anda?”

Kalau saya ada di sana saat itu, saya akan jawab, “Pak, saya melihat ada yang salah dalam konsepsi Anda tentang korupsi.” (Mantap, kan).  Kesalahannya Pak, uang sekoper atau sekardus tidak  akan pernah datang dengan tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang–bisa juga pendek. Polanya,  menurut penerawangan saya,  mirip dengan orang yang tengah meniti jenjang karir di perusahaan.

Jenjang pertama korupsi, Pak, bisa diibaratkan dengan jenjang entry level atau management trainee di sebuah korporasi. Pada tahap ini, bibit korupsi disemai dengan SIKAP PERMISIF terhadap perilaku korup. Mereka yang berada pada level ini memandang kagum pejabat  yang kekayaannya tidak sesuai dengan profil penghasilannya.  Dan seperti Bapak ini,  mereka mencari pembenaran dan memandang sinis orang yang tidak korupsi sebagai “orang yang belum kebagian saja”.  mereka yang masih ‘menapak karir’  ini, Pak, pasti akan kaget setengah modar kalau tiba-tiba dikasih uang satu kardus.  Karena belum maqom-nya.

Lulus dari entry level, Pak, masuk tahap selanjutnya yang saya ibaratkan  level supervisor.  Keahlian pada tahap ini adalah mulai bisa MENERIMA FASILITAS  berlebih, uang saku, uang perjalanan, ditraktir main golf, dan aneka rupa kesenangan—istilahnya bekennya entertainment,  lainnya dari  pihak ketiga yang berhubungan dengan jabatannya. Uang sekardus juga belum nongol di sini, Pak. Uang saku juga masih hitungan jutaan rupiah.

Sukses  dari level supervisor, ideologi korup makin kental.  Mereka lalu menaiki jenjang berikutnya, yakni manager. Di sini, pemberian uang atau barang sudah jelas-jelas diniatkan sebagai KOMISI PROYEK.  Bukan lagi dibungkus dengan istilah entertainment. Jumlahnya juga makin menggiurkan, puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Barulah pada jenjang terakhir, level top management, uangtanpa nomor seri’ itu datang.   Tujuan pemberiannya bukan lagi sebagai kick-back atau komisi, melainkan upaya membujuk penerima supaya MERANCANG KEBIJAKAN yang berkaitan dengan kewenangannya  demi memberi keuntungan kepada pihak pemberi.

Jadi, begitulah, Pak. Uang dolar AS sekoper  tidak bakal datang tiba-tiba, tapi melalui proses yang bisa panjang atau pendek.  Tergantung kecepatan ‘belajar’ seseorang. Jangan keliru lagi, ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s