Cirebon dan Kisah Tiga Keraton

Cirebon menyimpan sejumlah obyek wisata menarik. Sayang, kurang diurus.

***

Gerbang alun-alun Keraton Kanoman, Cirebon, masih jauh. Bus berukuran sedang yang kami tumpangi merayap perlahan berusaha menembus “barikade” yang dibuat ratusan pedagang pasar tradisional.  Sampai di gerbang alun-alun, kemacetan bukannya membaik, tapi malah semakin parah. Persis di depan sebuah pohon besar, yang diberi papan nama bertulisan Waringin Wulung, bus tidak bergerak sama sekali. Ruas jalan yang disisakan oleh pedagang tak cukup untuk dilalui.

Negosiasi pun berlangsung. Si ibu pedagang setuju menggeser sedikit lapaknya dari tepi jalan. Tapi, karena ruang antara Waringin Wulung dan lapak pedagang terlalu sempit, goresan paku sepanjang 20 sentimeter di pintu bus menjadi oleh-oleh pertama kunjungan kami di Kota Cirebon dua pekan lalu.

Sesampainya di gerbang Keraton, kekecewaan menerpa semua anggota rombongan. Gerbang Keraton yang menyambut kami serasa tidak sepadan untuk membayar semua kesulitan tadi. Tembok batu bata berwarna merah itu sudah sompel di sana-sini. Porselen Tiongkok dan Eropa yang dipasang di dindingnya banyak yang raib.  Madrais, abdi dalem Keraton, yang telah mengabdi selama 50 tahun, dengan ramah membawa kami memasuki bagian dalam Keraton. Hamparan tanah kering serta gundukan sampah dedaunan dan botol plastik di banyak bagian sama sekali tidak sedap dipandang mata.

Sambil berjalan, kami melihat sebuah bangunan terbuka, yang menurut Madrais, dulu dipergunakan petugas protokoler Keraton menerima tamu Sultan. Bangunan itu kini sudah dipagari dengan bambu seadanya. Debu tebal menutupi lantainya.  Seolah terbiasa dengan tatapan para pengunjung yang bergidik dengan sambutan itu, Madrais mulai berkisah. Keraton Kanoman dibangun di masa pemerintah Sultan Anom Makarini Muhammad Badirin, keturunan ketujuh Sunan Gunung Jati, pada 1510 Saka atau 1588 Masehi.

Prasasti tahun berdirinya keraton terdapat di pintu pendapa Jinem, yang menuju ke ruangan Prabayaksa. Di sana terpahat gambar prabayaksa dan candrasengkala, yang terdiri atas matahari, yang artinya 1; wayang Darma Kesumah, yang artinya 5; bumi, yang artinya 1; dan binatang kamangmang, yang artinya 0.

Keraton ini merupakan satu kompleks berbentuk empat persegi panjang yang membentang dari utara ke selatan. Di dalamnya terdapat bangunan sitinggil yang terletak di depan sebelah timur kompleks. Bangunan ini dikelilingi candi laras pada setiap sudutnya.

Selain sitinggil, di dalam kompleks keraton seluas 12 hektare itu terdapat bangunan paseban sebagai tempat membuang takir pada saat sekatenan, sumirang sebagai tempat menerima tamu, langgar, dapur, bangunan induk, singabrata, keputren, kaputran, witama, pedalaman, bangsal, serta pulantara.

dscn2533

Balai Manguntur di kompleks Sitinggil, Keraton Kanoman

Madrais lalu membawa kami ke sebuah bangunan yang dijadikan museum untuk menyimpan kereta yang dulu dipakai para sultan dan permaisurinya, yaitu Kereta Jempana dan Kereta Paksi Naga Liman. Museum itu juga menyimpan koleksi peralatan perang, debus, dan cendera mata dari negara sahabat.

Lebih buruk daripada bangunan lainnya, bangunan museum sudah dalam kondisi rusak parah. Eternitnya jebol di sana-sini akibat tetesan air hujan dari atap yang bocor. Dari luar, genting di bagian tengah ruangan terlihat sudah anjlok, pertanda balok reng penyangga genting patah.

Pemandangan tadi niscaya akan terasa semakin membuat miris begitu mendengar kenyataan yang terjadi pada takhta Kesultanan Kanoman. Saat ini Kanoman dipimpin dua sultan, yaitu Muhammad Emiruddin dan Muhammad Saladin.
Perpecahan yang terjadi sejak lima tahun lalu ini dipicu oleh surat wasiat sultan sebelumnya yang memberikan takhta kepada Saladin, yang merupakan anak dari selirnya. Wasiat ini dianggap menyalahi pakem Keraton karena anak laki-laki tertua dari permaisuri adalah Emiruddin.

Jangan terlalu kecewa dulu. Sebab, keraton sebelumnya yang kami kunjungi, yaitu Keraton Kasepuhan, yang hanya berjarak 10 menit perjalanan kendaraan bermotor dari Kanoman, kondisinya sedikit lebih baik. Walau tetap saja keraton ini tidak steril dari anak-anak yang bermain sepeda, bahkan pedagang minuman ringan.

Keraton Kasepuhan didirikan pada 1529 oleh Pangeran Mas Mochamad Arifin II. Ia adalah cicit Sunan Gunung Jati, yang menggantikan takhta Sunan Gunung Jati pada 1506. Keraton Kasepuhan dulunya bernama Keraton Pakungwati. Nama Pakungwati berasal dari nama Dewi Pakungwati, anak perempuan Pangeran Cakrabuana, yang merupakan istri Sunan Gunung Jati.

Pakungwati wafat pada 1549 saat memadamkan kebakaran di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang terletak di sebelah barat laut alun-alun. Untuk menghormati pengorbanan beliau, namanya diabadikan menjadi nama keraton. Saat Kesultanan Cirebon terbagi dua, Keraton Pakungwati berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan (sepuh artinya tua) di bawah pimpinan Pangeran Mertawijaya, yang bergelar Sultan Sepuh Mohammad Syamsudin Mertawijaya, dan keraton lainnya, yang berdiri belakangan, dinamai Keraton Kanoman (anom artinya muda).

Untuk masuk ke dalam kompleks keraton, tersedia dua pintu gerbang utama. Di sebelah utara disebut Kretek Pangrawit dan di selatan disebut Lawang Sanga, yang artinya pintu sembilan. Nama pintu selatan diambil dari sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa.

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Keraton Kasepuhan (www.jabarprov.go.id)

Area keraton seluas 25 hektare ini terdiri atas bangunan induk, pancaratna (untuk menghadap wedana keraton), pancaniti (tempat perwira melatih prajurit dalam peperangan), tempat jaksa menuntut hukuman mati, tempat tontonan, sitinggil, paseban (sebagai rumah jaga), langgar agung (sebagai tempat salat para kerabat keraton), sri manganti, singabrata, langgar, dan dapur.

Sekitar 100 meter ke arah barat laut Keraton Kasepuhan berdiri Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dari namanya, sang berarti keagungan, cipta artinya dibangun, dan rasa artinya digunakan. Secara sederhana, sang cipta rasa dapat diterjemahkan sebagai satu bangunan yang dibangun untuk digunakan demi mencapai keagungan.

Pendirian masjid diprakarsai Sunan Gunung Jati. Sedangkan arsitek masjid tersebut adalah Sunan Kalijaga, yang dibantu dua arsitek Majapahit yang beragama Islam, yaitu Raden Sepat dan Raden Trepas. Pendirian masjid ini melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit. Pembangunan masjid selesai pada 1498.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (disparbud.jabarprov.go.id)

Masjid Agung Sang Cipta Rasa (disparbud.jabarprov.go.id)

Atap masjid disangga oleh 12 pilar yang terbuat dari kayu jati setinggi 6 meter dan berdiameter 60 sentimeter. Satu pilar di sudut kiri pintu utama terbuat dari potongan kayu jati sepanjang setengah meter yang direkatkan. Tiang itu disebut saka tatal, yang artinya kurang-lebih tiang serpihan kayu.

Tiang ini dibuat khusus oleh Sunan Kalijaga dengan menggunakan lem dari getah damar. Rangkaian kayu jati kemudian diikat dengan tali ijuk. Setelah getah mengering dan keras, tali dilepas dan tiang siap digunakan.
Makna yang terkandung di tiang ini lebih bernilai daripada fungsinya sebagai salah satu pilar masjid. Lewat karyanya, Sunan Kalijaga berpesan: sekecil apa pun suatu kelompok masyarakat, bila bersatu, akan menjadi kuat juga.

Masih di kota yang sama, ada lagi sebuah keraton yang bernama Keraton Kacirebonan. Keraton ini adalah yang termuda di Cirebon, sehingga tidak aneh bila arsitekturnya lebih modern dan bergaya Belanda. Terus terang tidak ada yang istimewa dari keraton yang satu ini.

Keraton Kacirebonan didirikan pada 1814 oleh Raja Kanoman. Tapi, karena sejarahnya yang dianggap membelot dari kesultanan, bangsawan Kasepuhan dan Kanoman hanya mengakui Kacirebonan sebagai kepangeranan, bukan keraton.
Bangunan Keraton Kacirebonan menghadap utara dengan denah memanjang utara-selatan. Keraton ini terdiri atas bangunan induk, paseban, langgar agung, gedung ijo, pringgowati, dan kaputran. Bangunan induk merupakan tempat tinggal sultan beserta keluarganya, terdiri atas enam kamar tidur, ruang kerja sultan, pecira, kamar jimat, prabayaksa, dapur, dan teras.

dscn2519

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan

Keraton Kacirebonan

* *
Gua Sunyaragi nan Sepi

Setelah keraton, masih ada satu obyek wisata lagi yang masih berkaitan dengan kesultanan di Cirebon, yaitu Taman Gua Sunyaragi, yang dibangun Pangeran Aryo pada 1703. Sunya artinya sepi, raga artinya jasmani. Gua ini dibangun sebagai tempat latihan perang prajurit, pembuatan alat-alat perang, dan tempat bertapa.

Gua Sunyaragi (disparbud.jabarpov.go.id)

Gua Sunyaragi (disparbud.jabarpov.go.id)

Gua ini berdiri di atas tanah seluas 18.640 meter persegi dan menghadap ke timur. Bangunannya terbuat dari batu karang, beton, batu bata, dan kayu. Taman Sunyaragi terdiri atas bangunan pesanggrahan dan bangunan gua. Pesanggrahan merupakan bangunan berbentuk rumah tinggal dilengkapi dengan kolam dan dua buah kamar berukuran 4,8 x 5,5 meter persegi.

Untuk merawat peninggalan bersejarah yang kini jadi obyek wisata itu memang tidak mudah. Kendala utamanya apa lagi kalau bukan soal dana yang terbatas.  Mengenai minimnya biaya perawatan ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Cirebon Mochamad Hanafiah punya jawaban. Menurut dia, dari 13 dinas yang ada di Cirebon, anggaran yang dialokasikan untuk Dinas Kebudayaan dan Pariwisata paling kecil.

Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2006 sebesar Rp 243 miliar, Dinas Pariwisata hanya mendapat alokasi Rp 1,2 miliar. “Memang naik dibanding 2005 yang cuma Rp 200 juta. Tapi, untuk pengembangan benda cagar budaya, masih kurang,” kata dia.

Ia mengungkapkan pendapatan asli daerah dari kegiatan pariwisata di kota yang berjarak 257 kilometer dari Jakarta ini memang sangat kecil, hanya Rp 20 juta per tahun. Retribusi di seluruh obyek wisata milik keraton, termasuk Gua Sunyaragi, menjadi hak keraton. “Kami tidak tahu berapa pendapatannya, dan pengeluaran untuk keraton,” ujarnya.

(Dimuat dalam Rubrik Perjalanan Koran Tempo, edisi Minggu, 24 September 2006)

Catatan:
Perkembangan terbaru, pada Mei 2013 lalu,  pemerintah pusat menyatakan telah menyiapkan anggaran Rp 159 miliar untuk merevitalisasi Keraton Kasepuhan, Kanoman,  Kacirebonan, dan Kaprabonan,  ditambah makam Sunan Gunung Jati.  Targetnya sih, bakal setara dengan bangunan-bangunan kuno di Roma. Bisakah? InsyaAllah. Mari kita dukung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s