Bertemu Sandra Niessen, Si Ahli Ulos

Beberapa hari lalu, seorang perempuan asal Kanada, Sandra Niessen bertandang ke kantor kami. Rupanya, ia adalah antropolog senior yang sudah puluhan tahun meneliti kebudayaan Batak, khususnya kain tradional Batak, ulos. Sandra sudah keluar-masuk kampung di seluruh pelosok Sumatera Utara untuk mendata aneka ragam ulos sejak tahun 1979. Artinya, sudah 34 tahun ia bersentuhan dengan budaya Batak.

“Saya dari Batak Angkola,” kata saya memperkenalkan diri. “Oiya, saya pernah ke Angkola, meski tidak ke semua tempat. Budaya Angkola banyak terpengaruh kebudayaan Minang,” kata Sandra.

Selama masa pengembaraannya itu, ia merampungkan disertasi untuk menggapai gelar doktor di Universitas Leiden, Belanda. Hasil disertasinya mengenai ulos Toba, Simalungun, dan Karo itu kemudian dibukukan dengan judul “ Legacy in Cloth: Batak Textiles of Indonesia” yang terbit pada tahun 2009. Buku tebal dalam kemasan eksklusif tersebut menampilkan lebih dari 100 desain ulos dalam jumlah dan variasi yang menakjubkan.

Setelah buku selesai, ia kembali ke kampung-kampung yang ia datangi, bertemu lagi dengan para penenun ulos yang pernah menjadi narasumbernya, dan membagikan buku seharga Rp 1 juta itu. Tidak hanya buku, Sandra juga memproduksi video dokumenter mengenai kegiatan penenun yang masih tersisa di Tapanuli.

Menurut Sandra, selama ia blusukan ke kampung-kampung di sekitar Danau Toba, seperti ke Desa Sianjur Mula-mula yang dipercaya sebagai tanah leluhur puak Batak, dan Kecamatan Muara yang menjadi benteng terakhir tenun tradisional ulos, banyak masyarakat setempat yang sudah meninggalkan tradisi memintal kapas dan menenun kain. Tradisi bertenun nyaris punah.

Di sebagian tempat yang masih terdapat penenun, usianya rata-rata sudah renta dan tidak ada regenerasi keahlian ke anak dan cucunya. Kegiatan menenun, kata Sandra, dipandang sebelah oleh kaum muda Batak karena tidak mendatangkan manfaat ekonomis. Ini sangat disayangkan Sandra, karena ia menilai hasil tenun yang baik sesungguhnya tidak dihasilkan dari kegiatan pabrikasi atau industrialisasi, tapi lahir dari hati.

Dalam keyakinan Sandra, “penenun harus memberi jiwa pada karyanya.” Sesuatu syarat yang tidak mungkin lahir dari kegiatan produksi massal. Ia lalu cuplikan menampilkan sebuah film dokumenter. Kalau saya tidak keliru, ini adalah bagian dari film yang berjudul “Rangsa Ni Tonun” karya Sandra dan rekan-rekannya. Di film ini tergambar betapa sulitnya Sandra mencari penenun yang masih tersisa. Jika pun ada, alat tenunnya sudah menghilang, karena  lama tak tersentuh.

“Setiap keluar-masuk kampung saya selalu bertanya, adong do partonun ulos dison (adakah penenun ulos di sini),” kata dia. Lama di Tano Batak membuat Sandra bisa berbahasa Batak.

Di dalam film itu juga ditampilkan mengenai seorang ibu yang sudah sangat renta menenun kain ulos Simalungun di sebuah bengkel motor.  Kain ulos Simalungun ini dibuat dengan benang warna merah menyala. Biasa dipakai untuk tutup kepala perempuan Simalungun. Adegan di sini sangat ironis, si ibu menenun di depan teras bengkel, di depan motor-motor yang sedang diperbaiki. Saat ditanya, menurut penuturan Sandra–karena di film tidak tampak adegan itu, si anak tidak menganggap penting keahlian ibunya menenun karena tidak menghasilkan uang.

Prihatin dengan kondisi itu, Sandra dan rekan-rekannya membuat program Pulang Kampung, yang sekarang sudah memasuki periode Pulang Kampung III. Programnya saya tidak begitu paham, tapi ringkasnya adalah berkunjung ke kampung-kampung di sekeliling Danau Toba dengan mengendarai perahu. Jumlah rombongan di atas kapal sekitar 20 orang yang sebagian di antaranya anak-anak muda yang memiliki minat pada pelestarian budaya.

Di setiap kampung yang dikunjungi, Sandra membagikan buku Legacy of Cloth yang diterbitkan KITLV  Press itu. “Warga kampung akhirnya banyak yang belajar menenun berdasarkan buku yang saya tulis,” ucap dia. Sandra berharap, suatu ketika budaya menenun kembali hidup di tengah masyarakat Batak.  ***

 

 

Independence Day Run 2013

 wpid-2013-08-25-05.58.41.jpg

MENUJU PINTU MASUK
Antrean peserta yang berjumlah puluhan ribu orang terpaksa berjubel-jubel di depan pintu detektor yang cuma ada tiga unit dan pemeriksaan Paspampres.  Akibatnya, untuk dapat memasuki zona steril, peserta harus rela mengantre selama sekitar 20 menit. Waktu yang sangat lama dibanding kegiatan lari serupa. Ke depannya, kalau pun terpaksa harus melewati pemeriksaan yang merepotkan ini, pintu masuk dibuat yang memadai. Minimal 20 titik lah…. Seandainya jumlah pintu detektor kurang, diganti saja dengan pemeriksaan badan.

wpid-2013-08-25-06.22.15.jpg

GARIS START
Kemacetan di pintu masuk berimbas pada molornya waktu start. Dari jadwal semula pukul 6.00 mundur menjadi pukul 6.30. Belum lagi, dari garis belakang menuju garis start  butuh waktu 10 menit lagi. Jadi…total waktu molornya 40 menit. Peserta juga tidak dilengkapi dengan timing chip, sehingga pencatatan waktu menjadi tidak akurat karena didasarkan pada waktu gun time  (waktu start dihitung sejak pistol ditembakkan atau bendera start diangkat) bukan net time/chip time (waktu start dihitung sejak masing-masing peserta melewati garis start .

image

wpid-2013-08-25-06.22.24.jpg

SUKSES
Di tengah beberapa kekurangan itu, secara keseluruhan acara ini berjalan mulus untuk ukuran lomba lari gratis. Bisa disebut sukses malah :). Ukurannya, jumlah peserta membludak–lebih banyak ketimbang Jakarta International 10 K 2013 lalu, kualitas kaosnya cukup bagus–walau tidak dry fit, dan tidak ada insiden di tengah lomba. Satu hal yang paling saya acungi jempol,  pengambilan race pack di Monas sangat mudah. Karena meja pengambilan banyak, kita tidak perlu menunggu lama. Datang, langsung ambil. Tidak seperti– sekali lagi, Jakarta Int 10K,  yang sangat tidak nyaman.

Oya, saya dengar juga banyak kritik di twitter mengenai banyaknya sampah yang bertebaran di Monas usai perlombaan. Begitu pula jalanan jadi kotor akibat sampah dari water station. Saya melihat  memang tempat sampah di Monas jumlahnya sangat sedikit dan ukurannya kecil, jadi cepat penuh. Mestinya panitia menyediakan mobil pikap untuk menampung sampah refreshment. Tapi, menurut saya, biarkan saja sampah bertebaran di lokasi acara di Monas, yang penting kan segera setelah itu dibersihkan. Tidak masalah, kan. Soal water station begitu juga. Mana bisa pelari disuruh buang sampah pada tempatnya. Lha, jalan saja sudah gak lurus…mana sempat mikirin tempat sampah.

BRI Run 2013
LEBIH CEPAT
Panitia sukses, peserta juga sukses. Catatan waktu saya lebih cepat 1 menit 45 detik dibanding waktu latihan 🙂 Sedikit demi sedikit makin ngacir daah…:)

Sate Kambing 88, Depok

Ini nih, warung sate kambing yang paling enak…minimal terenak se-Depok. Lokasinya benar-benar nook and cranny, dijepit warung dan ruko lain di Jalan Asmawi, Beji, Depok. Tapi, menandainya gampang kok. Karena,  meski nyempil letaknya persis di depan SPBU satu-satunya di sepanjang ruas jalan itu.

Menu yang paling layak dicoba adalah sate kambing tanpa lemak dan tongseng kambing. Digaransi rasanya bikin ketagihan. Harganya juga bersaing, cuma Rp 15 ribu untuk tongseng dan Rp 26 ribu untuk sate tanpa lemak.  Menu lainnya ada sate kambing muda, sop, dan sate ayam. Sangat saya rekomendasikan untuk dilongok.

wpid-2013-08-20-19.55.16.jpg

wpid-2013-08-20-19.55.30.jpg

wpid-2013-08-20-19.56.33.jpg

Korupsi itu Seperti Berkarir

Ditangkapnya Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Rudi Rubiandini oleh KPK membuat pembicaraan ihwal korupsi di lapak kami menghangat lagi. Di tengah pergunjingan itu, seorang teman bercerita bahwa ia pernah mewawancarai seorang pegawai negeri. Ketika pembicaraan masuk ke materi mafia pajak, pegawai itu menukas, “Bagaimana menolaknya. Coba Anda bayangkan kalau tiba-tiba ada uang satu koper di depan Anda?”

Kalau saya ada di sana saat itu, saya akan jawab, “Pak, saya melihat ada yang salah dalam konsepsi Anda tentang korupsi.” (Mantap, kan).  Kesalahannya Pak, uang sekoper atau sekardus tidak  akan pernah datang dengan tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang–bisa juga pendek. Polanya,  menurut penerawangan saya,  mirip dengan orang yang tengah meniti jenjang karir di perusahaan.

Jenjang pertama korupsi, Pak, bisa diibaratkan dengan jenjang entry level atau management trainee di sebuah korporasi. Pada tahap ini, bibit korupsi disemai dengan SIKAP PERMISIF terhadap perilaku korup. Mereka yang berada pada level ini memandang kagum pejabat  yang kekayaannya tidak sesuai dengan profil penghasilannya.  Dan seperti Bapak ini,  mereka mencari pembenaran dan memandang sinis orang yang tidak korupsi sebagai “orang yang belum kebagian saja”.  mereka yang masih ‘menapak karir’  ini, Pak, pasti akan kaget setengah modar kalau tiba-tiba dikasih uang satu kardus.  Karena belum maqom-nya.

Lulus dari entry level, Pak, masuk tahap selanjutnya yang saya ibaratkan  level supervisor.  Keahlian pada tahap ini adalah mulai bisa MENERIMA FASILITAS  berlebih, uang saku, uang perjalanan, ditraktir main golf, dan aneka rupa kesenangan—istilahnya bekennya entertainment,  lainnya dari  pihak ketiga yang berhubungan dengan jabatannya. Uang sekardus juga belum nongol di sini, Pak. Uang saku juga masih hitungan jutaan rupiah.

Sukses  dari level supervisor, ideologi korup makin kental.  Mereka lalu menaiki jenjang berikutnya, yakni manager. Di sini, pemberian uang atau barang sudah jelas-jelas diniatkan sebagai KOMISI PROYEK.  Bukan lagi dibungkus dengan istilah entertainment. Jumlahnya juga makin menggiurkan, puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Barulah pada jenjang terakhir, level top management, uangtanpa nomor seri’ itu datang.   Tujuan pemberiannya bukan lagi sebagai kick-back atau komisi, melainkan upaya membujuk penerima supaya MERANCANG KEBIJAKAN yang berkaitan dengan kewenangannya  demi memberi keuntungan kepada pihak pemberi.

Jadi, begitulah, Pak. Uang dolar AS sekoper  tidak bakal datang tiba-tiba, tapi melalui proses yang bisa panjang atau pendek.  Tergantung kecepatan ‘belajar’ seseorang. Jangan keliru lagi, ya.

Dirgahayu ke-68, Indonesia!

image

Tiang bendera ala Pramuka. Kelihatannya sederhana, tapi membuatnya lebih repot. Pertama-tama, pergilah ke toko perlengkapan Pramuka di pasar. Beli dua batang stok (tongkat)  yang lurus dan dua gulung tali Pramuka. Sambung kedua stok  dengan gulungan tali pertama. Gunakan ikatan canggah.

Kemudian, ikat bendera merah-putih pada ujung stok. Gunakan gulungan tali yang pertama untuk menegakkan stok. Bentuk dengan format kaki-tiga seperti gambar di atas dengan simpul ganda. Akhirnya, ikat ujung-ujung tali pada pasak yang sudah disiapkan dengan simpul pangkal. Selesai.

NB: Jika Anda kesulitan menahan tiang tetap tegak sementara Anda mengikat tali pada pasak, minta bantuan si kecil untuk memegangi stok.  Sebaiknya di pagi hari, supaya dia tidak ngomel.

DIRGAHAYU INDONESIA !

Bangkrut Setelah Ramadhan

Khutbah Lebaran di kampung kami  sebenarnya klise, namun tetap pantas untuk disimak karena masih dan akan selalu relevan.  Khatib mengingatkan para mujahid Ramadhan yang baru pulang dari perang melawan hawa nafsu itu akan sebuah hadits riwayat Muslim yang sangat populer.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah,  kata khatib,  Rasulullah  pernah bertanya kepada para sahabat. Pertanyaan Nabi: tahukah kalian,  siapa orang yang bangkrut itu?  Para sahabat  menyahut: orang yang bangkrut adalah orang yang tidak mempunyai uang dan harta.

Mendengar jawaban para sahabat yang sangat manusiawi itu  Rasul kemudian menerangkan bahwa orang yang benar-benar disebut bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa,  dan zakatnya.

Namun, karena di masa hidupnya orang itu gemar mencela, memfitnah,  memukul, menumpahkan darah,  dan memakan harta orang lain, pada hari pembalasan orang yang datang dengan membawa banyak pahala ini harus membagikan kebaikannya kepada semua orang yang pernah dizalimi.

Sampai akhirnya, apabila kebaikannya sudah habis dibagi-bagikan sebelum dia melunasi segala dosanya  kepada orang lain, maka giliran kesalahan orang yang dizalimi di dunia itu yang dibebankan kepadanya, kemudian dia dilemparkan ke api neraka.   Itulah, menurut Nabi, orang yang pada hakikatnya bangkrut.

Sambil mengasuh si kecil yang terkantuk-kantuk di pangkuan, saya tercenung. Sehabis Ramadhan ini,  pantaskah kita merasa bangga dengan amal-ibadah selama ini,  sementara  kita masih saling memaki, memfitnah, bercakar-cakaran antara sesama makhluk Allah, bangga dengan kelimpahan harta hasil korupsi, dan tersenyum lobar menerima gratifikasi?

Tak bisakah kita menahan diri sejenak, setidaknya sampai tiba Ramadhan berikutnya? Telunjuk itu pun mengarah kepada saya.Selamat  Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah menerima ibadah saya dan Anda.

Resto & Sushi Bowty, Depok

Ada tempat nongkrong baru di Beji, Depok. Letaknya persis di pertigaan antara Jalan Kalimantan dengan Jalan Nusantara Raya. Namanya: Resto & Sushi Bowty. Anak saya yang pertama kali menyadari kemunculan tempat ini sekitar sebulan lalu. Sejak saat itu,  beberapa kali ia  minta kami mampir ke sana. Dua hari silam,  kesempatan itu datang. Sekitar pukul 22.00 kami berbelok ke Bowty.

Lokasinya strategis, di tepi jalan raya yang ramai. Lahan parkirnya  muat tiga mobil dan banyak sepeda motor. Tempat makannya tidak terlalu besar. Hanya sekitar 3,5×7 meter, ditambah meja cadangan di luar kafe. Menu yang disediakan   dibagi beberapa kelompok.  Untuk kelompok sushi yang membawa konsep “fusion sushi”—mungkin maksudnya cita rasa sushi sudah disesuaikan dengan lidah lokal,  tersedia dynamite roll, california roll, Beji roll, salmon roll, dll.

Dari kelompok noodle  ada chicken soyu ramen, teriyaki chicken noodle, yakiniku beef noddle, dsb. Kelompok hidangan nusantara juga ada. Seperti nasi kebuli, soto betawi, dan bubur ayam. Cuma, pilihan minumannya terbatas, hanya ada jus kiwi dan Milo.

Datang  menjelang last order, kami hanya sempat memesan jumbo dragon roll. Namanya saja yang jumbo,  isinya cuma empat potong sushi.  Tapi, apa yang bisa dikeluhkan dengan sushi seharga Rp 15 ribu. Apalagi rasanya masuk dengan lidah saya yang bukan penggemar sushi ini.  Well, dengan kisaran harga Rp 10 ribu-Rp 23 ribu per menu plus lokasinya yang “menjemput bola”,  Bowty bisa menjadi tempat nongkrong alternatif.

image

Resto & Sushi Bowty

Jumbo Dragon Roll

Jumbo Dragon Roll