Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?

Jumat pekan lalu, ke kantor datanglah beberapa orang utusan sebuah bank yang mempresentasikan program cicilan emas. Saya sendiri tidak menghadiri presentasi itu, tapi tetap kebagian selebaran yang disebarkan dari meja ke meja. Rupanya, ada juga yang tertarik di antara rekan sejawat. Kepada saya, mereka bertanya, investasi emas menguntungkan tidak? Lebih baik mana ketimbang saham? Kapan tepatnya membeli emas?  Ada pula yang yakin investasi emas pasti menguntungkan, karena  pasti naik.

Jawaban saya standar,  tidak ada investasi yang tidak berisiko. Tidak terkecuali logam transisi dengan kode Au ini. Harga emas memang trennya selalu naik, tapi kalau sekadar naik, menyimpang uang di deposito atau obligasi juga pasti naik setiap tahun. Persoalannya adalah, apakah imbal hasil yang didapatkan sepadan dan layak dijadikan alat investasi, ataukah sekadar menjaga nilai uang kita? Pertanyaan yang rada abstrak dan sulit dijawab memang. Saya juga bingung menjawab pertanyaan saya sendiri itu. Lha, saya bukan ahli investasi.

Tapi, untuk memuaskan teman saya itu, saya memberi beberapa pertimbangan. Pertama, balik dulu ke program cicil emas. Program cicil emas dari sebuah bank itu menawarkan program cicilan dengan berat antara 10 gram sampai 250 gram. Dengan uang muka 20 persen, pembiayaan 80 persen, dan bunga antara 7,6-7,9 persen, serta tenor 2-5 tahun. Berarti, kalau kita mengambil tenor 2 tahun saja, sudah keluar biaya bunga 24 persen. Itu artinya, jika ingin untung,  maka emas hanya boleh dijual pada saat harganya telah naik 24 persen ditambah inflasi (sekitar 6-7 persen per tahun).

Kedua, kata saya, pertimbangkan juga diskon harga jual kembali.  Mengacu pada harga di unit bisnis Antam– Logam Mulia, harga jual per 2 Agustus 2013 untuk berat 10 gram sebesar Rp 466 ribu per gram. Sedangkan harga beli kembali oleh Logam Mulia sebesar Rp 432 ribu per gram atau ada selisih Rp 34 ribu per gram atau sekitar 7 persen.  Sehingga, kalau kita membeli tunai, supaya untung harus dijual ketika harga emas tumbuh di atas 7 persen. Sedangkan kalau kita membeli dengan cara dicicil, harus dijual supaya untung pada saat harganya naik  di atas akumulasi dari 24% biaya bunga bank +7% inflasi + 7 % harga buyback Antam = 38%.

Ketiga, mengacu pada pergerakan harga emas dunia dengan standar dolar AS, sebenarnya harga emas tidak selamanya sakti. Pada tahun 1980,  harganya pernah naik mencapai  sekitar US$ 800 per troy oz. Tapi, pada 1985 harganya melorot menjadi sekitar US$ 300  per troy oz. Selanjutnya harga emas stagnan di level US$ 250-400 per troy oz sampai tahun 2004 atau sekitar 19 tahun.

Pergerakan harga emas dalam 40 tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Pergerakan harga emas dalam 40 tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Baru pada tahun 2005 “gemboknya” terlepas  dan harganya melejit dari sekitar US$ 400 menjadi  sekitar US$ 1.800 pada 2011 (naik 350 persen) hanya dalam tempo 6 tahun. Periode inilah masa kejayaan emas sebagai sarana investasi.  Namun, setelah tahun 2011 sampai saat ini, harganya terus terjun dari US$ 1.800-an menjadi US$ 1.200-an (sekitar 20 persen).

Pergerakan harga emas dua tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Pergerakan harga emas dua tahun terakhir (sumber:goldprice.org)

Dari sekilas data ini bisa dibaca, selama hampir 20 tahun harga emas stagnan. Dengan menghitung tekanan inflasi, berarti pemegang emas mengalami kerugian inflasi. Belum lagi kerugian potensial jika uang dibenamkan di instrumen investasi lain seperti deposito, properti, reksadana, atau saham. Selain itu, pembeli emas pada periode tahun 2011 dipastikan mengalami “kerugian” selama dua tahun ini karena harga emas terus turun. Kerugian akan bertambah besar jika pembeli membeli dengan cara berutang ke bank.

“Masa begitu perhitungannya? Harga emas waktu saya kecil cuma berapa…murah sekali. Sekarang sudah di atas Rp 400 ribu? ” Teman saya berkeras. Benar, itu benar. Harga emas dulu memang murah sekali dibandingkan harga sekarang. Kenapa bisa begitu? Padahal, selama belasan tahun harganya stagnan? Saya jawab,  itu terjadi karena harga emas mengacu pada dolar AS. Dengan begitu, meski harganya stagnan apalagi naik, jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS jatuh (dulu cuma  800 per dolar AS sekarang jadi  10.000 per dolar AS), otomatis harga emas akan terlihat naik tinggi sekali. Dalam konteks ini, emas lebih tepat dijadikan  sarana hedging (lindung nilai) untuk menjaga nilai tukar, terutama saat rupiah anjlok, ketimbang sebagai sarana investasi.

“Jadi kesimpulannya?” Teman itu terus mengejar. Haduh, “Jangan beli emas dengan cara dicicil. Kalau punya uang tunai…” Kata saya sambil cepat-cepat berlalu. Dari kejauhan terdengar teriakan, “Masalahnya gue gak punya uaaaang…” Nah, betul, kan.  ***

6 thoughts on “Investasi Emas: Benarkah Selalu Menguntungkan?

  1. Saya juga berpedapat bahwa emas lebih tepat sebagai pelindung nilai, bukan investasi. Tapi, ada teman yang bersikukuh kalau emas adalah investasi yang selalu naik tiap tahun. Nanti, saya suruh dia baca artikel ini biar tidak terlalu fanatik dengan emas hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s