Ulos dalam Kehidupan Adat Batak

Sesuai janji saya, kali ini saya mengulas sekelebat mengenai kain tradisional suku Batak yang disebut ulos. Kain ini dibuat dengan menggunakan teknik tenun ikat lungsi. Prinsip pembuatannya adalah dengan mengikat  benang lungsi (benang vertikal), lalu dicelup ke dalam bahan pewarna. Setelah itu, barulah kain ditenun. Teknik inilah  yang kemudian menghasilkan corak-corak yang khas pada kain ulos.

Teknik tenun ikat lungsi ini tentu saja bukan monopoli masyarakat Batak. Konon, teknik ini telah berkembang dari zaman perunggu, sekitar abad ke-8 sampai abad ke-2 sebelum Masehi di pedalaman Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Di Sumatera, selain di daerah Tapanuli, teknik tenun ikat lungsi juga ditemukan di daerah Aceh. Keunikan di Aceh, teknik tenun ikat lungsi dikombinasikan dengan ragam hias songket benang perak. Di Kalimantan, tenun ikat lungsi dibuat oleh suku-suku Dayak Ot Danum, Bahau, Apo, Bayan, dan suku Dayak Iban.  Tenun ikat lungsi yang terkenal di Sulawesi diproduksi daerah pedalaman di Tana Toraja. Di wilayah Nusa Tenggara Timur, pembuat kain tenun ikat lungsi yang terkenal ada di Sumba, Timor, Flores, Sawu, dan Rote.

Balik ke ulos, kain ini memegang peranan penting sebagai alat dan objek upacara adat maupun sebagai perlengkapan busana. Ulos sebagai alat dan objek adat diberikan oleh satu pihak kepada pihak lain.  Dalam hierarki adat, pemberi ulos harus lebih tinggi kedudukannya ketimbang pihak yang diberi.

Prinsipnya memang, ulos adalah barang pemberian dari satu pihak kepada pihak lain untuk berbagai tujuan.  Dalam upacara perkawinan, misalnya, pihak keluarga perempuan memberikan sehelai ulos kepada menantu laki-laki yang bernama ulos ragi pako.   Ulos ini berbentuk kain lebar yang dapat menyelimuti kedua mempelai.  Ulos juga diberikan oleh  orang tua kepada anak atau kakek-nenek kepada cucunya. Ulos bisa pula diberikan oleh  kakak atau abang kepada adik laki-laki atau adik perempuan.  Begitu pula ada ulos yang diberikan raja kepada bawahan atau rakyatnya.

Sedangkan berdasarkan jenisnya, ulos dapat dibagi menjadi berbagai jenis. Ada banyak variasi dan sebutannya, tapi  di antara sekian banyak itu ada empat jenis utama yang bertahan sampai sekarang.

A.Ulos Ragidup/Ragi Idup
Ragi artinya corak. Idup artinya kehidupan.  Karenanya, ulos ini sering diartikan sebagai ulos yang melambangkan kehidupan dan doa restu untuk kebahagian dalam  hidup.  Ulos Ragidup merupakan ulos yang bernilai paling tinggi dalam upacara adat Batak.  Cara pembuatan ulos ini juga paling rumit dibanding ulos-ulos jenis lain. Ulos ini terdiri dari lima bidang yang saling berhubungan, yang dibuat dengan cara ditenun dan dikombinasikan dengan teknik jahit tangan.

Dalam proses penenunannya, ada beberapa teknik yang diterapkan yaitu teknik ikat lungsi dan lungsi tambahan pada bagian-bagian tertentu kedua ujung ulos. Keunikan lain ulos ini ada pada bagian yang ditenun warna terang dan putih dengan ragam hias teknik pakan tambahan.

Panjang ulos ini mencapai hampir 2,5 meter dan lebarnya 1,5 meter. Bidang tengah ulos ini disebut badan yang diisi dengan jalur-jalur bercorak ikat lungsi. Di kedua ujung bagian tengah ulos dihiasi bidang putih yang dipadati dengan corak pakan tambahan garis-garis geometris yang halus dan padat. Sedangkan pada sisi kiri dan kanan ulos berupa sebuah jalur warna gelap polos yang dijahitkan pada bidang-bidang tadi.  Ulos ragidup hanya dipakai oleh laki-laki yang sudah mempunyai cucu atau jandanya.

b.Ulos Mangiring
Ulos ini dibuat untuk mengungkapkan rasa syukur atas lahirnya anggota keluarga dalam upacara memberikan ulos atau mangulosi bayi yang baru dilahirkan. Lebarnya sekitar 70 sentimeter dan panjang 165 sentimeter. Ulos Mangiring berupa selembar kain yang dihias jalur-jalur tipis berisikan corak ikat lungsi berbentuk anak panah atau mata panah, berlatar tenunan warna gelap cokelat atau merah marun. Pada masa kini,  Ulos Mangiring sudah dikembangkan dengan warna-warna yang sesuai dengan selera pemesan dan dipakai juga sebagai selendang atau penghias pinggang pada busana modern.

c.Ulos Sibolang
Ulos Sibolang mempunyai ciri berlatar warna biru tua dengan corak ikat lungsi biru muda. Ulos ini dipakai dalam upacara kematian. Di dalam upacara berkabung, seorang istri yang ditinggal suaminya diberikan ulos jenis ini sebagai tanda ia sudah menjadi janda.

Dalam adat masyarakat Batak yang menurut garis keturunan patrilineal, terdapat adat perkawinan levirat. Dalam adat ini bila suami meninggal maka jandanya diperkenakan menikah dengan saudara laki-laki suaminya agar garis keturunan keluarga mereka tidak terputus.

Pemberian ulos kepada janda tersebut menandakan harapan agar ia mau mengawini saudara laki-laki almarhum suaminya. Ulos pemberian ini disebut ulos pandasdas. Cara memakai ulos ini adalah dengan menjadikannya selendang, penutup kepala, atau penutup badan. Pada masa sekarang,  pemakaian Ulos Sibolang diperluas, sehingga dapat dipakai dalam acara-acara gembira.

d.Ulos Ragihotang
Ragihotang bersumber dari kata hotang atau rotan. Secara adat, ulos ini dipakai oleh mereka yang sudah menikah. Kaum laki-laki memakainya sebagai selendang bahu, sedangkan kaum wanita mengenakannya sebagai kain penutup dada atau  rok. Ulos ragihotang  berlatar belakang warna cokelat tua dengan dihias garis-garis halur putih dan diisi hiasan garis-garis terputus yang dibuat dengan teknik ikat lungsi.

Dalam pesta pernikahan,  ulos ini diberikan kepada kedua mempelai dengan maksud agar  ikatan batin pasangan baru itu kuat seperti rotan.  Rupanya, pada zaman dahulu, rotan adalah tali pengikat yang banyak dipakai masyarakat karena paling kuat.  Cara pemberian ulos ini kepada pengantin ialah dengan disampirkan dari sebelah kanan, lalu ujung kanan dipegang dengan tangan kanan Iaki-laki, dan ujung sebelah kiri oleh perempuan, dan  disatukan di tengah dada seperti terikat.

Bukan hanya upacara pernikahan, Ulos Ragihotang  pun sering dipakai dalam upacara adat kematian sebagai pembungkus atau penutup jenazah yang akan dikebumikan. Pemberian Ulos Ragihotang kepada jenazah ini  mengartikan bahwa pekerjaan seseorang di dunia ini telah selesai.

Adapun cara  pengenaan ulos pada pesta atau upacara adat bermacam-macam. Ulos bisa dikenakan di bahu atau leher untuk penghormatan. Ulos bisa diletakkan di bahu (dihadang atau disampe-sampe),  dipakai menjadi sarung  (diabithon), dililitkan di kepala (dililithon),  atau  dipakai sebagai penggendong  beban (disabukkon).

SUMBER: Buku Tenun Ikat (Suwati Kartiwa), dan sumber-sumber lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s